Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 87: Aku sudah Memaafkannya!


__ADS_3

Seminggu sudah Haris dan Hana berada di Spanyol. Mereka benar-benar hanya melakukan hal-hal menyenangkan. Haris juga menepati janjinya terhadap Hana untuk mengunjungi Istana Al-Hamra, istana yang merupakan jejak peninggalan kerajaan Islam di Spanyol.


Awalnya bangunan ini dibuat untuk benteng pertahanan namun kemudian dijadikan istana dan menjadi tempat tinggal pangeran Nasrid. Pasangan pengantin yang berbulan madu ini banyak menghabiskan waktu untuk melihat tempat-tempat bersejarah. Itu semua sesuai dengan keinginan dan arahan dari Hana.


“Setelah ini kita akan kemana lagi, Mas?” Tanya Hana antusias. Kini mereka tengah duduk pada salah satu foodcourt di Centro Comercial Islazul sambil menikmati Es krim. Hana memilih rasa Tiramissu. Mulutnya belepotan.


“Cara makan mu seperti balita saja!” Cibir Haris dengan tersenyum mengejek sambil menghapus sisa es krim yang berada di sekitar mulut Hana menggunakan tisu. Wajah Hana berubah cemberut.


“Hmh, Tapi… Walau begitu kamu sangat menggemaskan!” Lanjut Haris mencoba memperbaiki keadaan. Ia akan merutuki dirinya sendiri jika mengubah mood ceria Hana. Gadis itu melanjutkan menghabiskan sisa es krim nya.


“Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” Tanya Hana datar.


“Pertanyaan yang mana?” Haris mengkerutkan keningnya. Jujur saja dari tadi perhatiannya hanya berpusat pada Hana. Matanya tidak lepas dari memperhatikan sang istri. Ia bahkan tidak tau bahwa Hana telah melayangkan sebuah pertanyaan.


“Hhhhh” Hana menghela nafasnya.


“Setelah ini kita akan kemana lagi?” Ia mengulang kembali pertanyaannya.


“Hmh, Kalau kamu bertanya padaku setelah ini kita akan kemana lagi, maka jawabanku akan sama, aku lebih suka kita menghabiskan waktu di…. Kamar, berdua saja daaan melakukan………. Itu”


“Daripada berjalan-jalan seperti ini” Haris berkata cepat sambil memberikan smirk nya.


“Astaghfirullah Mas, Istighfar! Kalau ada yang mendengar bagaimana?” Hana memukul Haris ringan dengan spontan. Wajahnya memerah. Ia memijat pelipis nya. Sejak malam penyatuan seminggu lalu, Haris seolah tidak pernah kehabisan energi. Setiap ada kesempatan maka suaminya itu terus saja meminta hak nya.


“Kok di pukul sih? Terus Kenapa harus istighfar? Mereka tidak akan mengerti apa yang kita perbincangkan” sahut Haris santai. Ia kembali mengelap saus es krim yang belepotan di bibir Hana dengan penuh kesabaran.


“Ya, tapi tetap saja jangan membahas itu di sini, bisa jadi ada yang bisa berbahasa Indonesia. Lagian rugi sekali sudah datang jauh-jauh ke Spanyol hanya mendekam di kamar saja” Hana membebel panjang.


“Baiklah baiklah. Kita akan bertanya pada pemandu wisatanya, tempat mana lagi yang bagus untuk dikunjungi. Pokoknya semua harus sesuai dengan arahan dari ibu negara” Ucap Haris mengangkat topinya seolah-olah memberikan salam penghormatan. Hana tersenyum kesal melihat kelakuan Haris.


