Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 69: Sisa-Sisa Kekuatan


__ADS_3

Setiap kali Aku melihatmu


Seluruh cahaya Mentari


Mengalir melalui gelombang di rambutmu


Dan setiap bintang di langit sana mengarah ke mata mu


Seperti Lampu Sorot


~Air Supply~


***


Hana dan Yura untuk sementara waktu di tempatkan dalam sel berbeda. Mereka telah melakukan pemeriksaan, hasil test urine mengatakan bahwa mereka tidak pernah mengkonsumsi narkotika. Hasilnya dinyatakan negative, itu


artinya untuk saat ini mereka hanya dicurigai sebagai pengedar barang haram tersebut.


Hana yang baru bangun dari pingsan yang dialami dalam waktu lama juga dengan keadaan fisik yang masih lemah itu kini harus mendekam di dalam sel tahanan. Ada empat wanita yang menghuni sel tersebut. Kekita hendak


masuk bergabung, diam-diam Hana memperhatikan mereka. Diperkirakan, dua orang sudah paruh baya sedang dua orang lainnya masih berusia 27-35 tahun.


Penampilan mereka sedikit berantakan. Hmh Tidak. Penampilan mereka terlihat kacau, rambut kusut yang entah sudah berapa lama tidak tercuci apalagi tersisir, baju kaos yang bertuliskan tahanan disertai nomor urut angka dibawahnya tampak begitu kusut. Kuku-kuku yang memanjang lagi kotor. Diantara mereka berempat, sekilas Hana melihat seorang wanita yang mengenakan kerudung dan menatap ke arahnya. Merasa diperhatikan, Hana membuang tatapannya ke sembarang arah. Entah motif apa yang menyebabkan mereka ikut mendekam dalam sel tahanan ini.


Para penghuni ruangan yang luasnya hanya 3.5 x 2x5 meter itu tampak tidak ramah. Mereka memandang Hana dengan tatapan sinis juga dengan tatapan mengkritik penampilannya. Mungkin mereka tengah memikirkan kejahatan apa yang  diperbuat wanita muda yang berkerudung rapat hingga ia berakhir di penjara. Hana tidak menghiraukan tatapan mereka, perlahan ia menuju sudut ruangan dan duduk di sana.


Hana tidak berani mengedarkan mata ke sekeliling, ia masih tidak nyaman dengan suasana sel tahanan. Tiba-tiba ia seperti mencium bau pesing yang menyengat. Ia merasa tidak nyaman. Darimana asal bau tidak enak ini. Huft. Tenang Hana. Ini hanya sesaat. Allah bersamamu. Batin Hana. Gadis ini memilih mengabaikannya. Ia mematung menyudut.


Ah, Ia ingin mengingat hal-hal yang menyenangkan saja dalam hidupnya, agar ia bisa mensyukuri banyak hal dari pada memikirkan kepahitan kecil ini. Namun gagal, Ia malah mengkhawatirkan sahabatnya Yura, Bagaimana keadaan Yura sekarang ya? Apakah ia merasa aman dan nyaman? Semoga saja.


Hana juga memikirkan Haris, baru sesaat mereka berpisah namun rasanya seperti sudah begitu lama. Ia khawatir sebab pada saat terakhir kali ketika itu, sudah hampir dini hari suaminya belum juga pulang dari acara syukuran


wisuda temannya. Ia memohon agar Allah senantiasa melindungi suami.


Ia pun memandang cincin pernikahan mereka yang terletak di jari manis tangan kirinya. Diusapnya cincin itu kemudian ia memegang erat cincin tersebut dengan menangkupkan tangan kanan ke atasnya.

__ADS_1


Ia teringat akan peristiwa pada malam-malam sebelum ia ditangkap. Sikap Haris yang begitu manis, padahal suasananya sangat sederhana, tapi jujur akhir-akhir ini ia terbuai dan bahagia. Ia masih bisa mengingat detil setiap sentuhan yang suaminya itu berikan dengan penuh perasaan dan menuntut, sentuhan intim pertama yang didapatnya dari seorang laki-laki. Ia pun membawa kedua telapak  tangannya untuk menutupi wajah. Aku merindukanmu, mas. Batin Hana.


