
Rapat intern keluarga inti di ruang kerja haji Zakaria berlangsung memanas. Sedari awal, Haris yang jiwanya entah berada dimana tiba-tiba kembali hadir dengan kalimat-kalimat menohok. Ruh itu kembali hidup. Hidup untuk menyatakan rasa kecewa yang mendalam.
Hajjah Aisyah menjadi sentra utama dari pada bahasan hari ini tidak bisa berkutik. Bagai dikuliti, beliau terperangkap dalam tatapan tajam penuh angkara murka. Kata demi kata yang Haris lontarkan tak ubah nya seperti genderang yang ditabuh lalu berhasil membuat seisi ruangan ingin menyatakan perang.
Cinta seperti apa yang Ummi agungkan? Demikianlah satu kalimat singkat penuh tanda tanya yang dilontarkan oleh Haris mampu membungkam keangkuhan-nya. Karena sedari awal yang Hajjah Aisyah koarkan tidak lain dan tidak bukan hanyalah perasaan cinta mendalam pada Abah Zakaria tapi dengan eloknya beliau menafikan rasa kemanusiaan.
Berulang kali Haris mengusap mata basahnya. Betapa air mata bukanlah suatu tanda kelemahan melainkan ia hadir dari kepekaan dan halusnya simpangan rasa. Hajjah Aisyah gemetaran. Mencoba untuk pingsan pun sudah tidak mungkin. Beliau tehimpit dalam dilemma menanti-nanti bagaimana kelanjutan kisahnya di episode kali ini. Berharap sang suami sudi memaklumi apa yang telah ia lakukan di masa muda dulu.
“Semoga Ummi bisa merenungi dengan baik dan bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Taubatan Nashuuha. Bersyukur Ananda Haris tidak memperkarakan hal ini! Dengan kebaikan akhlaknya, ia masih saja menghormati dan menghargai Ummi walau tadi itu yang Ananda Haris bicarakan hanya tentang rasa sakit. Ini lah definisi dari patah hati yang sebenarnya. Patah hati seorang anak terhadap ibunya. Abah jadi ragu apa Ummi benar-benar memiliki rasa keibuan itu atau memang sejak dahulu sudah mati rasa?!”
Jleebbb.
Haji Zakaria terpaksa mengangkat kepala. Sebab di sepanjang Haris mengeluarkan hujjahnya, Ulama kharismatik ini sudah terlalu malu walau sekedar memandang ringan. Beliau terus saja menunduk.
"U... Ummi... Ummi minta maaf" Lirih hajjah Aisyah. Untuk sementara, hanya ini yang dapat beliau sampaikan.
Iqlima! Aku akan menyuruh Yahya untuk menceraikanmu! Lihat saja! Semoga dengan begitu kamu akan sadar dimana kedudukanmu berada! Bisa-bisanya kau mempermalukan aku di hadapan keluarga ku sendiri! Hajjah Aisyah menggeram. Beliau menyempatkan diri melirik ke Iqlima yang berada di samping Yahya.
"Hanya itu saja? " Tanya Haji Zakaria. Beliau meletakkan kacamata nya.
"U... mmi khilaf... Ummi egois... Ummi tidak bijak dalam bertindak... Tapi... Hmh tapi sebenarnya Ummi... U.. mmi tidaklah seburuk seperti apa yang telah Abah dan Nak Haris pikirkan!" Lirih wanita paruh baya ini masih tidak bisa menerima kenyataan.
Haji Zakaria memijat pelipisnya.
“Hhhh.... Baiklah... Rapat mengenai rekaman kita padai dulu sampai di sini. Kita akan mengadakan rapat lanjutan bersama sanak kerabat dekat lainnya sekaligus membahas peninggalan yang almarhumah Fatma tinggalkan” Ucap Haji Zakaria. Beliau bangkit dari duduknya.
Dddrrrtttt Drrrtttt
Sebuah pesan masuk ke no wattsapp milik Haris. Ia mengusap wajah sembabnya dengan tissue sebelum akhirnya membuka ponsel.
Haris, aku dan istriku akan bertakziah ke Bustanul Jannah sore ini. Romi.
Haris mengerutkan kening. Istri?
“Bismillahirrahmanirrahim... Dengan berakhirnya rapat ini saya memutuskan… bahwa saya: Zakaria bin Yusuf menyatakan akan mengundurkan diri sebagai pimpinan dari pondok pesantren Bustanul Jannah…”
Praaank
__ADS_1
Haris terkejut hingga menjatuhkan handphone yang ada di genggaman-nya.
“Bah!!” Yahya berdiri. Ia merasa tak terima. Hajjah Aisyah dan Iqlima mendongak. Keputusan spontan dari tokoh panutan itu terasa begitu mengejutkan.
Haji Zakaria mengangkat tangan beliau mempersilahkan Yahya untuk tetap tenang dan kembali duduk.
“Abah tetap akan ikut mengasuh dan membantu sebisanya. Tapi untuk saat ini dan sampai waktu yang tidak ditentukan, abah memutuskan untuk Hiatus” Ucap Haji Zakaria menatap lurus ke depan.
“Tapi bah, atas dasar apa keputusan mendadak ini abah lontarkan? Bagaimana nasib pesantren Bustanul Jannah ke depannya? Bah, Yahya mohon untuk memikirkannya kembali!” Yahya benar-benar tidak membiarkan abahnya membuat keputusan sepihak.
“Ananda… ini memang keputusan yang mendadak. Abah menimbangnya dengan waktu singkat. Namun ada alasan kuat yang melatar-belakangi keputusan ini. Insya Allah ini adalah keputusan matang yang berdasar. Justru bagaimana nasib pondok pesantren ini kedepannya jika abah yang terus memimpinnya!”
