Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 98: Raut Wajah yang Berubah


__ADS_3

“Dasar bego! Gue suruh mati aja eh beneran dia bunuh diri” Umpat Lisa setelah membuka pintu kamar Amira.


“Mulut kamu memang parah, Sa!” Amira menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita ini sedang menulis laporan di komputernya.


“Siapa suruh jadi bego! Handle Haris doang ga berhasil-berhasil, lah si Arini malah hamil sama orang lain!” Lisa tersenyum sinis.


“Ha? Arini Hamil??” Tari teman sekampus Arini yang juga berada di kamar yang sama dengan Amira terkejut.


“Jadi Arini hamil anak siapa? Bukannya kamu bilang dia tergila-gila sama Haris? Bisa jadi itu anaknya Haris, kan?” Amira mengkerutkan keningnya. Teman karib Lisa ini tidak mengerti duduk persoalannya. Ia hanya sekali berjumpa Arini di apartemen Romi, wajahnya juga tidak begitu jelas terlihat karena ketika itu Arini menekukkan wajahnya.


“Hahaha mana mungkin” Lisa tertawa mengejek.


 “Haris itu adalah jenis makhluk ortodoks yang berpegang teguh dengan prinsip agama nya. Mana mungkin dia menghamili Arini kecuali dia di jebak! Tapi si bego Arini malah dengan suka rela kasih tubuhnya ke orang lain! Ga abis pikir gue!!” Lanjut Lisa kesal.


“Trus kenapa jadi kamu yang kesel sih? Ya biar lah suka-suka dia” Ucap Amira heran.


“Ya jelas lah gue kesel, sekarang kacung untuk hancurin hidup Hana udah berkurang!” Ucap Lisa tajam.


“Astaghfirullah, Eva Lalilsa! Ngucap dong! Ga baik bicara gitu, lagian kamu kejem banget pengen hancurin hidup orang lain” Omel Amira.


Mantan kakak kelasnya di Sekolah Menengah Atas ini memang selalu memiliki pemikiran yang berlawanan arah dengan nya. Dulu mereka juga kerap menghabiskan wakktu bersama, hingga masing-masing terpisah, Amira memilih masuk ke akademi kepolisian dan Lisa memilih kampus regular sama seperti Hana dan Yura. Namun karena berbagai kepentingan, Kini mereka kembali dekat.


“Dia lebih jahat dari aku tau!” Tukas Lisa. Amira menggelengkan kepalanya.


“Kamu bisa kena batunya kalau terus menerus main api!” Nasehat Amira, ia sudah tidak fokus pada laporannya melainkan datang menghampiri Lisa yang tengah menyeruput minuman yang terletak di atas nakas.


“Udah jangan ribut! Biar aja Lisa teruskan dendamnya, terkadang orang jahat memang harus di beri pelajaran! Aku yang udah tau gimana kisah hidup Lisa, rasanya juga pengen liat Hana hancur!” Tari mendukung Lisa. Amira pasrah melihat kelakuan dua temannya.


“Kamu sendiri gimana, Ra? Udah berhasil dapatin Romi?” Tanya Tari penasaran.


“Kalo aku let it flow aja lah, lagian Romi Sukanya sama Arini” Amira pesimis.


“Apa? Romi suka Arini? Jangan-jangan anak yang di kandung Arini itu anaknya Romi lagi!” Lisa berpikir cepat.


“Sa, sa!” Tari mengerling Lisa untuk menjaga omongannya, Ia melihat raut wajah Amira berubah.


“Lisa, kamu jangan nuduh sembarangan gitu dong! Romi ga  mungkin lakuin itu, dia tidak mungkin begitu!” Sahut Amira yang tidak terima akan perkataan Lisa.


“Ya ya ya. Itu Cuma dugaan, bisa jadi benar bisa jadi tidak! Udah jangan panik!” Ucap Lisa acuh.


“Jadi Arini beneran mati?? Yaaah ga sesuai skenario dong!” Ucap Tari yang beranjak duduk di samping Lisa.


“Aku ga berharap Arini mati. Sumpah! Semoga tu anak ga mati semudah itu! Jangan sampai nasib dia sama mengenaskan nya sama Hanum! Duo sahabat itu sama-sama bego!” Lisa sedikit menyesal sempat menghardik Arini dan menyuruhnya untuk bunuh diri saja.


