
Hana dan Yura baru selesai di periksa oleh pihak dokter di kepolisian, mereka telah melakukan pengambilan darah dan test urine untuk diperiksa di lab dan hasilnya akan keluar besok pagi. Kini Yura sudah siuman, ia masih terbaring lemah di ranjang yang disediakan, begitu pula dengan Hana. Mereka terlentang berdampingan. Yura masih shocked dan belum dapat menerima musibah dadakan yang mereka alami.
“Ya Rabb… Abah, Ummi” Yura meratap dengan memanggil kedua orangtuanya. Sayangnya Abah dan Umminya masih berada diluar negeri sedang melakukan perjalanan bisnis sekaligus pengobatan.
“Yura, tenang Ra. Ada aku di sini bersamamu” Hana memanggil Yura mencoba menenangkan sahabat karibnya itu. Ia menghadap ke arah Yura yang masih terlentang menatap langit-langit dengan air mata yang terus saja mengalir.
“Hana, aku sungguh tidak mengetahui tentang benda yang berada di dalam ranselku itu!! Sungguh aku tidak tahu!!” Yura kembali menangis.
“Aku tau itu, aku percaya padamu. Aku percaya” Hana kembali meyakinkan Yura.
“Maafkan aku, aku yang membawamu ke sini. Aku bersalah padamu, Hana!” Kini keduanya saling berhadapan. Mata Yura sudah membengkak dan terlihat sembab.
“Jangan berkata seperti itu, Ra! Kalau boleh perhitungan dan hitung-hitungan, pada dasarnya akulah yang lebih bersalah padamu,, bukankah kamu datang ke rumah sakit atas permintaanku? Andai saja kamu tidak datang,
musibah ini tidak terjadi” Sungguh, kini Hana jauh lebih terpukul dari siapapun.
Yura terhenyak.
“Jangan berkata seperti itu, Hana! Bagaimanapun barang bukti berasal dari tas ranselku!” Yura masih tidak mau kalah.
“Hmh, aku jadi berpikir bagaimana bisa barang haram itu berada di tas mu! Apa itu tidak aneh? Mari kita berpikir jernih daripada terus merasa bersalah terhadap sesuatu yang tidak pernah kita lakukan!”
Lagi-lagi Yura terhenyak. Benar yang Hana katakan. Yura menghapus airmatanya yang sudah sangat banyak mengalir itu. Ia bangkit dan duduk.
“Iya. Kamu benar, Hana! Aku juga merasa aneh, aku keluar dari rumah sendirian tanpa ada yang menemani. Sejak kapan benda itu berada di dalam tasku? Sedang sebelumnya aku tidak keluar kemana-mana, sebelum pergi aku
juga sempat memeriksa isi tas untuk memastikan handphone, dompet juga tisu agar tidak tertinggal” Yura mengingat-ingat kembali kronologi ketika ia keluar rumah sebelum bertemu Hana.
“Hmh, apa kita melupakan sesuatu?”
“Ban kempis!!!” Mereka berseru secara bersamaan.
“Mungkin saja aku dijebak saat itu” Yura menduga.
Hana mengangguk-angguk. Bisa jadi.
“Hana, ini benar-benar aneh. Dari peristiwa kamu mabuk saja itu sudah sangat aneh, ini malah ditambah dengan akhir yang tragis begini. Apa ternyata ada yang memusuhi kita diluar sana? Aku merasa kita tidak memiliki
__ADS_1
musuh” Yura sangat keheranan terhadap rentetan musibah yang terjadi diluar nalar dan dalam waktu yang sangat dekat. Hal ini seperti begitu disengaja.
“Untuk saat ini aku juga tidak mengetahuinya, Ra” Hana mendesahkan nafas yang sudah sangat berat untuk dikeluarkan.
“Kita harus bagaimana, Hana? Haruskah kita mendekam dalam penjara?” Yura kembali berkaca-kaca. Ia memikirkan nasib tragis mereka yang harus berakhir dibalik jeruji besi.
