Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 103: Kalimat Pamungkas


__ADS_3

Bu Indah baru saja selesai mendonorkan darahnya untuk Haris, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa beliau layak menjadi seorang pendonor.


Ibu dari Arini tersebut memiliki tekanan darah yang stabil. Beliau memiliki berat badan 55 kg dengan usia yang masih 47 tahun. Usia yang masih sangat produktif. Setidaknya begitu lah penjelasan dari dokter tadi.


"Bu Fatma, Kita bertemu lagi setelah berpuluh tahun lalu" bu Indah menyunggingkan senyum khas nya. Ada kecanggungan di hati ibu nya Haris ketika melihat senyum yang bu Indah layangkan.


Gaya bu Indah masih tetap sama seperti dulu, dandanan yang selalu rapi dan tampak berkelas itu memang merepresentasikan darah bangsawan yang berada di tubuh nya.


"Bu Fatma masih tetap sama seperti dulu ya, masih seperti gadis desa biasa. Ah, tapi kecantikan yang bu Fatma miliki masih sangat mempesona" Ucap bu Indah menyinggung masa lalu mereka. Bu Fatma hanya tersenyum hambar mendengar perkataan wanita yang memiliki usia sepantaran dengan nya itu.


"Terima kasih sekali bu Indah sudah berbaik hati mendonorkan darah untuk anak kami, Haris. Semoga Allah membalas kebaikan bu Indah dengan kebaikan yang berkali lipat" Syukur bu Fatma.


Tidak bisa di pungkiri, bagaimanapun masa lalu mereka, tapi bu Indah tetap saja masih mau berbelas kasih. Padahal saat ini mereka tidak memiliki hubungan apapun, apalagi Arini dan Haris juga tidak jadi menikah.


"Haha, bu Fatma tidak perlu merasa sungkan begitu. Nak Haris juga sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, apalagi Haris dan Arini pernah memiliki ikatan yang sangat kuat dan dulu malah hampir tiga bulan lagi mau menikah, kan? Ehehehe " Seloroh bu Indah dengan tertawa ringan khas obrolan ibu-ibu.


Mendengar perkataan beliau, bu Fatma jadi merasa tidak enak pada Hana dan secepat kilat melirik ke arah sang menantu yang tengah duduk di samping Haris membelakangi mereka.


Hati Hana mencelos, ia yang dari tadi tidak sengaja menelinga perbincangan antara bu Indah dan Ummi mertuanya, merasakan ketidaknyamanan atas kalimat-kalimat yang bu Indah lontar kan.


Hana menggenggam kuat tangan Haris, mencoba membesarkan hati nya sendiri, Bagaimana pun ibunya Arini itu sudah sangat berjasa karena telah bersedia mendonorkan darahnya.


Tadipun Hana sudah mengungkapkan rasa Terima kasihnya pada bu Indah, walau tak ayal sindiran-sindiran halus maupun blak-blakan secara langsung di terima nya .


"Mas, sebentar yaa... Aku ke toilet dulu!" bisik Hana di telinga Haris, suaminya itu sudah menerima donoran darah dari sejam yang lalu, Menurut perkiraan dokter ia akan siuman dalam rentang waktu beberapa jam saja.


Hana berjalan cepat ke toilet, ia membawa serta tas nya ke dalam sana. Tas jinjing kecil tersebut berisi kan perlengkapan make up nya. Make up yang memang selalu berada di tas nya dalam kondisi apapun.


Sejenak ia melihat ke cermin, memperhatikan pantulan wajahnya di sana. Wajah sembab dengan lingkaran hitam di bawah mata serta bibir pucat pink pun menghias di sana.


"Hhhhh" desah Hana. Ia merasa penampilannya sangat buruk.


Tak menunggu lebih lama, ia mengambil lipstik dengan warna bibir dan menambal nya dengan lipgloss agar bibir yang sedikit mengering itu menjadi lebih glossy. Ia tidak ingin ketika Haris siuman nanti, suaminya melihat betapa buruk penampilan nya.


Dempulan bedak tipis merata menambah kesegaran di wajahnya. Ia hendak menyemprotkan sedikit parfum yasmine ke tubuh, namun baru membuka tutup botolnya saja Hana sudah merasa mual. Ini aneh, pikirnya. Mengingat ia yang sangat menyukai harum yasmine dan lily, bisa bisanya merasa mual.


