Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 40: Bukan seperti Novel Romantis


__ADS_3

“Hana, kapan kita bisa bertemu?”


Gibran melayangkan satu pesan singkat ke wattsapp Hana. Ia merasa perlu meluruskan sesuatu sebelum berangkat ke Maroko dalam jangka waktu yang lama. Ia tidak ingin masalah ini kian berlarut, jika memang sudah tidak ada peluang baginya dihati dan hidup Hana, maka Ia dengan gentle akan mundur teratur.


Gibran juga tidak ingin menjadi seorang pecundang. Apalagi pecundang cinta. Nanti, apa yang harus ia katakan jika kelak ia menemui Rabb-Nya ketika ia tergelincir ingin memasuki surga-Nya ternyata harus tersungkur hanya karena masalah percintaan. Na’udzubillah. Jika memang sudah tidak ada harapan lagi baginya dan Hana bersatu dalam mahligai cinta, Gibran berharap di sekenario berikutnya akan ada episode-episode tentang masalah cintanya bersama kekasih halal dalam kebahagian dan kedamaian. Bukan menjadi pemeran kedua seperti ini yang tampak sangat menyedihkan sebagai orang yang merana karena patah hati.


Beberapa menit berlalu, Hana tidak juga membalas. Apa yang sedang gadis itu kerjakan, mungkin tengah menyiapkan makanan untuk makan siang. Ah, alangkah beruntungnya Haris yang berhasil mempersunting Hana. Rahasia kehidupan memang tidak ada sesiapa yang mengetahuinya.


Gibran kembali melihat email-email yang masuk. Beberapa email dari sponsor beasiswa. Beberapa dari teman Afrika dan Arab nya yang mengundangnya untuk makan malam. Ah, teman-teman nya begitu pemurah, seringkali


mereka mengundang untuk makan malam. Mungkin bagi orang timur tengah, sajian makan hanya sekedar sajian biasa, namun tidak untuknya. Hidangan yang mereka persembahkan benar-benar mewah, penuh dengan protein seperti Daging sapi, Domba, juga Ayam dipadu dengan nasi basmati. Lezatnya sampai ke ubun-ubun. Masya Allah. Gibran sampai lupa, ia harus menyiapkan beberapa oleh-oleh khas Indonesia untuk saudara-saudaranya di perantauan sana. Ah, betapa ia merindukan mereka.


Mata Gibran juga tak luput dari sebuah email yang lagi-lagi berasal dari teman Tiongkoknya. Siapa lagi kalau bukan Ni Rui.


Asssalamu’alaikum Gibran, kamu belum kembali ke Maroko? Kamu baik-baik saja kan? Aku menantimu di sini. kau tau? Aku banyak membeli buku tentang agama Islam. Akhir-akhir ini aku uring-uringan mencari teman diskusi terutama tentang masalah agama ini. Ah, tidak ada yang bisa menjelaskan sebaik kamu. cepatlah kembali. Aku benar-benar tidak sabar dalam menanti. Sahabatmu Ni Rui.


Gibran mengkerutkan sempurna keningnya. Ia merasa bahagia sebab Ni Rui sangat tertarik belajar tentang Islam. Di satu sisi, ia merasa sedikit terganggu. Bukankah tidak baik laki-laki dan wanita sering bertemu berduaan walaupun hanya sekedar diskusi agama. Pemuda ini berpikir nanti ia akan mencarikan wanita muslim cerdas di Maroko untuk menjadi partner diskusinya Ni Rui dalam mencari tau apa yang ingin gadis ini ketahui tentang islam.

__ADS_1


***


Di kediaman Haris dan Hana, dua sejoli ini masih saja melakukan perdebatan. Apalagi Haris yang merasa sangat tidak senang atas perlakukan Gibran terhadap Hana dihadapannya.


“Katakan kalau kamu memang senang bertemu dengannya. Kamu senang kan diajak bertemu berduaan dengan laki-laki itu. Ayo katakan!”


“Mas!”


“Apa?? Kamu tidak bisa menjawab kan? Kamu memang bahagia dan berharap dapat kembali kepelukan pemuda itu kan!!?” Haris menuduh Hana bertubi-tubi. Hana sudah tidak tahan mendengar tuduhan Haris,


Tanpa basa basi Haris pun menempel paksa bibir nya pada bibir Hana. Gadis itu terkesiap. Ia tidak siap dengan serangan mendadak dari Haris. Ia membolakan matanya penuh dengan tak berkedip sedikitpun. Haris menguncinya beberapa saat. Sungguh, ini adalah ciuman pertamanya. Jujur, Ia sendiri juga tidak tau bagaimana caranya berciuman. Namun, entah kenapa ia merasa sangat enggan untuk melepaskannya. Ia meraih tengkuk Hana untuk memperdalam ciuman mereka. Sedang Hana, ia hanya diam tidak membalas ciuman tersebut. Lebih tepatnya ia merasa shock atas perlakukan Haris terhadapnya.


