
Cahaya yang meredup oleh awan
Keras jatuh di bawah jendela
Kenangan yang dingin seperti suara hujan
Menangkap hatiku
Kerinduan yang kuat semakin terkunci dalam nostalgia
Dapatkah aku pergi ke masa itu?
Memberiku pelukan hangat seperti saat itu
Sekarang baik-baik saja
Aku mengikuti jalan basah oleh hujan
Kenangan bersama itu kembali
Dalam hujan yang mengaburkan, kau muncul
Dalam air mata yang datang
Kerinduan yang kuat semakin terkunci dalma nostalgia
Dapatkah aku pergi ke masa itu?
Memberiku pelukan hangat seperti saat itu.
***
Kepulangan Haris dari Bandung membuat Hana bahagia, namun ada hal yang mengusik hatinya ketika wanita ini melihat suaminya turun dari mobil. Raut muka pucat dan tingkah yang tidak biasa serta suara yang terdengar lemah. Semua memenuhi penglihatan nya.
"Jangan menangis, aku tidak ingin melihat mu menangis" Ucap Haris kala air mata Hana mengalir di pipi. Hana terpaku. Dengan gerakan perlahan Haris mencoba menghapus air matanya. Haris mengusap lembut di sana, tangan nya terasa begitu panas di kulit Hana padahal malam ini suhu udara sangat dingin, hujan baru saja berhenti.
"Sini peluk aku, aku rindu pelukanmu... Kemarilah sayang..." Bisik Haris semakin samar terdengar. Pemuda ini merentangkan tangannya.
Hana maju dan ingin memberikan pelukannya. Ia sempat melirik ke kanan dan ke kiri kalau kalau saja ada orang yang melihat atau melintas di sana, Lalu tiba-tiba belum sempat mereka berpelukan,
Bruuuukkkkkk
Haris ambruk ke tanah.
"Mas,, mas!!! " Panik Hana yang langsung melihat kondisi suaminya. Haris pingsan lagi.
"Mang,, mang Shaleh...!! " Panggil Hana berlari memanggil mang Shaleh yang biasa duduk di pos Satpam.
"Iya Neng, ada apa? " Mang Shaleh bingung melihat kepanikan Hana.
"Mang, tolong mas Haris.. Mas Haris pingsan di halaman depan teras!! " Sahut Hana panik. Kali ini entah mengapa ia merasa lebih panik dari kemarin.
Mang Shaleh dengan sigap membantu Hana menggotong Haris ke kamar. Hana menggigit gigiti kukunya yang tidak panjang. Ia gemetar. Wajah Haris terlihat sangat pucat dengan bibir biru keunguan.
"Neng, apa tidak kita bawa saja den Haris ke rumah sakit? Melihat kondisi Aden, sepertinya ini serius" Saran Mang Shaleh.
Hana menggangguk cepat.
"Tolong siapkan mobil ya Mang! Hana panggil Ummi terlebih dulu! "
Mang Shaleh bergegas keluar memenuhi permintaan Hana untuk memanaskan mobil.
Tok tok tok
"Mi... Ummi!!" Panggil Hana mengetuk pintu kamar Ummi. Ia tau Abah sedang tidak berada di rumah dan memenuhi panggilan untuk mengisi pengajian di luar kota.
"Mi... Ummiiii" Panggil Hana tak sabar, tak lama pintu kamar Ummi terbuka,
"Kenapa nak? Ada apa? " Ummi terlihat masih mengenakan mukenah nya, beliau tengah bertadarus.
"Mas Haris pingsan mi, mang Shaleh lagi menyiapkan mobil. Temani Hana antarkan mas Haris ke rumah sakit" ngos-ngosan Hana berkata.
"Baik nak, Ummi ganti pakaian dulu" Ucap Ummi cepat tanpa banyak bertanya dan di iringi anggukan.
***
Tengah malam rumah sakit tampak lengang. Di bantu oleh mang Shaleh, Haris di bawa ke UGD. Sejenak dokter melakukan pemeriksaan secara umum.
__ADS_1
Dokter meletakkan stetoskop ke bagian dada Haris untuk mendengar detak jantung nya juga mendeteksi apakah ada kelainan lain di sana. Alat ini mendeteksi melalui suara. Jenis dan intensitas suara-suara ini dapat membantu dokter dalam menentukan diagnosis serta menilai kondisi pasien.
