Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 81: Pewaris Tunggal


__ADS_3

Fajar Menyingsing. Pagi yang mendung. Awan kelabu bergulung-gulung di angkasa menemani pagi yang dingin. Cuaca seperti ini menyebabkan orang-orang malas beranjak dari kasur empuk mereka.


Hana masih saja bergelung dibalik selimut, ini adalah tidur ternyamannya setelah sekian lama ia merasakan tidur yang tidak enak. Entah karena kasurnya yang empuk, entah juga karena semalaman ia berada dipelukan Haris. Suaminya itu menunggunya tertidur sambil pelan-pelan mengusap-usap kepalanya dengan lembut.


Kini, Haris sendiri tengah menikmati secangkir Americano, ia menyeruput kopi hitam panas itu perlahan-lahan sambil memandang istrinya yang belum juga terbangun. Sedang untuk Hana sendiri ia sudah membuatkan toast (roti panggang) dan segelas susu putih.


Beberapa menit kemudian ia beranjak dari duduknya, sedikit menyibak tirai jendela. Seketika ia merasa takjub dengan pemandangan di luar sana. Ada danau kecil dengan air yang berwarna kebiruan.


Sekoci-sekoci mini yang bertengger di tepian juga pohon-pohon pinus asri yang memanjang seperti bukit Barisan. Di bawahnya terdapat bunga Kamboja berwarna pink yang didatangi kupu-kupu. Walau hanya buatan, namun benar-benar menawan. Hmh, Pantas saja Hana mengatakan penginapan ini sangatlah special. Bagi pecinta alam seperti Hana, tentu pemandangan sederhana seperti ini mampu membuatnya bahagia.


"Bagaimana? Indah bukan? " Hana menyapa Haris dengan menyunggingkan senyum manisnya. Rambutnya masih sedikit acak-acakan, namun penampilan baru bangun seperti ini terlihat menggemaskan di mata Haris.


"Ughh, So cute.. Give me a morning kiss, pleaseee" Haris menunjukkan bibir, sedikit mengerucut kan nya, terus merentangkan tangan bersiap menyambut Hana.


"Ih... Mas! " Hana mendelikkan mata nya.


"Morning kiss apaan, sikat gigi saja belum, huh" gerutu Hana sambil berlalu ke kamar mandi, namun tanpa terlihat oleh Haris ia tersenyum. Haris menggarukkan kepalanya, ia kembali gagal menciptakan suasana. Hana susah sekali ditaklukkan dengan kata-kata manis. Seperti nya ia memerlukan guru pengarah dalam hal ini.


"Ada berita apa pagi ini? " Tanya Hana yang baru selesai mandi. Ia melihat Haris tengah membaca koran namun malah beranjak dari duduknya, ia menyambut Hana lalu memeluknya.


"Harum sekali, Hm? " Haris membawa hidungnya ke ceruk leher Hana. Gadis itu membiarkan sang suami menghirup feromon nya dalam-dalam. Ia menggelinjang. Geli.


"Mas, pagi ini ada berita apa? " Hana mengulangi lagi pertanyaannya.


"Hmh. Berita tentang demo, BBM naik, juga tentang tertangkapnya Hanum" Jawab Haris. Ia masih saja tidak mau melepaskan Hana malah membawanya ke dekat jendela.


"Cepat sekali berita tertangkap nya mba Hanum masuk ke koran?" Hana mengeryitkan keningnya.


"Oh iya, mengenai rekaman nya mba Arini.."


"Aku lagi tidak ingin membahas mereka, lihatlah keluar sana!" Potong Haris, lalu menunjukkan pemandangan luar dengan telunjuknya.


"Bukankah kamu sangat menyukai nya? Sayangnya cuaca sedang tidak bersahabat, padahal aku ingin kita kesana"


"Memangnya hari ini mas tidak ada kegiatan? " Tanya Hana. Haris menggeleng.


"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Berdua saja" Haris semakin mengeratkan pelukannya.


***


"Kamu benar-benar bukan anak Ummi! meluluhkan hati Haris saja tidak becus! " Ibu Arini murka. Mukanya memerah. Ia melotot kan matanya.


"Arini sudah tidak ada celah lagi di hati mas Haris, Mi" Arini menangis.

__ADS_1


"Usaha mu kurang giat!! Sia-sia saja Ummi melayang 3 pilihan kepada Haris!! Sedikitpun tidak membuatnya goyah, kamu memang payah, sia-sia Ummi menyekolahkan mu tinggi-tinggi!! "bu Indah Berang. Lisa menyaksikan perseteruan anak dan ibu itu dengan menggeleng kan kepala. Ia tersenyum sinis.


" Tapi, kenapa Ummi sangat menginginkan Arini menikah dengan mas Haris, Mi? Arini memang ingin sekali diperistri mas Haris, tapi... "


"Tidak ada tapi-tapi, tidak taukah kamu kalau Haris itu adalah pewaris tunggal keluarga Abdurrahman? " bu Indah mendelik tajam.


"Ma.. maksud Ummi? " Arini gagal mencerna maksud ibunya.


"Iya. Dia adalah cucu dari konglomerat Abdurrahman. Pengusaha kaya raya. Ia akan mewariskan harta kekayaannya pada Haris ketika pemuda itu tepat berusia 28 tahun. Sampai di sini kamu paham?! "


Arini dan Lisa terhenyak mendengarnya.


"Itu tidak benar. Mas Haris berasal dari keluarga sederhana. Arini juga mencintai mas Haris bukan karena embel-embel apapun, Mi! " Sergah Arini. sebab ia tau persis bagaimana keadaan Haris yang di asuh oleh haji Zakaria.


