
🎶
I wanna call the stars, down from the sky
I wanna live a day, that never dies
I wanna change the world, only for you
All the impossible, I wanna do
I wanna hold you close, under the rain
I wanna kiss your smile, and feel the pain
I know what's beautiful, looking at you
In a world of lies, you are the truth
And baby, everytime you touch me
I become a hero
I'll make you safe, no matter where you are
And bring you, everything you ask for
Nothing is above me
I'm shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me
🎶
***
Setelah Haris menggiring Hana ke atas tempat tidur, laki-laki ini terus saja melancarkan serangan sampai ia merasakan ada Air yang mengaliri lengannya. Seketika ia tersadar, ternyata Hana menangis.
Hah hah hah.
Nafas laki-laki ini memburu. Sadar perbuatannya menyakiti Hana, Ia pun merenggangkan tubuh nya dari sana, lalu berbaring terlentang di samping wanitanya.
"Maafkan aku... " Lirih Haris.
Hah hah hah.
Nafas Haris masih saja memburu, ia seperti baru habis lari marathon. Hana menarik selimut menutupi tubuh polos nya.
"Maaf kan aku...." Ucap Haris lagi, perlahan ia bangkit lalu mengambil baju kaos yang telah di lempar nya ke sembarang arah tadi kemudian dipakai nya kembali. Ia balik mendekati Hana.
"Apa ada yang sakit? Biarkan aku melihatnya! " Lirih Haris lembut. Perlahan pria ini menyibak selimut, Hana memalingkan wajah lalu memegang erat selimut nya. Namun Haris sempat melihat banyak tanda kemerahan hasil perbuatan nya di sana. Hana berbalik arah.
"Aku khilaf... Tidak seharusnya aku berlaku kasar pada mu" Bisik Haris. Ia mencoba memeluk Hana dari belakang. Pria ini menunggu, ternyata tuk beberapa saat tidak ada perlawanan dari istrinya itu. Hana masih saja diam, hingga setelah menetralisirkan perasannya ia berkata,
"Aku yang bersalah, bukan mas. Aku yang seharusnya minta maaf karena telah membuat semua yang telah mas rencana kan jadi berantakan. Mas berhak untuk marah. Mas berhak memperlakukan ku sesuka hati Mas" Ucap Hana, ia mengusap air mata dengan ujung punggung telapak tangannya.
Mendengar perkataan Hana, Haris semakin merasa bersalah. Ia memang marah tapi tidak seharusnya ia bersikap kasar.
"Aku tidak marah karena rencana ku gagal, kita masih bisa mengulangnya di lain waktu...." Haris menjeda kalimatnya.
"Tapi aku marah karena perhatianmu pada laki-laki lain. Aku marah karena kamu memikirkannya. Aku marah karena kamu masih mempedulikannya. Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman Nya. Aku cemburu... Aku cemburu Hana... Aku laki-laki pencemburu..." Hana terhenyak.
"Ku mohon... jangan kamu usik rasaku. Sebab aku takut, aku tidak akan mampu menghindar dari gejolak emosi yang mengubun hingga aku menyakiti mu seperti tadi... Dan... menyakitimu seperti tadi itu, aku juga merasa sakit dan terluka" Aku Haris bersungguh-sungguh.
Mendengarnya Hana bergetar, ia tidak tau efek dari perbuatan nya akan begini. Sebenarnya ia sama sekali tidak berniat apa apa terhadap Gibran, namun ternyata Haris menanggapinya dengan berbeda.
Hana berbalik menghadap Haris. Kini kedua netra mereka saling bertemu. Hana menatap suaminya lekat-lekat. Ada banyak hal yang belum terungkapkan di antara keduanya.
Mereka memang telah lama menikah, namun pada hakikatnya baru saja mengenal satu sama lain. Mereka tak ubah selayaknya pengantin baru yang masih harus beradaptasi dan harus saling memahami.
__ADS_1
"Lihatlah ke dalam mataku mas, adakah kamu temukan kecurangan di sana? Coba mas telusuri lagi, lihatlah lekat-lekat. Apa yang mas ragukan? Aku telah menyerahkan segalanya untuk mas. Segala-gala yang ku punya. Jiwa dan ragaku.. semua tidak ada yang tersisa. Bagaimana mungkin aku bisa mengkhianati rasamu" Hana membawa tangan Haris ke dada nya. Haris bisa merasakan detak jantung yang berdebar debar itu, ia bisa merasakan ketulusan di sana. Dengan gerakan cepat, ia telah membawa Hana ke dalam pelukan, mengeratkan nya di sana.
