
Suasana di Pesantren Bustanul Jannah yang di asuh oleh ustadz Yahya di bawah kepemimpinan haji Zakaria tampak tenang dan tentram. Para santri tengah sibuk mempersiapkan ujian tengah semester pada bidang agama yang akan di laksanakan pekan depan. Sedangkan bidang pelajaran umum masih menunggu tiga minggu berikut nya.
Tampak sekelompok santriwati tengah berkomat kamit mengulangi hafalan mereka. Alunan bacaan tartil terdengar memenuhi ruangan yang tidak kurang dari 7 x 7.5 meter itu. Ada lagi kelompok lainnya. Walau ujian sudah hampir di depan mata namun mereka sedang tidak mood untuk belajar atau mengulang. Kelompok ini sibuk menyulam benang menjadi berbagai kreasi atau sekedar membolak balik halaman Shirah Nabawiyah tanpa benar-benar dibaca.
Seseorang masuk dengan keadaan tergesa. Ia menutup pintu lalu tanpa sengaja sedikit terbanting sehingga membuat beberapa penghuni dari ruangan tersebut menoleh ke arah nya.
"Hey heyy... kalian tau tidak?! Hah hah hah" Tanya seseorang yang diketahui bernama Nilam terengah.
"Kenapa Nil? Duduk dulu. Minum dulu. Baru bicara!" Sahut salah seorang di antara mereka menggelengkan kepalanya.
"Ning Hana itu....." Nilam menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak lupa ia melihat ke arah pintu yang tadi telah di tutup nya. Beberapa memperhatikan dan menunggu apa yang akan Nilam ucapkan dengan saksama.
"Se... ling... kuh! " Bisiknya ke beberapa orang yang kini mengerumuninya. Sebagian yang lain acuh dan tetap fokus pada hafalan al Qur'an mereka.
"Ha? Astaghfirullah... Jadi rumor yang selama ini beredar itu benar?! " Pekik seorang santriwati lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan. Nilam mengangguk.
"Ssssttttt... Pelan-pelan dong ngomongnya! " Bisik teman lainnya.
"Lalu kamu tau dari mana Nil? Kok Aku kayak ga yakin ya? Ning Hana ga mungkin begitu! "
"Aku mendengar sendiri percakapan antara Ummi hajjah dan Ning Hana. Tidak hanya itu saja. Ning Hana itu aslinya memiliki kepribadian yang buruk. Tidak sopan sama orang tua. Bisa-bisanya ketika Ummi hajjah sedang bicara beliau acuhkan lalu pergi begitu saja. Padahal cuma di peringatkan begini... "
"Nak Haris tidak di rumah kok ya kamu itu malah kelayapan. Apalagi enak-enakan dengan kekasih kamu di luar sana!" Nilam mencoba mengikuti gaya bicara hajjah Aisyah. Sebenarnya gadis ini hanya mendengar potongan kalimat saja. Tidak mendengarkan pembicaraan utuh antara bu hajjah dan Hana.
"Astaghfirullah... Begitu banget ya Ning Hana itu. Padahal Beliau Anak Kiai... Aku sama sekali tidak menyangka. Aku kira Gus Haris dan Ning Hana itu pasangan yang serasi banget loh Nil... Ternyata cuma topeng ya! " Cerca seseorang yang langsung menyimpulkan perkataan Nilam. Ia merasa marah dan berapi-api.
"Yeee. Kamu sih ga tau! Ning Hana itu, penampilan saja yang alim tapi ternyata kelakuan nya kayak roh halus! Sia-sia selama ini aku ngefans. Semoga Gus Haris kuat dan segera mencari istri kedua. Kalo perlu istri kedua itu gantikan saja posisi Ning Hana! Udah ga bisa kasih keturunan! Eh malah ga tau diri!! " Sewot Nilam pedas lagi tajam.
" Sssssttttttt! kalian iniii... bubar-bubaaarr! Kok malah ribut? Aku tengah konsentrasi mengulang hafalan nih! " Protes salah satu santriwati yang konsentrasi nya terganggu akibat keributan yang teman-temannya ciptakan.
"Eh eh... Ternyata lagi... rumor Gus Haris mencari istri kedua itu juga benar. Ummi Hajjah sendiri yang mencarikannya. Aku dengar kabar ini dari orang dalam! " Tukas yang lain yang sedari tadi hanya diam. Ia mengacuhkan peringatan dari temannya.
