Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 154: Akhir Kisah (2)


__ADS_3

Romi dan Hana segera dilarikan ke rumah sakit. Mereka terluka parah. Romi yang mengalami tusukan di punggung atas sebelah kiri mengeluarkan banyak darah. Hana tak kalah mengenaskan. Wanita yang tengah mengandung ini pingsan setelah kehilangan banyak darah akibat luka yang ada ditubuhnya. Terutama yang berasal dari bagian betis. Romi dan Hana di tangani intensif pada ruangan berbeda.


Indah dan Inggrid bersama-sama digiring ke dalam sel tahanan sejak datangnya polisi. Mereka diringkus karena kejahatan yang mereka lakukan. Berikut para algojo yang ikut bersama mereka. Haris sempat menelpon Ustadz Yahya untuk mengawal kasus duo wanita yang Bersekutu, juga meminta bantuan ustadzah Iqlima untuk menangani perkara hukum. Sedang Haris sendiri mengikuti ambulans yang membawa Hana dan Romi ke rumah sakit.


Driiit


Pintu terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan tempat Romi dirawat. Arini yang sejak awal juga ikut ke rumah sakit langsung melesat cemas menghampiri.


"Dok, bagaimana keadaan suami saya? " Tanya Arini dengan wajah sembab. Air matanya tidak berhenti mengalir. Rasa bersalah, penghormatan, penyesalan, bercampur aduk jadi satu. Arini tak kuasa menahan gejolak yang ada di dadanya.


"Luka di tubuh Pak Romi tergolong serius. Beliau kehilangan banyak darah. Luka tusukannya lumayan dalam. Hampir mengenai jantungnya. Kita harus segera melakukan operasi dan transfusi darah!" Ucap dokter dengan wajah serius.


"A... Apa dok? " Haris hampir tidak percaya dengan apa yang didengar. Arini menggigit bibir gemetaran.


"Saya butuh tanda tanda tangan pihak keluarga untuk menyetujui tindakan pembedahan ini, jaringan parut yang terbuka harus segera ditutup"


"Berapa persen kemungkinan operasi ini akan berhasil dok? " Tanya Haris cemas.


"50 sampai 65 persen" jawab dokter.


Tes


Air mata Arini kembali mengalir. Perasaan Haris benar-benar kacau. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang.


"Saya istrinya dok, Saya mohon... lakukan yang terbaik menurut dokter" Ucap Arini menangkupkan kedua tangan memohon.


"Mari kita lakukan tanda tangan di dalam ruangan, saya akan melakukan yang terbaik. Namun jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, saya harap nona dan para kerabat tidak menyalahkan pihak rumah sakit"


Deg.


Arini mengangguk lalu sekilas menatap Haris yang mendukung dengan anggukkan kemudian bergerak mengikuti langkah dokter yang masuk ke dalam ruangan.


"Wan, tolong lu hubungi kerabat Romi di Bandung!" Ucap Haris pada Ridwan. Tadi sahabatnya yang sudah beberapa hari mendarat dari Amerika Serikat itu langsung melesat ke rumah sakit begitu mendengar kabar musibah.


"Ris, lu juga harus periksakan diri... Jangan berkeliaran gini! Kondisi lu juga ga stabil, luka memar ditubuh lu juga parah! Ris, Lu benar-benar bonyok! Biar gua yang ngurusin semua... Gua yang ngurusin Romi dan Hana, biar lu dibawa Roni untuk periksa ke UGD! " Titah Ridwan yang tidak tega melihat kondisi Haris yang luka-luka akibat pertarungan singkatnya dengan pembokat suruhan Indah dan Inggrid.


"Ga, gua ga kenapa-napa.. Hana terbaring di dalam sana, Wan! Mana mungkin gua bisa mikirin diri gua sendiri, sedangkan Gua ga tau apa yang terjadi dengan Istri dan anak-anak gua di dalam sana! Belum lagi Romi yang akan di operasi, dan... itu semua gara-gara gua! Itu kesalahan gua, Wan!" Sahut Haris dengan mata nyalang. Ia meremas rambutnya dengan kedua telapak tangan. Kacau. Benar-benar kacau. Beban pikirannya terlalu berat. Ridwan baru menyadari itu semua.


