
Petang datang menjelang, langit menyemburatkan warna jingga kemerahan, pertanda maghrib akan segera datang. Waktu ‘Ashr sudah lewat 3 jam yang lalu. Di kediaman keluarga kecil Haris, tampak penghuninya agak sibuk
mempersiapkan segala keperluan untuk acara nanti malam. Hana sedang berdandan, ia bersiap-siap untuk menghadiri acara yang diselenggarakan oleh kantor tempat di mana Haris bekerja dengan berdandan agak berbeda dari biasanya. Kalau biasanya ia hanya memakai sedikit bedak dan liptint saja, kali ini blush on, maskara, lip matte menghiasi wajah ayu nya, namun tetap tidak tampak berlebihan. Ia mempoles ringan wajahnya. Gaun berwarna cream agak keemasan pun terlihat cocok ditubuhnya. Gaun ini senada dengan warna dasi yang Haris kenakan. Sebelum membeli gaun, Hana dan Haris sudah mendiskusikan terlebih dahulu akan menggenakan apa untuk menunjukkan keserasian mereka sebagai pasangan suami istri. Cantik dan tampan tentunya. Alunan Bacaan Murattal dari Syaikh ternama dunia tetap terdengar di sela-sela aktifitas dua sejoli ini. Mereka selalu menyempatkan membaca atau mendengarkan bacaan al-Qur’an meskipun kesibukan padat merayap.
Setelah di rasa cukup, Hana pun keluar kamar setelah sebelumnya memakai jam tangan terlebih dahulu juga mengambil tas tangan dengan warna senada. Untuk jam nya ia memakai jam dengan merk alexandre christie, hadiah seserahan dari Haris pada saat pernikahan mereka. Ia pun mengambil sepatu yang dirasa cocok untuk dikenakan. Tak lupa ia memakai kaos kaki berbahan ringan berwarna kulit yang disematkan dikakinya. Ia melihat cermin yang terpasang di dalam ruang di mana tempat sepatu berada. Perfect. Ketika Hana tengah mencoba
memakai sepatunya, di saat bersamaan Haris keluar dari kamar. Ia juga telah siap dengan tuxedo nya. Penampilan
klimis seperti ini membuat ketampanan Haris terlihat berkali lipat. Haris menatap Hana dengan tatapan penuh kritik. Ia sedikit tidak senang dengan penampilan Hana yang terlihat sangat cantik. Untuk beberapa saat menatap Hana
saja, pemuda itu jadi lupa diri. Bagaimana jika ditatap terus terusan? Haris seperti tidak rela.
“Mas, bagaimana penampilanku malam ini?” Tanya Hana ketika melihat Haris sudah berdiri dipintu dengan mensedekapkan tangan dipinggangnya. Haris menaikkan sebelah alis matanya.
“Biasa saja” Jawabnya datar, lagi-lagi tanpa ekspresi.
“Hah? Benarkah? Padahal aku sudah berusaha untuk tampil lebih baik dari biasanya” Ucap Hana kecewa, ia
berekspektasi penampilannya akan jauh lebih baik dari biasa yang memang tanpa make up.
“Kalau hari biasanya memang lebih baik, untuk apa repot-repot berdandan?” Haris semakin membuat Hana down.
“Huft, kalau begitu aku akan kembali ke kamar dan menghapus make up nya” Hana cemberut, ia hendak kembali ke kamar namun di cegat oleh Haris yang memang tengah berada tepat di muka pintu.
__ADS_1
“Tidak usah, dandanan ini sama sekali tidak buruk, namun entah kenapa aku lebih menyukai wajah natural mu. Ini
memang terlihat memukau namun aku tidak ingin nanti banyak orang menatap tampilanmu berlama-lama. ini juga demi kebaikanmu, namun karena kamu telah terlanjur berdandan cantik, ya sudah, jangan memperbaiki apapun. Terima kasih untuk usahamu!” Jelas Haris panjang lebar, dalam penjelasannya sebenarnya disisipi pujian yang tersemat untuk Hana.
Mendengar penjelasan Haris, Hana menjadi luluh. Wajah yang awalnya di tekuk cemberut, kini berubah berseri
bersemu, sayangnya wajah kemerah-merahan alami itu sudah ditutupi oleh warna blush on yang menghiasi pipi putih bersihnya.
