Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 6: Suara Hati


__ADS_3

Daun dari pohon Asan yang berada di halaman rumah haji Amir gugur berserakan. Dalam seminggu ini memang angin kencang kerap datang menghampiri sehingga mengakibatkan intensitas daun berguguran 2 kali lipat lebih banyak dari biasanya.


Hana menatap daun-daun yang berserakan itu dari dalam jendela kamarnya. Beberapa hari ini ia lagi tidak berselera melakukan kegiatan apapun, hatinya masih diliputi kecemasan akan rencana pernikahannya yang lebih kurang dua bulan lagi.


Resah dan gelisah dirasakannya. Bagaimana tidak, Gibran yang sudah berulang kali dihubungi ternyata lagi tidak bisa dihubungi. Yura mengabarkan bahwa kakaknya mengirimkan email dan mengatakan bahwa handphonenya telah hilang dan ujian akan segera datang jadi Gibran akan fokus keujiannya dulu baru setelah itu akan membeli handphone baru. Mengetahui hal ini bertambah pula lah kesedihan dihatinya.


Tok.. tok.. tok..


“Hana, boleh Ummi masuk, Nak?” terdengar suara ketukan pintu dari luar.


“Iya Mi, sebentar”


Hana menyeka airmata dan membuka pintu kamarnya. Ummi melihat mata Hana yang tampak sembab.


"Ada apa nak? Akhir-akhir ini kamu tidak ceria seperti biasanya, kamu juga lebih banyak mengurung diri di kamar, jika kamu punya keluh kesah dan lagi berada dalam kesulitan ayo ceritakan pada Ummi seperti biasa” Ummi mengelus rambut Hana.


“Tidak ada apa-apa, Mi. Hana hanya merasa tidak enak badan saja”


Hhhh, Ummi mendesah Panjang, Ummi seperti mengerti apa yang tengah dirasakan Hana.


“Kamu kepikiran masalah pernikahan ya? Apa sebenarnya kamu belum siap untuk menikah, Nak?” Umi masih terus mengelus kepala Hana.


Lama Hana terdiam, kemudian ia pun bertanya,


“Ummi, bagaimana dahulu pernikahan Ummi dan Abah? Apakah juga dijodohkan?”


"Iya, Alhamdulillah dulu Ummi dijodohkan dengan Abah, Nak”


“Bagaimana perasaan Ummi ketika tahu bahwa Ummi dijodohkan?” Hana memasang wajah serius.


Ummi tersenyum mendengar pertanyaan putri semata wayangnya, kini Ummi mengerti duduk permasalahnnya. Ummi menatap Hana penuh cinta lalu menjawab,


“ketika itu Ummi masih sangat muda dan belum mengerti tentang pernikahan, Nak”

__ADS_1


 “jadi Ummi langsung menyetujuinya? Ummi langsung menerima tanpa bantahan sama sekali?” Hana membandrol Ummi pertanyaan.


Ummi mengangguk, lalu melanjutkan,


“Sama seperti yang kamu lakukan, tidak membantah dan patuh terhadap perintah orang tua namun hanya saja…..” Ummi memberi jeda.


“Hanya saja kenapa, Mi?” Hana semakin penasaran.


“Hanya saja Ummi Ketika itu tidak mengharapkan siapa-siapa, hati Ummi masih belum terisi oleh siapapun. Berbeda dengan kamu sekarang yang memiliki seseorang yang sedang kamu harapkan.


Hana terkesiap mendengar penuturan Ummi. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ummi mengetahui tentang perasaannya selama ini. Ternyata Ummi diam-diam perhatian terhadapnya tanpa ia ketahui. Hana terdiam menunduk.


“Jika Ummi mengetahuinya kenapa Ummi masih sepakat dengan Abah untuk menjodohkan Hana?” Ada sedikit kekecewaan di hati Hana.


“Nak, tidak semua hal di dunia ini sama persis seperti apa yang kita harapkan, ada rahasia-rahasia ketetapan Allah didalamnya. Ada hal yang harus kita Imani dan Yakini....”


“Di satu sisi Ummi melihat kesungguhan Abah untuk menjodohkan kamu dengan laki-laki terbaik menurut Abah. Abah hanya ingin anaknya Bahagia dalam pernikahan, iman dan islam. Di satu sisi sebenarnya Ummi menunggu reaksi kamu, reaksi orang yang kamu nantikan itu untuk melamar, Ummi ingin melihat bagaimana orangnya. Namun, sampai saat ini Ummi belum melihatnya sama sekali.”


Hana menunduk, dalam hati membenarkan perkataan Ummi. Gibran juga tidak ada kabar apapun darinya, ia bingung harus melakukan apa. Rasanya masih sangat berat untuk menerima kenyataan ini.


