Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 152: Gerbang Kematian


__ADS_3

Haris langsung keluar dari kamar setelah melayangkan pesan pada Hana. Ia tidak menunggu sang istri membalas pesan untuk bersedia menunggu kehadirannya di apartemen. Pemuda ini langsung melesat ke parkiran.


Haris hampir saja menyentuh gagang pintu mobil namun getaran pada handphone membuat gerakannya terhenti. Hana membalas pesan setelah beberapa menit.


King, aku sudah tidak di apartemen. Kamu tidak harus kesini! Sampai bertemu nanti. Balasan dari Hana membuat Haris mengernyitkan dahi.


King?


"Hmmpppfffff ppppffff Hahaha" Haris tertawa geli.


Bisa-bisanya Hana membuat kejutan membalas panggilan sayangnya dengan sebutan King. Padahal jika diingat-ingat, selama ini Hana tidak pernah sekalipun membalas panggilan mesranya. Berbeda dari dirinya yang begitu blak-blakan, Hana memang bukanlah tipe orang yang bisa dengan mudah mengakui perasaan. Tapi Haris bisa melihat semua cinta dan ketulusan Hana untuknya dari gerak bahasa tubuh. Dan panggilan King ini, walau terdengar aneh Haris harus tetap menghargainya.


Hujan deras sudah berganti gerimis. Rinai-rinai nya membentuk rembesan titik air yang menyebar di baju. Haris pun mengurungkan niat untuk pulang ke apartemen. Ia memilih menunggu di kamar sembari menanti kabar kepastian dari Romi.


“Assalamu’alaikum Gus….” Sapa seorang wanita. Haris berbalik.


“Wa’alaikusalam…”


“Maaf Gus Haris, saya Nilam santri pondok ini. Ada pesan dari Ummi dan Abah Ning Hana untuk menghubungi beliau. Nomor Gus Haris sudah hilang dari kontak, sedangkan nomor Ning Hana tidak ada yang mengangkat!” Ucap Nilam memberikan senyum manis nya.


“Baik, terima kasih!”


“Hmh tunggu!” Haris yang sudah berbalik kembali memanggil Nilam.


“Ya Gus?”


“Besok-besok kalau ada Amanah, suruh yang laki-laki saja mengabarkannya pada saya!” Pinta Haris tanpa ekspresi. Ia berlalu meninggalkan Nilam yang mematung dengan wajah melongo.


***


“Bagaimana? Apa balasan dari Haris?” Tanya Indah waspada. Wanita ini masih meletakkan mata pisau di wajah halus Hana.


“Haris membalas okay. Ia akan menunggu di kamar” Jawab Inggrid tersenyum memunculkan smirk. Hana memejamkan mata cemas.

__ADS_1


“Haha baguslah… Sepertinya kalau-pun kamu menghabiskan nyawa wanita ini, nasibnya akan sama seperti ketika kamu menghabiskan nyawa Hasbi. Semua juga akan terlihat natural. Posisi kita akan terus aman!” Ucap Indah pada Inggrid. Hana membelalakkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Ternyata meninggalnya Abah Hasbi bukan karena kecelakaan kerja semata, bukan sebuah musibah alami melainkan sudah direncanakan dengan wanita yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Inggrid tak ubahnya seperti Lisa. Bahkan mungkin lebih kejam.


“Kenapa??!! Kenapaa kalian melakukannya??!!” Teriak Hana berang. Mata pisau itu bergeser menyayat kulit pipinya. Hati Hana panas. Dadanya bergemuruh. Rasa sakit karena sayatan pisau tidak lagi terasa karena hatinya sudah jauh lebih sakit dari sekedar sayatan.


Tes Tes Tes


Darah segar menetes dari wajah Hana. Tetesannya mengenai gamis peach membentuk pola.


“Baik… Biar kujelaskan agar kamu paham…” Inggrid berjalan mendekat. Ia mengambil posisi Indah yang sejak semula terus berada di dekat Hana.