“Yura, bukankah Allah tidak pernah tidur? Seberat apapun hal yang kita alami, serahkan segala sesuatunya hanya pada Allah. Aku percaya, Allah akan membebaskan kita dari kezhaliman makhluknya”
Yura mengangguk. Dari ranjang yang terpisah beberapa meter itu, Mereka saling mengapaikan telapak tangan dan menggenggam erat saling menguatkan, membuat segala rasa takut menguap begitu saja.
“Ra, aku mengkhawatirkan mas Haris, tadi sudah hampir dini hari beliau belum juga pulang. Aku takut terjadi apa-apa” ucap Hana tiba-tiba.
“Hana, yang tidak baik-baik saja itu kamu, insya Allah mas Haris berada dalam perlindungan Allah. Aku yakin beliau sekarang tengah mencari cara untuk membebaskan kita”
***
Haris dan Ridwan masih berada di kantor polisi. Mereka enggan untuk pulang mesti dikabarkan bahwa test kesehatan dua gadis yang baru saja mendapatkan pemeriksaan itu akan diketahui besok pagi.
Mereka memilih untuk tetap berada di sana seraya menunggu kehadiran Romi, sahabat mereka yang bekerja di kepolisian dan berprofesi sebagai intel.
“Mengapa bisa begini? Kasus kemarin belum juga kelar kan?” Romi langsung membandrol pertanyaan.
“Ikut ke ruangan gue” Haris dan Ridwan pun mengikuti Langkah Romi.
Mereka memasuki ruangan dengan luas 4x5 meter, Romi mengambil catatan yang telah dibuat menyerupai map dari dalam laci meja kerjanya. Ia membuka dan mulai menjelaskan isi catatan pada Haris dan Ridwan. Mereka saling duduk berhadapan.
“Ini hasil dari penyelidikan gue dan team selama beberapa hari ini. Hana meminum cocktail dengan jenis rum dan wiski namun kadarnya masih sangat kecil, namun karena Hana tidak tidak terbiasa dengan alkohol, kadar kecil pun akan bereaksi sangat signifikan terhadap kondisi tubuhnya apalagi jika disuguhi dalam beberapa kali minum”
“Hasil dari interview dengan beberapa pihak yang berada dilokasi, Hana disuguhkan minuman tersebut oleh seorang pegawai di tempat lu bekerja yang dicurigai bernama Hanum, hal ini juga diperkuat oleh pengakuan lu sebagai suaminya yang membiarkan Hana mengikuti Hanum sebelum kejadian berlangsung” Haris mengepalkan tangannya erat.
“Kemudian Hana dibawa oleh 3 orang preman yang dikepalai oleh Boris, Boris ini sudah banyak terlibat di berbagai kasus. Ia penjahat kelas menengah dan memiliki backingan yang kuat juga hampir selalu saja bisa lolos dari jeratan hukum. Ia sudah sering keluar masuk bui dengan banyak kasus terutama kasus pemerkosaan” Lanjut Romi, Haris dan Ridwan merinding mendengarnya.
“Malam itu Hana dibawa ke hotel…”
“Stop Rom, please stop. Gue ga kuat dengarnya. Sebelumnya guevudah dengar ini sekilas” Haris memejamkan mata.
“Ga, gue harus lanjutin sepahit apapun itu! Lu harus tau detil perkembangan kasus yang lagi gue selidiki agar semua ga jadi sia-sia” Tegas Romi.
__ADS_1
“Malam itu Hana dibawa ke hotel XXX oleh ketiga preman, Menurut polisi yang berada di TKP dalam misi penyelamatan, Hana hampir saja di perkosa oleh Boris yang mana pria brengsek itu telah melucut semua pakaiannya dan yang tersisa hanyalah celana boxer saja. Hana masih pingsan ketika itu. Ia sempat membuka kerudung melorotkan gamis milik Hana sampai ke bawah pinggang, sebelumnya Boris mematikan lampu kamar terlebih dahulu. Beruntung, pemuda yang bernama Gibran cepat bertindak sehingga Hana belum sempat diperkosa, padahal ketika itu Boris sudah hendak menindih tubuh Hana”Bak reporter professional, Romi menceritakan reka ulang kejadian dengan menggunakan tutur lisannya.
