
Tahukah kamu?
Ini menyakitkan!
Sikapmu menyakitkan!
Dan Perbuatanmu jauh melampaui itu!
***
“Hana, apa perlu kami yang menghubungi Haris?” Tanya Romi tiba-tiba. Mereka tengah dalam perjalanan mengantarkan Hana pulang.
Hana terdiam, ia tidak bisa menjawab. Tenggorokan nya tercekat. Ia takut jika menjawab airmata nya akan kembali tumpah ruah.
“Hana…” Romi kembali memanggil Hana yang mengabaikan pertanyaannya.
“I.. iya. Ti.. dak usah mas!” Suara Hana terdengar parau.
“Hana, kamu menangis?” Terkejut, Romi menoleh ke belakang. Buru-buru Hana menyeka air matanya.
“Tidak kok. Aku tidak menangis” Jawab Hana cepat.
Ayo Hana. Jangan menangis. Kamu kuat. Hana mensugesti dirinya. Susah payah ia bertahan, sayangnya gagal, air mata yang tidak di undang itu benar-benar mengalir tanpa dipinta. Untuk hal ini, Hana benar-benar harus merutuki dirinya sendiri.
Ridwan dan Romi saling bertatapan, Mereka sepakat untuk diam dan tidak bertanya lebih lanjut. Situasi nya juga tidak tepat, mereka ingin membiarkan Hana merasa nyaman terlebih dahulu.
15 menit kemudian mereka tiba di tempat tujuan. Hana turun perlahan setelah Ridwan membuka kunci otomatis pintu mobil dan disaat bersamaan Hana menyeka airmatanya untuk memastikan semua aman,
“Mas, terima kasih ya!” Ucap Hana sungkan tanpa melihat ke wajah Ridwan dan Romi, ia terlalu malu menunjukkan wajah sembabnya. Ridwan berinisiatif turun dari mobil dan menghampiri Hana yang masih menunduk,
“Hana, kamu benaran ga kenapa-napa?” Tanya Ridwan cemas.
“Aku ga kenapa napa mas” Elak Hana, sekilas ia menatap Ridwan dan tersenyum untuk meyakinkan.
“Baiklah, aku permisi dulu. Kalau kamu memerlukan bantuan, jangan sungkan hubungi aku atau Yura!” Tawar Ridwan.
Hana mengangguk.
“Laa Tahzan, Allahu Ma’ana. Jangan bersedih, Allah bersama kita. Assalamu’alaikum!” Ucap Ridwan penuh makna menutup pembicaraan mereka. Hana terhenyak.
“Waalaikumsalam”
Ridwan dan Romi berlalu meninggalkan Hana sendirian yang masih terpaku di tempatnya, dalam hati ia sangat bersyukur Yura akan di persunting oleh laki-laki seperti Ridwan. Ia melihat Ridwan sebagai sosok yang tepat. Ridwan sangat bertanggung jawab dan berhati lembut. Untuk hal ini Hana merasa lega.
Hana menapak malas memasuki rumah, begitu banyak kenangannya bersama Haris di sana. Ia tersenyum masam kala mengingat bahwa akhir-akhir ini ia mulai mengatur mimpi untuk bisa hidup normal dan bahagia bersama Haris layaknya pasangan lain. Namun sayangnya hal tersebut merupakan angan-angannya semata. Ya, hanya ia seorang yang menginginkannya. Sedangkan Haris tidak.
Hana berwudhu lalu mengganti pakaiannya. Sejenak Ia menatap koper mini yang bertengger rapi di atas lemari lalu mengambilnya. Ia kembali tersenyum masam.
Bergegas ia memasukkan baju-bajunya ke dalam sana. Air matanya kembali mengalir, Ia sudah tidak bisa menahan dirinya. Ia terduduk bersender di lemari dan menangis sejadi-jadinya menumpahkan semua rasa sesak yang mengalir di dada.
Ternyata sel tahanan tidak lebih menyakitkan dibanding pengkhianatan. Ia sudah membuka hatinya, menyalurkan segenap cinta yang ia miliki, ternyata hal tersebut tidak cukup berarti bagi Haris. Dan mirisnya sang suami sama sekali tidak merasa bersalah!
Ia kembali mengingat-ngingat bagaimana perlakuan Haris selama mereka menikah. Jika sudah menyangkut tentang Arini, Suaminya pasti lebih memilih wanita itu dan mengabaikan dirinya.
