
🎶
Ampun ya Rabbana maafkanlah semua
Hapuskanlah hapuskan air mata
Cukupkanlah semua duka yang menari di udara
Hadirkan cahaya terangi sang jiwa
Ampun ya robbana maafkanlah semua
Hapuskanlah hapuskan air mata
Cukupkanlah semua duka yang menari di udara
Hadirkan cahaya terangi sang jiwa
🎶
***
Acara MTQ putaran pertama telah selesai dan berjalan lancar. Setelah shalat zhuhur nanti, akan dilanjutkan ke sesi berikutnya. Hana turun dari atas panggung dewan juri secara perlahan. Haris tidak tinggal diam. Laki-laki ini dengan sigap membantu sang Istri. Ia menggandeng tangan Hana lalu turun bersama-sama.
“Kamu lelah, Hm?” Tanya Haris mengusap kening Hana yang sedikit mengeluarkan keringat. Wanita ini menggeleng cepat. Tapi ia sadar bahwa kondisinya kini tidak lah sama seperti dulu. Ia memang harus beristirahat.
“Terima kasih. Aku ke kamar dulu ya mas, masih jam setengah sebelas. Mau rebahan sebentar”
“Biar aku antar!” Sahut Haris cepat.
“Hihi… Ga usah. Kayak anak kecil aja di antar segala. Dekat kok! ” Hana menunjuk ke arah kamar yang sebenarnya memang lumayan jauh. Ia tersenyum sumringah. Wanita ini merasa sangat bahagia. Memiliki suami perhatian seperti Haris benar-benar sebuah anugrah yang Allah berikan untuknya. Haris mengusap kepala Hana penuh kasih.
“Hati-hati Mi Amor… Aku bereskan pekerjaanku dulu. Nanti aku menyusul…” Hana mengangguk.
Gibran menatap kebersamaan Haris dan Hana dari kejauhan dengan hati yang basah. Sesaat ia tersadar bahwa gadis yang memang pernah ia impikan untuk hidup bersama itu telah bahagia dengan pernikahannya. Sudah lebih dari setahun setengah dan ini kesekian kalinya laki-laki itu masih saja mengalami patah hati.
“Mas…” Tegur Yura menepuk pelan pundak Gibran.
“Yura? Ka... mu ke sini?” Gibran sedikit gelagapan karena ke Gap tengah memperhatikan Hana.
“Iya mas… Aku datang menyemangati Hana. Ini pertama kali nya ia menjadi juri” Sahut Yura. Gibran mengangguk-angguk.
“Oh iya. Kenalkan ini mbak Alisha. Kami baru saja bertemu. Ternyata mbak Alisha ini juga menjadi juri lho mas!” Yura memperkenalkan Alisha yang padahal Gibran sendiri sudah mengetahui siapa gadis yang ada di hadapannya itu. Alisha menunduk. Ia sama sekali tidak berani menatap Gibran.
“Hi Ning Alisha. Hmh… Selamat ya atas kelulusannya di Yaman! Semoga ilmunya barakah dan bermanfaat untuk umat” Ucap Gibran santai.
“Syukran. Jazakallahu khairal jaza’ ” Alisha sedikit mengangkat wajahnya. Lalu kemudian kembali menunduk. Malu. Entah mengapa berada di dekat Gibran seperti ini memacu detakan jantungnya meningkat berkali lipat.
“ ‘Afwan. Kalau begitu, kalian lanjutkan mengobrolnya. Aku mau shalat dhuha dulu. Tadi tidak keburu. Permisi! ” Gibran buru-buru melangkah ke arah masjid. Alisha menatap punggung Gibran tanpa berkedip. Tak bisa dipungkiri, obrolan singkat tak terduga seperti ini bisa membuat hatinya serasa begitu sejuk.
“Mbak…”
“I… iya?” Panggilan Yura menghentikan matanya menatap lebih lama. Gadis ini tersenyum melihat Alisha yang tampak tertarik pada Gibran.
