
Gibran memutar stiur mobilnya ke arah taman yang sudah ia dan Arini janjikan tadi. Ketika akan memarkirkan mobil, ia melihat ada beberapa mobil yang sudah berjejer rapi yang terparkir di taman, padahal hari masih sangat pagi.
Ia melihat ke sekeliling, matanya berpendar ke segala sudut yang bisa di raih oleh penglihatan nya. Ia sendiri belum pernah bertemu dengan Arini sebelumnya.
Tanpa mau membuang waktu lebih lama lagi, ia pun mengambil gawai nya dan menghubungi gadis yang beberapa waktu lalu berbaik hati menyuruhnya untuk menyelamatkan Hana.
"Assalamu'alaikum Rin, kamu sudah dimana?"
"Aku sudah di taman, di bawah pohon yang berada di dekat lampu taman, aku memakai baju berwarna pink" Arini menjelaskan keberadaan nya pada Gibran.
"Okay, aku juga sudah di taman, aku ke tempat mu sekarang"
Gibran pun menuju ke tempat yang Arini arahkan, dari kejauhan ia sudah melihat gadis berbaju pink seperti yang dicirikan tadi.
"Assalamu'alaikum" sapa Gibran
"Wa'alaikum salam, kamu Gibran? " tanya Arini
"Iya"
"Baiklah, kamu mau memulai percakapan ini darimana?" tanya Arini to the point tanpa berbasa basi.
"Dari duduk terlebih dahulu, boleh kan?" Gibran berkata dengan tersenyum, ia ingin lebih rileks.
"Haha tentu saja, maaf duduklah"
Gibran melirik ke arah jarum jam tangan nya, ia menyadari waktunya sudah tidak banyak lagi.
"Katakanlah bagaimana cara kamu mengetahui Hana di culik?"
"Aku mengetahuinya sebab temanku mengatakan padaku kalau Hana sedang mabuk ketika itu, ini hal aneh menurutku, karena orang seperti Hana mana mungkin mabuk kan?" Arini memberi jeda pada kalimat nya.
"Kemudian ia dibawa oleh orang yang tidak dikenal. Aku tau bahwa itu adalah orang tak dikenal sebab aku tau siapa suaminya dan ia tidak memiliki kakak laki-laki, aku curiga dan menyuruhnya untuk mengikuti mereka, temanku itu seorang wanita, jadi tidak mungkin dia yang menyelamatkan Hana"
Gibran mencoba untuk mencerna setiap kata yang Arini katakan.
"Jika kamu mengenal suaminya, lalu mengapa kamu tidak menyuruh suaminya saja yang menolong? mengapa harus aku??" Gibran berkata dengan menaikkan sebelah alis kanannya.
"Itu karena... "
__ADS_1
"karena apa?"
"Karena... aku tidak bisa mengatakan pada suami Hana"
"Ya. Tapi kenapa!?" Gibran terus saja mendesak Arini.
"Baiklah, aku akan jujur padamu, kamu ingin aku sejujur apa?"
"Sejujur seperti yang sudah semestinya" sahut Gibran
"Hhhhh baiklah" Arini mendesahkan nafasnya ke udara.
"Aku tidak mau memberitahukan hal ini pada Haris sebab.... aku mencintainya, aku tidak ingin Haris menjadi pahlawan dalam kisah penyelamatan hidup Hana, di sini aku memang egois, namun aku juga berhak menentukan bagaimana cara untuk menyelamatkan Hana, tolong jangan hakimi aku atas hal ini"
Gibran terdiam, saat Arini mengatakan bahwa gadis itu mencintai Haris, ia sempat mendongakkan kepalanya.
"Aku dan Haris saling mencintai sebelum ia menikahi Hana. Ia terpaksa menikahi Hana karena atas desakan orangtua. Tidak ada cinta di hati mereka" Arini melanjutkan cerita dengan mata berkaca-kaca. Ia pun menceritakan semuanya pada Gibran sejauh cerita yang ia tau, sejauh rasa sakit yang ia rasakan.
Gibran terhenyak, ini adalah kali kedua ia mengetahui bahwa Hana dan Haris menikah karena terpaksa dan tidak ada cinta diantara mereka.
"Aku sudah menjelaskan semuanya padamu. Tugasku selesai sekarang. Aku harus pergi, banyak hal yang harus aku lakukan hari ini" Arini beranjak dari duduknya dan akan berlalu pergi
"Oiya, kamu ingin meminta satu permintaan padaku kan?" Arini mengingat-ngingat kembali tentang pembicaraan mereka melalui via telepon tadi.