Ini adalah titik terapuh di hidup Haris. Baru saja ia Kehilangan Ibu tercinta. Belum lama, kini sudah harus mengalami kenyataan pahit bahwa istrinya di aniaya oleh orang lain. Bahkan kandungan sang istri terancam gugur. Bukan hanya itu saja, Romi sang sahabat juga cedera. Beban mental dan cobaan yang Haris alami kian terasa berat.


Ridwan terdiam, walau apa yang ia sarankan demi kebaikan, namun Ridwan tidak bisa memaksakan kehendaknya. Memaksa Haris melakukan pemeriksaan adalah sebuah kesia-siaan. Pria keras kepala yang tengah berada dalam kondisi gejolak emosi mana mungkin bisa dinasehati.


***

__ADS_1


"Ya Tuhan... Panas sekali! Mana aku baru kelar perawatan... " Rintih Inggrid mengeluhkan keadaannya. Peluh yang menetes-netes melunturkan performa make up-nya.


"Ini semua gara-gara kamu!! Kalau saja kamu tidak memaksa untuk meringkus Hana dalam keadaan mendesak seperti ini, Kita masih baik-baik saja! Aku juga pasti tengah bersantai di kasur empuk-ku sambil menyusun rencana memikat Zakaria! " Sesal Indah meracau.


"Ha? A... Apa? Bukannya kamu yang memaksa untuk mempersingkat waktu dengan mempercepat proses balas dendam?! Lagian Zakaria mana mungkin terpikat dengan wanita seperti mu?!" Sahut Inggrid tajam. Ia berhenti mengusap peluh di keningnya.


"Haha... Dengan wanita modelan Aisyah saja ia terpikat! Apalagi denganku! " Indah mengibaskan rambut pendek gaya bob yang helaian putihnya telah tersemir warna brunette.


"Gitu-gitu si Aisyah itu cantik, kaya raya, punya pendidikan tinggi, anak orang tersohor!! " Sambar Inggrid membungkam kepercaya-dirian Indah.


"Stop!!! Berisik!!! Nasib dan hidup kalian sudah di ujung tanduk tapi masih meributkan hal yang tidak penting!!! " Hardik petugas menggeleng kepala. Miris. Berada di mobil tahanan ternyata tidak juga membuat Indah dan Inggrid merasa bersalah dengan apa yang telah mereka perbuat.


"Di lihat dari kasus hari ini, kalian bisa terkena pasal berlapis... kalian berdua akan di penjara seumur hidup atau di hukum gantung!!" Lanjut petugas geram. Kini Indah dan Inggrid sama-sama bungkam. Mereka mencoba menerawang apa jadinya mereka nanti setelah dijebloskan ke dalam sel tahanan.


***


Suasana di rumah sakit tampak sibuk seperti biasa. Orang-orang yang berlalu lalang tidak sedikit. Mereka bergerak sesuai proporsi nya.


Haris masih saja berdiri di depan pintu kamar Hana sembari sesekali mengontrol handphone kalau-kalau Arini atau Ridwan mengabarkan perkembangan terbaru dari Romi.


Awalnya, kerabat Romi sempat kisruh mengetahui Arini mengambil tindakan operasi tanpa mempertimbangkan keputusan keluarga besar terlebih dahulu. Namun dengan bantuan penjelasan dari Roni, akhirnya mereka mau memahami situasi dan kondisi yang terjadi saat ini.


Haris menahan semua rasa nyeri ketika ia hendak bangkit dari duduknya. Pemuda ini menepis semua rasa sakit yang hinggap di tubuh menghadapi semua kenyataan yang ada saat ini. Hingga akhirnya dokter membuka pintu ruang tempat Hana diperiksa.


"Hana bagaimana dok?! Bagaimana keadaan istri dan juga anak-anak saya?" Tanya Haris penuh harapan. Dokter hanya menggeleng.


Kunci mobil terlepas dari tangan menyentuh lantai. Runtuhlah pertahanan Haris. Wajah harapan itu lenyap seketika. Gelengan sang dokter seakan menjadi jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang sedari berjam-jam tadi sudah bercokol memenuhi isi kepalanya. Cahaya pada wajah tampan itu meredup.


"Sebentar pak Haris, izinkan saya menjelaskan semua terlebih dahulu..."


"Alhamdulillah nona Hana berhasil melewati masa-masa sulit. Beliau berserta calon buah hati berhasil diselamatkan... Tapi..." Ucap Dokter.


"Tapi apa, Dok?!!"