“Heh anak baru!” Tiba-tiba, seorang wanita sesama tahanan sel mendorong kasar bahu Hana. Hana yang tengah melamun jelas terkejut hingga tidak bisa menyeimbangkan diri, ia pun terjungkat dari duduknya ke belakang dan


menubruk tembok yang berada di belakangnya.


“Aww, Astaghfirullah” Hana meringis. Wanita yang mendorong bahunya tadi pun tertawa diikuti oleh temannya dari belakang. Wanita dengan tubuh ramping ini memiliki rambut pendek sebahu, rambutnya tampak sudah pernah


di cat pirang, namun karena tidak pernah dirawat menjadikannya bercabang dan kelihatan kusam. Wajahnya pun dipenuhi oleh jerawat kecil-kecil, dan kulitnya berwarna putih kemerahan.


“Tindak kriminal apa yang udah lu perbuat sampe masuk bui gini, hah?? Sok alim lu, berkerudung gini padahal munafik, cuihh” Wanita tersebut meludah sembarangan.


“Maaf mbak, mbak ada masalah apa ya sama saya?” Tanya Hana memberanikan diri namun tetap dengan penuh kesopanan. Ia merasa tersinggung dengan kata-kata yang dilontarkan oleh wanita tadi.


“Haha, punya nyali juga dia ternyata! Berani-beraninya nanya balik!! Belum tau dia gimana senior mengospek newbie, Serang!!” Teman si wanita tadi maju dan mendekati Hana, ia langsung memukul dan melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi nya, Hana yang masih lemah menyebabkan tamparan keras itu mampu menggeser tubuh tersebut sehingga kepala nya kembali membentur tembok. Memar. Tubuh Hana semakin melemah.


“Stop mbak. Saya salah apa hingga diperlakukan seperti ini?? Saya bisa melaporkan mbak ke petugas, !” Hana melawan dengan sisa-sisa kekuatan di tubuhnya.


“Hahaha. Jangan ngelunjak! Lu itu anak baru! Dasar munafik!! Buka kerudungnya!!!” Perintah wanita itu lagi, sepertinya ia pemimpin genk di sel ini.


Hana bangkit, ia ingin melindungi diri dari serangan brutal penghuni sel tahanan yang membully nya. Baju gamis yang berada di area bahunya robek akibat tarikan kasar. Ia memang baru saja dijebloskan ke sana dan belum


Hana masih saja melindungi diri dan mencoba melawan namun apa daya, ia semakin melemah. Pandangannya mengabur. Hana pasrah. Ia pun jatuh pingsan.


“Udah-udah, cukup. Dia udah ga berdaya!” Ucap wanita lainnya yang sudah berusia paruh baya. Ia mendekati Hana dan mencoba mengguncang-guncangkan tubuhnya. Hana tidak bergerak. Ia benar-benar pingsan.


***


Setelah pertemuannya dengan Arini, Haris memilih untuk kembali ke kantor polisi, Ridwan menghubunginya dan mengabarkan melalui telepon bahwa Hana dan Yura sudah melalui pemeriksaan awal dan telah di tempatkan ke dalam sel tahanan. Untuk sementara waktu mereka masih belum bisa mengunjungi kedua gadis itu.


“Gimana perkembangannya?” Tanya Haris ketika melihat Ridwan yang sudah menantinya di pintu masuk.


“Gue udah minta asisten gue untuk cari pengacara terbaik, Hana dan Yura kan terbukti tidak mengkonsumsi narkotika, sekarang tinggal buktikan bahwa mereka bukan pengedar dan menyeret para pemfitnah untuk bertanggung jawab terhadap kejahatan mereka” Ucap Ridwan optimis


“Lu sendiri gimana sama Arini? Apa dia mau ngaku?” Selidik Ridwan kemudian.