Hana urung menyemprotkan parfum tadi. Ia memilih tidak mengaplikasikan apapun, takutnya ia akan tumbang mencium bau yang di hidung nya terasa begitu menyengat itu.


Hana membuka pintu toilet. Di sana Ia sudah melihat Gibran bersama teman nya yang lain telah duduk di samping Haris. Tidak terlihat Lisa, ternyata gadis itu memilih menemani dan mengobrol bersama bu Hajjah.


Hana berjalan mendekat dan menghampiri teman-temannya.


"Hana, lama tidak bertemu! " Sapa Gibran begitu melihat Hana.


Selalu ada ketentraman di hatinya setiap kali pemuda ini melihat Hana. Walau ia sudah berlari sejauh mungkin, mencoba membuka lembaran baru, hatinya tetap saja enggan berlabuh ke pelabuhan yang lain.


"Hi Mas Gibran, Terima kasih sudah meluangkan waktunya mengunjungi suamiku. Mas belum kembali ke Maroko ya? " Tanya Hana sekedar berbasa basi.


"Tidak, semester ini aku memilih untuk mengikuti kelas online" Sahut Gibran.


"Semoga kuliahnya lancar mas"


"Amiiin yaa Rabbal 'alamin, bagaimana kabarmu selama ini? Sehat?"


Semua gerak gerik Hana dan Gibran tentu tidak lepas dari penglihatan Lisa. Ia merasa sangat geram dan kesal. kepalan tangan berkali-kali ia lakukan.


"Mi... " Panggil Lisa dengan suara di buat selembut mungkin.


"Iya nak, ada apa? "


"Ummi lihatlah pemuda yang lagi mengobrol bersama Hana itu, Gibran namanya! " Seru Lisa perlahan.


"Ya, kenapa nak? Apa kamu menaruh hati padanya? " sahut bu Hajjah menebak.


"Haha tidak mi, Lisa tidak menyukai mas Gibran. Mana mungkin Lisa menyukai beliau... Sebab... " Lisa menjeda kalimat nya


"Sebab apa nak? " Hajjah Aisyah mengkerut kan keningnya. Lisa menunjukkan raut wajah yang sedikit ragu untuk menjawab.

__ADS_1


"Katakan saja nak! " seru Hajjah Aisyah lagi.


"Lisa takut akan di sangka menjelek-jelekkan Hana. Hmh Mi... Maaf Lisa lancang berkata begini sebab jika melihat Ummi, Lisa seperti melihat Ummi Lisa sendiri" Ucap Lisa sungkan.


"Katakanlah, anggap saja Ummi ini Ummi mu! " Hajjah Aisyah menunjukkan wajah kekhawatiran di sana.


"Mas Gibran itu... adalah mantan kekasih Hana" Bisik Lisa pelan.


"Apa? kekasih? " Hajjah Aisyah terkejut, spontan Ia menoleh ke arah Hana dan Gibran di sana. Hana tengah membelakangi nya, sedang Gibran menghadap ke arahnya. Terlihat jelas sekali bahwa Gibran begitu bersemangat mengobrol bersama Hana.


"Iya Mi, mereka sudah berhubungan bertahun-tahun sebelum mas Haris menikahi Hana. Bahkan setelah mas Haris dan Hana menikah, mereka tetap masih saja tetap berhubungan" Ucap Lisa meyakinkan.


Raut wajah hajjah Aisyah tiba-tiba saja berubah, ada ketidaksukaan dan ketidaksenangan di sana.


Begitu ternyata, pantas saja Hana belum hamil sampai sekarang. Apa Hana enggan melayani Haris dengan sepenuh hati mengingat mereka dijodohkan? Malang sekali nasibmu nak Haris. Batin Hajjah Aisyah. Mata istri dari haji Zakaria ini mulai berembun.


***


Malam datang menjelang, sebagian Teman dan Kerabat sudah pulang ke kediaman mereka masing-masing untuk mandi dan beristirahat. Mereka berjanji akan kembali secepatnya dan bersama-sama menunggui sampai Haris siuman.


Saat ini di ruangan hanya ada Hana, bu Hajjah, bu Fatma dan juga Lisa. Tampak bu Fatma yang baru selesai mengambil wudhu, air menetes netes dari dagunya. Bergantian dengan yang lain, beliau akan melaksanakan ibadah shalat maghrib.