Kring… kring… kring…


Mereka tersadar ketika deringan handphone Hana berbunyi,


Haris melepaskan tautan pada bibir merah jambu istrinya. Hana mengacak random isi tasnya mengambil handphone seraya melihat siapa yang menelepon. Ternyata Gibran. Nama laki-laki yang tengah mereka perbincangkan tertera pada layar. Hana mencoba mengabaikan panggilan tersebut agar perdebatannya dengan Haris tidak semakin panjang.

__ADS_1


“Siapa? Kenapa tidak kamu angkat?”


“Ini, telepon dari mas Gibran” Jawab Hana dengan suara pelan. Haris berdecak kesal.


“Sebentar, aku angkat dulu” Hana berlalu masuk ke dalam kamarnya. Haris mengepalkan tangan dengan erat. Belum sempat Hana mengangkat handphone nya, panggilan tersebut sudah dimatikan. Hana kembali melihat ke layar kaca, ternyata ada pesan yang dilayangkan oleh Gibran. Ia pun membacanya. Dalam hati, Hana menyetujui pertemuan ini. Ia tau Gibran harus kembali ke Maroko dan ia sudah sepatutnya menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang selama ini menimpanya. Namun, apakah Haris akan mengizinkannya untuk menemui Gibran? hmh, mungkin jika ia membawa Yura, ceritanya akan berbeda. Semoga saja Haris benar-benar mengizinkannya untuk menyelesaikan masalah mereka.


Hana meraba sedikit bagian bibirnya. Ia baru sadar kalau ia baru saja melakukan first kiss nya. Huft, suasananya benar-benar tak sesuai seperti yang diharapkan. Tidak seperti yang terjadi dalam ratusan novel-novel romantis yang sudah pernah dibacanya. Walau demikian, apapun itu, ini adalah ciuman pertama yang diambil oleh suaminya sendiri. Sebenarnya ia merasa marah lebih tepatnya merasa malu terhadap serangan mendadak itu. Semua rasa bercampur aduk menjadi satu, tapi apa berhak ia marah pada suaminya sendiri?  Ya Rabb, berikan keberkahan didalamnya. Setidaknya inilah yang ia harapkan. Mengingat hal ini, rasanya Ia tidak ingin lagi bertemu Haris. Ia enggan. Rasanya ia sangat malu. Ia pun menelungkupkan tubuhnya di kasur seraya menenggelamkan wajahnya pada permukaan bantal.


Haris sendiri sudah berada di dalam kamarnya. Ia berjalan mondar mandir dengan teratur dan menyempatkan diri mengacak-acak rambutnya dengan asal. Lalu menghembuskan kasar nafasnya ke udara. Ia sedikit menyesali Tindakan mendadaknya dalam mencium Hana. Ia seakan buta dengan keadaan. Sebenarnya ia bukanlah laki-laki yang sekasar itu, ia yakin telah membuat Hana tidak nyaman. Emosi yang dimiliki mengalahkan semua. Ia kelepasan. Ia tidak tahan melihat bibir merah jambu dengan kata-kata menantang yang keluar dari bibir istrinya tersebut. Sungguh mengusik jiwa kelaki-lakiannya yang sangat tidak senang ditantang ketika emosinya tengah membumbung tinggi. Namun, dalam hati kecilnya, Haris sungguh menikmati kejadian tadi. Ia malah ingin mengulangnya, ia masih penasaran. Ah, andai suara handphone tadi tidak berdering. Huft, sadar Haris! ada hal yang lebih penting untuk kamu pikirkan. Gibran sudah terang-terangan ingin mengambil Hana dari tanganmu. Apa kamu hanya bisa diam memaku di tempat? Aaaargh memikir ini saja kepala Haris mau meledak rasanya.


Ddddrrrrt drrrrttt


1 pesan masuk wattsapp masuk, Haris merogoh saku celananya,


“Mas, jadi ke rumah sakit kan? Aku menanti kehadiranmu. Rasanya sudah tidak sabar :) ” Arini.


***

__ADS_1


__ADS_2