“Sebentar, aku habiskan dulu es krimnya. Oh iya, kelihatannya mas tidak terlalu tertarik dengan jalan-jalan begini, kenapa? Aku jadi tidak enak kita terus saja berkeliling tapi sebenarnya mas malah tidak suka”


“Siapa bilang? Aku excited kok, apalagi perginya sama kamu. Tapi mungkin keliatan nya saja begitu sebab Aku sudah 3 kali ke sini. 2 kali Ayah membawaku bersama ibu dalam perjalanan bisnis ketika aku masih di sekolah


dasar. Sekali lagi ketika masih kuliah, aku ke sini bersama teman-teman menghadiri salah satu pertandingan langsung antara Real Madrid melawan Barcelona” Terang Haris. Hana terhenyak.


“Kenapa mas tidak memberitahukan dari awal sih kalau sudah kesini? Kita kan bisa mengunjungi negara lainnya!”


Huft, Pantas saja mas sudah lebih paham dan mengerti tentang seluk beluk kota ini. Gumam Hana lagi.


“Tidak masalah, insya Allah kalau ada umur panjang, kita akan mengunjungi negara lainnya. Kita akan meluangkan waktu untuk travelling ke berbagai negara. Apalagi di hari tua kita nanti, saat anak-anak sudah mandiri, maka Kita akan menjadi pasangan tua yang gemar berpetualang. Kita akan mempelajari dan mengerti berbagai budaya dan bahasa dengan segala genrenya” Janji Haris. Hana terkesima.


Haris dan Hana terus mengobrol sampai tiba-tiba suara dari gawai handphone Haris berdering, ia lupa men-silent-kan nada sambungnya. Hana berhenti menjilati es krim yang tinggal sedikit saat melihat raut wajah Haris


yang berubah ketika melihat nama yang tertera dilayar kaca . Suaminya itu mematung.


“Siapa yang menelepon? Kenapa tidak diangkat mas?” Tanya Hana heran.


“Hmh Orang kantor, bukan hal penting. Kita tengah berbulan madu, tidak sepatutnya mereka menganggu. Nanti akan aku hubungi mereka kembali. Maaf, aku lupa mematikan nada deringnya” Sahut Haris gugup. Ia terpaksa


berbohong karena tidak ingin merusak mood Hana dengan mengatakan bahwa yang sebenarnya menelepon adalah Arini.


Arini menelepon? Ada apa?


***


Langit mendung, gerimis tipis datang menyapa. Arini masih mematung di depan pusara Hanum. Ia memakai pakaian serba hitam dengan menggenggam tasbih dalam genggaman. Air mata nya terus saja mengalir. Para pelayat satu persatu pergi meninggalkan lokasi pemakaman.  Arini hanya mampu menghapus air mata yang kian tak terbendung. Wanita ini  bahkan tidak sempat bertemu dengan sahabat setianya itu bahkan untuk yang terakhir kalinya. Ia sesugukan.


Hatinya sakit, perasaannya hancur sehancur-hancurnya. Kini, tidak ada lagi teman tempat dimana ia mengadu, tidak ada lagi tempat dimana ia berkeluh kesah. Tidak ada lagi canda tawa bersama, yang tersisa hanyalah kenangan.  Arini mengambil kumpulan kelopak bunga mawar dan menabur ratakan di atas gundukan tanah yang masih basah.


Hanum, aku hamil . Gumam Arini di dalam hatinya.

__ADS_1


Hanum, Aku merindukanmu. Aku tidak tau apa yang bisa aku lakukan tanpamu. Hiks hiks


Aku tidak tau harus menggugurkan atau mempertahankan anak ini, sebab ia bukanlah anak mas Haris. Hiks hiks.


Sekelabat bayangan masa lalu kembali menari-nari di kepala nya.


Aku berjanji akan menyelesaikan kuliahku tepat waktu dan bekerja di perusahaan ternama agar tidak ada lagi yang meremehkanku! Di sela itu aku akan mengumpulkan uang untuk membuka usaha. Ucap Hanum bersemangat dengan senyum sumringah ketika mereka tengah menyusun skripsi kala itu.


Kalau kamu ingin membuat Haris terpana. Kamu harus memiliki pesona yang tidak dimiliki oleh wanita manapun. Hanum mengeluarkan sarannya di waktu berbeda.