Terhitung sudah 3 jam sejak darah bu Indah mengaliri vena Haris, pemuda ini belum juga siuman. Dokter telah memeriksa suhu tubuh dan bagian lainnya. Tidak ada masalah yang berarti. Jadi tinggal menunggu waktu untuk Haris agar bisa siuman.


"Sa, kamu tolong tungguin mas Haris sebentar ya! Aku ambil wudhu dulu! " Pinta Hana.


"Siiip beress! " Lisa memberikan lambang okay pada jemarinya.


Hana bergegas masuk ke toilet. Lisa mendekat mengamati wajah Haris lekat-lekat. Suami Hana ini memiliki Kulit putih cerah, hidung mancung , alis berjejer rapi dan... Aroma tubuh yang menyegarkan. Tampan juga. Pikir Lisa.


Tidak kalah jika dibandingkan dengan Gibran. Walau bagi Lisa, Gibran lebih unggul dari 1 persen dari Haris, hmh.. tidak tidak 2 persen lebih unggul. Lisa meralat pemikiran nya. Tapiii, Haris memang tampan. Wajar si bego Arini tergila-gila. Lisa tersenyum mengejek.


Sekilas Lisa melihat jari jemari Haris bergerak. Tak segan ia meletakkan tangannya di sana. Tangan Haris semakin menunjukkan gerakannya bertepatan dengan keluar nya Hana dari dalam kamar mandi.


Melihat Hana, spontan Lisa menjauhkan tangan beserta tubuhnya. Hana tersenyum ke arah Lisa, ia mengisyaratkan bahwa ia akan shalat maghrib terlebih dulu dan menyuruh Lisa untuk bersabar. Lisa tersenyum canggung mengiyakan.


Hana mengambil mukenahnya dan mulai melakukan gerakan takbiratul ihram.


"Hana... " Ucapnya lemah. Suaranya nyaris tiada siapapun yang mendengar.


Haris menangkap wajah asing di hadapannya. Ia tidak melihat Hana di sana. Dengan kekuatan yang ada ia memindahkan tangan nya dari tangan Lisa. Sungguh saat ini Haris masih sangat lemas


"Alhamdulillah mas sudah siuman" Ucap Lisa pelan dengan memberikan senyumnya. Ia memegang tangan Haris untuk meyakinkan penglihatan nya.


"Pindahkan tangan mu dari sana! Dimana Hana?! " Hardik Haris lemah.


"Ma.. Maaf. Aku Lisa sahabat nya Hana" Ucap Lisa.


"Dimana Hana?? dimana istriku?! " Haris mengencangkan suaranya, membuat semua orang yang ada di ruangan terhenyak. Hana masih shalat, ia sudah berada pada rakaat terakhir.


"Hariiisss, kamu sudah sadar nak??? " bu Fatma dan Hajjah Aisyah serempak menghampiri Haris.


Ekspresi wajah Haris hanya datar, ia kecewa ketika siuman tidak melihat Hana di sana melainkan Lisa, orang asing yang sama sekali tidak diharapkan kehadirannya.


"Mi, Hana mana mi? Hana dimana? " Tanya Haris pada bu Fatma.


"Hana shalat nak, sebentar.. shalatnya sudah hampir selesai. Alhamdulillah kamu sudah siuman, Ummi bersyukur sekali" bu Fatma mengusap air matanya. Haris tersenyum dan mengambil tangan Ummi lalu menggenggam nya.


"Nak Haris, tidak sepatutnya kamu bersikap kasar pada nak Lisa. Nak Lisa sudah meluangkan waktunya menungguimu, ia juga hampir mendonorkan darahnya. Bersusah payah hingga kini ia juga belum beristirahat" Ucap Hajjah Aisyah yang tidak Terima Haris membentak Lisa.


Raut wajah Haris berubah. Ia tidak menjawab perkataan bu Hajjah. Lisa sama sekali tak di liriknya. Ia hanya tidak sabar ingin segera melihat Hana.


Usai mengucap salam, Hana langsung menghampiri Haris. Dadanya bergemuruh hebat, Hana berdiri di ujung ranjang. Ia merasa segan akan keberadaan Hajjah Aisyah dan bu Fatma di sana.


"Kemarilah... " Ucap Haris sumringah. Ia merentangkan kedua tangannya. Hana tak bergeming. Ia begitu malu.