“Terus sekarang gimana?” Tanya Tari lagi.


“Kalau pemeran utama udah ga bisa di harapkan, sekarang sudah saatnya pemeran dadakan menunjukkan taringnya!” Lisa menatap Tari penuh makna.


***

__ADS_1


Hana kembali mengecek handphone nya, sudah setengah harian ini ia tidak mengerjakan apa-apa kecuali bolak balik membuka password handphonenya. Ia menggerutu kesal kala tidak menemui sepotong pesan pun di sana.


Bukan, ini bukan rindu. Tapi perasaan kesal. Ucap batin Hana memungkiri bahwa ia merindukan Haris. Ya, Hana sangat kesal setelah pesan terakhir yang Haris layangkan dini hari tadi, suaminya itu bahkan tidak mengabarkan


padanya apa beliau sudah tiba di Bandung atau belum.


Sanking kesalnya, Hana sampai menangis. Ingin sekali rasanya ia menghubungi Haris dan meluapkan semua energi negative yang bersarang di tubuhnya. Namun, lagi-lagi ia yakini hatinya untuk tidak akan melakukan itu, Hana seakan-akan ingin mengatakan bahwa pemuda itu harus sedikit lebih berjuang untuk bisa kembali meraih simpatinya.


Namun sayangnya malah ia yang begitu menggilai Haris, malah ia yang kini menunggu-nunggu kabar dari suaminya itu, menghabiskan waktunya berjam-jam hanya demi menunggui sebuah pesan. Sedang sang suami? Entah mengingatnya entah tidak! Benar-benar menyebalkan!


Tidak tidak! Hana hanya sedang mencemaskan kesehatan Haris, hanya sebatas itu saja tidak lebih. Dan ini hal yang wajar. Untuk hal ini Hana mengangguk-angguk setuju. Kalau memang Haris tidak ingin dicemaskan, huh ya sudah! Hana meletak kasar handphone nya di kasur.


Namun sepersekian detik tanpa sadar ia kembali mengambil dan membuka passwordnya. Aaaaaargh menyebalkan! Menyebalkan! Kali ini ia memilih mematikan handphone nya lalu merebahkan diri acak di kasur dan menutup kepalanya dengan bantal.


Sedang di sisi lain, Haris yang sedang mengamati jalan nya proyek merasakan kepalanya berdenyut hebat. Ia memakai seragam mencolok berwarna orange khas lapangan dengan helm kerja berlambangkan safety.


Ia dan Ridwan sama sekali belum mandi, mereka memang terburu-buru harus ke lokasi proyek dari sebelum para pekerja datang. Kini sudah tengah hari, Haris dan Ridwan menepi setelah mendengar laporan dari para asistennya.


“Kita harus balik ke hotel, lu harus istirahat! Wajah lu udah pucat gitu! Kita nginap di hotel malam ini ya!” Ucap Ridwan dengan menepuk-nepuk Pundak Haris. Sahabatnya itu terlihat sedang tidak baik-baik saja.


Haris menggeleng.


“Ga bisa! Gue kangen berat sama Hana, gue harus pulang dan jemput dia!” Ucap Haris dengan memijat tengkuknya.


“Tapi…..”


“Bentar, gue telpon Hana dulu, dari tadi belum sempat kabari dia. Mana tau dia nungguin kabar dari gue walau gue ga yakin” Haris tersenyum masam sambil menjauhi Ridwan. Sakit di kepalanya semakin terasa berat.


Mohon maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat di hubungi, mohon mengecek kembali nomor tujuan Anda.


Kecewa, itulah yang Haris rasakan saat ini, ternyata nomor Hana tidak aktif.


“Wan, gue harus pulang malam ini juga! Nomor Hana ga aktif! Gue beresin dulu sedikit lagi kerjaan ini, trus gue langsung pulang!”


“Tapi lu harus istirahat! Wajah lu pucat banget! Besok lu pulang sama-sama gue setelah urusan gue kelar, biar gue yang nyetir!” Titah Ridwan.