"Bagaimana dok? " Tanya Hana lirih.
"Pak Haris diharuskan menginap, kita akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut, sementara saya akan memberikan cairan terlebih dahulu melalui selang infus juga di bantu dengan selang Oksigen. Semoga malam ini sudah langsung siuman" Ucap Dokter.
Haris pun di bawa ke kamar rawat inap, perawat dengan telaten memasang kan infus juga alat bantu pernapasan lalu mengambil darah dan memberikan kepada petugas lab untuk diketahui hasilnya. Haris mendapatkan perawatan intensif.
"Kita biarkan pak Haris beristirahat dulu ya mbak! " Ucap perawat dengan memberikan senyuman, mereka berusaha menenangkan keluarga pasien.
"Mas Haris ga kenapa napa kan, Sus?" Tanya Hana dengan tenggorokan tercekat.
"Kita akan menunggu hasil lab dan pemeriksaan terlebih dahulu ya mbak! Insya Allah pak Haris akan baik-baik saja" Terang perawat lagi.
Sepeninggal Perawat, Hana memeluk Ummi erat. Ia menumpahkan tangisannya.
"Mi... Mas Haris akan baik-baik saja kan, Mi? hiks hiks hiks" Tangisan Hana pecah.
"Tentu saja nak, kita berharap pada Allah, kamu jangan khawatir ya!" Ucap Ummi dengan mata yang ikut berkaca-kaca.
Beberapa menit ibu dan anak ini berpelukan hingga Ummi berkata beliau akan meminta bantuan mang Shaleh untuk mengabarkan Ummi nya Haris dan keluarga haji Zakaria tentang masuk nya Haris ke rumah sakit.
Kini Hana menunggui Haris sendirian, ada perasaan mencelos di hatinya ketika mendekati ranjang Haris. Hana duduk memandangi wajah pucat suaminya di sana.
"Mas..." Lirih Hana, ia seakan tak mampu berkata-kata.
"Mas... Mas kelelahan ya... Maafin Hana ya Mas, maafin Hana... hiks hiks" Ucap Hana dengan menggenggam telapak tangan Haris dan di bawa ke pipinya.
"Kemarin ga lama mas sudah langsung siuman, ini malah udah di bantu selang infus dan selang oksigen kenapa belum siuman juga? hiks hiks" Protes Hana dengan terus menangis. Air mata nya jatuh membasahi telapak tangan Haris. Hana berulang kali melakukan protes, sayangnya Haris tetap tak bergeming.
"Apa Hana harus melakukan hal hal seperti semalam itu baru mas bisa siuman? " Hana mengelap air yang mengaliri hidungnya menggunakan tisuue.
"Tapi... Tapi Hana lupa membawa balsem, juga lupa membawa handuk kompress" Hana sesugukan.
"Mas.... apa yang harus Hana lakukan agar mas siuman? Ya Rabb... hiks hiks" Hana terus saja membebel di samping Haris, ia menungguinya dan berharap sang suami segera siuman. Namun tanda-tanda itu masih tak juga terlihat.
"Sebentar ya mas, Hana shalat sunnah dulu, setelah itu Hana akan mengaji di samping sambil menunggui mas. Mas harus segera siuman ya! Janji harus bisa sehat! " Lirih Hana setelah membebel panjang, ia mengecup pipi Haris sekilas lalu ke kamar mandi mengambil air wudhu'.
Hana larut dalam sujudnya, tak lupa pada sujud terakhir ia mendoakan kesembuhan untuk Haris. Setelahnya ia mendekati Haris dan kembali duduk di sampingnya lalu menghidupkan handphone dan membuka apps Al Quran digital.
1.QS. At-Taubah (9): 14
قَاتِلُوۡهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ اللّٰهُ بِاَيۡدِيۡكُمۡ وَيُخۡزِهِمۡ وَيَنۡصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَيَشۡفِ صُدُوۡرَ قَوۡمٍ مُّؤۡمِنِيۡنَۙ
Artinya: Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghina mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman,
2.QS. Yunus (10): 57
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُمۡ مَّوۡعِظَةٌ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوۡرِۙ وَهُدًى وَّرَحۡمَةٌ لِّـلۡمُؤۡمِنِيۡنَ
Artinya: Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.
