
Haris memasuki ruangan dengan tergesa. Di sana sudah ada superintendent, supervisor dan asisten yang menunggu nya. Sebagai manager Keuangan, ia seharusnya memastikan supervisor dan dan superintendent bertanggung jawab penuh mengontrol rutin anggaran masuk dan keluar.
"Mengapa bisa kecolongan begini, sih?! Bagaimana kerja kalian semua?!" Semprot Haris begitu memasuki ruangan dan melihat para bawahannya menekukkan wajah.
"Maaf Pak, Kami tidak menyangka ada yang menyelewengkan aliran dana seperti ini"
"Hhhhhh" Haris membuang kasar nafasnya ke udara. Marah pun percuma, semua tidak akan membalikkan keadaan.
Terlihat Mala, sekretarisnya memasuki ruangan setelah sebelumnya mengetuk pintu.
"Permisi pak! agenda meninjau proyek lembah timah yang seharusnya bulan depan di percepat jadi malam ini, sebab pagi-pagi besok bapak harus melihat pengerjaan proyek yang dana nya itu sudah beralih 35 persen. Ini semua dikhawatirkan akan merugikan semua pihak"
"Dan ini dia berkas-berkas yang terkait" Mala menyerahkan berkas yang berada di tangannya lalu diletakkan di atas meja yang ada di hadapan Haris.
Haris duduk. Ia menenggak air putih yang terhidang di sana lalu membaca kilat berkas sambil memijat pelipisnya dan mengetuk-ngetukkan jari di meja sambil berpikir cepat.
"Mala, Siapa saja yang akan ikut sore ini?"
"5 orang penanggung jawab proyek dan juga saya" Ucap Mala cepat.
"Baiklah, siapkan ulang semua berkas-berkasnya. Kita akan berangkat nanti malam"
"Baik pak" mala mengangguk.
"Tolong kamu hubungi pak Wijaya dan katakan usai maghrib nanti untuk menghadap saya"
"Hmh, satu lagi, tambahkan 2 pengacara untuk menindak lanjuti kasus ini! Sekarang saya pulang dulu untuk berkemas"
"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi" Ucap Mala yang kemudian mengambil langkah keluar ruangan.
"Untuk Kalian semua, persiapkan diri untuk pemeriksaan" Tegas Haris pada bawahannya.
Setelah semua orang keluar dari ruang kerjanya, Haris kembali mengecek handphone. Hana tak kunjung membalas pesan darinya. Hal ini membuat Haris merasa cemas.
Kalaupun tadi Hana tertidur, seharusnya kini Hana sudah bangun untuk melaksanakan shalat dan mengecek HP. Apa mungkin pulsanya habis? Hmh tidak mungkin, di rumah ada Wifi yang aktif 24 jam.
Haris mengambil jasnya dan beranjak pulang. Kepalanya kini terisi dengan Hana Hana dan Hana. pp
Sebelum meninggalkan gedung kantor, Haris menyempatkan diri menemui mala di meja kerjanya.
"Hmh, Mala! " Panggil Haris.
"Ya pak, ada yang bisa saya bantu? "
"Hmh, Kira-kira apa yang di sukai oleh seorang wanita? " Tanya Haris kepada Mala yang diketahui sudah memiliki suami itu.
Mala berpikir sejenak.
"Saya ingin menghadiahkan sesuatu untuk istri saya" lanjut Haris lagi.
__ADS_1
"Oh , kalau itu... biasa wanita suka dengan makan malam romantis ala candle light dinner, bunga, barang atau perhiasan pak! Intinya wanita suka halal yang berbau romantis" Sahut Mala, ia mempresentasikan dirinya sendiri.
"Hmh begitu ternyata, baiklah. Terima kasih untuk masukkannya" Haris berlalu.
Mala tersenyum melihat kecanggungan Haris. Bos nya itu terlihat begitu mencintai istrinya namun seperti kesulitan untuk mengapresiasikannya.
***
"Bagaimana kabar temanmu yang lagi sedih itu? " tanya Amira rekan kerja Romi. Mereka kembali makan siang bersama.
Romi mengangkat bahunya. Ia tidak tau bagaimana kabar Arini sekarang, wanita itu semakin menjauhinya.
"Kamu mencintainya kan? " Tanya Amira menatap Romi serius.
"Cinta ku bertepuk sebelah tangan" Romi tersenyum masam.
"Benarkah? Mengapa kamu jadi pesimis begini? Aku tau kamu adalah pejuang" Ucap Amira sambil memasukkan helaian rambut pendek nya ke belakang telinga.
"Sudah bertahun-tahun aku mengejar nya. Mungkin sudah saatnya untuk aku mengundurkan diri" Lirih Romi.
"Apa kamu tidak berniat membuka hatimu untuk wanita lain? " Tanya Amira berhati-hati.
"Untuk saat ini Aku belum memikirkannya, namun hidup harus terus berjalan. Cepat atau lambat aku harus menikah dan bahagia, ibu terus saja bertanya kapan aku menikah, pertanyaan itu rasanya membuat kepalaku akan pecah" Keluh Romi.
"Semoga kamu mendapat kan seseorang seperti wanita itu"
"Kamu laki-laki yang baik. Kamu berhak bahagia"
"Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan" Ucap Romi.
"Aku yakin kamu pria yang baik, andai kesempatan untuk bisa dekat dengan mu itu datang padaku" Amira menatap Romi penuh makna.
