
Haji Zakaria terpaku tanpa ekspresi melihat rekaman video berdurasi 5 menit 17 detik yang melibatkan istrinya. Beliau terlalu terkejut hingga mati rasa. Untuk sesaat ulama kharismatik itu menunduk mematung. Rasa kecewa yang sudah melampaui batas normal mendera. Untuk mengangkat kepala saja rasanya tidak mampu.
“Hamba gagal mendidik istri ya Allah. Dosa hamba terlalu besar” Lirih Haji Zakaria terpukul. Mata beliau mengembun. Laki-laki shalih ini mengusap wajah dengan kedua telapak tangan lalu menghembuskan nafas ke udara. Nafas yang terdengar berat.
Mungkin inilah yang menyebabkan beliau insomnia beberapa hari terakhir. Haji Zakaria tidak bisa tidur hingga merasa kesulitan bernafas. Beliau mengambil telepon yang terletak rapi di atas meja lalu menyambungkan panggilan ke asisten pribadi.
“Assalamu’alaikum Abah…”
“Waalaikumsalam…” Sahut Haji Zakaria dengan suara parau.
“Abah, abah baik-baik saja?” Sang asisten mengerutkan keningnya.
“Nak, tolong panggilkan Ummi, Gus yahya, Gus Haris. Hmh panggilkan Semua anak menantu Abah. Katakan kalau abah menunggu mereka di ruang kerja” Titah haji Zakaria. Beliau terlalu lemas untuk berpindah tempat.
“Baik bah” Sahut asisten tanpa bantahan.
Haji Zakaria bangkit. Beliau berjalan menuju jendela. Melihat halaman yang tampak di padati oleh para santri. Seketika ulama paruh baya ini mengusap air mata yang keluar merambat-rambat tanpa bisa dicegah.
Kesedihan dan rasa kecewa begitu dalam tertoreh. Berjam-jam sudah beliau merenungkan ini semua. Berulang kali beliau memutar rekaman video mencari celah kebaikan di sana. Sayangnya beliau gagal menemukan itu.
Driiiit
Suara deritan pintu terdengar. Haris dan Hana lebih dahulu masuk ke dalam ruangan dengan mengucap salam. Mata sepasang suami istri ini tampak sembab. Haji Zakaria masih saja melihat ke luar jendela tanpa mau menoleh. Beliau terlalu malu walau hanya sekedar menyapa anak angkatnya itu.
Hana menatap Haris penuh arti. Wanita ini menguatkan sang suami. Sorot matanya begitu meneduhkan. Rasanya ingin sekali Haris menyelam hingga tenggelam dalam dua bola mata indah itu, ia berharap menemukan lebih banyak ketenangan di sana.
Selama ini hidupnya sudah terlalu banyak beban, masalah yang tiada pernah henti, juga cobaan yang datang silih berganti. Ia mengusap kepala Hana lalu balas menatap dengan tatapan penuh rasa terima kasih.
Tap Tap Tap
Terdengar satu persatu suara Langkah kaki anggota keluarga memasuki ruangan. Masing-masing dari mereka mengambil tempat duduk yang telah tersedia. Iqlima memilih duduk di sebelah Hana. Sedang Ustadz Yahya di apit oleh Layla dan Hajjah Aisyah. Ruangan hening seketika. Tidak ada yang berusaha memulai percakapan. Haji Zakaria juga masih mematung dengan arah tubuh yang masih berlawanan.
Lima menit berlalu, suasana masih tetap hening. Tujuh menit, hingga sepuluh menit. Hajjah Aisyah menunggu cemas. Bagaimana pun juga, beliau sudah harus mempersiapkan jawaban apa yang akan beliau berikan dihadapan suami dan anak-anak. Hajjah Aisyah telah menduga bahwa bom waktu cepat atau lambat pasti akan meledak. Dan kini kisah beliau tiba di penghujungnya.
Setelah bergelut dengan diri sendiri, akhirnya haji Zakaria menyerah. Beliau berbalik arah. Bagaimana pun juga persoalan ini harus segera di selesaikan. Tak banyak waktu, sejam setengah lagi ‘ashr datang menjelang. Tatapan Beliau mengabsen satu persatu peserta yang hadir. Mulai dari Haris, Hana, lalu beralih ke Iqlima, Yahya, dan terakhir berpindah ke Hajjah Aisyah yang menunduk.
“Hhhhh…” Haji Zakaria menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Entah sudah ke berapa kali nafas berat tersebut lolos dari rongga mulut beliau.
