Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 62: Bidadari yang Terlihat Nyata


__ADS_3

Fabiayyi Aalaa Irabbikuma Tukadz Dzibaan (Q.S Ar Rahman)


Maka Nikmat Tuhan-Mu Manakah yang Kamu Dustakan?


Fabiayyi Aalaa Irabbikuma Tukadz Dzibaan (Q.S Ar Rahman)


Maka Nikmat Tuhan-Mu Manakah yang Kamu Dustakan?


***


Sepoi angin berhembus mesra, malam merangkak naik dengan rembulan yang sudah mengintip malu di balik pepohonan. Haris dan Hana masih menikmati kebersamaan mereka usai melakukan ciuman dengan penuh kelembutan. Haris sempat merasa enggan untuk mengakhiri, ia lebih memilih untuk memperdalamnya dan menyesap cairan yang ada di mulut Hana. Manis sekali. Ingin sekali rasanya ia berlama-lama, setidaknya ia sudah memberikan jeda agar Hana bisa meraup udara sesaat lalu tak segan ia kembali menempelkan bibirnya pada bibir merah jambu istrinya tersebut.


“Ma.. Mas” Panggil Hana dengan mata  sayunya ditengah ciuman panas yang berlangsung. Haris tak membiarkan suasana ini berakhir.


Hana masih sangat kaku, ia memang masih amatir dalam hal ini. Berbeda dengan Haris, walaupun ia juga pemula namun ia melakukannya dengan sangat baik. Haris menarik tubuh Hana semakin mendekat dan merapat ketubuhnya. Ia memegang erat pinggang ramping Hana dan mendorongnya ke arah dinding. Ia pun menyempatkan menekan saklar listrik dan mematikannya. Sekarang Mereka hanya di temani oleh cahaya purnama dan pantulan lampu jalanan yang membuat ruangan menjadi tak gelap gulita.


Haris kembali menghujamkan ciumannya, bertubi-tubi. Kini, tidak hanya di bibir saja. Pemuda itu dengan lihai mulai mengeksplor leher Hana dan menyesapnya, tangannya mulai bergerilya kemana-mana. Hana dibuat meremang tak karuan, ia tidak bisa bergerak atau melakukan apapun karena sudah terkunci oleh tangan dan tubuh Haris, hanya suara desahan yang sudah berusaha ditahannya namun tetap lolos begitu saja.


Haris semakin menikmatinya. Gairahnya bertambah begitu mendengar desahan istrinya. Hana ingin sekali menolak, namun tubuhnya terlalu sulit untuk diajak bekerja sama. Ia begitu menikmati apa yang Haris lakukan. Bagai disengat oleh aliran listrik, ia memasrahkan tubuhnya dijamah begitu saja oleh Haris sang suami.


Haris semakin ingin melakukan hal lebih dan lebih. Ia mulai melepas kerudung dan ciput Hana. Ia menggiring Wanita yang sudah menjadi istrinya selama berbulan-bulan itu ke atas tempat tidur. Ia mendudukkan Hana dan melepaskan ikatan rambutnya. Rambut panjang ikal, lebat, hitam, dan berkilau itu pun tergerai indah dan terpampang nyata di hadapan Haris. Untuk sesaat lelaki itu terpesona. Dalam temaram cahaya,  Ia memilih berlama-lama menatap Hana, Rasanya sangat enggan untuk berpaling.


Apakah ini yang dinamakan bidadari? Ternyata bidadari itu nyata. Ia tak perlu menunggu ke surga untuk melihatnya. Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk seindah ini. Haris mengusap lembut pipi Hana.  Sungguh. Ia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Tubuhnya membutuhkan pelepasan. Tubuh bagian bawahnya semakin mendesaknya untuk melakukan hal yang sudah seharusnya dilakukan.


Ia membaringkan Hana yang sudah memasrahkan diri kepadanya. Ia pun melepas baju kaos yang melekat ditubuhnya. Sekilas Hana dapat melihat tubuh kekar berotot sang suami hasil dari rajinnya berolahraga dan nge-gym. Hana memalingkan wajahnya. Malu.


