
If you're not the one then why does my soul feel glad today?
If you're not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call?
If you are not mine would I have the strength to stand at all?
I'll never know what the future brings
But I know you're here with me now
We'll make it through
And I hope you are the one I share my life with
I don't want to run away but I can't take it, I don't understand
If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?
***
Hana masuk ke dalam kamarnya setelah Haji dan Hajjah Zakaria pamit pulang. Ada perasaan tidak enak yang menyelimuti hatinya. Tidak bisa di pungkiri, persoalan anak yang tadi menjadi topik hangat perbincangan mereka membuatnya merasa tidak nyaman.
Hana terduduk di kasurnya kala merenungi perkataan hajjah Aisyah tadi,
"Semoga Allah segera memberikan kalian keturunan nak! Usia Haris sudah 27 tahun, tidak lama lagi 28 tahun. Usia yang tepat dan sangat matang untuk memiliki anak. Sudah setahun kalian menikah, jika ragu, periksakan lah kesehatan kalian ke dokter. Persoalan anak keturunan ini sangat berarti di keluarga kami, bahkan anak kami Yahya harus menikah lagi demi mendapatkan nya"
Hajjah Aisyah menekankan nadanya pada Kalimat bahkan anak kami Yahya harus menikah lagi untuk mendapatkan nya. Kalimat terakhir dari hajjah Aisyah itu terasa seperti sebuah ancaman baginya.
Terhitung baru beberapa minggu sejak kepulangan nya dan Haris dari Madrid, mungkinkah ia bisa hamil dalam waktu singkat? Sungguh persoalan anak ini masih di luar perkiraan. Ia saja masih belum menamatkan kuliahnya, usianya bahkan belum genap 19 tahun.
Banyak yang iri melihat hubungan nya dan Haris, tidak sedikit yang mengatakan bahwa ia sangat beruntung di persunting oleh laki-laki seperti Haris yang Notabene nya paham agama, tampan lagi mapan.
Menurut orang-orang, Haris Benar-benar suami idaman. Mereka iri pada keharmonisan Pernikahan mereka. Haris dan Hana. benar-benar pasangan yang serasi dan seimbang. Perfect.
Padahal pada kenyataan nya, hubungan mereka tidak sebaik itu, banyak hal yang harus di benahi di dalam pernikahan perjodohan ini. Bahkan Haris dan Hana bisa saling nyaman satu sama lain dan saling terbuka setelah melalui berbagai cobaan pernikahan, dan penyatuan mereka juga belum genap sebulan. Miris sekali!
Hana mendesah kan nafas nya ke udara, Ia sudah terlalu malas dan lelah untuk memikirkan ini semua, saat ini yang ia butuhkan hanya hamparan sajadah untuk meluapkan semua keluh kesah yang menghimpitnya.
Tak menunggu waktu, Hana pun mengambil wudhu lalu shalat sunah 2 rakaat, Setelah itu ia membuka youtube dan mendengarkan ceramah-ceramah penyejuk hati tentang berumah tangga. Ia butuh pencerahan sekarang. Ia pun menyetel ceramah dari Syaikh Shalahuddin, ulama favorit nya.
اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang shalihah.” (HR Muslim dari Abdullah bin Amr).
Nabi Saw bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sebaik-baik harta pusaka seseorang? Yaitu wanita shalihah, yang menyenangkan jika dipandang, menaati jika diperintah suami, dan bisa menjaga (harta dan kehormatan) jika ditinggal pergi.” (HR. An-Nasa'i dan Imam Ahmad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).
“Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi no. 1161)
Perkataan Syaikh Shalahuddin yang membawa kalimat-kalimat hadits tersebut begitu menampar nya. Ia mengharapkan dan menuntut Haris untuk bisa menjadi seperti yang ia mau, namun apakah ia sudah menjadi istri shalihah yang memang di idam-idamkan oleh Haris?
Sedang mereka baru saja memulai berbenah, mereka baru saja mulai mendalami karakter satu sama lain. Terlalu picik dan angkuh rasa nya jika ia dengan gampang nya mengatakan kalimat perpisahan pada Haris. Apalagi Haris berani bersumpah bahwa anak yang di kandung Arini bukanlah anaknya.