__ADS_1
“Abah sudah menonton rekaman videonya” Lirih haji Zakaria pelan namun penuh penekanan. Walau hanya lirihan, namun suara beliau terasa memenuhi ruangan.
“Sekarang saatnya Ummi mengakui apa yang sudah Ummi lakukan di masa lalu!” Titah haji Zakaria tanpa basa basi.
“Ananda Haris yang Allah muliakan. Mungkin ini akan terdengar sangat berat lagi menyakitkan. Tapi abah harap, Ananda bisa kuat. Demi tegaknya kebenaran dan keadilan”
Haris yang sedari tadi menggenggam tangan Hana hanya bisa mengangguk setuju.
“U…Ummi…” Hajjah Aisyah merasakan tenggorokannya tercekat. Semua orang menunggu.
“Ummi bukan pembunuh Hasbi. Ummi sama sekali tidak membunuh Hasbi!” Ucap Hajjah Aisyah tegar. Semua yang mendengarkan menoleh kecuali Yahya. Pemuda ini sudah terlalu terpukul mendengar penjelasan sang ibu hingga tadi nyaris pingsan.
“Sampaikan pembelaan Ummi. Abah harap apapun yang ummi sampaikan, tidaklah keluar dari mulut Ummi kecuali hanya kebenaran”
“Nak Yahya, tolong ambil al-Qur’an yang berada di rak lemari. Ummi mu harus bersumpah dengan al-Qur’an terlebih dahulu sebelum berbicara”
Hajjah Aisyah tercengang. Jelas sekali bahwa sang suami sudah tidak mempercayainya. Yahya bangkit menuruti titah ayah yang begitu ia segani. Al-Qur’an dikeluarkan dari dalam lemari. Sumpah menggunakan al-Qur’an dilakukan. Hajjah Aisyah tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti alur sidang yang diketuai oleh suaminya sendiri.
“Karena Ummi sudah kepalang basah dan telah disumpah, maka Ummi akan mengatakan yang sebenarnya…” Ucap Hajjah Aisyah.
“Bah, dulu itu kita menikah karena dijodohkan. Kedua orang tua melihat kita sebagai pasangan yang serasi tanpa tau bahwa Ummi sebenarnya telah memiliki kekasih. Ummi… U... Ummi tetap berhubungan dengan nya bahkan setelah kita menikah” Aku hajjah Aisyah menunduk. Yahya tersenyum masam. Haji Zakaria tersentak. Puluhan tahun menikah, baru kali ini fakta tersebut terungkap. Iqlima dan Layla hanya bisa tercengang.
“Indah mengetahui semua ini. Ia memiliki bukti. Ummi tidak punya pilihan selain mengikuti apa yang Indah inginkan. Dendam masa lalu pada almarhumah Fatma, semua ia lampiaskan pada Ummi. Ia memanfaatkan kelemahan Ummi”
“Lalu Kamu membunuh dengan begitu tega??!!?” Haji Zakaria bangkit. Kali ini beliau benar-benar marah. Ini pertama kalinya beliau menggunakan kata Kamu sebagai kata ganti sebutan "Ummi" untuk Hajjah Aisyah. Haris diam mendengarkan dengan hati beku. Malah Hana yang menangis. Wanita ini tak kuat. Ia tersedu dengan suara tertahan.
“Bah, Haris permisi. Haris mau bawa Hana beristirahat” Ucap Haris bangkit membawa Hana. Ia takut kesehatan mental sang istri mempengaruhi kehamilannya. Di samping itu ia sudah terlalu malas mengetahui fakta yang sebenarnya. Haris keluar tanpa menunggu persetujuan penghuni ruangan. Haji Zakaria memijat pelipisnya. Terlalu sakit.
“Ummi tidak membunuh, Bah. Apa motif Ummi membunuh? Ummi tidak memiliki tujuan apapun. Apalagi Hasbi adalah kerabat kita!”
“Awalnya memang benar Ummi menyuruh orang mengikuti keinginan Indah. Tapi kemudian Ummi membatalkannya. Ummi bersumpah atas nama Allah. Ummi juga sudah bersumpah dengan al-Qur’an. Ummi benar-benar membatalkannya. Ummi memang jahat, Ummi egois, Ummi bukan wanita suci. Tapi Ummi tidak sampai hati untuk membunuh!” Ucap Hajjah Aisyah lantang. Yahya spontan menoleh. Tadi Umminya tidak menceritakan hal ini.