“Abah, jika mundurnya abah disebabkan oleh kasus ini. Wallahi. Demi Allah Haris tidak memperkarakan Ummi. Haris memaafkan. Abah jangan merasa bersalah. Tolong tarik kembali keputusan Abah. Demi kebaikan bersama, demi kebaikan Umat!” Haris tak kalah bersuara.
“Hhhhh” Haji Zakaria menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
“Ananda, mundurnya abah memang ada andil asbab dari kasus ini. Tapi itu hanya bagian kecil saja. Ada hal yang lebih besar dari itu. Makna dan pengaplikasiannya”
“Bagaimana mungkin abah mampu memimpin ribuan santri jika istri sendiri saja tidak mampu abah pimpin? Istri abah itu cuma satu. Walau hanya satu tapi abah telah gagal. Bagaimana mungkin abah masih berani memimpin? Sejatinya, abah lah yang bersalah. Abah tidak bisa mendidik istri dengan baik. Abah malu, Nak! Abah malu pada Allah. Abah malu pada kalian semua!” Ucap haji Zakaria. Beliau menutup kedua kelopak mata yang berkaca-kaca. Sakit karena merasa gagal begitu terasa menghujam.
Hajjah Aisyah terhenyak.
“Allah SWT memerintahkan untuk menjaga keluarga. Abah merasa semua telah baik-baik saja. Abah memiliki istri cantik yang shaliha, tidak sekedar pintar, tapi juga berwawasan. Seorang istri dan ibu yang baik. Tapi ternyata abah lalai. Abah berada di atas angin lalu lupa bahwa tidak semua angin yang datang itu berjenis sepoi-sepoi lagi menyejukkan"
"Abah sibuk mengisi pengajian ke sana sini. Membimbing ribuan orang. Tapi apa? Hhhh sudahlah. Insya Allah ini keputusan yang baik!”
“Abah percayakan semua padamu nak Yahya! Abah tau kamu mampu. Apalagi jika di dampingi istri shaliha seperti nak Iqlima. Kalian bisa melabuhkan kapal ini hingga ke tempat tujuan. Amanah ini akan abah serahkan pada rapat lanjutan nanti. Sambil-sambil abah mengintrospeksi diri”
“Rapat abah tutup. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Permisi!” Haji Zakaria mengambil kacamata yang terletak di atas meja lalu melangkah keluar ruangan dengan tergesa. Ulama berhati lembut itu meninggalkan wajah-wajah tercengang tidak percaya akan keputusan mendadak beliau.
“Bah…. Tunggu bah… Tunggu!” Hajjah Aisyah ingin menyusul sang suami. Namun tangan beliau di tahan oleh Yahya.
“Biarkan abah sendiri dulu, Mi”
“Hemm.. Mas Yahya, Mbak Iqlima… Saya juga permisi dulu!” Haris mengikuti jejak haji Zakaria keluar ruangan namun tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada hajjah Aisyah.
“Nak, bagaimana ini?” Bu Hajjah kembali gemetaran. Beliau menggigit bibir bawahnya cemas.
__ADS_1
“Ya Rabb… Ummi ummi…. Bisa-bisanya Ummi begini!” Yahya menggelengkan kepalanya.
“Apa setelah ini Abah akan menceraikan Ummi nak?” Hajjah Aisyah beralih menggigiti jari jarinya. Tidak ada yang lebih beliau pikirkan untuk sekarang kecuali apa yang akan suaminya putuskan setelah ini.
“Hhhh Ummi! Astaghfirullah! Pikirkan dulu dosa-dosa Ummi! Kenapa malah jadi egois begini?!” Yahya membuka kopiah yang dilapisi oleh sorban putih lalu mengacak kasar rambutnya. Frustasi.
“Yahya! Dimana sopan santunmu?!” Hajjah Aisyah tersinggung.
Yahya membawa sang Ibu ke dalam pelukannya. Pemuda ini jadi serba salah.
“Lepaskan Yahya! Ini semua karena istrimu itu!”
“Apa maksud Ummi?”
“Sudah lama Ummi menahan ini semua. Saat nya Ummi bertindak!”
Hajjah Aisyah mendekati Iqlima yang masih mematung. Beliau hendak melayangkan sebuah tamparan. Sedikit lagi, tangan tersebut berhasil menyentuh pipi Iqlima. Namun Gerakan itu berhasil di cegah oleh Yahya. Laki-laki ini mengambil tubuh sang istri membawanya ke dalam pelukan. Hingga tangan yang seharusnya mengenai pipi Iqlima itu beralih mengenai lengan Yahya. Cukup keras.
“Ummi?!! Apa yang Ummi lakukan?!" Yahya melepaskan pelukannya. Ia beralih menatap hajjah tajam.
Hajjah Aisyah menatap Iqlima lekat-lekat dengan tatapan penuh murka. Sakit hatinya menjadi-jadi. Tapi beliau memilih untuk keluar. Pikirannya terganggu akan urusan dengan sang suami yang belum selesai. Yahya dan Iqlima hanya bisa menatap kepergian Hajjah Aisyah dengan pandangan nanar.
"Hemm... " Yahya berdehem mencoba mencairkan suasana.
"Maafkan Ummi... "Lirihnya. Iqlima mengangguk.
"Aku permisi" Yahya mengambil langkah. Iqlima menatap hangat punggung laki-laki yang baru saja memeluk nya. Mata wanita ini berkaca-kaca. Kelopak tersebut mengembun. Manik coklat itu basah.
Ini adalah pelukan pertama setelah sekian lama sudah tidak pernah ia rasakan.
***
Finally update juga, walau ketikannya sempat hilang. Maaf belum sempat di edit maksimal~ Semoga bahasa nya tetap dibaca ❤
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
IG @alana.alisha
__ADS_1
***