Jika memang diabaikan, jika memang tidak dipedulikan, bukankah ia bisa membicarakan hal tersebut dari hati ke hati pada Haris? Kenapa ia bisa jadi se emosional ini. Apa iya cinta menjadikan seseorang lupa segalanya?
Hana kembali menangis, ia mencoba berpikir jernih sekarang. Sudah saatnya ia bangkit dari kemelut dan keterpurukan rumah tangga yang ia ciptakan sendiri.
Benar Ia memang harus merutuki Haris atas pengabaian dan rasa sakit yang suaminya itu torehkan. Tapi bukan begini caranya. Standar agama harus menjadi alasan kuat di sini, bukan malah lari dari masalah. Ternyata, ia memang belum sedewasa yang ia pikirkan. Ia dan Haris harus membicarakan ke pelabuhan mana mereka akan membawa rumah tangga ini.
Tentang masalah anak, Hhhhh. Apa yang harus ia takut kan? jika Allah berkehendak, semua akan terjadi dengan mudahnya. *Ayolah Hana, kamu bisa melalui ini semua. Percayakan segalanya hanya pada Allah sem**ata*! Jangan takut dan ragu, Allahu Ma'ana!!
Hana yakin sekali ia juga bisa memiliki anak seperti wanita lain pada umumnya.
Betapa Hana sedang berjuang melawan Ego nya. Mati-matian menyemangati dirinya sendiri, melawan semua rasa negatif yang menyelimuti hatinya. Jika Haris memang memilihnya, Ia berjanji tidak akan membiarkan Haris berpaling darinya, ia berjanji untuk lebih mengontrol emosi nya.
***
Setelah perasaannya menjadi lebih damai dan lega, Hana mengaktifkan kembali handphonenya. Sederatan panggilan tak terjawab masuk ke handphone nya Bertubi-tubi. Nama Haris tercatat di sana.
__ADS_1
Dddddrrrrtttt Drrrrttttt
Ternyata Haris tidak menyerah, Ia kembali menelepon Hana, mungkin saja handphone istrinya telah aktif. Dan benar saja, panggilan nya kembali memenuhi layar Hana.
Hana ingin sekali langsung mengangkatnya, tapi.... mas Haris memang harus lebih berjuang!
Untuk perasaan ego dan keinginan yang satu ini hati Hana tetap tidak bisa di ganggu gugat.
Ddddrrrrrtttttt Drrrrrrttttttt
Haris kembali menelpon nya untuk yang ketiga kalinya, akhirnya pelan-pelan Hana menekan lambang telepon dengan warna hijau yang tertera di layar.
"Haloo... halo Hana, Assalamu'alaikum! " Sapa Haris sumringah dari seberang sana.
"Wa... Waalaikumsalam" jawab Hana.
Tessss, hati Haris terasa begitu sejuk mendengar suara Hana, bulir embun seperti menetesi rasa gersang di hatinya.
"Hana, dari tadi Aku menghubungi mu namun handphone mu tidak aktif, aku cemas kamu kenapa napa, Aku terlalu segan menanyakan kabar mu pada Abah, terakhir aku meminta nomor Yura pada Ridwan dan menghubunginya untuk menanyakan kabarmu. Tapi sayangnya Yura juga tidak mengetahui nya" Haris membebel panjang.
Hana langsung mengecek handphone nya, ya Rabb ternyata Yura juga sudah berulang kali menghubunginya.
"Ma,, maaf, handphone nya sengaja ku matikan" Jujur Hana.
"Kamu masih marah ya?" Tanya Haris lemas.
"Apa kamu tidak merindukan ku? " Lirih Haris, Hana diam saja.
"Apa yang harus ku lakukan agar kamu mau memaafkan ku? katakanlah! " Lirih Haris lagi.
"Hana, jangan siksa aku begini! Ku mohooon!" Haris kembali memohon.
