Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 8: Berdesir


__ADS_3

Malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya, kalau biasanya ia selalu sendirian menjadi penguasa kamar, sekarang ia sudah harus membaginya kepada orang yang kini berstatus sebagai suaminya.


Hana duduk di kursi meja belajar, ia terlihat santai membaca novel. Walau sebenarnya ia merasa sangat gugup. Ia tidak terbiasa membagi kamar apalagi dengan lawan jenis. Hana masih sendirian, Haris sudah ke masjid bersama abah sejak maghrib tadi dan belum kembali.


Hana pun memanfaatkan moment ini dengan mandi dan berganti pakaian. Ia mengganti baju gamis nya dengan gamis tidur. Ya, ia berencana untuk tidur dengan a waalaikummenggenakan gamis dan kerudung instan, suhu AC ia turunkan ke posisi paling minimum agar tidak merasa gerah.


Hana membaca ulang kembali novel karya Hanum Salsabiela yang berjudul “99 cahaya di langit Eropa” pikirannya melayang pada Gibran yang berada di Maroko. Andai mereka menikah, mungkin ia akan ikut Gibran ke Maroko dan mungkin kisahnya akan menjadi seperti kisah Hanum dan Rangga. Bersama sevisi dan semisi dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sungguh indah khayalan Hana.


“Astaghfirullah…”, ia beristighfar dalam dalam hati. Ia telah memikirkan laki-laki lain sedang ia sudah memiliki suami sah yang lebih berhak untuk mendapatkan khayalan indahnya.


Hana pun beranjak dari tempat duduknya dan segera mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat sunah dua rakaat. “Ya Rabb, berikan hamba kekuatan agar bisa menghadapi semua ini, serta tumbuhkan rasa cinta karena-Mu di hati hamba untuk mas Haris, jadikan rumah tangga kami “Sakinah mawaddah wa rahmah, aamiiin ya Rabbal ‘alamin” demikian rintihan lirih hati Hana, ia hanya mampu berdoa untuk mengusir rasa yang tidak mengenakkan dihatinya. Setelah selesai shalat ia pun naik ke atas kasur membaca zikir rutinnya hingga tertidur.


***


*T**ok Tok Tok*


terdengar pintu kamar diketuk berulang kali namun tidak ada yang membukanya. Haris berinisiatif untuk terus masuk dan mengucapkan salam. Hening, terlihatlah olehnya Hana yang sudah tertidur pulas.


Mungkin Hana sangat kelelahan karena mereka seharian tadi tidak beristirahat. Hana tidak mengenakan selimut, setelan gamis dan kerudung lengkap masih menghiasinya. Namun ada sedikit hal yang mengganggu penglihatan Haris, ujung gamis Hana tersingkap hingga memperlihatkan sedikit betisnya yang putih bersih. Hati Haris berdesir melihatnya. Ia pun segera memalingkan wajah dan menarik selimut untuk membalut sempurna tubuh Hana.


Haris mengambil handuk, ia sudah mandi petang tadi namun kebiasaan mandi sebelum tidur masih dilakukannya, tak lupa ia juga mengambil pakaian ganti lalu masuk ke kamar mandi yang memang berada didalam kamar Hana.


Malam ini seharusnya menjadi malam indah untuknya. Namun, ia masih sangat enggan. Belum ada cinta untuk gadis itu dihatinya. Setelah berganti piyama tidur, ia duduk di kursi meja belajarnya Hana, sejenak ia memperhatikan tempelan-tempelan di mading kecil yang Hana buat. Cukup rapi pikirnya.


huuhDi sana tertulis quotes-quotes motivasi penyemangat, ada juga tentang cita-cita, ternyata gadis ini hampir merampungkan hafalan al-Qur’annya kurang dari 7 juz lagi. Muncul sedikit kekaguman dihatinya. Selain menjadi hafizhah, ia juga menuliskan keinginannya untuk menjadi penulis sekaligus seorang psikolog.


Jadwal harian pun tersusun rapi di sana. Hmh, gadis ini hidupnya cukup terorganisir. Setelah itu matanya beralih ke sebuah novel yang diatasnya tertulis: “from mas Gibran”. Kening Haris berkerut seketika, Gibran? Hmh….


Jam menunjukkan pukul 22.00, Haris mengambil mushaf dan mulai membaca kalimat ta’awudz dilanjutkan dengan basmallah: A’udzubillahi minasy Syaithaanirrajim, Bismillahirrahmaanirrahim.


