
Jam sudah menunjukkan pukul 22.30, namun Haris belum juga kembali dari acara makan malam. Hana berulang kali melihat ke arah jarum jam yang berada di salah satu dinding ruangan. Ia merasa tidak enak pada Yura yang
sudah hampir larut malam namun masih saja menemaninya. Bagaimana pun Yura harus segera kembali ke rumah.
“Ra, ini sudah hampir larut malam. Sebaiknya kamu pulang saja. Aku khawatir kamu pulang kemalaman sendirian” Pinta Hana seraya menutup mushaf yang berada ditangannya. Yura menoleh dan juga ikut melihat ke arah jarum jam yang berdetak.
“Mas Haris belum pulang, kita tunggu sebentar lagi Ya!” Ucap Yura.
“Tidak. Kamu tenang saja, mas Haris akan segera pulang. Insya Allah aku aman di rumah sakit, sedang kamu nanti berada di jalan, Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu” Ucap Hana. Masuk akal.
“Baiklah, tapi ini masih jam setengah sepuluh malam, kalau saja setengah jam lagi mas Haris belum pulang juga maka aku akan kembali” Ucap Yura.
Hana tidak bisa membantah, ia pun mengiyakan keinginan Yura, semoga saja Haris kembali sebelum jam sebelas malam.
“Tadi aku juga meminta Lisa untuk ke sini namun ia sedang ada kegiatan yang tidak bisa di tunda, ia meminta maaf dan mengirim salam untukmu” Ucap Yura lagi.
“Masya Allah, akhir-akhir ini sepertinya Lisa begitu banyak kegiatan. Semoga apapun yang Lisa lakukan dapat membawa keberkahan dan kebaikan untuknya” Hana mendoakan kebaikan untuk Lisa dengan tulus.
“Aamiiin yaa Rabb” Yura meletakkan kedua telapak tangannya ke wajah mengaminkan.
Bersama mereka bernostalgia ke masa lalu dengan saling berbincang dan tertawa lepas, seolah segala kegundahan di hati ikut terseret menjauh mengikuti alur cerita. Mereka juga mengenang masa-masa awal bagaimana bisa jadi sedekat ini dan menjadi sahabat yang begitu akrab, memang Allah swt sudah men-skenariokan
dengan sangat indah.
Tidak terasa 15 menit sudah berlalu, namun Haris tak kunjung kembali, Yura hanya memiliki waktu tersisa 15 menit lagi untuk dapat membersamai Hana. Tetapi tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh suara ketukan pintu, tak
lama muncul lah perawat dan beberapa orang berseragam serba hitam yang mengaku polisi dengan membawa surat penangkapan.
“Ada apa ini?” Tanya Hana keheranan.
“Maaf, Kami sedang mencari keberadaan saudari Yura Shahia dan Hana Fathimah Ameer” Ucap salah seorang dari mereka.
“Iya. Ada apa ya, pak?” Hana masih terlihat tenang, begitu juga dengan Yura. Mereka masih mengenakan mukena yang membaluti tubuh mereka.
“Kami membawa surat perintah penangkapan atas nama-nama yang baru saja kami sebutkan” Pak Polisi menunjukkan surat resmi dari kepolisian dengan cara dibentangkan secara vertikal.
“Silahkan geledah ruangan ini!” Perintah pak polisi yang berbadan tegap kepada temannya.
“Maksudnya bagaimana pak? Apa kesalahan yang kami lakukan???” Suara Hana meninggi, namun ia tidak gentar sebab ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
“Kami menerima laporan bahwa di ruang kamar ini terdapat transaksi obat-obatan terlarang” Jelas pak polisi.
“Apa??? Itu semua tidak benar, pak!!!” Yura yang dari tadi diam saja pun mulai bersuara.
“Tenang Nona, biar masalah ini kita selesaikan di kantor polisi. Kalau memang nona-nona ini tidak bersalah tentu saja tidak kami tahan”
Para polisi yang mengenakan pakaian seragam serba hitam itu pun dengan lihai menggeledah keseluruhan kamar juga memeriksa barang-barang kepunyaan mereka yang berada di sana. Semua benda tak luput dari intaian mereka.