"Peluk lah aku, dekap aku erat-erat tapi janji jangan lepaskan lagi" Ucap Hana dengan bergetar.
Kali ini Haris seperti menemukan oase mendengar permintaan Hana. Rasa sakit di kepala yang di rasa semakin hebat nyaris hilang.
"Aku akan pulang malam ini, aku akan pulang dan mendekap mu erat, aku akan pulang dan membawamu kepelukan ku. Lalu tidak akan pernah ku lepaskan setelahnya" Janji Haris penuh semangat.
"Apa aku bisa memegang kata-katamu mas? " Hana Berkaca-kaca, ingin sekali rasanya ia membalas dan mengatakan bahwa ia juga sangat merindukannya, namun tenggorokannya yang tercekat mencegahnya untuk mengatakan hal tersebut.
tut tut tut
Hah kenapa handphone nya malah di matikan? Hana mengkerutkan keningnya.
Drrrrttttt drrrrrrtttttt
Haris kembali melakukan panggilan setelah mematikan handphone nya, ternyata ia ingin melakukan video call bersama Hana. Buru-buru Hana menjawabnya,
"My Sweetheart..." Haris tersenyum menawan begitu melihat Hana dengan kerudung nya di layar kaca. Saat ini Haris sedang sendirian berada di kamar hotel, Ia telah menyelesaikan pekerjaannya.
Sebentar lagi maghrib datang menjelang, Ia akan bersiap-siap pulang setelah dahaganya sedikit terpuaskan dengan melihat wajah Hana. Sedang Ridwan masih mengurusi urusannya yang lain di luar sana. Tak kalah, Hana juga membalasnya dengan senyuman manis.
"Kenapa menyambutku dengan berkerudung, hm? " Haris bertanya dengan suara yang begitu lembut.
"Ini mukenah mas, bukan kerudung" Hana menunjukkan tubuh nya hingga ke bawah, mukenah panjang menghiasi tampilannya.
"Lepaskan lah, Aku ingin melihatmu dengan rambut tergerai" Pinta Haris.
Hana melakukan apa yang Haris inginkan. Ia membuka mukenah nya, dan dengan gerakan pelan Hana menarik karet yang menghiasi rambutnya. Perlahan lahan rambutnya tergerai, Hana menyisir ringan rambut yang tergerai tersebut dengan jari jemarinya.
Semua yang Hana lakukan begitu sederhana, perlakuan nya benar-benar simple, tapi itu semua mampu menghipnotis Haris hingga pemuda ini mendamba.
"Kamu sangat cantik jika begitu..." Jujur Haris.
"Hmh, tapi lakukan itu hanya di hadapanku saja! " Lanjut Haris cepat.
"Tentu saja, bahkan di hadapan Abah saja aku hampir tidak pernah melepaskan kerudung, padahal itu hal biasa dan lumrah antara anak dan Ayah" Sahut Hana.
"Aku jadi tidak sabar untuk segera menemuimu" Ucap Haris.
"Mas kembali bersama siapa? "
__ADS_1
"Sendirian saja"
"Lho, yang lain kemana? "
"Menyusul besok pagi. Kerjaan mereka sangat padat, mereka bisa ambruk jika kembali malam ini" Tukas Haris.
"Kalau begitu mas juga harus kembali besok pagi! " Pinta Hana tiba-tiba.
"Kenapa begitu? "
"Mas juga akan ambruk jika memaksa pulang malam ini"
"Pekerjaan ku tidak seberat mereka. Aku juga tidak perlu membuat laporan! Semua mereka yang handle" Ucap Haris. Bisa bisa ia tidak tidur malam ini jika tidak bertemu Hana.
"Tapi tetap saja mas harus pulang besok pagi, mas lupa kalau semalam mas baru saja pingsan?! " Hana menaikkan sebelah alisnya.
"Sayaang,, Aku malah akan ambruk jika tidak menemui mu malam ini! "
"Mas berlebihan! Aku akan menjeda janjimu, akan menunggumu memeluk ku besok pagi! " Ucap Hana serius.
