
Malam datang mencekam, bulan bersembunyi dibalik awan. Bintang gemintang pun enggan menampakkan pesonanya. Namun demikian, suasana di rumah sakit terlihat tidak pernah sepi. Pengunjung dan pasien datang silih bergganti.
Di satu ruang tampak Arini masih terbaring lemah tak berdaya akibat kecelakaan tunggal yang menimpanya. Padahal baru saja ia hendak menghubungi Hana untuk berjumpa. Baru saja ia mendapatkan ide untuk bisa membuat Hana sadar bahwa Haris adalah miliknya. Namun takdir berkata lain, ia pun mengalami kecelakaan yang mengakibatkan keadaannya lumayan parah. Namun, sedikitnya ia bersyukur sebab akibat dari kecelakaan ini, ia mendapat perhatian ekstra dari Haris. Jika seperti ini, apalagi yang ia harapkan?
“Mas Haris dimana, mi?” Inilah pertanyaaan pertama yang Arini lontarkan ketika ia siuman.
“Tadi Haris di sini nak, ia menunggu dan berdoa untukmu. Ummi dapat melihat gurat kecemasan yang teramat sangat di wajah nya.” Jawab bu Indah, Ibunya Arini.
“Sekarang mas Harisnya dimana?” Arini masih mencari keberadaan Haris
“Sudah pulang nak. Ia tadi datang bersama Hana. Ah, andai gadis itu tadi tidak menghilang. Haris sudah pasti menunggui kamu sampai kamu siuman” Ibu Indah terlihat kesal atas Tindakan Hana yang merusak suasana.
“Hana juga datang??” ibu nya mengangguk.
“Mungkin Hana cemburu mi” Arini berkata lemah.
“Sudah pasti nak! Tadi ketika kamu telah selesai di operasi, Ummi menyuruh Haris menemuimu. Kemudian Ummi sengaja membuka pintu ruang tempat dimana kamu dirawat tepat di hadapan Hana. Terang saja ia cemburu, ia dapat melihat seluruh aktifikas yang Haris lakukan ketika ia bersamamu” bu Indah berkata bangga. Ia merasa tidak sia-sia aksinya tadi.
“Mi, apa tindakkan itu tidak keterlaluan? Ia pasti sedih melihat suaminya peduli pada wanita lain”
“Keterlaluan bagaimana? Ya tidak dong! Bagus Hana lihat, biar ia tahu dimana posisinya di hati Haris. seharusnya sejak awal mereka memang tidak menikah” Sarkas bu Indah.
Arini diam. Ia tidak membantah lagi apa yang ibunya katakan. Percuma saja, itu pasti akan menjadi jawaban andalan sang ibu.
“Nak, Ummi akan menghuungi Haris dan mengabarkan kalau kamu sudah siuman. Kamu tunggulah di sini sebentar.
Ddddrrrrrrt drrrrrtttt
Handphone Haris bergetar, namun pemiliknya sedang berada di kamar mandi. Laki-laki itu tidak melihat bahwa bu Indah sedang menelepon. Hana yang hendak mengambil air minum tidak sengaja melihat ada panggilan dari Hp nya Haris. Keningnya berkerut membaca nama si pemanggil. Ummi nya Arini. Hmh, ada apa beliau menelepon malam-malam begini. Apa suatu hal yang tidak diinginkan terjadi pada Arini? Hana jadi cemas. Ia pun berbalik arah menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya,
__ADS_1
Tok tok tok..
“Mas, mas Haris”
“Iya, ada apa Hana?” Jawab Haris dari balik pintu. Ia masih berlumuran sabun dan hendak membilas tubuhnya.
“Mas, barusan ada panggilan telepon dari umminya Arini. Mungkin penting. Alangkah lebih baik jika mandinya mas percepat” sebenarnya Hana tidak senang dengan kedekatan bu Indah dan suaminya. Mereka dengan bebas bisa saling menelepon dan membahas kabar tentang Arini. Namun, jiwa kemanusiaannya tergugah. Ia juga tidak ingin jika sesuatu hal buruk menimpa gadis yang tadi dilihatnya terbaring tak berdaya itu.
“Baik Hana, Terima kasih”
Hana berlalu. Haris pun mempercepat kecepatan mandinya. Ia khawatir jika-jika terjadi sesuatu pada Arini. Semoga saja tidak.