"Mendekatlah... Aku sangat merindukan mu" Ucap Haris lagi, Hana merutuki perkataan mesra Haris di hadapan Hajjah Aisyah dan bu Fatma, ia hanya bisa berjalan pelan sambil menunduk ke arah suaminya.

__ADS_1


"Apa kau tidak merindukan pelukanku, hm? " Tanya Haris begitu manis, senyum nya membentuk lesung pipi di sana.


Hana mengkode Haris untuk bersabar. Matanya mengisyaratkan ada nya bu Hajjah yang terus menatap mereka.


"huk Uhuk" Hajjah Aisyah terbatuk.


"Hmh, Mari kita cari udara segar, Alhamdulillah nak Haris sudah siuman" Ajak bu Fatma mengusir kecanggungan.


"I... Iya" Hana menyahut ajakan bu Fatma dan ber siap pergi dari sana.


"Kamu mau kemana? Kamu di sini saja menemaniku! " Haris mencegat lengan Hana.


"Iya nak, kamu di sini saja! Biar Ummi, Ummi Aisyah dan nak Lisa keluar sebentar, kami sudah sedikit penat" Ucap bu Fatma lagi. Hana mengangguk mengiyakan. Mereka bertiga keluar ruangan.


Tingkah Haris seperti pengantin baru saja. Omel hati Hajjah Aisyah, beliau menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu kemana saja, hm? Sini jangan jauh-jauh" Ucap Haris lemas. Ia mengangkat tangannya mencoba menggapai Hana.


"Alhamdulillah Mas udah siuman" Hana mengelap matanya yang berembun.


"Mas jangan banyak gerak dulu, baru juga siuman. Aku panggilkan dokter ya! Biar dokter periksa bagaimana keadaan mas sekarang. Semoga benar-benar sudah aman" Cemas Hana, ia hendak keluar, namun Haris menariknya kuat. Hana terjerebab ke dalam pelukan Haris. Ia dapat merasakan hembusan berat nafas suaminya.


"Mas, lepaskan... Mas masih sangat lemas"


"Sebentar saja, biarkan begini. Aku sangat nyaman seperti ini" Ucap Haris mengeluarkan kalimat pamungkas nya.


"Aku merindukan mu, Apa kamu tidak merindukan ku, huh? " Tanya Haris manja, suara lembut Haris terasa membelai di telinga Hana. Hana menitikkan airmata nya.


"Huh, Mas tidak tau saja betapa aku hampir tidak bernafas melihat mas yang tak kunjung siuman" keluh Hana. Haris tersenyum mendengarnya.


"Istriku sweet sekali sih, mana sini ku lihat wajahnya" Pinta Haris, Hana tak juga beranjak. Ia masih anteng dalam pelukan Haris yang mendekapnya.


"Sayang... "


"Hmh... "


"Sayang.... " Panggil Haris lagi


"Ya?"


"Be.. rat" Lirih Haris. Spontan Hana berdiri.


"Kan... Kan sudah ku katakan mas masih lemas... Mas sih ga dengarin aku! Sakit yaa? Berat yaaa? " Hana membebel panjang. Ia memeriksa bagian tubuh suaminya.


Tiba-tiba, untuk kedua kalinya Haris kembali menarik jatuh istrinya, tubuh Hana kembali terjerebab di pelukan Haris.


"Kan sudah ku katakan, aku ingin melihat wajah manismu... " Ucap Haris lagi.


"Mas nyebelin! " Hana tersenyum dalam pelukan Haris.


"Sini, kiss duluuu" Pinta Haris.


"Ih, sakit sakit mas masih bisa mesum! " Hana sedikit mencubiti pinggang Haris.


"Ayolah, beri aku sedikit kekuatan, sekarang aku sangat lemas" Ucap Haris kembali manja.


Hana mengalah, ia bangkit hendak mengabulkan permintaan Haris. Perlahan lahan jarak wajah mereka semakin dekat. Sejengkal... dua jengkal... hanya beberapa senti saja bibir mereka akan bertemu.


Tiba-tiba,


Cekleeekkkk


Pintu kamar terbuka lebar. Yura, Ridwan, Gibran, Romi dan Lisa masuk bersamaan ke dalamnya.


Mendengar suara pintu terbuka, Spontan Hana menjauhkan wajahnya dari Haris. Namun terlambat, teman-teman terlanjur melihat Haris dan Hana dengan jarak yang begitu dekat.


***

__ADS_1


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤


***


__ADS_2