"Kamu memang terlalu polos dan lugu! Haji Zakaria itu adalah kerabat jauh tuan Abdurrahman. Mereka sama-sama orang terpandang, keluarga kaya raya. Ayahnya Haris meninggal di usia nya yang masih sangat muda. Haji Zakaria mengambil alih dan mengelola nya, ia mendidik Haris dengan gaya sederhana sesuai surat wasiat sang kakek... "


"Kamu kira, selama ini Haris hidup enak, sekolah di tempat ternama, berguru dengan berbagai Syaikh, kuliah dengan hebat, memiliki villa, itu semua darimana? Buka pola pikir mu, Nak! Apa kamu rela semua harta kekayaan Haris jatuh ke tangan Hana dan anak cucunya?" bu Indah melunak, ia mendekati Arini dan mengelus pundak nya.


"Arini mencintai mas Haris tulus, Mi! Arini tidak mempedulikan itu semua" Arini sesugukan.


"Terserah, Ummi tidak mau tau. Demi masa depan kamu yang gemilang, kamu harus diperistri oleh Haris! "


Beuuuh, dasar mata duitan. Batin Lisa.


bu Indah merasa, Haris sebagai pewaris tunggal keluarga Abdurrahman sangat pantas bersanding dengan putri semata wayangnya. Harga dirinya juga masih terlalu angkuh untuk menerima bahwa anaknya kalah telak dalam bersaing memperebutkan cinta Haris.


Hana hanya benalu, Arini lah yang seharusya berada pada posisi Hana sekarang. Demikian kesimpulan yang selalu bu Indah dengung-dengungkan ke telinga Arini.


"Apa langkah mu selanjutnya sekarang? " Lisa berkacak pinggang menatap Arini yang masih saja menangis. Wanita ini menggeleng.


"Ayolaah, berhenti menangis! Aku kira ibu mu benar, seorang ibu tentu tau apa yang terbaik bagi putrinya" Nasehat Lisa, ia merangkul pundak Arini. wanita itu mengusap air matanya.


"Benarkah? " Arini sesugukan.


"Tentu saja" Lisa menepuk-nepuk pundak Arini menenangkan.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? " Tanya Arini, bola matanya yang mengecil akibat tangisan menatap Lisa dalam-dalam.


"Aku hanya ingin hidup bebas, bebas dan bebas" Ucap Lisa mantap.


Aku punya rencana ku sendiri. Kamu tidak perlu mengetahui nya. Batin Lisa.


"Apa kamu tidak ingin memperjuangkan kembali cintamu kepada Gibran? " Tanya Arini dengan wajah serius.

__ADS_1


"Aku tidak butuh seorang pecundang, ia gagal mendapatkan Hana, bukan berarti aku harus memungutnya" Sahut Lisa tajam.


***


Haris tengah berkutat dengan macbook, ia tengah membalas beberapa email dari bawahan nya di kantor. Ia juga harus mengecek beberapa proposal. Untuk sejenak ia harus mengabaikan Hana.


Jam di dinding sudah menunjukkan angka 9.40, Hana sendiri tengah merancang persiapan untuk mengungkapkan rasa Terima kasih nya pada Haris. Sejak dinyatakan bebas, ia sama sekali belum menyatakan syukurnya. Hana merasa harus melakukan sesuatu yang special untuk perkara yang sangat berarti.


Hana yang masih berkutat dengan Ipadnya, di kejutkan oleh getaran handphone nya. Ia menerima sebuah pesan,


Pesan pertama:


Hana. Andai kamu tau bagaimana hancurnya aku saat ini, ku mohon aku ingin kita bertemu setelah kemarin gagal. Aku ingin sekali memohon maaf padamu, berlutut pun aku mau. Bahkan menebus dosaku pun aku siap. Bukankah Allah saja Maha Pemaaf? Arini.


Hana mengabaikannya.


Pesan kedua:


Kumohon jangan memberitahu kan pesan ini pada mas Haris. Aku tidak ingin menganggunya, aku tau ia sudah sangat membenci ku tapi Ku harap kamu tidak.


Hana melihatnya datar. Ia masih tidak bisa menerima percakapan Arini dan Haris beberapa hari lalu yang diperdengarkan di pengadilan. Walau Haris menolaknya, bagaimanapun hatinya tetap terasa sakit.


Pesan Ketiga:


Bawalah aku kembali ke jalan Tuhan. Aku sudah sangat menjauh tak tentu arah. Hana, tolong aku. Hanya kamu yang dapat memanusiakan manusia. 😭


"Serius sekali melihat handphone nya, hm? " Haris mengejutkan Hana, ia menyempatkan melirik ringan ke arah istrinya disela-sela kerjaan nya yang menumpuk.


"Ah tidak. Berita hari ini benar-benar mengejutkan" komentar Hana.


"Berita apa? "


"Yaa berita, berita di lingkungan kita" Hana menjawab diplomatis


"Oh, okay. Lanjutkan lah. Sebentar lagi aku selesai. I miss You" Haris memberikan lambang hati melalui jemarinya. Hana tersipu. Padahal istrinya itu tepat berada di hadapan nya.


Pesan keempat. Arini tidak menyerah:


Hana, aku akan memberitahukanmu semua rahasia yang Haris miliki, masa lalu kami berdua. Aku ingin kamu mengetahui semuanya. Ku mohon, mari kita bertemu, aku siap untuk kamu caci maki atau apapun itu. Ku mohon. Arini.


Hana mengeryitkan keningnya. Pesan keempat ini membuatnya goyah.


***

__ADS_1


__ADS_2