***
“Hana, Alhamdulillah Arini Sudah siuman. Barusan bu Indah memberi kabar” Hana tengah sibuk dengan laptopnya ketika Haris mengabarkan hal ini. Ia sedang menulis untuk novel ketiganya. Novel kali ini ia buat sedikit berbeda ia mngisahkan tentang kisah nyata tentang perjalanan cintanya.
“Alhamdulillah mas. Aku ikut bahagia” Hana menoleh lalu menghentikan gerakan mengetiknya.
Hana hanya mengangguk datar.
“Terima kasih, apa kamu mau ikut?” Tawar Haris. Hana yakin ini hanya sekedar basa basi. Apa memang harus malam ini menemui Arini. batin Hana.
“Tidak mas, aku harus menyelesaikan pekerjaanku” Hana berkata sambil bergeleng.
“Baiklah, aku pergi. Tidak lama, hanya sebentar saja” ucap Haris seraya mengambil kunci mobilnya dan menuju ke pintu luar. Hana memaksakan diri untuk tersenyum. Ia hanya menatap punggung Haris yang perlahan menghilang
dihadapannya. Kini Haris tengah berada dalam perjalanan menuju rumah sakit. Hana mendesah. Ia jadi berubah pikiran. Suasana hatinya berubah, ia jadi enggan untuk lanjut menulis. Ia pun masuk ke kamar nya bersiap untuk membaca surah al-mulk, bacaan rutinnya sebelum tidur. Ia ingin tidur, tidak sanggup lagi rasanya ia memikirkan suaminya itu. Sungguh ia Lelah. Batinnya Lelah. Ia hanya ingin tidur. Berharap mirip indah dan esok bisa bangun dengan lebih segar. Matanya kembali berembun. Ummi... Abah… Lirih hatinya.
Laa Hawlaa wa Laa quwwata illaa billaah.
__ADS_1
***
Hana mencoba menutup matanya dan tidur. Namun ia gagal, matanya terpejam namun ia tak kunjung terlelap. Jam 23.00 wib, suaminya tak kunjung pulang. Ia bangun, lalu kembali mengambil wudhu’. Ia benar-benar tidak bisa tidur. Lalu ia mengambil sisir dan menyisir rambut panjang hitam berkilaunya. Tak lupa ia mengambil vitamin, ritual rutin yang juga dilakukan sebelum tidur. Sebenarnya ia sudah melakukannya, namun entah mengapa tangan nya menuntunnya untuk kembali melakukan lagi sampai ia mendengar dering telepon yang memanggil.
“Assalamu’alaikum Ummi” ternyata ibu nya menelepon.
“Wa’alaikumsalam nak, maaf ummi malam-malam mengganggu. Apa kamu sudah tidur?”
“Belum mi, ada apa? Ummi dan Abah sehat kan?”
“Alhamdulillah sehat nak, hanya saja ummi teringat kamu, tiba-tiba merasa rindu”
“Maaf mi, besok Hana baru mau ke sana. Hana juga sangat merindukan ummi dan abah”
“Alhamdulillah. Yang penting ummi sudah mendengar suaramu. Teleponnya ummi tutup ya. Ummi takut tidur suamimu terganggu” Hana terdiam. Suami nya saja sekarang tidak berada di rumah namun sedang bersama Arini kekasihnya.
“Ummi, Hana rindu Ummi” Hana serasa tidak ingin mengakhiri panggilan telepon dari ibunya.
“Iya nak. Kamu baik-baik saja kan? Kenapa kamu menangis?”
“Hana baik-baik saja kok mi, hanya sangat merindukan ummi maka suara Hana jadi sedikit parau”
“Baiklah nak, Alhamdulillah kalau begitu. Ummi akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu. Ingat pesan ummi, layanilah suamimu dengan baik”
Mendengar perkataan ibunya, sebulir air mata sukses terbit dengan sempurna dari mata indah Hana. Ia segara menghapusnya. Ia merutuki dirinya sendiri kenapa bisa serapuh dan selemah ini.
“Terima kasih ummi. Hana uhibbuki fillah”
Panggilan berakhir. Mendapat telepon dari sang ibu, ternyata mampu sedikit melegakan perasaan-perasaan tidak enak yang hinggap dihatinya. Ia bersiap tidur, namun satu pesan kembali masuk ke hp nya,
__ADS_1
Hana, kamu tidurlah. Arini masih membutuhkanku. Jadi, istirahatlah duluan. Jangan menungguku. Oiya, Jangan lupa mengunci pintu, aku membawa kunci cadangan. Sebentar lagi aku pulang. Haris.
***