“Tahukah kamu kalau Abdurrahman itu adalah orang yang sudah membuat keluargaku bangkrut? Seluruh keluargaku jadi gelandangan karena bisnis nya yang terus melejit. Abdurrahman memiliki banyak bisnis. Ia punya perusahaan di bidang tekstil, transportasi, furniture, telekomunikasi, juga property. Sedang keluarga kami hanya punya satu. Itu juga baru akan maju. Namun dengan tanpa perasaan, Abdurrahman membabatnya habis hingga seluruh costumers berpindah kepadanya!” Terang Inggrid memainkan pisau ditangan. Suara seraknya memenuhi ruangan kedap suara itu.


“Jadi, aku juga dengan senang hati mengirimkan anak turunan nya ke akhirat agar ia tau bagaimana penderitaan itu. Selama aku hidup, aku akan membuat anak keturunannya menderita!” Inggrid berkata bengis. Ia memegang bahu Hana, membuat wanita yang tengah mengandung itu berdiri lalu menghempaskannya kembali ke atas tempat duduk kayu jati.


“Awww Astaghfirullaah….” Hana mengaduh. Tubuhnya kesakitan. Tulangnya serasa remuk. Perut bagian bawahnya nyeri tak terkira. Darah yang berasal dari pipinya masih menetes netes. Hana merasa pusing.


“Ma… Mama Inggrid… A… Aku menganggap mama seperti ibuku sendiri, dan Lisa seperti adikku sendiri” Ucap Hana terbata menahan rasa sakit. Suaranya melemah.


“Ck ck. Kamu terlalu polos Hana! Kamu memang tidak melakukan apapun. Tapi sayangnya kamu adalah istri Haris. Keadaan tidak menguntungkan bagimu. Persis Hasbi yang mencintai Fatma habis-habisan, Haris pun mencintaimu dengan seluruh jiwa raganya. Dan ini kesempatan baik untukku membuat Haris menderita. Anak turun Abdurrahman pasti akan menderita jika kehilanganmu juga calon anaknya! Hahahaha” Inggrid tertawa lepas. Label wanita anggun yang selama ini tersemat padanya luruh seketika.


Ya Allah… Lihatlah… aku di aniaya oleh mereka. Tapi aku akan berjuang demi Amanah yang Kau berikan, yaitu anak-anak yang berada di dalam kandunganku. Aku akan menahan semua rasa sakit ini. Tapi jika memang waktuku untuk menghadap-Mu telah tiba, pinta hamba… Jagalah mas Haris. Kuatkan Ummi juga Abah. Lindungi mereka semua dari nafsu durjana dan kejahatan makhluk. Pinta hati Hana. Airmata nya mengalir.


***


Hujan kembali turun. Rinainya membawa segala rasa. Aromanya menantang sendu. Atas titah dari Raja di Raja, Malaikat Mikail mematuhi apa-pun yang diperintahkan. Termasuk memenuhi bentala dengan dengan air yang diturunkan dari lamgit.


Baru saja Haris menutup pembicaraan bersama Ibu mertuanya melalui saluran telepon genggam. Mereka berbincang singkat.


“Nak sayang, Ummi merindukan Hana. Merindukan kalian. Juga teringat sama cucu-cucu Ummi. Apa kalian semua sehat?” Begitulah kalimat-kalimat yang pertama kali beliau lontarkan. Kalimat berikutnya membahas tentang perasaan beliau yang tiba-tiba di landa gelisah.


Haris menenangkan hati Ibu mertuanya dengan mengatakan bahwa Hana baik-baik saja. Mereka juga baru saja melakukan USG di dokter kandungan. Keterangan yang ada menunjukkan semua dalam keadaan sehat wal ‘afiyat. Pembicaraan mereka di tutup dengan janji Haris yang akan membawa Hana untuk main ke rumah Ummi dan Abah Amir sore ini.


Haris berulang kali menelpon Hana namun handphone-nya tidak bisa di hubungi. Mungkin baterainya habis. Tapi seingat Haris semalam ia sudah mengisi penuh daya handphone milik Hana. Hal yang selalu rutin ia lakukan.