***
Hana menggandeng tangan Haris, mereka berjalan beriringan. Tatapan orang-orang di aula ruang acara tak lepas dari dua sejoli ini, terutama Hana. Mereka yang belum mengetahui siapa sebenarnya istri dari Haris merasa
penasaran. Setelah melihatnya, rasa penasaran pun berubah menjadi rasa kagum karena melihat kecantikan dan keanggunan Hana. Tak lupa senyum manis gadis itu sematkan disepanjang acara. Ia mencoba mencair dan tidak kaku, ia tidak ingin mempermalukan Haris dengan dianggap sebagai istri yang tak pandai bersosialisasi. Hana benar-benar pintar menempatkan diri.
pembawa berkah!” Puji teman seprofesi Haris ketika mengucapkan selamat setengah berseloroh. Mereka seangkatan di kantor, namun jenjang karir Haris selangkah lebih maju darinya. Mereka pun tertawa renyah bersama. Hana menyematkan senyuman atas ucapan rekan kerja Haris.
Mereka berlalu melewati banyaknya orang menyapa. Orang-orang tersebut mengucapkan selamat pernikahan juga kenaikan pangkat yang berhasil di raih Haris di usia nya yang tergolong muda. Beberapa memuji keserasian mereka sebagai pasangan suami istri. Beberapa juga memuji kecantikan Hana, betapa Haris sangat beruntung!
Di salah satu sisi ruangan, tepat nya di bagian pojok ada sepasang mata yang menatap pasangan Haris dan Hana dengan tatapan tidak suka. Ia melihat mereka yang tampak serasi dengan tatapan sinis. Tak ayal rasa kesal pun
memenuhi suasana hatinya. Namun di sisi lain ia juga merasa tidak enak untuk tidak menyapa, perlahan Ia bangkit dan memasang senyum penuh kepalsuannya,
“Hai mas Haris, selamat untuk pencapaiannya ya!” Ucap Hanum tanpa melihat ke arah Hana.
__ADS_1
“Terima kasih, Hanum! O iya, kenalkan ini istri saya, Hana namanya!”
Hana pun menjabat tangan dingin Hanum, tak lupa ia tersenyum lebar, jarang-jarang ia melihat rekan kerja Wanita Haris menyapa. Rata-rata laki-laki lajang atau yang sudah berkeluarga, namun kali ada seorang Wanita yang
umurnya mungkin sedikit lebih tua dari nya, maka ia merasa amat bahagia. Seperti menemukan teman saja.
“Oh jadi ini istrinya mas Haris, saya pikir adiknya, sama sekali tidak terlihat seperti istri!” Hanum berusaha memperlihatkan keramahannya namun justru ternyata berbanding terbalik dengan sikap yang ditampakkan. Hana menjadi kikuk. Adik mas Haris? Apa ia masih terlihat seperti bocah ingusan yang tidak pantas bersanding dengan mas Haris? Ucap batin Hana. Haris tidak menanggapi dengan serius, ia berpikir mungkin sebab beban kerjanya setiap hari menjadikan wajahnya terlihat jadi lebih dewasa.
“Hana, ayo kita mengobrol bersama di sana!” Hanum menunjukkan tempat duduknya. Mendapat tawaran demikian, Hana pun menatap ke arah mata Haris, kemudian Haris mengangguk, mengingat acara puncak juga sebentar lagi akan dimulai. Alhamdulillah jika Hana sudah menemukan teman. Semoga cocok. Pikir Haris.
Hana dan Hanum duduk saling bersebelahan di kursi mereka masing-masing. Setelah sekian lama mengobrol, Hanum meihat kebaikan dan kepolosan pada tingkah laku Hana, sepertinya asik kalau sedikit diberi pelajaran.
Hanum tersenyum samar. Ia menemukan sebuah ide yang cocok untuk mengerjai Hana.
“Hana, minumlah ini” Hanum menyodorkan segelas minuman cocktail pada Hana yang didalamnya sudah terdapat alkohol.
“Ini minuman apa mba? Saya sudah cukup dengan es lemon tea saja” Sahut Hana.
“Cobalah minuman ini dulu, saya yakin kamu akan ketagihan” Bujuk Hanum lagi. Dengan ragu-ragu dan Gerakan pelan Hana mengambil minuman yang berada ditangan Hanum.
“Ayo, jangan sungkan. Minumlah!”
***
__ADS_1
Hai Teman-teman pembaca setia, terima kasih untuk dukungannya selama ini. Mohon dukungannya terus ya dengan memberi VOTE, LIKE, KOMEN, HADIAH juga RATING BINTANG nya agar Alana senantiasa terus semaangat dalam menulis. Terima Kasih Banyak. Jazakumullah Khairal Jaza' , semoga Allah memudahkan semua urusan teman-teman. Aamiiin ya Rabb ^-^