"Aku jadi kasihan sama Ummi Hajjah. Bisa-bisanya dapat menantu begitu. Astaghfirullah. Aku jadi penasaran bagaimana reaksi Ning Hana kalau Gus Haris nikah lagi. Wajah topengnya pasti nanti seperti kayak kepiting rebus! Hihi"
"Ah. Kalau begitu. Fix. Aku ga mau lagi masuk kelas Ning Hana. Hhhhh padahal kelas Ning Hana itu yang selalu ku nanti-nanti. Bahasanya mudah dimengerti dan dipahami. Tutur katanya halus. Murah senyum. Kadang juga suka bercanda. Duuh. Sempurna pokoknya! " Ucap seseorang dengan pandangan menerawang.
"Huusss. Kamu ini sebenarnya di pihak ning Hana atau bukan? Kok di puji-puji begitu. Kalau Ning Hana terus yang ngajar kita, nanti bisa membawa efek negatif ke akhlak kita. Kita itu harus meneladani Istri-istri para Nabi. Bukan meneladani Ning Hana. Paham kamu?! " Tanya Nilam dengan di sambut anggukan oleh teman-temannya.
__ADS_1
"Mudah-mudahan calonnya gus Haris itu dari santri sini saja. Aku ga yakin kalau orang luar akhlaknya bakalan bagus. Nanti jadinya kayak Ning Hana lagi! " Nilam masih saja berceloteh.
"Iyaa.. benar.. Kalau bisa lagi ni... Aku saja yang menggantikan nya! Hihihi! "
"Yeee ngimpiii kamu! " Nilam menoyor kepala temannya.
***
Sebuah mobil CRV berwarna putih memasuki gerbang. Seorang wanita berkerudung biru langit membuka pintu dan berjalan ke arah ruang kerja Hajjah Aisyah dengan melewati balai pertemuan.
"Assalamu'alaikum Mi! " Sapa wanita yang ternyata adalah Arini itu disambut oleh pelukan dan senyum sumringah Hajjah Aisyah.
Ya. Wanita ini di undang oleh Ummi hajjah untuk main ke kediaman beliau. Tampaknya ancaman dari bu Indah benar-benar jadi momok yang menakutkan. Hajjah Aisyah kontan bergerak cepat.
Setidaknya dengan memberikan Arini perhatian khusus, mungkin bu Indah akan senang. Jadi untuk sementara, waktu pun akan terulur. Hal ini bisa di manfaatkan untuk memikirkan langkah berikutnya.
Hajjah Aisyah sama sekali tidak berniat menjodohkan Arini dengan Haris. Apalagi memberikan setengah harta. Itu benar-benar ide gila. Mana mungkin beliau mencalonkan anak dari musuh bebuyutan untuk dinikahi oleh anak angkatnya. Hajjah Aisyah sama sekali tidak ingin berbesan dengan bu Indah. Mengingat wanita itu begitu licik, culas lagi mata duitan.
Lagi pula. Pilihan Hajjah Aisyah sudah mentok pada Eva Lalisa. Bagi beliau, Lisa adalah kandidat kuat yang memenuhi syarat. Selain dari keluarga terpandang berdarah biru, Lisa juga akan mewarisi perusahaan dari bu Inggrid.
Penyatuan antara Haris dan Lisa pasti akan berdampak positif dalam me-raksasa-kan kejayaan yang telah di wariskan oleh Haji Abdurrahman. Berbeda dengan Hana. Menurut Hajjah Aisyah, menantu pilihan suaminya itu hanya seorang wanita pasif dan tidak memiliki ambisi apapun.
"Nak Arini, duduk nak.. diminum airnya. Ini sunkish cake buatan Ummi loh! " Ucap Hajjah Aisyah ramah dan hangat. Arini mencicipi nya.
"Enak mi, Masya Allah. Arini ga nyangka Ummi bisa buat cake seenak ini! "
"Ya harus itu nak. Biar suami betah. Biar suami lengket selalu" Bisik Hajjah Aisyah di sambut dengan senyuman oleh Arini.
"Hemm... "
"Sebenarnya.. Ummi mau kamu tinggal di sini untuk sementara waktu. Bantu Ummi mengajar. Sebulan lagi setelah liburan, akan masuk kurikulum baru. Ummi rasa wanita soleha seperti kamu cocok jadi musyrifah membina anak-anak. Apalagi Haris akan pulang dari Amerika setelah itu" Ucap Hajjah Aisyah mengelus punggung tangan Arini. Putri dari bu Indah itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Bahagia. Apa ini pertanda bahwa ia mendapat dukungan dari orang yang sangat Haris-nya hormati itu?