***
Pukul 14.30 WIB. Mobil bu Fatma memasuki gerbang pesantren. Beliau duduk cemas di kursi belakang. Sesuatu yang tidak mengenakkan hati terjadi. Bu Fatma melihat orang-orang masih memadati lapangan terbuka tempat digelarnya perhelatan akbar Musabaqah Tilawatil Quran. Suasana tenang lagi damai yang tampak di sini tidak berhasil menyejukkan hatinya. Resah dan gelisah menghampiri.
Tap tap tap
Bu Fatma berjalan cepat. Beliau memasuki sebuah ruangan. Di dalam sini kosong. Hanya ada Sri yang kemudian mengantarkan minuman. Ruangan ini memang sudah tidak asing lagi. Biasanya digunakan untuk mengadakan pertemuan keluarga.
“Nak Sri, tolong panggilkan Gus Haris. Pesankan pada beliau kalau Ummi Fatma hadir dan menunggu di ruang pertemuan keluarga! ” Titah bu Fatma pelan dan teratur. Sri menangkap raut kecemasan di wajah Ayu beliau. Tapi memilih untuk diam dan berlalu mengikuti perintah.
__ADS_1
Sri mencari keberadaan Haris. Orang yang memiliki kedudukan itu tidak ia temukan dimanapun.
“Dik Nilam…” Panggil Sri yang melihat Nilam dari tadi berlalu lalang. Namun Nilam menoleh nya dengan wajah acuh.
“Apa dik Nilam melihat keberadaan Gus Haris?”
“Gus Haris?! Untuk apa mbak Sri bertanya keberadaan Gus Haris?? Ga pantes!” Nilam berkata tajam.
“Ah dik Nilam. Kalau tidak melihat atau tidak mau memberitau ya sudah. Saya ndak maksa kok” Sri berlalu.
Ih. Dasar! Cuma asisten saja gayanya udah selangit. Astaghfirullah… Benar-benar ga tau diri. Gimana Allah mau angkat derajatnya coba? Ckckckck. Umpat Nilam berdecak. Sebal.
Selepas shalat zhuhur tadi, ternyata Haris kembali ke kamar beristirahat. Ia menemani Hana. Istrinya ini akan kembali menjadi juri setelah shalat ‘ashar nanti.
“Sayang… Kamu mau babymoon kemana? Ke luar atau dalam negeri?” Tanya Haris yang berbaring menghadap Hana. Pandangan mereka saling bertemu.
“Mas cepat sekali mikirin babymoon. Baby twins nya saja masih kecil di kandungan. Hehe” Hana bangkit. Ia duduk berselonjor merapat ke dinding tempat tidur. Lalu mengusap perutnya perlahan.
“Ya ga pa-pa dong! Perencanaan babymoon itu harus matang. Lagian kita udah lama banget ga berduaan!” Ucap Haris mengikuti gaya duduk Hana. Ia merebahkan kepala sang istri untuk bersender di dada bidangnya.
"Hmh... kalau begitu tempat babymoon nya... mas aja yang nentuin… Waktu honeymoon dulu, aku udah tentukan tempatnya”
“Begitu ya… Sebentar aku berikan beberapa penawaran! ” Haris mengambil handphonenya dan memperlihatkan sejumlah destinasi wisata.
“Woaa Masya Allah… ini bagus banget…!” Hana tampak antusias.
“Kali ini kita pilih tempat-tempat romantis ya… Venesia atau Santorini sepertinya cocok! Atau kamu mau melihat musim semi dengan rimbunnya bunga sakura di Jepang?"
"Aku mau mas... Aku mau... " Hana menepuk-nepuk tangannya. Girang. Lalu ia mendekap Haris lebih erat. Seolah pelukan hangat itu mengungkapkan rasa syukurnya. Haris tersenyum dengan inisiatif Hana.
"Hmh... atau... Kamu mau melihat indahnya bunga Meihua di Tiongkok? Oh iya... Festival bunga tulip di Belanda juga ga kalah menarik!” Tawar Haris lagi. Ia semakin melihat binar kebahagiaan dari mata indah sangat istri.