***


Pernikahan Hana dan Haris semakin dekat, tinggal sebulan lagi mereka menuju akad nikah. Di kampus, Hana pun menceritakan semua hal yang menimpanya pada Yura, ia menumpahkan segala keluh kesah nya.


Hana berharap Yura memiliki pandangan bijak seperti Ummi, agar Langkah Hana menjadi ringan melalui semua rangkaian perjodohan ini. Baru sekarang ia bisa menceritakan semua hal pada Yura sebab saat itu perkuliahan libur dan Yura terserang peyakit cacar selama beberapa waktu.


Hana tidak ingin membebaninya sebab ia sudah kesulihan menghadapi cobaannya sendiri.  Tidak bisa dipungkiri, Yura merasa sangat sedih, berita yang seharusnya menjadi kabar gembira sebab sahabat terkasihnya akan menikah malah menjadi sebaliknya.


Sejujurnya ia sangat berharap, kelak Hana bisa menjadi adik iparnya dengan menikah dengan Gibran. Ia tidak hanya menganggap Hana sebagai sahabat semata, tetapi sudah seperti saudara kandung yang tidak bisa terpisahkan.


Yura malah menangis tersedu, ia menangis memeluk sahabat karib nya tersebut. Hal ini tidak bisa dibatalkan lagi, undangan telah tersebar. Persiapan sudah hampir selesai. Jika ia memaksa mengirim email pada Gibran di Maroko sana, semua juga sudah tidak ada gunanya lagi. Ditakutkan malah Gibran menjadi kalut dan semua perjuangan kakaknya untuk kuliah menjadi sia-sia.


***

__ADS_1


Di sudut lain, Arini dan Haris tengah berbincang serius, air mata tampak menggenang di sudut pelupuk mata wanita itu. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir mereka sebelum Haris dan Hana Menikah. Setidaknya begitulah yang Haris pikirkan.


“Mas, tolonglah, aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa menikah dengan laki-laki lain kalau laki-laki itu bukan kamu” Arini berkata dengan mengiba.


“Maaf Rin, semua sudah terjadi, undangan pernikahan telah tersebar….” Haris menutup matanya sejenak sebelum kembali melanjutkan perkataannya,


“Insya Allah kamu akan menemukan jodoh terbaik yang Allah anugrahkan kepadamu, jauh lebih baik dariku”


“Jika aku tidak sanggup menjalani ini semua bagaimana mas?” air mata Arini yang semula hanya menggenang di kelopak mata pun turun perlahan tanpa bisa ia cegah.


“Allah akan memberikanmu kemampuan itu, begitu pun denganku, berat rasanya memikirkan bahwa aku akan menikah dengan wanita yang sama sekali tidak aku kenal sebelumnya, aku sendiri tidak yakin bagaimana aku akan menjalani rumah tangga nantinya, rasanya nanti Aku tidak akan pernah bisa menjadi imam yang baik”


“Aku tidak akan sanggup mas! Aku tidak akan sanggup” Arini mengeleng-gelengkan kepalanya.


“Lalu aku harus bagaimana Rin? Katakan aku harus bagaimana? Apa yang bisa kulakukan untuk menenangkan hatimu, hanya kamu yang bisa melakukannya. Mengadulah pada Allah sebab hanya Allah yang bisa menolong kita dan menghilangkan segala keresahan di hati. Kita juga belum ada ikatan apapun, jangan biarkan nafsu menguasai hati kita, percayalah pada ketetapan Allah, jodoh tidak akan kemana”


“Kalau begitu nikahi aku juga mas, aku bersedia menjadi istri keduamu, calon istrimu adalah wanita shaliha, anak seorang Ustaz, ia pasti bersedia melakukannya, apalagi kalian tidak saling mencintai” Arini mengatakan hal ini dengan bibir gemetar.


“Rin, jangan biarkan keinginan sesaat menguasai jiwamu, jangan biarkan emosi mempengaruhi pikiranmu, kamu terlalu baik untuk kuduakan, apalagi dengan laki-laki yang tidak memiliki kapasitas sepertiku. Aku tidak sanggup melakukan itu” Dada Haris bergemuruh mendengar penuturan Arini.


“Tapi aku bersungguh-sungguh dengan perkataanku mas, sungguh!” kali ini Arini mengatakan tegas dengan sorot mata tajam.


“Rin, maafkan aku, untuk saat ini aku tidak bisa berfikir dengan jernih, tolong jangan paksa aku melakukan hal yang mana aku tak sanggup untuk melakukannya”


Mereka menutup pembicaraan dengan menyisakan rasa sesak di dada.


***


Hai Teman-teman, mohon dukungannya, jangan lupa like coment dan vote juga Hadiahnya , Terima kasih 🌹🌹🌹


By: alana alisha


Ig: @alana.alisha

__ADS_1


__ADS_2