“Rekaman yang ada di tangan abah itu benar adanya. Mungkin diam-diam Indah merekamnya tanpa sepengetahuan Ummi. Tapi setelah nya Ummi langsung menghubungi orang bayaran untuk membatalkan-nya. Mungkin abah masih ingat ketika Ummi jatuh sakit sampai terserang tifus. Itu semua karena Ummi takut perselingkuhan Ummi diketahui oleh Abah. Hingga suatu ketika setelahnya, kita semua mendengar kabar Hasbi meninggal karena kecelakaan kerja. Tapi Ummi tidak tau apa hal tersebut murni kecelakaan kerja atau memang karena perbuatan Indah” Aku Hajjah Aisyah. Haji Zakaria kembali duduk. Beliau menutup kedua matanya rapat-rapat.
“Sejak saat itu, Indah terus saja menghantui Ummi. Bahkan tak segan memberikan ancaman. Wanita licik itu ingin membalas dendam atas perasaan cinta nya yang tidak terbalas hingga ia ingin memanfaatkan Arini untuk dinikahi oleh Haris. Ia sama sekali tidak peduli apapun caranya” Lanjut Hajjah Aisyah. Haji Zakaria merinding mendengar nya.
“Lalu apa hal ini menjadi penyebab mengapa Ummi ingin Haris berpoligami?!”
__ADS_1
“Bukan Bah. Itu semua karena Amanah dari haji Abdurrahman agar Haris memiliki pewaris”
“Tapi Ummi jelas tidak menyukai Hana. Abah tau itu”
Hajjah Aisyah terdiam tidak menjawab.
Sebagamana Iqlima tidak pantas untuk Yahya, Hana itu juga tidak pantas untuk Haris. Ia hanya wanita muda yang tidak memiliki masa depan. Keunggulan Haris jauh melampaui Hana. Anak kita pantas mendapatkan wanita yang lebih unggul. Ucap batin Hajjah Aisyah.
“Nak Yahya, bawa nak Iqlima dan nak Layla beristirahat! Lalu kembali lagi kemari. Ajak serta nak Haris!” Titah haji Zakaria setelah tidak terdengar sahutan dari istrinya.
Yahya membawa kedua istri keluar. Ia mengangguk mengikuti apa yang abahnya instruksikan.
“Abah malu mendengar pengakuan tentang perselingkuhan Ummi. Malu pada nak Iqlima juga nak Layla. Untung Nak Haris sudah membawa nak Hana pergi dari ruangan ini”
“Ummi tidak memiliki pilihan lain. Abah mendesak Ummi untuk mengaku. Dan Ummi melakukannya. Tolong abah mengampuni Ummi. Ummi sangat mencintai Abah”
“Ummi…” Panggil haji Zakaria. Mata beliau kembali basah.
“Taukah Ummi… Pengakuan tentang perselingkuhan yang Ummi katakan itu begitu menyakiti abah. Rasa sakit itu terletak di sini. Bukan di sini” Lanjut Haji Zakaria menunjuk ke arah jantungnya lalu menunjuk ke kepala.
“Ummi tentu tau kalau kata Qalbun dalam Bahasa Arab itu artinya merujuk ke jantung yang terletak di rongga dada agak ke kiri bukan kibdun atau kibdatun (hati) yang terletak di bagian perut bawah sebelah kanan. Sebagaimana jantung adalah sentra-nya tubuh. Bagaimana jika yang menjadi sentra tersebut sakit?”
"Ummi tentu juga tau bahwa dari awal Abah sangat mencintai Ummi. Rasa cinta ini begitu tulus. Tidak ada pengkhianatan di dalamnya sejak abah menghalalkan Ummi. Abah juga memandang Ummi sebagai kekasih pilihan sebagai anugrah tak terkira dari Allah. Abah dibesarkan di pondok pesantren. Yang abah tau hanya belajar menuntut ilmu. Tidak mengenal wanita sebelumnya. Ummi yang pertama. Ummi lah Habibati itu..." Tutur kata haji Zakaria membuat Hajjah Aisyah menangis.
“Baiklah. Abah lelah. Sekarang tolong jawab pertanyaan Abah... Ummi telah melakukan sumpah menggunakan al-Quran. Sudah tentu akan menjawab pertanyaan abah dengan jujur"
"Pertanyaan pertama: Siapa laki-laki kekasih Ummi itu?
"Pertanyaan kedua: Ketika perselingkuhan kalian sedang berlangsung, apa Ummi dan laki-laki itu pernah melakukan hubungan badan?”
"Pertanyaan ketiga: Apa Yahya itu benar-benar anak kita? Anak kandung Abah? " Hajjah Aisyah spontan menelan ludah. Pertanyaan yang sangat tidak terduga.
***
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
IG @alana.alisha
__ADS_1
***