***
Rabu waktu Dhuha. Haji Zakaria mengumpulkan keluarga nya untuk rapat dengan duduk melingkar pada dua meja bundar setelah sepucuk surat dari Amerika tiba di kediaman. Mereka di pisahkan dalam dua kelompok. Laki-laki dan perempuan.
Rapat kali ini terdiri dari istri, anak, menantu, para Kiayi dan Nyai yang masih terbilang keluarga dekat. Tak lupa Hana dan bu Fatma juga hadir di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
Seperti biasa, raut wajah haji Zakaria terlihat begitu serius. Namun Orang-orang yang hadir masih belum mengerti apa duduk persoalan atas diadakannya rapat dadakan ini. Mereka bertanya-tanya dengan hanya menerka-nerka serta saling melemparkan pandangan satu sama lain.
"Heemmm" Haji Zakaria sedikit berdehem memecah keheningan. Beliau membaca tahmid, mengucapkan salam pembuka juga mengeluarkan sepucuk surat resmi dari LegoVo Group.
"Haris Abdurrahman Faiz. Calon Chief Executive Officer pada LogoVo juga SunRise Company Group mengirimkan surat penting. Yang saya pegang ini merupakan dokumentasi surat dalam bentuk hardcopy. Sedangkan dalam bentuk electronic sudah lebih dulu dikirimkan melalui email" Keluarga yang hadir menyimak dengan baik apa yang haji Zakaria sampaikan.
"Baru-baru ini Haris mendapatkan musibah....
Deg.
"Sebenarnya ini merupakan masalah pribadi namun juga sangat berdampak pada kerjasama perusahaan. Terlebih penting, perkara ini mencoreng integritas Haris sebagai seorang suami" Ucap Haji Zakaria tenang namun penuh penekanan. Suasana menjadi tegang.
Hana tersentak kaget. Ia yang tidak tau menau masalah musibah yang menimpa sang suami terang saja terkejut. Cemas.
Perlahan. Haji Zakaria membacakan isi surat secara terang dan terperinci. Tiada ada satu huruf pun yang terlewat kecuali paragraf terakhir. Surat yang melibatkan Lisa, anak dari bu Inggrid tersebut di ketik dengan bahasa yang mudah di mengerti. Sehingga semua yang hadir mampu memahaminya dengan baik.
"Jadi intinya kamar Haris di Amerika itu di susupi oleh maling wanita! " Rahang Haji Zakaria mengeras. Wajahnya memerah menahan emosi. Berulang kali beliau mencoba menghembuskan nafas dan beristighfar dalam hati. Orang-orang yang hadir kaget bukan kepalang. Para Nyai yang terhormat merasa sedih hingga menitikkan airmata.
Tiba-tiba Hana merasakan rasa lemas pada lututnya.
"Dan Ternyata.... Maling penyusup itu adalah orang dalam yang berhasil nak Haris ringkus hingga membuka tabir kejahatannya" Ucap Haji Zakaria menutup kedua kelopak matanya. Beliau belum mampu membaca paragraf terakhir. Paragraf yang membuka siapa dalang dibalik semua musibah yang terjadi. Dalang yang sebelumnya begitu istrinya elu-elukan. Haji Zakaria jadi merasa bersalah pada Hana. Beliau merasa bersalah atas nama istrinya.
"Astaghfirullah. Apa bah? Orang dalam?? Siapa yang berani berbuat nista pada anak kita bah? Katakan bah!! Harus kita beri hukuman yang setimpal!! " Pungkas Hajjah Aisyah berang.
"Ini ada beberapa dokumentasi yang nak Haris kirimkan. Rekaman atas aksi kejahatan yang wanita itu lakukan. Setelah rekaman ini diputar, kita juga akan melakukan video call dengan nak Haris untuk meminta penjelasan lebih lanjut"
Haji Zakaria meminta orang IT untuk memutarkan rekaman tersebut. Tak lupa beliau melayangkan tatapan tajam lagi tak ramah pada sang istri. Yang membuat Hajjah Aisyah mengerutkan kening. Heran.
***
Maaf teman-teman... Lagi-lagi banyak typo. Belum sempat di edit....
Makasih untuk komen, like, vote rating juga hadiahnya selama ini yaaa... jazakumullah khaer
❤❤❤
IG : @alana.alisha
__ADS_1
***