
Hai Teman-teman sekalian, Aku mau promosi novel terbaruku berjudul “Dalam Dekapan Rindu”, Kalau berkenan, boleh dibaca ya! Jangan Lupa dukungannya dengan memberi LIKE, KOMEN, VOTE dan
HADIAH nya agar Aku semangat dalam menulis. Terima Kasih^^
Hari yang cerah, di sebuah pusat perbelanjaan tampak orang berlalu-lalang mengikuti kesibukannya masing-masing. Suara Langkah-langkah kaki menapak jalanan berdebu, yang mana hentakannya menambah keramaian. Deru suara kendaraan juga tak kalah menambah hiruk pikuk suasana. Terdengar sangat bising. Di sudut kota tampak Hana yang baru saja selesai dengan barang belanjaannya. Ia duduk di bawah sebuah pohon rindang pada sebuah taman, taman yang berada di dekat trotoar tersebut memiliki banyak kursi yang diperuntukkan bagi orang-orang yang hendak beristirahat, sekedar melepas lelah atau tengah menunggu jemputan.
Begitu pula dengan Hana, ia tengah menunggu jemputan sang suami sambil menikmati es King Mango Thai. Sesekali ia menyeruput minuman tersebut dengan mata berpendar kesekeliling, namun orang yang ditunggu belum
juga hadir. Tak lupa ia mengecek barang belanjaannya. Kali ini ia benar-benar menghabiskan lumayan banyak uang untuk sebuah gaun yang dibelinya. Ia berharap tampilannya malam ini tidaklah mengecewakan. Ia pun mengecek jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 lebih 45 menit. Ia merogoh handphone yang berada di tas ranselnya, berharap ada kabar dari Haris. Nihil. Tidak ada tanda-tanda orang yang melayangkan pesan untuknya.
Tiba-tiba ia kembali mengingat chat obrolannya dengan Arini semalam. Wanita itu mengajaknya bertemu, beliau mengatakan bahwa ada hal penting yang harus dikatakan padanya. Hana yang penasaran jelas menyetujui pertemuan mereka walau awalnya ia ragu bagaimana cara meminta izin untuk bertemu dengan Arini sebab pun Wanita itu melarangnya memberitahukan kepada Haris tentang pertemuan mereka nanti. Hana jadi berpikir keras bagaimana cara untuk memohon izin. Ah, mengapa setelah menikah Langkah nya untuk keluar rumah menjadi sangat terbatas. Apa ini memang hanya pikirannya saja.
“Hana! Ayo!” Seseorang pemuda menegurnya. Laki-laki itu tak lain adalah Haris. Hana pun dengan sigap mengambil semua barang belanjaaannya tak bersisa.
“Mengapa kamu melamun?” Tanya Haris.
“Tidak kenapa-kenapa. Aku dari tadi menunggu mas”
“Maaf, tadi aku mengantri mengisi minyak di pom bensin. Apa kamu kelamaan menungguku?” Haris merasa bersalah.
“Tidak mas sebab aku menunggu sambil menikmati minuman” Haris mengangguk.
“Sudah kamu kabarkan pada Gibran kalau sekarang kalian akan bertemu?” Selidik Haris.
“Sudah mas, ini aku akan mengabarkan lagi pada mas Gibran bahwa aku tengah on the way kesana” Hana mengambil gawainya dan melayangkan sebuah pesan pada Gibran.
“Assalamu’alaikum mas, aku lagi on the way ke tempat tujuan” Hana.
Tak lama sebuah pesan balasan masuk ke handphone nya.
“Aku sudah berada di tempat, Hana” Gibran.
__ADS_1
Hana melihat balasan singkat dari Gibran merasa agak malu, sebab ia yang berjanji, ia pula yang terlambat. Gibran memang selalu saja disiplin pada waktunya.
Mobil sudah berada di parkiran. Hana bersiap untuk turun. Ia memeriksa keadaan kerudungnya, takut-takut apa ada helaian rambut yang kelihatan.
“Sudah, tidak usah berdandan! Sekalian saja poles ulang make-up nya!” Sewot Haris.
“Astaghfirullah mas, aku bukannya berdandan, cuma mengecek mungkin-mungkin saja ada rambut yang kelihatan” Bantah Hana.
“Sini, biar aku saja yang memeriksanya!” Haris menyentuh bahu Hana untuk menghadap padanya.
“Sudah, perfect. Tidak ada aurat yang terlihat”
“Hmh, sebentar sebentar! Kerudungmu lebih bagus seperti ini” Haris mengubah sedikit dandanan kerudung Hana. Namun gadis itu malah melihat dandanan nya jadi agak sedikit aneh.
“Mas, benarkah seperti ini jadi terlihat lebih bagus?” Hana melihat-lihat pantulan dandanannya di cermin. Agak aneh menurutnya.