__ADS_1


Haris meletakkan tangan ke dagu. Berpikir. Selain masalah handphone Hana yang tidak bisa dihubungi, Jujur saja pembicaraan bersama ibu mertua sedikit mengganggunya. Haris jadi was-was. Kalaupun ia ke apartemen sekarang, ini akan memakan waktu yang lama. Ia akan menghabiskan 45 menit di perjalanan. Itu juga sudah ngebut habis-habisan. Takutnya mereka malah mereka hanya akan berpas-pasan di jalan. Tapi tidak saling bertemu. Seketika Haris memikirkan cara untuk menghubungi Hana. Ia berpikir keras.


***


Atas titah Inggrid, Hana di seret paksa oleh bodyguard bayaran ke arah balkon luar. Suasana Apartemen di lantai 17 yang seharusnya kondusif menjadi semakin tak terkendali. Hana mencoba meronta dengan segenap kekuatan yang masih ia miliki. Bukannya tidak ada orang yang berlalu Lalang di luar, namun Apartemen kedap suara itu membuat orang-orang menjadi tidak bisa mendengar apapun yang terjadi di dalam.


Pintu balkon dibuka.


Wuuussss


Angin kencang yang berhembus membuat pakaian mereka mengikuti arah gerak angin layaknya bendera yang berkibar. Kondisi Hana acak-acakan. Kerudungnya bergeser miring. Sulur anak rambut keluar menyembul menutupi sebagian matanya.


Hujan yang kembali deras menyebabkan dingin terasa semakin menggigit. Alam hadir dengan segala wibawanya. Sesekali terlihat kilat menyala di langit kelabu. Hana yang sejak awal tidak tahan akan cuaca dingin sontak menggigil. Bibirnya biru lebam. Perih karena sayatan dan tubuh yang terasa meremuk semakin tak terperi.


Di bawah sana jarang sekali terlihat orang berlalu-lalang. Mungkin orang-orang lebih memilih bergelung di balik selimut daripada menantang hujan. Indah dan Inggrid saling tersenyum bahagia melihat Hana yang semakin tersiksa. Impian mereka memang membuat wanita yang ada di hadapannya tak berdaya sebelum mengantarkannya pada gerbang kematian.


“Bersyukurlah… Kami masih berbaik hati tidak menyiksamu habis-habisan! Aku sempat berpikir mau membuat baretan luka ditubuhmu dengan meletakkan besi panas!” Ucap Inggrid mengangkat tangannya. Ia menjepit kuat dagu Hana.


“Tapi... Setelah dipikir-pikir melakukan itu juga hanya akan menambah pekerjaan polisi untuk meng-autopsimu nantinya!” Lanjutnya lagi. Hana di seret menuju ke tepian. Kini wanita itu sudah tidak melawan. Kakinya terkulai tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya.


“Sebagaimana Hasbi mati karena jatuh dari ketinggian, kau juga akan merasakan hal yang sama!” Indah ikut bersuara. Layaknya para psikopat bertopeng, mereka sama sekali tidak ingin memberi celah ampun.


“Setelah menghabisimu.. Berikutnya adalah giliran Haris, Namun perjalanannya mungkin agak lebih lama. Kami harus menguasai seluruh harta Abdurrahman terlebih dahulu. Agar pria tua itu bisa menangis puas di neraka!”


Laa Haula wa Laa Quwwata illaa Billaah


Laa ilaa ha illallah Muhammad Rasulullah


Di tengah ketidakberdayaan dan ancaman kematian di depan matanya, Hana terus saja melafazhkan kalimat tersebut di hati. Berharap jika pun ia mati, Allah berkenan mengambil nyawanya dalam keadaan Husnul Khatimah. Bayang-bayang malaikat Izrail seakan-akan mendekat ke arahnya. Hana berada dalam keadaan benar-benar pasrah. Langit kelabu dengan awan bergulung-gulung tebal itu menggambarkan kondisinya saat ini.


“Kita harus bergerak cepat dan membereskannya sesempurna mungkin agar tidak terendus kepolisian!” Ucap Inggrid.


“Kamu sudah menghapus sidik jari kita semua kan?” Tanya Indah. Inggrid mengangguk.

__ADS_1


***


__ADS_2