" Tadinya aku ingin meminta untuk menjaga Hana untukku"
"Untukmu? ah iya, aku lupa kalau kamu adalah orang yang bernasib sama denganku" sambut Arini atas perkataan Gibran.
" Sebelumnya, Aku tidak memaksa agar Hana berjodoh denganku, aku percaya takdir Allah adalah yang terbaik" Tukas Gibran
"Haha, come on Gibran. Jodoh itu harus diupayakan" Arini berkata penuh penekanan
" Maksudmu? "
"Aku akan mengupayakan agar Haris mau menikahi ku"
"Lantas bagaimana dengan Hana?! " Sergah Gibran
"Apakah poligami dilarang dalam islam? kalau Hana tidak mau dimadu, ia bisa meminta cerai dari Haris, Hana bisa kembali ke pelukanmu Gibran"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak bisa memaksa kehendak Tuhan. Hana dan aku akan berjodoh atau tidak. Biarlah Allah yang menentukan"
***
Di Rumah Sakit
Masih dalam suasana yang lengang juga masih dalam suasana dan perasaan yang sama. Hana mengucapkan rasa Terima kasih mendalam nya pada Haris setelah melewati masa kritisnya. Haris tercekat tak mampu menjawab.
"Menapa mas diam saja? " Hana kembali menggenggam tangan Haris.
"Mas, kenapa aku merasa pusing dan kenapa aku mabuk? Aku mabuk kan?? dalam kesadaran dan ketidaksadaran, samar-samar aku mendengar orang-orang berkata aku mabuk, apa benar aku mabuk? " Hana menatap kosong kesembarang arah, ia tidak tau harus melakukan apa terhadap aksi bodohnya di kantor.
Haris masih terdiam.
"Lalu mengapa aku bisa berakhir di rumah sakit, mengapa Mas Ridwan menyebut nyebut nama penjahat, samar-samar, aku mendengar percakapan kalian walau tidak seutuhnya" Hana masih tidak mengerti duduk persoalan yang menimpa dirinya.
"Mas, kenapa mas masih diam? jawablah mas, aku penasaran" Hana terus saja memberondong kan berbagai pertanyaan kepada suaminya.
"Jika aku mengatakan bahwa bukan aku yang menolongmu, apakah kamu akan kecewa?" Tanya Haris tanpa menatap ke dalam mata Hana.
"Maksud mas? "
"Ya. Bukan aku yang menolongmu, melainkan Gibran" Haris masih tidak berani menatap Hana,
"Mengetahui kenyataan ini kamu bahagia kan?" Ucap Haris lagi, ia melonggarkan genggaman tangan Hana pada tangannya. Ada kekecewaan tersendiri pada hati dan perasaan nya.
Hana terhenyak. mas Gibran? bagaimana bisa mas Gibran? Tidak mungkin! Apa hubungannya dengan mas Gibran. Hana bertanya-tanya didalam hatinya. Untuk sejenak ia tidak mengeluarkan kata apapun. Ia masih sangat sulit menemukan benang merah atas kasus yang menimpanya.
Haris merasa semakin tersisihkan akan sikap Hana. Istrinya pasti bahagia mengetahui kenyataan bahwa Gibran yang menolongnya dan meremehkan kemampuan yang ia miliki sebagai seorang suami. Haris hendak beranjak menjauhkan diri sejenak dari Hana,
"Aku keluar sebentar untuk menghirup udara segar" Ucap Haris melihat tiada respon apa pun dari Hana. Sebentar saja, Ia ingin menenangkan suasana dihatinya.
"Aku sama sekali tidak bahagia atau kecewa mas! " Ucap Hana pada akhirnya, Kata-kata ini berhasil membuat Haris menghentikan langkah nya.
"Hanya saja aku masih berfikir dan merasa heran mengapa hal ini bisa terjadi, kenapa harus mas Gibran, apa hubungan nya mas Gibran di dalam kasus ini" Hana mengkerut kan kening heran.
"Masih banyak sekali misteri yang tidak aku ketahui Hana, tetapi karena aku telah gagal menolongmu, maka aku pastikan aku tidak akan gagal mengungkap semua hal yang berkaitan dengan masalah ini" Tukas Haris dengan penuh tekad. kali ini ia memberanikan diri menatap manik hitam mata Hana yang bersinar walau terlihat sendu, namun terasa bagai magnet semangat tersendiri dihati Haris.
***
__ADS_1