Namun, ketika hendak mulai melepaskan pengait baju Hana, ia mengurungkan niatnya. Haris memejamkan mata kemudian mendesahkan napasnya kasar, seolah nafsunya yang sudah memuncak dan mengubun-ubun itu ikut menguap bersamaan ke udara lepas, kesadarannya muncul. Ia tidak tega melakukan hal “itu” mengingat Hana yang belum pulih sepenuhnya. Tangannya juga masih berselang infus walau aliran cairan nya sudah berhenti dan penyambungnya sudah dilepaskan sebentar, tapi tetap saja Hana masih berada dalam tahap observasi dokter.


Ia sekuat tenaga mengabaikan keinginannya walau sangat sulit sekali, padahal “sesuatu” sudah sangat mendesak di bawah sana. Ia memilih untuk bangkit tanpa menoleh ke arah Hana, ia takut tidak akan bisa mengontrol nafsu untuk yang kedua kalinya.


Hana merasa heran dengan sikap Haris, baru saja suaminya itu menunjukkan semangat dan berada dalam gairah yang menggebu-gebu, sekarang rasanya nafsu itu hilang dan menguap begitu saja. Apa ia tidak menarik? Tiba-tiba hati Hana diliputi kesedihan.


“Mas” Hana memegang lengan Haris yang hendak beranjak menjauhinya.


“Jangan sentuh aku, Hana! Aku takut tidak dapat menahannya dan akan melakukan itu padamu” Ucap Haris tanpa menoleh.


“Tapi kenapa?” Hana menatap punggung Haris dengan mata sayu dan suara lirih seperti tercekat.

__ADS_1


Haris terpaksa menoleh ke arah Hana. Ia kembali duduk dihadapannya.


“Maaf. Aku tidak memikirkan kesehatanmu” Haris menggenggam tangan Hana.


“Terima kasih sudah percaya padaku” Haris kembali melanjutkan kata-katanya.


“Kita akan melakukannya ketika kamu sudah sembuh dan dengan suasana yang jauh lebih indah dari ini, jauh lebih romantis dan berkesan. Aku juga sudah tidak sabar ingin memiliki anak denganmu, Kamu mau kan?” Haris menatap intens wajah Hana. Kini ia berbicara bukan dengan nafsunya melainkan dengan rasa kasih dan sayang yang entah sejak kapan rasa itu muncul melingkupi ruang dihatinya kepada Hana.


Mendengar permintaan Haris, Hana pun tersipu. Ia mengangguk sambil menundukkan kepalanya. Semburat kemerahan kembali menghiasi pipi. Ia salah tingkah, diambilnya ciput dan kerudung yang tadi sudah dibuang acak oleh Haris dan hendak dipakainya lagi.


“Kenapa dipakai lagi? biarkan seperti itu. Aku suka. Kamu sangat cantik ketika rambutmu tergerai seperti ini. Tenang saja, pintu sudah ku kunci tadi, tidak akan ada orang yang masuk ke ruangan ini, hanya ada kamu dan aku suamimu saja” Ucap Haris sambil memasukkan sedikit helaian rambut Hana ke balik telinganya.


Hana semakin terbuai dan berbunga-bunga mendengarnya setelah sebelumnya ia sempat merasa sedih sebab Haris yang tiba-tiba saja menjauhinya. Receh, namun mungkin karena kata-kata tersebut terucap melalui lisan suami halalnya maka hal tersebut terasa berbeda, namun dengan cepat ia kembali menguasai keadaan.


“Aku mandi dulu ya” Ucap Haris lagi. Hana mengangguk.


Haris pun mengambil handuk dan pakaian gantinya lalu menuju ke kamar mandi. Ia merasa sangat gerah dan berkeringat parah, hal ini disebabkan oleh deru nafas  yang dari tadi sudah tidak beraturan. Dengan segera ia menyiramkan air yang suhunya sangat dingin itu ketubuhnya, ia sengaja tidak menggunakan air hangat untuk mandi di malam yang dingin ini. Ia butuh menetralisirkan perasaan dan suasana tubuhnya yang sudah begitu


banyak menuntut. Ia pun mengakhiri ritual mandinya ketika tubuhnya Sudah bisa diajak untuk berkompromi.