Beberapa hari belakang, laki-laki gagah ini memang banyak mencari tau tentang hormon kehamilan dan lain sebagainya. Ia membaca bahwa wanita hamil itu harus bahagia dan sering-sering diperhatikan.
“Sehabis acara MTQ, kita pulang ke apartement. Terus tiga bulan ke depan ketika kandunganmu sudah lebih kuat, kamu ikut aku ke Amerika. Aku masih memiliki tanggung jawab yang harus aku selesaikan. Baru kemudian kita terbang ke Eropa. Bagaimana? Kamu setuju kan?” Hana tidak tau harus menjawab apa. Ia terlalu bahagia.
Cup~
“Ih Mas...!” Hana menepuk ringan pundak Haris setelah mendapat kecupan singkat dibibirnya. Wanita ini tersipu.
"Mas... "
"Hm? "
"Mas.... " Panggil Hana lagi. Kali ini Haris menoleh. Hana berinisiatif mengulangi apa yang suami nya lakukan. Tapi lebih lama. Lebih dalam. Wanita muda ini memang belum terlalu ahli. Namun ia mencoba mengimbangi. Haris terkejut. Ia sama sekali tidak bisa menolak apa yang Hana lakukan. Padahal waktu begitu mepet.
Tersadar dengan apa yang ia lakukan, Hana menarik diri. Lalu memalingkan wajah. Pipinya bersemu. Rona merah itu membuat jiwa Haris bergejolak. Ia tidak ingin Hana mengakhiri ini semua. Laki-laki ini sudah terlanjur terbuai.
"Mas... Sejam lagi ashar... " Hana memberikan peringatan. Ia menahan tangan Haris yang menuntut lebih.
"Siapa yang memulai? " Haris memicing kan matanya.
"Masih ada waktu. Sebentar saja. Kita lakukan pelan-pelan! " Haris menatap mata Hana mendamba.
"Mas... Aku merasa seperti memeluk bulan. Hidup seperti ini layaknya di negeri dongeng dan kalau boleh egois, Aku tidak ingin kembali ke dunia nyata. Bolehkah kalau aku meminta.... meminta mas untuk selalu seperti ini. Memperlakukanku sehangat ini... walau pun nantinya aku menua, keriput, dan tidak menarik lagi. Atau mungkin sewaktu-waktu mas bisa saja merasa bosan. Akankah waktu bisa merenggang kan perasaan seseorang?" Tanya Hana cemas. Entah mengapa tiba-tiba saja suasana hatinya memburuk. Ya. berubah memburuk secepat itu. Haris merenggangkan pelukan nya. Mendengar perkataan sang istri, semangat nya meredup seketika.
Apakah Hana tidak bisa melihat ketulusannya setelah sekian lama mereka bersama?
"Sayang... Lihat aku... ! Lihatlah lekat-lekat....! Lebih lekat lagi..... ! Jangan pindahkan manik matamu! Apakah.... "
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu. Tidak terasa bar-bar seperti beberapa waktu lalu. Kali ini ketukannya terasa ringan dan lebih bersahabat. Haris meminta Hana membuka pintu.
__ADS_1
"Mba Sri? "
"Maaf Ning Hana. Ummi Fatma tengah menunggu Gus Haris di ruang pertemuan keluarga! "
"Ummi ke sini?! " Hana mengerut kan kening terkejut. Sebab baru saja dua hari lalu mereka bertemu. Sri mengangguk.
"Baik. Terima kasih Sri! "
***
Haris menemui bu Fatma. Ia melihat raut wajah sang ibu yang sulit di tebak. Wajah wajah yang tidak ramah seperti biasa. Setelah memberi salam takzim dan memeluk ibunya, Haris mengambil tempat duduk yang telah tersedia di sana.
"Ananda Haris, bagaimana kabar nak Hana? " Tanya bu Fatma tanpa senyuman. Wajah yang begitu dingin.
"Alhamdulillah Hana baik... Ummi datang mendadak sekali. Kalau memberi kabar, harusnya bisa Haris yang menjemput! "
"Tidak apa-apa nak... Boleh Ummi bertanya? " Haris mengangguk.