***
Haris tersenyum sumringah ketika memasuki rumah kala mengingat akan memberikan kejutan fantastis untuk sang istri. Ia sudah menyuruh asisten pribadi nya untuk menyiapkan semua sesuai dengan keinginan nya.
Haris berharap, sepulang dari meninjau proyek dan semua masalah usai, ia dan istrinya bisa semakin bahagia menjalani pernikahan, apalagi kurang dari sebulan lagi adalah hari anniversary pernikahan mereka yang pertama.
Namun ia terhenyak kala mendapati rumah dalam keadaan kosong. Hana tidak berada di sana. Haris panik. Ia mengecek handphone nya dan melakukan pangggilan. Handphone Hana sekarang malah tidak aktif.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore, mirisnya Malam ini ia harus berangkat ke Jawa Barat. Haris benar-benar merasa penat.
Tak lupa Ia masuk ke dalam kamar Hana berharap rumah kosongnya hanya ilusi semata dan istrinya berada di sana. namun betapa terkejut nya ketika ia mendapati peralatan Hana yang sudah tiada dan lemarinya terbuka begitu saja dalam keadaan kosong. Hingga Ekor matanya mendapati sebuah surat, perlahan Haris membukanya dengan tangan bergetar,
Assalamu'alaikum mas, maaf Aku pergi tidak meminta ijin darimu terlebih dahulu (untuk hal ini ku mohon ridhoi Aku). Aku pulang ke rumah Abah dan Ummi, Aku tidak sanggup jika harus menunggu mu sendirian di rumah sebab dada ku terus saja terasa sesak.
.....
....
__ADS_1
....
Ceraikan lah aku.
Hanya satu paragraf saja dari surat panjang itu berserta kalimat terakhir yang Haris baca, ia memilih untuk tidak melanjutkannya. begini saja rasanya sudah mampu membuat vena nya berhenti mensuplay darah ke jantung.
Ini semua begitu mendadak, sangat tiba-tiba. Haris tidak menunggu lebih lama, ia memutuskan melajukan mobil ke rumah Mertuanya. Waktunya tidak banyak, ia harus membawa Hana nya kembali ke pelukan sebelum malam tiba.
***
"Hana ingin berpisah dari mas Haris bah" Aku Hana jujur dengan terisak, hatinya sudah terlalu sesak oleh rasa penghianatan. Ia tidak ingin merasakan sakit lebih lama lagi.
"Astaghfirullah, istighfar nak! Kamu tau konsekuensi dari kalimatmu itu?! " Kali ini abah dan ummi begitu terkejut dengan kalimat yang meluncur sempurna dari mulut putri kesayangan mereka.
"Hana sudah memutuskan nya, ada banyak hal yang tidak bisa Hana ceritakan pada Ummi dan Abah karena itu semua menyangkut aib dari rumah tangga Hana dan mas Haris" Ucap Hana, raut wajahnya sembabnya menyiratkan keseriusan di sana.
"Di mana nak Haris sekarang, Nak? Apa suamimu itu sudah memberikan talaknya? " Tanya haji Amir menatap Hana.
"Mas Haris,... " Hana tidak melanjutkan kalimat nya. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa sekarang Haris sedang bersama kekasih nya.
"Kamu tau kan, Haram hukumnya keluar rumah tanpa adanya izin dari suami! " Lanjut haji Amir.
"Hana sudah mengirim surat bah, Hana tidak sanggup kalau harus menunggu lebih lama lagi. Maafkan Hana, Hana tidak sanggup. hiks hiks" Hana terisak. Ia tampak sangat tertekan. Melihat Hana terisak, ummi juga ikut menangis. Ibu mana yang akan sanggup melihat putrinya menderita.
Abah memejamkan matanya. Seolah meresapi kalimat kalimat yang baru saja Hana lontarkan, sebelum akhirnya berbicara,
"Setidaknya kamu menunggu suamimu pulang nak, pernikahan itu bukan sebuah permainan" Abah mencoba untuk menasehati Hana, abah hanya tidak ingin putrinya bertindak gegabah.
"Kamu dan Nak Haris harus membicarakan hal ini terlebih dahulu sebelum kamu mengambil keputusan" Lanjut Abah lagi.
"Cukup bah, jangan salahkan Hana! Jangan pojokkan putri kita. Hana tidak salah! Kita yang salah karena kita yang menikahkan nya. Ummi mengira Abah menyerahkan Hana pada pria yang tepat, ternyata sama sekali tidak! Lihatlah betapa menderita nya putri kita!! " Ummi murka, Abah dan Hana terperanjat. Selama ini mereka belum pernah melihat Ummi meninggikan suaranya apalagi di hadapan Abah.
Abah benar-benar tertohok oleh kata-kata istrinya. Benarlah bahwa ia telah menikah kan putri semata wayangnya pada pria yang salah.
Tok tok tok
Lastri, Asisten rumah tangga di kediaman Abah dan Ummi meminta izin untuk masuk.
"Maaf Pak, Bu... di luar ada den Haris ingin menemui nona Hana"
"Suruh nak Haris masuk dan menunggu di ruang tamu" Titah Abah
"Baik Pak Haji" Ucap Lastri sambil berlalu.
"Nak, kamu masuklah ke dalam kamarmu! " Titah Abah selanjutnya.
Haji Amir sendiri yang ingin menemui sang menantu di ruang tamu nya.
***
__ADS_1