__ADS_1
Mungkin semua hal itu bisa ia maafkan
walau seumur hidup ia harus menahan rasa sakit. Tapi, untuk perselingkuhan? Maaf saja, Hana sama sekali tidak bisa mentolerir hal ini.
***
Arini Hamil? Memikirkan kabar ini kepala Haris terasa berkedut-kedut. Ia memijat pelipisnya, Pemuda ini tengah mendonorkan darah setelah melalui berbagai pemeriksaan dan dinyatakan aman untuk menjadi pendonor.
Ia dan Arini berbaring bersebelah-sebelahan namun pada ranjang berbeda dan hanya di tutupi oleh selembar kain penutup. Wanita yang mengalami defesiensi zat besi itu belum juga siuman.
Tiba-tiba Haris teringat Hana. Ia merogoh saku celana, sebelah tangannya mengambil gawai dan mulai melakukan panggilan. Namun teleponnya tiada yang mengangkat. Ia kembali menelepon lagi, nihil.
Kemana Hana? Apa ia masih marah karena insiden pelukan? Atau Hana salah paham akibat mendengar kabar kehamilan Arini? Hhhhh Haris teringat tatapan tajam Hana tadi sebelum ia masuk ke ruang pemeriksaan. Tatapan yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya selama mereka menikah. Tatapan itu begitu dingin, menusuk dan terasa membunuh. Haris bergidik.
Arini Hamil? Bersama siapa? Haris berpikir keras. Pikirannya terbagi. Ia benar-benar tidak bisa percaya. Sepengetahuannya, Arini tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun kecuali dengannya. Sedang ia sendiri tidak pernah menyentuh gadis itu.
Apa mungkin Hana salah paham? Haris menggelang-gelengkan kepalanya. Ini jelas sangat konyol. Pikirnya. Jelas Mana mungkin ia pelakunya.
Hana, kamu masih di rumah sakit atau sudah pulang? Ketik Haris pada pesan yang ia layangkan pada Hana melalui wattsapp. Beberapa waktu Haris menunggu balasan dari istrinya, namun pesan itu tak kunjung terbalas
padahal pesannya masuk.
Hana, kamu sudah tidur ya? Ah. I do miss You! Baru sebentar berjauhan dari mu namun aku sudah begitu ingin bertemu ❤. Haris kembali melayangkan pesan. Tak lupa emoticon berlambang hati ia sematkan di sana. Walau terkesan seperti gombalan, namun ia mengetiknya dengan jujur. Ia sendiri tidak pintar dalam merayu dan merangkai kata.
Haris melupakan sejenak tentang kehamilan Arini, ia fokus memikirkan Hana. Ia mengingat masa-masa indah mereka di Madrid, bagaimana manisnya Hana ketika wanitanya itu bercerita menggebu-gebu tentang pengetahuan sejarah ketika mereka melihat bangunan klasik.
Betapa menggemaskannya Hana ketika ia makan es krim belepotan dan mempoutkan bibirnya ketika marah. Bagaimana Hana membuatnya merasa menjadi suami seutuhnya untuk pertama kalinya.
Hana bukanlah gadis liar, bahkan ia merupakan seseorang dengan perangai yang begitu pemalu namun disaat yang berbeda, wanita itu sangat pintar membuatnya mabuk kepayang. Pengalaman dan Kenangan indah membuat Haris semakin merindu.
“Kapan nona Arini akan siuman sus?”
“Seharusnya sebentar lagi Pak, ditunggu saja!”
“Baik, terima kasih”
“Saya paham perasaan seorang suami yang takut kehilangan istri dan calon anaknya. Semoga bapak bisa bersabar atas musibah ini”
Haris hanya diam mendengar perkataan perawat yang berusaha menghibur, ia tidak ingin memperpanjang pertanyaan dengan mengatakan bahwa sebenarnya ia dan Arini bukanlah suami istri.
***
“Mas, terima kasih sudah mendonorkan banyak darah untukku, terima kasih untuk kepedulianmu” Ucap Arini dengan berkaca-kaca. Haris menemuinya sebelum pamit untuk pulang.
“Tolong kamu jangan salah paham ya Rin. Aku mendonorkannya murni karena ingin menolong mu dan calon bayi yang ada di kandunganmu. Itu saja. Tidak lebih” Ucap Haris diplomatis. Arini terdiam. Ia sudah menduga Haris akan mengetahui tentang kehamilannya.