"Bagaimana hubungan mu dengan nak Hana? " Tanya bu Fatma. Wajah beliau berubah sendu.
"Alhamdulillah baik Mi. Insya Allah akan selalu baik. Mohon Do'akan rumah tangga kami. Semoga Sakinah Mawaddah wa Rahmah" Sahut Haris sopan. Bu Fatma terdiam.
"Ummi, sebenarnya ada apa? Apa Ummi sedang memikirkan sesuatu? " Haris bangkit menghampiri ibunya. Ia duduk di sebelah beliau.
"Apa kamu benar-benar tidak ingin menikah lagi? " Tanya bu Fatma semakin sendu.Haris Terkejut.
"Maksud Ummi bagaimana? Bukankah semua sudah jelas kalau Haris tidak akan menikah lagi! " Tukas Haris. Ia bingung dengan pertanyaan mendadak tersebut.
"Apa Ummi Aisyah kembali menyuruh Haris untuk menikah lagi Mi? "
"Tidak Nak.... "
"Lalu? "
"Bagaimana jika Ummi mu ini yang menyuruhmu untuk menikah lagi? " Tanya bu Fatma. Beliau bertanya dengan menguatkan hatinya. Kali ini giliran Haris yang terdiam. Ia mematung dan masih mencerna kata-kata yang baru saja ibunya lontarkan.
"Nikahilah Arini nak..... "
"A...ri...ni? Astaghfirullah... Mana mungkin Mi! Ummi sudah tau persis apa jawaban Haris! " Pemuda ini menggeleng tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Nak... Jangan ucapkan apapun. Kabulkanlah permintaan Ummi... " Ucap bu Fatma gemetar.
"Mi...
"Pintalah apa yang Ummi inginkan. Pintalah apapun. Tapi Haris mohon... jangan minta hal ini... Haris sudah bahagia dengan pernikahan perjodohan ini. Tolong jangan menyuruh Haris mengusik Hana. Apalagi Hana sedang mengandung cucu Ummi" Sontak Haris berlutut. Ia beralih memeluk kaki bu Fatma memohon. Wanita paruh baya ini terhenyak sedih. Ia hendak mengelus kepala sang putra penuh kasih. Namun hal tersebut di urungkan nya.
"Bangunlah nak! Seumur hidup, Ummi tidak pernah meminta dan menuntut apa pun dari mu. Tapi kali ini... Ummi mohon dengan sangat... Ummi meminta sesuatu yang bisa dengan mudah untuk kamu kabulkan. Dan Mungkin... ini adalah permintaan pertama dan terakhir Ummi padamu! " Sahut bu Fatma dingin. Haris terduduk.
"Mi... Jangan buat Haris menjadi anak durhaka! " Ucap Haris mengusap airmata nya yang mulai tumpah. Ia masih tidak bisa memahami permintaan konyol sang ibu yang begitu mendadak.
"Bangunlah! Temui istrimu. Kabarkan kalau kamu akan menikah lagi dalam waktu dekat! Apa kamu lebih mementingkan istri daripada ibu mu sendiri? Ibu yang sudah bersusah payah melahirkanmu? Gus Haris! Bagaimana ajaran islam mengajarkanmu?" Bu Fatma menutup matanya. Kemudian Beliau berlalu meninggalkan sang putra yang masih terduduk.
Di dalam mobil, bu Fatma menangis sejadi-jadinya. Beliau menumpahkan asa menyakitkan yang sedari tadi di tahan nya.
Ini demi kebaikanmu dan nak Hana. Ini demi kebaikan kalian. Semoga kelak Engkau bisa memahaminya. Ucap batin Bu Fatma.
"Bu, apa Ibu baik-baik saja? " Tanya khadim yang membawa mobil berhati-hati.
"Saya baik-baik saja pak! " Sahut bu Fatma mengusap airmata yang sudah terlanjur berhamburan.
***
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
__ADS_1
IG @alana.alisha
***