Drrrt drrrrt


Satu pesan masuk ke dalam ponselnya. Ternyata dari Arini:


“Mas” Hanya itu kalimat yang Arini layangkan melalui pesan singkatnya.

__ADS_1


“iya Rin, ada apa?”


“Mas belum tidur? Dimana Hana?”


Haris menatap pesan itu, kemudian memilih untuk mengabaikannya, ia lanjutkan rencana membaca al-Qur’an yang tadi sempat tertunda. Beberapa menit kemudian getar ponselnya kembali terdengar.


“Mas sudah tidur? Kenapa pesanku belum dibalas”


“Mas…”


“Aku lagi ngaji Rin, apa ada yang bisa aku bantu?” Harispun menyerah.


“Aku ingin besok kita bertemu mas”


Haris menghembuskan nafasnya. Rasanya ia ingin sekali menemui Arini, kalau bisa malam ini juga. Tapi… ia pun melirik sekilas istrinya yang tertidur pulas diatas tempat tidur.


“Besok jadwalku penuh Rin, mungkin lain kali insya Allah” Haris hanya memberi alasan untuk menghindari Arini.


“Mas… sebentar saja, please” Arini memohon dalam bunyi pesannya.


“baik mas :)” Arini memberikan emoticon smile.


***


Pukul 04.00 pagi, Hana menggeliat ringan dan menguap. Ia hendak melakukan shalat tahajud. Iya pun menghidupkan lampu yang terletak disamping kasurnya dan  melirik ke sebelah kirinya.


“Astaghfirullah” Hana terpekik agak sedikit keras. Ia terkejut melihat seorang laki-laki disampingnya. Haris pun terbangun.


“Ada apa? Mengapa malam-malam berteriak?” Tanya Haris dengan mata setengah terbuka namun enggan untuk beranjak bangun.


“Ma.. maaf mas, aku hanya terkejut” jawab Hana terbata.


“Lain kali ingatlah, catat kalau kamu sudah menikah. Kamu benar-benar mengganggu” Haris berbicara ketus.


“Hhhhh baru juga nikah sehari udah sesewot itu. Ya Rabb, pernikahan seperti apa ini” lirih hati Hana. Ia pun langsung beranjak ke kamar mandi mengambil wudhu serta melakukan shalat tahajud. Setelah shalat ia melihat Haris yang masih berbaring pulas di atas tempat tidur. Ia pun berinisiatif untuk tidur di atas sajadah sembari menunggu adzan subuh berkumandang.

__ADS_1


***


Matahari sudah sepenggalah naik. Hana baru saja selesai membantu umminya menyiapkan sarapan.


“Harusnya kamu tidak usah membantu Ummi masak nak, siapa tau suamimu membutuhkan bantuanmu,


kamu harus melayaninya” Kata Ummi setelah mereka selesai meletakan berbagai macam makanan di atas meja makan.


“Kan hanya sebentar saja Hana membantu Ummi, lagian Ummi masak sebanyak ini kapan selesainya”


“Ini sekarang Hana mau ke kamar memanggil mas Haris agar kita sarapan bersama” lanjut Hana


Ummi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Perlahan Hana naik ke atas kamarnya. Kamar Hana berada di lantai 2. Rasa enggan menyelimuti hatinya. Baru kali ini ia merasa malas untuk masuk ke kamar. Rasanya malas sekali melihat Haris di sana. Sejak percakapan tidak sengaja semalam, mereka belum saling berbicara satu sama lain. Saat adzan subuh terdengar, Haris langsung mandi dan berangkat shalat ke masjid tanpa berpamitan dengan Hana. Hana pun shalat sendirian di kamarnya. Setelah itu ia langsung ke dapur untuk membantu Ummi masak.


Knop pintu di buka. Terlihat Haris yang tengah duduk bermain handphone.


“Mas, mari makan, kita di tunggu tuk sarapan” Hana membuka percakapan pertamanya


bersama Haris pagi ini.


“Hmh” Haris hanya berdehem mengiyakan.


“Hari ini pukul 11 aku akan menemui teman, terus lanjut ke bank mengurus deposito, kamu ada rencana kemana?”


“tidak kemana-mana mas”


“Baiklah, nanti setelah pulang aku ingin berbicara denganmu” Haris berkata penuh


penegasan.


Hana mengangguk. Mereka bersama keluar kamar menuju ruang makan.


***

__ADS_1


__ADS_2