3. QS. An-Nahl (16): 69
ثُمَّ كُلِىۡ مِنۡ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُكِىۡ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ؕ يَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِهَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُهٗ فِيۡهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِؕ اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيَةً لِّقَوۡمٍ يَّتَفَكَّرُوۡنَ
Artinya: kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)." Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yangbermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.
4. QS. As-Syu’ara (26): 80
وَاِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِيۡنِ ۙ
Artinya: dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,
5.QS. Fushilat (41): 44
وَلَوۡ جَعَلۡنٰهُ قُرۡاٰنًا اَعۡجَمِيًّا لَّقَالُوۡا لَوۡلَا فُصِّلَتۡ اٰيٰتُهٗ ؕ ءَاَعۡجَمِىٌّ وَّعَرَبِىٌّ ؕ قُلۡ هُوَ لِلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا هُدًى وَّشِفَاۗءٌ وَ الَّذِيۡنَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ فِىۡۤ اٰذَانِهِمۡ وَقۡرٌ وَّهُوَ عَلَيۡهِمۡ عَمًى ؕ اُولٰٓٮِٕكَ يُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّكَانٍۢ بَعِيۡدٍ
Artinya: Dan sekiranya Al-Qur'an Kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka mengatakan, "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah patut (Al-Qur'an) dalam bahasa selain bahasa Arab sedang (rasul), orang Arab? Katakanlah, "Al-Qur'an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Al-Qur'an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh."
6. QS. Al-Isra (17): 82
وَنُنَزِّلُ مِنَ الۡـقُرۡاٰنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحۡمَةٌ لِّـلۡمُؤۡمِنِيۡنَۙ وَلَا يَزِيۡدُ الظّٰلِمِيۡنَ اِلَّا خَسَارًا
Artinya: Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zhalim (Al-Qur'an itu) hanya akan menambah kerugian.
Setelah melakukan semua ritual sucinya, Hana terlelap di samping Haris.
__ADS_1
Adzan shubuh yang menggema dari alarm handphone membangunkan Hana. Buru-buru ia melihat ke arah Haris, sayangnya sang suami belum juga siuman.
Ada perasaan kecewa yang menyelimuti hati Hana, Padahal baru saja ia bermimpi Haris sadar dari pingsannya dan diperbolehkan pulang oleh dokter. Rasanya ia tidak ingin bangun dari tidurnya melihat kenyataan saat ini.
"Hhhhhh... " Hana menghembuskan nafasnya ke udara, di kamar mandi terdengar suara gemericik air. Ummi tengah mengambil wudhu di sana.
Perlahan Hana melihat Perawat memasuki kamar,
"Mbak, jam 8 pagi nanti ke lab ya! Dokter akan membacakan hasil nya" Ucap perawat. Hana mengangguk lemas.
***
Di Ruang Laboratorium
"Bagaimana hasilnya dokter? " Tanya Hana deg deg-an.
"Suami nona kekurangan Hemoglobin, dilihat dari hasil darah, Hemoglobin atau HB nya hanya berkisar di angka 6, tepatnya 6.3., dan ini sudah termasuk fatal. Penyebabnya bisa jadi kurang istirahat, kerja berlebihan dan pengaruh makanan yang di konsumsi, nanti kita akan menganalisis lebih jauh. Namun untuk sementara, Kita harus segera melakukan Transfusi darah" Ucap dokter.
Untuk sesaat Hana tercenung, ia teringat Arini yang beberapa waktu lalu juga mengalami masalah HB dan memiliki golongan darah yang sama dengan Haris.
"Apakah golongan darah suami saya A plus dok? Apakah ada stok darah di sini? " Tanya Hana bergetar.
"Benar sekali, golongan darah suami nona adalah A plus, namun sayangnya kita tidak memiliki stok darah, di PMI juga tidak tersedia. Mbak harus segera mencari pendonor" Terang dokter dengan menggelengkan kepala.
Tesss... Setetes air mata mendarat sempurna melewati kelopak matanya.
"Dok, berapa lama rentang waktu maksimal yang tersedia? " Tanya Hana lagi.