"Terima Kasih... Terima kasih sayang" Air mata yang mengalir dari sudut mata Haris membuktikan bahwa ia tersentuh dan Hana dapat merasakan cinta mendalam dari suaminya.
***
Malam semakin merangkak naik, Haris dan Hana telah berdiri di dekat jendela memandang keluar sana. Laki-laki ini memeluk istrinya dari belakang, menghirup aroma harum dari rambut Hana yang selalu bisa memabukkan indera penciuman nya.
Bersama Mereka menikmati malam, melihat langit yang begitu bersih. Tidak ada bayang awan sedikit pun di sana.
Pencahayaan dari dari lampu jalan juga membuat pemandangan kota menjadi begitu megah.
"Mas, Aku sangat menikmati masa-masa seperti ini, rasanya aku tidak ingin ini berakhir" Ucap Hana sendu dengan memandang bulan sabit di atas sana.
"Jika kamu mau, kita bisa melakukannya setiap malam" Ucap Haris lagi. Berkali-kali ia mengecup puncak kepala Hana penuh cinta.
"Haha, kita tidak mungkin setiap malam ke hotel ini. Mas ngaco!" Hana berbalik arah, tangan Haris masih saja melingkari pinggang ramping nya.
"Aku serius Hana. Kita akan menikmati ini setiap malam" Ucap Haris. Hana menggelengkan kepalanya.
"Tidak mas, itu terlalu boros. Aku tidak ingin kita hidup dengan gaya yang demikian..." Hana memanyunkan bibirnya.
"Tidak ada yang boros sayang..."
"Lalu, apa juga namanya jika kita bolak balik dari rumah hanya untuk bermalam di sini? Aku tidak bisa membayangkan berapa banyak mas akan mengeluarkan uang... Itu terlalu menghambur-hamburkan. Lebih baik sedekahkan saja uang nya atau kita simpan lalu bangun yayasan atau...." Komentar Hana panjang lebar.
"Cuupppp.. " Haris mengecup bibir Hana cepat.
"Sejak kapan istriku jadi cerewet begini huh? " Goda Haris. Hana kembali memanyunkan bibirnya. Membuat Haris semakin merasa gemas.
"My Honey.... Bunny Baby Beauty Sweety... Cuuppp" Haris kembali mengecup bibir Hana.
"Mas....! Panggilan jenis apa itu... udah kayak anak ABG aja... " Wajah Hana bersemu merah. Ia tersenyum geli mendengar rentetan panjang panggilan yang meluncur dari bibir suaminya.
"Hahaa... Bukannya kamu memang masih ABG?? Dasar!" Haris menoel gemas hidung Hana.
"Tapi kata-kata ku tadi serius lho... "
"Maksud mas bagaimana? "
"Lihatlah gedung apartemen itu... "
"Yang mana? "
"Tepat di samping hotel ini! "
"Ya.. Aku melihatnya"
"Satu Unit di lantai 21 dengan posisi persis seperti kita berdiri ini adalah kepunyaan mu... " Ucap Haris santai.
Deg...
"Haha... Mas jangan bercanda!" Hana memukul pelan dada bidang Haris.
"Aku sama sekali tidak bercanda Hana! Kemarilah... " Haris melepaskan tangannya yang bertengger di pinggang Hana. Ia berjalan ke arah lemari lalu membuka tas nya dan mengambil sesuatu dari sana.
"Ini sertifikat kepemilikan nya, Bacalah! " Titah Haris.
Hana mengambil kertas tebal tersebut, perlahan membacanya. Di sana tertera kepemilikan atas nama Hana Fathimah Ameer, memang namanya. Tangan Hana bergetar.
"Mas.... " Hana berkaca-kaca.
"Happy Anniversary Sayang...!!!" Haris merentangkan tangan nya. Ia memeluk Hana. Jam dinding menunjukkan pukul 00.06 Wib.
"Jangan menangis.... Hadiah ini tidak seberapa mana dibandingkan kebahagiaan ku memilikimu...
" Setahun pernikahan ini... Sudah begitu banyak cobaan dan ujian di dalam rumah tangga kita. Namun kamu masih tetap berdiri kokoh mendampingi ku...
"Aku tidak mengharapkan apapun. Menua lah bersamaku, hingga rambut kita memutih bersama. Sayang... Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, namun Aku ingin kita bisa menghabiskan malam dengan melihat bintang di langit yang sama setiap malamnya. Lalu mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan... Ucap Haris lagi.
__ADS_1
Kata-kata Haris begitu lembut, merasuk halus ke dalam lubuk sanubari Hana. Laki-laki ini sukses membuatnya terenyuh. Hana menghabur ke dalam pelukkan Haris.