__ADS_1


“Arini ga bilang apa-apa, tapi dari Bahasa tubuhnya gue bisa tau kalau apa yang gue bilang dan gue tuduhkan itu benar” Ingin sekali rasanya Haris mengingkari kenyataan pahit ini. Ridwan menepuk-nepuk Pundak Haris.


“Gue udah ngabarin Gibran kalau Yura tersandung kasus. Ia udah booking tiket dan Gibran akan segera kembali ke sini” Spontan Haris mendongakkan kepalanya ke arah Ridwan. Sangat wajar rasanya Gibran kembali apalagi adiknya tersandung kasus, tapi…..


“Sejak team gabungan Romi menyampaikan berita tentang terlibatnya Hanum dan Arini dalam masalah ini, gue udah lega dan bersyukur banget, mereka kerja dengan sangat cepat” Ucap Ridwan lagi. Haris mengangguk setuju. Namun Haris tidak tau harus bagaimana. Jujur saja ingin rasanya ia menepis kenyataan tentang keterlibatan Arini dalam masalah ini. Bagaimanapun jika mengingat hubungan masa lalu mereka, ini sangat sulit untuk bisa ia terima.


“Lu tampak sangat kusut,juga belum tidur sama sekali, sebaiknya lu pulang dulu dan beristirahat, perjalanan kita mengungkap kebenaran masih panjang, tolong jangan tumbang, Bro. Please keep Your Health” Ridwan mengkhawatirkan kesehatan Haris, setidaknya ia sendiri sempat tidur sejenak sejak selesai shalat shubuh pagi tadi.


“Gue mengkhawatirkan Hana dan Yura, Wan. Gue harus stay di sini” Haris menolak saran Ridwan.


“Bagaimana pun mereka masih belum bisa untuk ditemui. Please kali ini lu dengar gue. Kita gantian. Kalau ada perkembangan terbaru gue bakal hubungi lu”


Haris tidak bisa membantah lagi. Ia mengikuti saran Ridwan, setidaknya ia harus mandi. Kali ini ia memang tidak bisa untuk bersikap idealis, biasanya ia paling tidak bisa untuk tidak mandi, ia adalah orang paling klimis di grup sekawanan nya. Namun kasus yang menimpa Hana ternyata mampu menyita semua kegiatannya.


Haris pun pulang ke rumah dengan penuh kecemasan, moodnya benar-benar buruk. Ia mandi dengan terburu-buru, mengaplikasikan sabun dan shampoo yang hanya sekedarnya saja. Setelah itu ia berwudhu untuk shalat lantas mengaji sesaat. Tak lupa ia mendoakan Hana agar permasalahan ini segera selesai. Bayangan Arini tiba-tiba menghampiri dan membuat dadanya sesak. Kenapa harus kamu, Rin?


Haris berbaring di atas kasurnya. Sungguh ia tidak mampu terlelap. Ia sudah berusaha, setidaknya 10 menit saja untuk menyegarkan kembali tubuhnya. Hampir setengah jam ia membolak balikkan tubuh di kasur, lalu bangkit untuk duduk dan kembali merebahkan diri berharap dapat terlelap namun ia tetap saja gagal.


Ddddrrrrttt Drrrrrttttt


Handphone Haris bergetar, Ridwan menelepon.


“Ris, segera ke kantor polisi ya! Hana pingsan!”


“A.. apa??”


“Hana pingsan, ia sedang dirawat sekarang. Hanya satu orang anggota keluarga yang boleh mendampingi. Lu cepat kesini!” Titah Ridwan.


“Okay. Gue ke sana sekarang”


Haris mengambil jaket dan kunci mobilnya. Ia melesat cepat menuju ke kantor polisi.


***


Hai Teman-teman, maaf kalau update nya kadang telat ya. Saat ini Alana cuma mampu update maksimal 1 bab perhari karena juga punya kegiatan di dunia nyata. Terima kasih banyak untuk antusiasnya sama novel yang masih jauh dari sempurna ini. 

__ADS_1


Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE, KOMEN, VOTE juga Hadiahnya ya. Terima Kasih yang selama ini terus melakukan itu. Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan segala urusan teman-teman semua ^_^


***


__ADS_2