"Hari ini juga, sesegera mungkin nona! kalau tidak, kita tidak mengetahui hal fatal apa yang akan terjadi" Sahut dokter dengan menyesal.
Hana berjalan sedikit terhuyung setelah menerima penjelasan dari Lab. Dimana ia akan menemukan pendonor? Hana berpikir cepat.
Tak menunggu lama, Hana langsung menghubungi Ridwan, Romi, Yura juga Lisa. Mereka tampak terkejut. Ridwan berjanji langsung melesat ke rumah sakit, ia tengah dalam perjalanan dan akan ikut membantu mencarikan pendonor.
Hana juga menceritakan pada mereka bahwa Arini sempat di donorkan darah oleh Haris beberapa waktu lalu. Dengan dada berdebar Hana mengatakan bahwa Arini memiliki golongan darah yang sama dengan Haris.
Romi langsung menyela, saat ini Arini tengah koma di rumah sakit. Arini sangat tidak mungkin mendonorkan darahnya. Fakta ini membuat Hana terkejut. Namun ia tidak punya waktu untuk bertanya lebih lanjut tentang Arini. Ia harus segera menemukan pendonor.
Yura dan Lisa belum melihat pesan di grup whatsapp mereka, Hana sendiri sudah berulang kali menelpon Yura namun sahabat nya itu belum juga mengangkat telponnya.
Hana lemas, ia kembali ke ruangan rawat inap dengan kecemasan. Ia akan meminta pendapat Ummi. Setau Hana Mertuanya memiliki golongan darah yang berbeda dengan Haris, sebab suaminya itu mewarisi golongan darah dari sang Ayah.
***
"Maas, banguuun... " Lirih Hana. Ia kembali menggenggam telapak tangan Haris.
"Mas Do'akan supaya aku bisa segera mendapatkan pendonor darah untukmu ya! Hiks hiks" Hana kebingungan mau melakukan apa. Jujur saja ia hampir menyerah menemukan pendonor.
"Mass... Hiks, mas sudah berjanji akan pulang dan memelukku. Mas berjanji untuk tidak akan melepaskan nya lagi... Hiks hiks"
"Mas belum memenuhi janji mas, tapi mas sudah begini. Mass, ku moohon... bertahanlah!
"Mas... mas harus berjanji mau menunggu sampai aku menemukan pendonor darah! Janji yaa mas... Sebab Aku masih menunggumu, Aku saja masih mau menunggu, Aku masih mau menunggumu memeluk ku! " Pilu Hana. Hatinya dipenuhi kekhawatiran. Ia terus saja mengajak Haris berbicara, walau suaminya itu tidak menjawab, namun ia yakin Haris bisa mendengar nya.
"Astaghfirullah nakkk, mengapa jadi begini? " Tampak Mertua Hana masuk ke kamar di iringi Hajjah Aisyah, haji Zakaria, Umminya Hana juga haji Amir.
"Dokter... dokter mengatakan bahwa mas Haris butuh pendonor darah hari ini juga, kalau tidak... " Ucap Hana sambil mengusap air mata yang menghiasi mata sembabnya.
Untuk sesaat Ruangan hening, Ruangan tersebut terasa mencekam. Para orang tua menunggu kalimat lanjutan dari Hana, kini semua perhatian berpusat pada wanita muda itu,
"Kalau tidak akan berakibat fatal" Lirih Hana melanjutkan kalimat terputusnya tadi. Mertuanya hampir saja pingsan mendengar ucapan sang menantu. Hajjah Aisyah terduduk lemas di kursi, jantung nya terasa sakit.
Ridwan, Romi, Lisa dan Yura tiba hampir bersamaan, mereka memasuki ruang rawat inap yang merawat Haris.
"Aku bisa mendonorkan darah ku! " Ucap salah satu di antara mereka.
"Jangan khawatir, golongan darah saya sama dengan golongan darah mas Haris! " Ucap nya lagi meyakin kan semua orang di sana.
"Golongan darah saya A plus" Lisa muncul dan seketika pusat perhatian yang semula tertuju pada Hana beralih pada nya.
***
Note: Ayat-ayat syifa dalam Alquran yang dikutip dari buku Wawasan Alquran Tentang Dzikir dan Doa oleh M Quraish Shihab.
Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
***
__ADS_1