Haris terhenyak. Betapa pemuda yang sudah dilayangkan bogem mentah olehnya itu ternyata sangat berjasa atas selamatnya Hana dari peristiwa naas. Ridwan paham apa yang Haris rasakan. Ia menepuk-nepuk Pundak Haris.
Haris sangat terpukul. Rasanya ia ingin lenyap saja dari muka bumi ini.
“Rom, gue harus menghajar orang yang bernama Boris itu, dimana dia sekarang??? Dimana dia??!!” Haris bangkit dari duduk, emosinya kembali tersulut, bak api yang telah tersiram bensin, ia siap menyambar apapun yang ada dihadapannya.
“Ris, Ris, Please. Tenang Ris” Ridwan mencegah Haris yang sudah sangat menyala-nyala. Ia mencengkram kuat tubuh sahabat karibnya itu.
“Ga bisa, Wan. Lu ga tau gimana perasaan gue karena Lu ga berada di posisi gue!!” Hardik Haris.
“Terus lu mau apa?? Lu mau nerobos jeruji besi untuk menghajar preman-preman itu, hah?? Biar hukum yang berlaku yang menghukum mereka, Bro!!! Lu harus waras untuk menyelesaikan kasus ini dan membuat mereka semua membayar mahal karena udah melakukan ini semua.” Mendengar penuturan Ridwan yang suaranya
beberapa oktaf melebihi suaranya itu pun Haris melunak. Ia kembali duduk untuk mendengarkan lanjutan kronologi yang diceritakan Romi.
“Pihak kami sempat menghubungi Gibran tentang proses penyelamatan ini, dan beliau mengatakan bahwa saudari Arini yang memberikan semua petunjuk sehingga memudahkannya melakukan penyelamatan” Lanjut Romi lagi.
“Apaaa??? Arini??? Kali ini tidak hanya Haris yang terkejut, Ridwan pun demikian, mereka merasa heran dengan peristiwa yang masih mengandung misteri ini. Arini dan Haris akhir-akhir lumayan sering bertemu namun
sedikitpun wanita itu tidak pernah menyinggung soal penculikan Hana.
“Sementara, itu dulu yang dapat gue laporkan sepanjang penyelidikan kilat beberapa hari ini. Teknisi professional IT yang terbaik dari kota ini udah gue kerahkan untuk memperbaiki CCTV dan mengembalikan semua rekaman, agar kronologi kasus ini lengkap dengan bukti nyata, solusi lainnya kita akan menghadirkan berbagai saksi untuk lebih menguatkan” Lanjut Romi lagi.
“Selanjutnya saran gue Lu harus menyewa pengacara. Kasus ini benar-benar ga main-main!”
“Mengenai kepemilikan narkotika, gue juga sekalian akan mengusut kasus ini. Lu berdua siapkan aja pengacara karena otomatis dalam waktu dekat sidang akan segera berlangsung. Gue 100 persen percaya kalau Hana dan
Yura dijebak. Gue udah sering ngikutin kasus yang model begini. Kasus kepemilikan narkotika ga main-main bro, bisa bertahun-tahun mendekam dalam penjara. Kita ga akan bisa terlepas dari hukum” Jelas Romi.
***
Waktu dhuha hampir berlalu,Haris dan Ridwan masih saja di kantor polisi. Mereka belum mandi apalagi sarapan. Mereka tenggelam dalam penantian. Ridwan tertidur sambil duduk di sebelah Haris, mereka dari semalam memang sama sekali belum menutup mata, sedang Haris sendiri sama sekali tidak bisa tidur. Ia terus saja berpikir. Hari ini ia pun berencana menemui Arini, wanita itu tengah melakukan perawatan di sebuah salon terkenal ketika sebuah pesan singkat dari Haris melayang ke pesan wattsapp nya,
Rin, kamu dimana? Bisakah kita bertemu? Haris.
***
__ADS_1