Pada awalnya mereka tidak menemukan benda yang mencurigakan, sampai pada pemeriksaan tas ransel milik Yura. Polisi menemukan sebungkus kecil narkotika berbahaya jenis Methylenedioxymethampthetamine (MDMA), atau lebih dikenal dengan nama Ekstasi. Polisi yang menemukan barang haram tersebut pun menunjukkan
pada polisi senior.
Yura memucat. Ia gagal paham. Mengapa benda terkutuk itu bisa berada ditasnya? Hana masih tampak tenang namun ia menangkap sinyal ketakutan yang ada pada diri Yura. Ia langsung menggenggam erat jemari sahabatnya
itu dan mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.
“Maaf, kalian berdua harus kami bawa ke kantor polisi atas kepemilikan obat-obatan terlarang. Barang yang kami temukan ini merupakan bukti bahwa laporan yang kami terima benar adanya.” Ucap polisi pada akhirnya.
__ADS_1
Kalimat terakhir pak polisi sukses membuat rasa tenang dan ketegaran Hana runtuh seketika, ia mulai gemetar. Seumur hidup tak pernah ia bayangkan akan mendekam di dalam penjara.
“Hana, sungguh aku tidak membawanya” Yura menggeleng-geleng menatap Hana, airmata nya keluar jatuh berhamburan.
“Aku percaya padamu. Aku percaya padamu” Ucap Hana, tidak mungkin Yura melakukan itu, ini pasti sebuah kesalahpahaman.
“Hana, aku benar-benar tidak tau tentang benda itu, aku tidak tau. Percayalah” Yura gemetar hebat. Ia menangis tersedu dan begitu takut. Wajahnya pucat pasi.
“Pak, kami tidak tau menau masalah kepemilikan benda yang bapak temukan. Ini semua pasti kesalahpahaman pak!” Hana mencoba melayangkan protes pada pak polisi walau ia tau bahwa mustahil mereka akan aman sekarang. Setidaknya ia sudah berusaha untuk membela diri.
“Tenang nona. Kita ikuti saja prosedur hukum yang berlaku. Kalau memang kalian tidak bersalah, kalian tidak perlu takut” Pak polisi berkata dengan penuh wibawa.
Polisi senior berbadan tegap pun mengajak perawat berbicara mengenai kesehatan Hana, bagaimana pun juga gadis itu merupakan pasien dari rumah sakit Jaya Merdeka tempat ia dirawat sekarang. Jika sekiranya status Hana masih merupakan orang pesakitan, maka ia akan dipindahkan ke rumah sakit bhayangkara sampai pulih total baru dijebloskan ke penjara. Perawat mengatakan 15 menit lagi dokter akan tiba dan memberikan laporan perkembangan kesehatan Hana. Untuk sementara para polisi menjaga ketat agar mereka tidak bisa kabur.
Seketika mereka pun memborgol lengan Yura dan Hana, Airmata Yura mengalir deras semakin menjadi. Hana tidak tega, jika dapat terlihat, hatinya sendiri sebenarnya sudah ambruk dan hancur sejak awal, namun ia menyakinkan diri bahwa ia tidak boleh terlihat rapuh. Hana mencoba menguatkan diri, demi kewarasan dan demi sahabatnya Yura, jika ia juga ambruk, siapa yang akan menguatkan. kini sahabatnya itu bukan hanya gemetaran namun kini sudah mencapai tingkat menggigil.
“Pak, sebelum bapak menjebloskan kami ke penjara, bolehkah saya menghubungi suami saya sebentar? Saya harus meminta izin beliau sebelum keluar dari rumah sakit ini” Tanya Hana dengan nada intonasi tegas.
“Baiklah, saya berikan waktu 5 menit”
Tidak menunggu waktu lama, Hana langsung menghubungi Haris. Berulang kali ia menekan nama Haris pada kontak Wattsapp, namun malang baginya, nomor Haris tidak bisa dihubungi. Hana mulai cemas. Namun, tiba-tiba gadis itu teringat pada Ridwan sahabat dari suaminya yang juga calon suami dari Yura, mungkin saja beliau dapat membantu. Dengan gerakan cepat Ia mengambil handphone Yura dan melayangkan pesan singkat pada laki-laki itu dengan mengatakan bahwa mereka berdua didatangi polisi di rumah sakit dan akan dijebloskan ke dalam penjara.