Haris melihat Hana yang masih berbaring rapi dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajahnya. Lampu sudah ia hidupkan. Tampak jelaslah wajah Hana dengan tanpa menggunakan kerudungnya. Hana menoleh ke arah Haris yang menatap kearahnya. Mereka saling tersenyum.


“Di sini!” Haris menunjuk ke arah karpet tipis yang ada di lantai.


“Jangan, mas akan masuk angin dan sakit” Hana mencemaskan suaminya.


“Hmh,, kalau begitu aku tidur di kursi itu” Haris menunjuk ke arah kursi yang berada di sudut ruangan.


Hana menggeleng.


“Mana mungkin mas tidur dalam keadaan duduk semalaman seperti itu” Sergah Hana lagi.


“Kalau begitu aku akan tidur di ranjang sempit itu bersamamu” Haris mendekati Hana dengan wajah usilnya.


“Kamu ingin tidur sambil kupeluk kan?” Haris menggoda Hana.


“Ha? Mana mungkin” Hana memalingkan wajahnya.

__ADS_1


“Sudah, akui saja. Aku tidak keberatan kok kalau Harus memelukmu sepanjang malam” Haris merentangkan tangannya dan semakin menggoda Hana.


“Ih mas!” Hana melototkan matanya.


“Haha, kamu semakin menggemaskan jika mendelikkan mata seperti itu” Haris mengecup puncak kepala Hana.


“Aku keluar sebentar membeli minuman ya, jika kamu sudah mengantuk, tidurlah duluan”


Hana mengangguk. Huft, bagaimana aku bisa tidur malam ini setelah semua perlakuan manismu kepadaku mas? Batin Hana.


Haris pun mengambil jaket yang bertengger di atas kursi dan memakainya, lalu ia keluar ruangan dan menuju kantin rumah sakit. Sebelum tiba di tempat tujuan, ia duduk sebentar di bangku umum yang tidak jauh dari ruangan


kamar rawat inap Hana. Ia mulai melakukan panggilan Telepon,


“Assalamu’alaikum Pak Haris?” Roni asisten Haris di kantor menjawab panggailan telepon darinya.


“Wa’alaikumsalam, bagaimana perkembangan di kantor?” Tanya Haris datar.


“Alhamdulillah semakin baik, Pak! Saya sudah mengklarifikasi dan mengkonfirmasikan bahwa bapak dan istri hanyalah korban dari kejahatan terencana, saya sudah menyerahkan bukti-bukti agar mereka tidak lagi


menyudutkan bapak, Sebagian malah menjadi prihatin atas kondisi bu Hana, tinggal klarifiasi lanjutan dari Pak Haris saja maka kondisi akan kembali seperti semula” Jawab Roni lagi.


“Alhamdulillah kalau begitu, terima kasih atas bantuanmu, Ron. Saya akan menghargainya” Ucap Haris.


“Terima Kasih kembali, Pak”


Satu tugasnya hampir selesai, Ia kembali melakukan panggilan telepon. Kali ini ia menelepon sahabat intelnya, Romi.


“Bagaimana Rom? Apa kamu sudah menemukan titik terangnya?” Tanya Haris


“Belum sepenuhnya, namun aku berhasil mengantongi beberapa nama, yang mengejutkan adalah dia ini merupakan rekan kantormu sendiri”


“Apa?? Siapa dia??”


***


Assalamu'alaikum Teman-teman, Gimana? Masih semangat baca kisah Haris dan Hana? Duuuh, jujur buat bab ini jantungku dag dig dug, aku selalu menghindari bab yang ada adegan beginian namun mau ga mau aku harus menulisnya. Ini belum puncak dari kisah Haris dan Hana, semoga teman-teman betah ya, hehe. Maafkan kisah yang masih jauh dari sempurna ini. Alana masih perlu banyak belajar lagi ^^

__ADS_1


Yuk dukung karya Alana terus dengan LIKE KOMEN dan VOTE juga HADIAHnya, Jazakumullah Khaer. Di tunggu komentar positifnya ^^ Luph ^^



__ADS_2