“Tentu saja” Haris berkata dengan memasang senyum termanisnya. Apa laki-laki memang menyukai model kerudung seperti ini ya. Pikir Hana.
“Sudahlah. Ayo masuk sana! maksimal dalam 15 menit aku menunggumu di sini!” Haris berkata tegas. Setelah Hana turun, ia malah tersenyum sendiri mengingat dandanan kerudung Hana yang telah diubahnya.
“Mas, maaf! Aku terlambat” Hana tampak tergesa kemudian duduk dihadapan Gibran yang telah menghabiskan setengah dari minuman yang telah ia pesan.
“Tidak apa-apa, Hana! Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu mengubah gaya kerudungmu?” Gibran mengkerutkan keningnya.
“Aneh ya mas?” Sahut Hana.
“Ha? Ah tidak, hanya terlihat berbeda saja”
Bagaimana pun gaya dan dandananmu, kamu tetap saja mengagumkan Hana. Lirik hati Gibran.
“Kamu pesan minuman apa, mau makan?”
__ADS_1
“Tidak, aku pesan jus mangga saja mas!” Gibran pun memesankan minuman untuk Hana.
“Baiklah. Karena waktu yang terbatas kita langsung saja membahas apa yang seharusnya kita bahas” Ucap Gibran. Hana mengangguk setuju, namun dua insan ini tampak kebingunan mau mulai darimana.
“Sebenarnya apa yang terjadi ketika aku berada di Maroko, Hana?” Tanya Gibran to the point membuka percakapan mereka.
“Aku dijodohkan oleh Abah mas”
“Mengapa kamu menerimanya?” Gibran tampak sangat kecewa.
“Karena tidak ada alasan untukku menolak pilihan Abah” Hana memejamkan matanya
“Aku berusaha menghubungi mas, ingin menanyakan kejelasan. Tapi aku tidak kunjung mendapatkan kabar, setelah sekian lama ternyata aku mendengar handphone nya mas hilang. Di situ pupus sudah harapanku” jelas Hana.
Gibran berkaca-kaca. Beginilah permainan takdir. Andai handphone nya tidak hilang, andai ia mengetahuinya. Ia pasti akan langsung terbang untuk melamar Hana. Atau andai ia tau kejadiaanya akan seperti ini, sudah pasti
sebelum ke Maroko, ia akan melamar Hana terlebih dahulu. Ah, andai.. andai.. ia hanya bisa berandai-andai. Kemungkinan yang tidak akan pernah mungkin terjadi.
***
Haris masih berada di parkiran, ia memainkan handphone nya. Namun apa yang ia cari tidak ia temukan. Toh ia juga tidak mencari apapun. Sesekali Ia meletakkan tangannya kebelakang tengkuk, lalu kemudian ia memeriksa jam tangannya. Mengapa waktu lama sekali berlalu. Ia pun beralih posisi. Ah, bosan. Ia mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu lalu keluar. Ia menghirup udara dalam-dalam.
Sedang apa ya istrinya bersama laki-laki itu didalam sana? Haris terus saja memikirkan hal itu. Pertanyaan sejenis pun bermunculan dibenaknya. Ia bahkan belum memikirkan 3 pilihan ultimatum dari ibunya Arini. ah, ia merasa
begitu banyak hal yang harus ia pikirkan. Belum lagi ia harus menyiapkan pidato singkatnya untuk acara nanti malam. Semua begitu terburu-buru, namun yang terpenting sekarang, ia harus masuk ke dalam café untuk melihat keadaan istrinya. Sungguh ia tidak tenang. Bayang-bayang kebersamaan Hana dan Gibran terus saja merasuki pikirannya. Apa benar ia sudah punya rasa terhadap istrinya? Rasanya tidak mungkin secepat ini.
Haris kembali membuka pintu mobil, mengambil kacamata dan topi hitam nya. Kemudian pelan-pelan ia mencoba memasuki bangunan café. Ia melihat Gibran dan Hana duduk berhadap-hadapan dengan saling mengobrol. Tidak, dengan wajah saling menatap tepatnya. Haris sangat kesal melihatnya. Sedetik saja waktu terlalu lama berlalu. Haris duduk di pojok café. Berpura-pura membaca koran sambil melihat pergerakan dua sejoli yang tengah asik bercakap-cakap. Huh. Betapa ia merasa kesal! Sungguh!!
“Hana, katakan kalau kamu tidak bahagia dalam pernikahanmu!” Gibran begitu frustasi mendengar jalan cerita pernikahan Hana dan Haris. ya Rabb.
“Aku bahagia, mas!” Mata Hana berembun. Ia memejamkan matanya mencoba berusaha agar air mata nya tidak mengalir.
__ADS_1
“Kamu sangat buruk dalam berbohong! Aku dapat membaca dari sorot matamu! Aku akan menemui Haris dan menawarkan solusi agar ia mau melepaskanmu, Hana!” Ucap Gibran.
***