Setelah Hana berhasil mengirimkan pesan pada Ridwan, tiba-tiba saja Yura jatuh pingsan.
***
Haris menendang ban mobilnya yang kempis tiba-tiba di jalan, kesal. ia pun mengambil handphone nya untuk meminta bantuan. Sayang sekali telepon genggamnya tersebut kehabisan baterai. Semakin bertambahlah rasa
kesalnya. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, jalanan sepi. Belum ada pengendara lain yang melintas. Ia menendang-nendang ringan bebatuan kecil yang sedikit berserakan di jalanan sembari menunggu kalau-kalau ada yang lewat dan menawarkan bantuan.
Namun tiba-tiba saja ada mobil yang berhenti di dekat mobilnya. Haris melihat plat dan jenisnya, ia sudah hafal sekali milik siapa mobil itu. Benar saja, pemiliknya membuka pintu kemudian turun dan menyapa.
“Biar aku bantu panggilkan tukang bengkel. Mas tunggulah di sini” Tawar Arini.
“Kamu bersama siapa?” Tanya Haris namun Arini asik mencari nomor kontak montir di handphonenya.
“Ya? Kenapa mas?”
“Kamu bersama siapa malam-malam begini?” Haris kembali mengulang pertanyaannya.
“Aku hendak mengantar Hanum pulang, mas”
“Ooo ” gumam Haris hampir tidak terdengar.
Hanum masih menunggu di mobil, Arini pun melakukan panggilan telepon, namun entah mengapa sang montir tak kunjung menjawab panggilannya. Ia menggelengkan kepalanya pada Haris.
“Mas, mari ikut mobil ku saja, besok ketika hari sudah terang baru ban nya diganti. Setidaknya mas tidak di sini sendirian. Aku akan mengantar mas pulang setelah mengantarkan Hanum” Tawar Arini. Haris berpikir sejenak, Perkataan gadis yang ada dihadapannya benar juga, setidaknya ia harus segera berjumpa dengan Hana. Betapa ia sudah merindukan istrinya tersebut.
Arini menawarkan agar Haris saja yang menyetir, Haris pun menyanggupi, kemudian Hanum berpindah tempat ke belakang, sedang Arini sendiri? Tentu saja ia berada di samping Haris menemaninya sambil mengobrol. Suasana yang seperti ini saja sudah membuatnya berseri-seri.
Arini benar-benar merindukan Haris yang dulu, yang walaupun sangat menjaga diri namun ia tetap merasakan kehangatan hati pemuda itu kepadanya. Tidak seperti saat ini yang seolah hatinya telah membeku dingin oleh salju rayuan Hana. Tapi Arini sudah bertekad akan membuat hati Haris yang beku itu mencair kembali dengan sendirinya.
Ia pun diam-diam menatap Haris yang tengah menyetir dalam kegelapan malam. Tak sadar, airmata nya menetes. Ia merasa sesak. Ingin sekali ia berteriak mengatakan pada dunia terutama pada laki-laki yang berada di samping nya bahwa ia sangat sangat menyukainya. Suka sekali. Rasanya ia tidak mau menikah dengan laki-laki manapun kecuali Haris. kalaupun itu tidak terjadi, mungkin ia akan terus sendiri seumur hidupnya.
“Mengapa kamu menangis?” Tanya Haris yang masih terus saja menyetir tanpa menoleh ke arah Arini. Ia dapat mendengar suara rintihan halus berasal dari suara tangisan yang tertahan.
“Aku tidak menangis, mas”
__ADS_1
“Jangan berbohong, nanti terbiasa” Ucap Haris lagi, kali ini ia menoleh ke arah Arini, pantulan cahaya dari lampu jalanan sesekali menyorot wajah Arini. Jelas sekali Wanita ini sedang menangis. Sungguh, ia tidak bisa
melihat Wanita menangis. Wanita manapun itu.
Arini bersungut-sungut.
“Ada apa, hm? Apa kamu punya masalah?”
“Tidak mas, aku baik-baik saja, aku hanya… hmh tiba-tiba kelabat bayangan masa lalu hadir kembali diingatanku” Ucap Arini.
“Aku teringat saat mas pernah mengantarku ke kampus seperti ini, walau ketika itu keadaannya di siang hari terik” Ucapnya lagi.