"Tidak bisa, aku sudah berjanji dan akan memenuhi nya, Insya Allah Aku akan baik baik saja, selama bersamamu, didekat mu aku akan baik-baik saja! Kamu jangan khawatir ya! Tunggulah aku, bukakan pintu untukku dan sambutlah aku" Ucap Haris, ia memberikan senyuman untuk meyakinkan Hana.
"Baiklah, Aku akan menunggui mas. Tapi Mas Hati-hati di jalan, jangan balap ya! Jangan lupa malam makan, kalau tidak pasti nanti mas akan menghabiskan makanan yang ada di nakasku" Canda Hana.
"Haha, kamu masih mengingatnya, lihatlah betapa perhitungan nya istri ku! Baiklah, aku tidak akan mengambil lagi makanan mu, namun sebagai gantinya kamu yang akan ku makan! " Haris menaikkan sudut bibirnya membentuk kurva, ia mengeluarkan smirk nya. Mendengar kalimat yang Haris lontarkan, wajah Hana pun memerah.
"Sudah sudah, mas bersiap-siaplah! adzan maghrib akan berkumandang! " Hana mengalihkan pembicaraan.
"Jangan lupakan pesan ku tadi. O iya, kira-kira jam berapa mas berangkat dari bandung? dan jam berapa pula perkiraan mas akan sampai di sini? " Tanya Hana.
"Insya Allah jam 8 aku berangkat, kemungkinan paling telat jam 12 aku sudah di sana! " Sahut Haris.
"Oiya, kamu mau nitip sesuatu? Maksud ku sesuatu yang kamu sukai, Makanan khas disini. Aku juga akan membelikan untuk Abah, Ummi dan untuk orang-orang di sana"
"Apa aja boleh mas, Aku suka semua makanan khas dari sana! " Ucap Hana.
"Baiklah, cuuppp, assalamu'alaikum" Ucap Haris sambil memperagakan seolah olah ia sedang mengecup kening Hana.
"Waalaikum salam" jawab Hana. Seperti ada rasa enggan di hatinya untuk mengakhiri video call ketika Haris harus mengucapkan salam penutup. Namun, mereka memang harus melakukannya dan bersabar menanti pertemuan yang mana seolah olah telah terpisah dalam jarak waktu yang begitu lama.
Hana langsung bersiap-siap, ia keluar kamar dan menuju dapur untuk memastikan bahan makanan mentah yang tersedia, ia berencana akan memasakkan Haris makanan kesukaannya.
Betapa girangnya ia ketika memastikan itu semua tersedia di sana. Hampir saja ia meloncat, namun gerakan setengah jadinya di tangkap oleh Ummi.
"Kok kelihatan nya anak Ummi bahagia sekali? " Tanya Ummi keheranan.
"Masa Hana ga boleh bahagia mi? " Hana balik bertanya sumringah.
***
Haris bersiap-siap untuk kembali, Ia telah memakai ransel dan sepatunya.
"Lu yakin pulang malam ini juga? Yakin ga besok aja? " Ridwan mengulangi pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya.
"Yakin lah. Gue mau ketemu Hana! Kata Dilan Rindu itu berat Wan! Makanya cepat-cepat nikahin Yura biar Lu ngerti" Haris menepuk-nepuk pundak Ridwan.
"Ya deh, terserah lu aja, dasar keras kepala! " Ridwan mencemaskan kondisi Haris, di luar sana hujan juga mulai turun.
"Yudah, kalau gitu gue pamit ya! Insya Allah kita ketemu besok"
"Okay, fii amaanillah, may Allah bless You"
"Siip Amiiin"
Dengan mengucapkan bismillah dan doa perjalanan, Haris mulai membawa mobilnya melaju membelah pekatnya malam.
Hujan gerimis yang turun perlahan tadi mulai menunjukkan kekuatannya, bulir-bulir itu membesar dan deras. Haris mengaktifkan kan Wind screen wiper mobil nya untuk menyeka air hujan yang kian hebat menyapa kaca mobilnya.
***
Hai Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
__ADS_1
Selamat menyambut tahun baru islam Man Teman 🌹🌹🌹
***