“Ga bisa. Gue bakal kepikiran terus kalau masalah gue belum beres. Hana sama sekali ga balas pesan dari tadi malam. Gue khawatir dia kenapa-napa! Lu pulang naik kereta aja ya!” Ucap Haris menolak titah Ridwan.


“Lu keras kepala banget! Apapun yang gue saranin udah pasti ga bakal lu dengar! Serah lu deh!” Ridwan menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Tok tok tok


“Nak, buka pintunya” Ummi mengetuk pintu kamar Hana.


“Hana….” Panggil Ummi lagi.


Hana bergerak malas dari atas tempat tidurnya dan membuka pintu,

__ADS_1


“Nak, ada haji dan hajjah Zakaria mengunjungi kita di ruang tamu, kamu bersiap-siap temui beliau ya!” Titah Ummi.


“Pak Haji dan bu Hajjah tau Hana di sini, Mi?” Tanya Hana heran.


“Tidak, Cuma Abah keceplosan bilang kamu menginap di sini karena Haris harus ke Jawa Barat” Ucap Ummi.


“Oh baiklah kalau begitu. Sebentar Mi, Hana siap-siap dulu” Ucap Hana, Ummi mengangguk.


Hana memakai gamis dan kerudung panjangnya, tak lupa ia bubuhkan celak di kedua matanya. Hana berharap celak ini dapat sedikit menutupi wajah sembabnya. Setelah di rasa pantas, ia pun ke depan untuk menemui orang


tua dari suaminya yang telah menjadi orang tuanya itu.


“Assalamu’alaikum Ummi, Abah” Sapa Hana, ia langsung melakukan salam takzim.


“Wa’alaikumsalam, masya Allah nak, lama tidak bertemu. Ternyata Allah pertemukan kita di sini. Alhamdulillah rejeki silaturrahim” Ucap Hajjah ‘Aisyah sambil menciumi kening Hana.


“Alhamdulillah, Seharusnya Hana dan Mas Haris yang berkunjung ke sana. Memang sepulang dari Madrid kemarin sudah berencana, ternyata belum rejeki menemui Abah dan Ummi” Ucap Hana sungkan. Mereka kembali duduk mengambil tempat masing-masing.


“Insya Allah nanti kalau nak Haris sudah kembali dari Bandung, Kamu dan Nak Haris jangan lupa main ke tempat Ummi dan Abah, menginap sekalian!” Kali ini Haji Zakaria mengeluarkan suaranya.


“Baik insya Allah, Abah” Jawab Hana tersenyum sopan.


“Ngomong-ngomong, kabar pondok pesantren bagaimana tuan guru?” Haji Amir mulai membuka topik pembicaraan.


“Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Pengajian berjalan seperti biasa dan sebagaimana mestinya” Jawab Haji Zakaria. Haji Amir mengangguk paham.


Haji Zakaria dan Haji Amir saling mengobrol satu sama lain, sedangkan Hana berserta hajjah Aisyah dan Ummi juga membuka grup percakapan berbeda.


“Bagaimana kemarin ke Madridnya, Nak? Seru? Tentu kamu mendapat pengalaman yang menyenangkan selama di sana ya!” Ucap Hajjah Aisyah.


“Alhamdulillah Mi, Hana banyak menemukan jejak sejarah Islam di sana” Sahut Hana sumringah.


“Hana banyak menceritakan pengalaman-pengalamannya selama di Madrid” Ucap Ummi Hana yang terlihat antusias.


“Masya Allah, nikmat dari Allah bisa mentadabburi ciptaan-Nya” Ucap Hajjah ‘Aisyah menanggapi.


“Alhamdulillah, Mi” Sahut Hana lagi.


“Tidak terasa ya, sudah setahun pernikahan mu dan nak Haris” Ucap hajjah Aisyah.


“Iya Mi, waktu berjalan tidak mengenal  kata tunggu”


“Ngomong-ngomong, kamu dan nak Haris tidak menunda nya kan?” Tanya Hajjah Aisyah


“Menunda apa Mi?” Tanya Hana gagal paham.


“Menunda memiliki anak, Abah dan Ummi sangat menanti-nantikan kabar bahagia dari kalian” Ucap Hajjah Aisyah dengan tersenyum. Raut wajah Hana dan Ummi langsung berubah.


***

__ADS_1


Hai Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'


***


__ADS_2