Mendengar perkataan Arini, ia pun membuka memori ingatannya dan mengingat-ingat peristiwa itu. Tiba-tiba saja rasa bersalah kembali hinggap dihatinya. Ia melihat betapa Arini masih terluka akan masa lalu mereka.
Tidak. Tidak. Ia tidak boleh lagi melihat ke masa lalu. Ia harus tegas dan tidak boleh mempermainkan perasaan wanita. Baik itu Arini maupun Hana istrinya. Ia tidak ingin ada yang terluka lagi oleh sikapnya. Sudah saatnya
mereka bangkit dan menata masa depan.
“Arini, jangan menangis. Mari kita tatap masa depan kita pada jalan masing-masing, ini semua memang sulit untuk dilakukan. Aku benar-benar minta maaf, rasanya seumur hidup pun aku harus memohon maaf padamu. Aku sendiri
tidak tau harus melakukan apa agar kamu juga Hana istriku tidak terluka” Ucap Haris, ia mengatakan selembut mungkin dengan bahasa yang mudah dimengerti agar tidak Arini tidak tersinggung.
Kamu tidak perlu melakukan apapun, mas. Biar aku yang melakukannya. Biar aku yang berkorban. Biar aku yang berjuang. Kamu tidak perlu melakukan apapun. Tidak perlu. Sebab pada akhirnya aku hanya butuh penerimaan dan pengakuan darimu. Untuk sekarang aku tidak menuntut apa-apa. Batin Arini.
Mereka diam dalam keheningan. Radio speaker yang berada di dalam mobil Arini pun melantunkan lagu sendu milik Celline Dion, The Power of Love.
Cause I am your lady~~~
Karna aku kekasihmu
And you are my man~~~
Dan kau kekasihku
*Whenever you reach for me~~~ *
Kapanpun kau merengkuhku
*I'll do all that I can~~~ *
Kan kulakukan yang kubisa
Ah, lagu ini benar-benar menggambarkan perasaan dihatinya.
***
Lisa duduk sendirian di café A. Ia menikmati teh hangat yang sudah dipesan untuk mengusir rasa dingin yang menyergap dirinya. Ia mengistirahatkan tubuhnya sejenak dari kerja keras yang sudah ia lakukan. Ia merasa bahagia, walau belum seratus persen namun dipastikan rencana yang sudah disusun dengan rapi tersebut berjalan
dengan lancar. Setidaknya Hana dan Yura sudah mendekam di penjara untuk saat ini.
Ia tidak akan menyerah dan tidak akan mengampuni sahabat-sahabat polos nan baik hati itu sebelum memastikan mereka hancur sehancur-hancurnya.
Maafkan aku Hana, salahmu sendiri yang sudah merebut mas Gibran dari tanganku lalu kamu sendiri yang mencampakkannya bak sampah yang tiada berharga. Kamu juga yang telah merebut perhatian orang banyak sehingga semua orang melihat dan memihak padamu lalu mereka membullyku. Begitu sakit dan panjang rasanya penderitaan yang kurasakan selama bertahun-tahun. Kamu selalu mengatakan kita sahabat kan? Tapi kenyataannya kamu terlalu egois karena sudah merebut semua yang aku inginkan.
Maafkan aku Yura, salahmu sendiri yang memihak pada Hana. Aku sudah pernah memberitaukan bahwa aku sangat mencintai kakakmu yang tampan dan sempurna itu tapi kamu malah mengabaikanku dan menganggapnya hanya lelucon semata. Kamu juga selalu membela Hana dimanapun dan kapanpun kamu berada. Sungguh kamu menambah daftar sakit yang aku rasakan selama bertahun-tahun ini.
Lisa mengingat kembali bagaimana ia menjebak Yura dengan membuat ban mobilnya menjadi kempis dan memasukkan benda terlarang itu di tas ransel tanpa sepengetahuannya. Ia juga yang membuat ban mobil Haris menjadi kempis untuk mengulur waktu agar Haris dan Hana tidak bisa bertemu. Tentu saja semua ini atas bantuan Hanum dan Arini. Terutama Hanum yang sangat lihai dan memiliki orang suruhan dimana-mana.
__ADS_1
***
Hai Teman-teman semua jangan lupa dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE dan berikan HADIAH-nya. Keep Health dan Fighting ya semuanya!!!^^