"O iya... Aku juga punya hadiah lain untukmu... " Hana terkesiap. Ia mengusap air matanya.
"Apa mas akan membelikan ku kapal pesiar? atauuu Jet pribadi? Atau gedung pencakar langit? " Hana mengkerutkan keningnya.
"Hahahahah.... bukan! Demi menyenangkan hati seorang wanita, itu baru di katakan boros!" Tukas Haris tertawa renyah sambil memijat pelipisnya.
"Hadiah nya juga ada di sini kok. Hanya ada satu-satunya di dunia, tiada duanya. Dan hanya akan ku berikan padamu seorang" Bisik Haris.
Hana langsung mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kini. Mencari-cari dimana keberadaan hadiah yang Haris maksudkan. Ia juga membolak-balikan tubuh Haris. Namun tak juga menemukan apapun disana.
"Mas... Aku nyerah... " Hana mempoutkan bibirnya.
"Cepet banget nyerah nya... Hmh... Baiklah... Aku akan memberikan clue pamungkas.... " Hana bersabar menunggu kalimat Haris berikut nya.
"Hadiahnya ada di hadapanmu, ada di depan matamu..... " Ucap Haris.
"Manaa? Aku tidak melihatnya! "
"Hadiahnya adalah....
"Diriku sendiri! " Haris menutup mulutnya tertawa. Iseng ia mengerjai Hana.
"Maaaassss... ihh... Nyebeliiiiiiiin.... " Pekik Hana memukul dada Haris.
"Hahaa... ampuuun... okay kita damai, ampuun... " Ucap Haris menangkis serangan Hana. Wanita ini menghentikan geraknya.
"Mas.... " Panggil Hana. Seketika ia memasang wajah serius.
"Ya? "
"Hmh... Dari kedua hadiah tadi... hadiah terakhir barusan yang paling ku suka. Karena mas sudah memberikan nya, maka tidak akan ku berikan pada siapapun. Hanya aku yang boleh memiliki nya" Ucap Hana memeluk Haris erat. Pria ini membalas pelukannya.
Semoga pernikahan kita bisa berjalan mulus hingga kita menua. Lirih hati Haris. Ia bertekad sekuat tenaga untuk akan bisa membuat Hana bahagia.
"Tapi... aku tidak membawa hadiah apa pun malam ini " Hana bersedih. Ia benar-benar tidak ingat.
"Hhhhhh sayang sekali... " Ucap Haris mendesahkan nafasnya. Ia memasang tampang sedih. Hana terhenyak, ternyata Haris kecewa.
"Kalau begini dengan terpaksa aku harus memberikan mu hukuman! " Ucap Haris lagi, kali ini ia memasang senyum smirknya.
"Hu.. Hukuman? "
"Iya... Ayo temani ku berendam di bathup " Haris mengerling nakal. Ia langsung mengangkat Hana masuk ke dalam kamar mandi.
"Maasss.... "
***
Sudah dini hari, Gibran mengantarkan Ni Rui ke penginapan nya. Mereka menjalani hari yang panjang dan sangat berbeda dari biasanya. Gibran mengungkapkan perasaan mendalamnya tentang Hana dan bagaimana usaha yang telah ia lakukan selama ini untuk melupakan gadis itu.
"Gibran... Kamu bisa memikirkan apa yang telah ku katakan tadi... " Ucap Ni Rui sebelum ia membuka pintu mobil.
"Maaf, aku tidak bisa melakukan itu, menikahi mu sama artinya aku akan menyakiti mu! " Gibran menggeleng kan kepalanya.
"Kamu terlalu baik untuk ku sakiti. Aku tidak bisa menjalani rumah tangga tanpa cinta di dalamnya" Lanjut Gibran. Kata-kata pria ini benar-benar menyayat hatinya.
Gibran sama sekali tidak peka. Ni Rui telah menghabiskan banyak waktu, dana dan kesempatan hanya untuk mengejar pria yang ada di hadapan nya ini.
Penelitian dan mempelajari tentang Indonesia hanyalah alibinya saja agar ia bisa berdekatan dengan Gibran. Namun, sejauh ini seperti nya usahanya sia sia. Gibran sama sekali tak bergeming.
Gibran, Katakan Aku harus bagaimana? Apa aku harus menyerah dan kembali ke negara ku? Lirih hati Ni Rui. Ia menatap Gibran lamat-lamat sebelum akhirnya permisi turun dan masuk ke dalam penginapan nya.
Hhhhhh. Gibran menghela nafas panjang.
***
Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
__ADS_1
***