“Tolong jangan beri tau siapapun tentang kehamilanku mas!”
“Untuk saat ini hanya aku dan Hana yang mengetahuinya” Ucap Haris datar.
“Ku mohon jangan beri tau siapapun! Hal ini sangat memalukan” Arini memohon.
“Siapa Ayah biologis dari anakmu?” Haris menghujamkan matanya dalam-dalam ke manik mata Arini, tatapan tersebut menyiratkan kekecewaan.
__ADS_1
“Aku tidak tau, aku diperkosa oleh orang tak di kenal!” Aku Arini. Haris terhenyak.
“Apa??? Di perkosa??!”
Arini menunduk dengan memejamkan matanya. Haris tercengang. Betapa malangnya wanita ini.
“Lalu, Apa kamu tidak bisa mengingat siapa laki-laki itu? Biarkan ia mempertanggungjawabkan perbuatannya!”
“Jangan menyuruhku untuk mengingat peristiwa kelam itu mas. Aku tidak sanggup, aku bisa gila!” Arini mulai menangis. Haris terdiam. Ia teringat dokter mengatakan bahwa Arini mengalami depresi berat dan itu semua berbahaya terutama bagi janin yang dikandungnya.
“Aku juga tidak tau apa akan tetap mempertahankan anak ini atau tidak. Aku tidak ingin dia menanggung malu dan aib karena kelak tidak memiliki ayah” Lanjut Arini pilu. Kata-katanya membuat Haris menoleh,
“Anak dalam kandunganmu sama sekali tidak bersalah Rin, jangan berpikir konyol! Hidup bukanlah sebuah lelucon” Sarkas Haris.
“Apa kehidupan kurang mempermainkanku mas?? Apa aku tidak menjadi lelucon untuk dunia? Untukmu dan juga Hana??” Air mata Arini mengalir semakin deras.
“Maafkan Aku” Haris menunduk.
“Katakan sekarang aku harus bagaimana! Aku tidak akan sanggup mempertahankan anak ini, terlalu besar beban sosial dan lainnya yang harus ku tanggung!” Ucap Arini sendu, Perlahan Ia memberanikan diri memegang lengan Haris. Tangannya mendarat sempurna di sana.
***
Taxi biru tampak berhenti di depan kediaman haji Amir. Seorang wanita muda tertatih menenteng kopernya untuk masuk ke dalam setelah membayar.
“Hana?” Kening Ummi berkerut setelah melihat putrinya menenteng sebuah koper. Feeling beliau berubah tidak enak.
“Hana pulang, Mi!” Lirih Hana pelan, putri satu-satunya itu berkata seperti sudah kehilangan energi.
“Kamu bersama siapa nak? Nak Haris mana?” Tanya haji Amir keluar dari ruang bacanya begitu mendengar Hana pulang. Haji Amir langsung membandrol nya dengan pertanyaan dan itu membuat Hana bingung harus berkata
apa.
“Ha.. Hana,.. Hana mau tinggal sama Ummi dan Abah seperti dulu lagi!” Jujur Hana menunduk. Bulir dari matanya kembali mengalir. Abah dan Ummi saling bertatapan. Mereka mencium gelagat yang tidak beres dari rumah tangga anaknya.
“Katakan apa yang terjadi nak!! Di mana suamimu??” Abah murka.
“Bah, biarkan Hana masuk dan beristirahat terlebih dahulu!” Cegat Ummi melihat suara abah yang mulai meninggi.
“Sini masuklah terlebih dahulu nak! Anak kesayangan Ummi jauh-jauh pulang sudah pasti lelah. Kamu mandi dulu ya. Ummi siapkan air hangat!” Ummi merangkul Hana membawanya ke dalam penuh sayang juga membantunya membawakan koper.
***
.
.
Hai teman-teman, Alana Alisha membaca komen kalian semua. Terima kasih antusiasnya ya! Di sini banyak yang menyayangkan sikap Haris, namun juga tidak sedikit yang mengomentari kegegabahan sikap Hana dalam mengambil keputusan sepihak.
Bagaimana kelanjutan nya? Tetap di simak dan berikan komentar ya! komentar teman-teman sedikit banyaknya Author pertimbangkan dan mempengaruhi isi dari tulisan ini.
Ayo semangati Alana terus dengan Like Komen Vote juga Hadiahnya. Jazakumullah Khairal Jaza' ^_^
Terima Kasih Banyak! Salam Senin yang mendamaikan!
__ADS_1
***