"Kaki bu Hana yang tertusuk mengalami kerusakan lumayan parah. Sayangnya ujung rantai besi yang menusuk betis bu Hana mengalami karatan. Kita harus mengobservasi dan merawat dengan baik dan penuh ketelitian sebisa mungkin. Jika terjadi infeksi dan tidak kunjung membaik, kami terpaksa mengatakan bahwa kaki bu Hana harus di amputasi" Terang Dokter.


Deg.


Tidak hanya di hati, Haris merasakan kebas diseluruh bagian tubuh. Pernyataan blak-blakan dokter membuatnya merinding.


***


Haris berjalan terhuyung memasuki kamar rawat inap. Di sana ia sudah disambut oleh senyum manis Hana yang sudah siuman. Wanita muda itu selalu tersenyum. Entah apa yang ada di pikirannya. Padahal ia baru saja mengalami musibah hebat.

__ADS_1


"Mas, kenapa jalannya pelan sekali? Apa mas tidak merindukan ku? " Ucap Hana merentangkan kedua tangannya. Haris mencoba membalas senyum Hana lalu melesat cepat memeluknya.


"Mas,, Alhamdulillah kata dokter anak kita baik-baik saja! " Ucap Hana. Ia memeluk Haris erat melepaskan energi haru dan rasa syukur yang membuncah-buncah. Haris hanya diam.


"Mas... mas terluka?" Hana merenggangkan pelukan mereka mengamati kondisi tubuh Haris yang dipenuhi bercak-bercak berwarna hijau keunguan di beberapa sisi.


"Aku baik-baik saja sayang... Terimakasih sudah mau bersabar atas semua penderitaan yang kamu alami" Lirih Haris mengusap kepala Hana penuh kasih.


"Awwww... Subhanallah" Hana mengaduh ketika ia hendak bangkit dari tempatnya. Kaki sebelah kiri yang terbalut terasa begitu nyeri.


"Kamu rebahan saja. Biar aku yang mengambilkan segala sesuatu untuk mu! " Ucap Haris. Hana mengangguk.


"Aku akan merepotkan mas beberapa saat. Tapi Insya Allah rasa sakit di kaki ini akan hilang. Besok aku pasti sudah bisa pulang! " Ucap Hana optimis. Air mata Haris otomatis berhamburan. Ia tidak tahan melihat kondisi Hana. Apalagi istrinya begitu optimis. Bagaimana jika Hana mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


To the Queen of My Heart,, Jangankan untuk beberapa saat,, bahkan untuk seumur hidup-pun aku rela... Tapi aku tidak akan sanggup melihat mu menderita di sepanjang jalan hidupmu... Sayang... Maafkan aku...


Ya Rabb... Bagaimana aku bisa menjelaskan ini semua~ Apa senyum ceria itu akan pudar jika Hana mengetahui kenyataan yang sesungguhnya?


"Mas jangan menangis.. Aku baik-baik saja.. kita semua pasti baik-baik saja. Setelah ini hanya akan ada pelangi di kehidupan kita" Lanjut Hana lagi. Haris memaksakan senyumnya. Puncak Hidungnya berubah merah.


"O iya, Bagaimana kondisi mas Romi? "


***


Tiit Tiit Tiit


Suara alat pasien monitor terdengar di ruangan tempat Romi dirawat. Pria gagah itu mengalami koma setelah dokter melakukan tindakan operasi. Alat yang digunakan untuk mengontrol pergerakan detak jantung tersebut memonitor kesehatannya.


Arini hanya menatap cemas penuh harap ke tubuh orang yang terbaring lemah dan berada dalam keadaan hidup dan mati karenanya. Juga karena untuk melindungi dirinya. Arini terpekur. Air mata itu belum juga berhenti. Ia terus mengalir tanpa bisa dikontrol.


"Mas... katakan kalau aku salah... Katakan kalau aku salah" Lirih Arini menggenggam tangan Romi.


"Maaf untuk ketidakberdayaan ku... Aku melukai diriku sendiri dengan melukaimu"


"Ku mohon.. Mas kuat... Mas bisa... Ku mohon..." Arini mengiba.


"Mas... Aku bahkan belum menyatakan perasaanku... Mas... ku mohon mas bangun..."


"Mas juga belum menunaikan janji mas untuk memelukku agar aku tidak kesepian dan haus kasih sayang... Mas... Hiks hiks" Arini terlihat putus asa.


***


Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤

__ADS_1


IG @alana.alisha


***


__ADS_2