Arini, kamu jangan menangis. Aku tidak akan membiarkan seorangpun menyakitimu.


Ini pasta terenak yang pernah aku cicipi.


Arini, Aku berhasil. Kita berhasil. Keberhasilan ini aku persembahkan untukmu.


Kalimat-kalimat yang pernah Hanum lontarkan terngiang-ngiang di telinganya. Arini terduduk. Gerimis berubah


menjadi hujan. Ia sendirian sekarang, sampai tiba-tiba seseorang dari arah belakang memayunginya.


“Ayo kita pulang. Ini sudah petang, sebentar lagi adzan maghrib. Biarkan Hanum beristirahat dengan tenang”


Ajak Romi yang berdiri tegap memegang payung.


Arini tidak bergeming. Ia masih sesugukkan. Gamis hitamnya kotor dan basah terkena cipratan lumpur. Ia tidak


mempedulikannya. Melihat Arini yang masih tidak bergeming, Romi mengamit lengan Arini dan menariknya. Wanita itu pasrah menerima perlakuan Romi yang menggiringnya ke dalam mobil.


“Hoooeekkkk hoooooeeekkkk”  Arini merasa mual. Entah mengapa tiba-tiba saja Ia tidak menyukai aroma parfum yang berada di dalam mobil Romi.


“Rin, kamu kenapa? Are You okay? Tanya Romi cemas. Ia baru saja selesai memasang seatbelt. Arini menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Ia menggelengkan kepala.


“Aku butuh plastic!” Ucap Arini yang mati-matian menahan muntah.


“Jangan…. Hoooeekkk Hoooeeeek” Tidak tahan, Arini pun membuka kaca mobil dan memuntahkan semua isi perut, Ia merasakan pusing dikepalanya.


“Kita harus ke rumah sakit!”


“Jangan! Aku hanya masuk angin dan pusing akibat terlalu banyak menangis” Ucap Arini tegas.


***


“Wait wait. Sebentar sebentar!” Ucap Haris menghentikan Langkah Hana. Mereka masih berada di pusat perbelanjaan Centro Comercial Islazul.


“Kenapa Mas? Apa ada yang tertinggal?”


Haris berhenti di depan galeri etalase yang bertuliskan Bahasa Spanyol Lenceriatapi dibawahnya terdapat


tulisan kecil berbahasa Inggris Lingerie.


“Masuklah kedalam, belilah beberapa helai” Haris menyerahkan kartu debitnya pada Hana dan membisikkan passwordnya.


“Beli apa?” Hana masih gagal menangkap maksud Haris.


“Pakaian yang kamu pakai di malam itu. Lingerie” Bisik Haris di telinga Hana. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Mas!” Hana mendelik.


“Aku menunggumu di sini” bisik Haris lagi.


“Aku belum pernah membelinya, Mas. Itu pemberian Yura” Protes Hana juga dengan berbisik.

__ADS_1


“Ayooolaah, aku menyukainya” Haris menggiring Hana hingga ke pintu.


“***Hola, que puedo hacer por ti?***Halo, apa yang bisa saya bantu?” Pelayan toko bertanya pada Haris dan Hana yang tertangkap sudah berdiri di depan pintu masuk.


“Nona, tolong Anda gunakan Bahasa Inggris saja. Nona cantik ini ingin membeli beberapa helai pakaian. Tolong


pilihkan yang terbaik juga dengan kualitas yang paling bagus” Ucap Haris santai dengan Bahasa Inggris yang fasih.


“Baik tuan!” Pelayan toko tersenyum ramah.


“Mari nona, saya bantu pilihkan!”


Hana masuk ke dalam ruangan, sedang Haris menunggu sambil memainkan Handphone nya. Ia ingin menghubungi Ibu kalau mereka akan tiba di Indonesia dalam tiga hari ini sedang kan untuk  rencana Umroh, menurut kabar dari pihak Travel keluarga, mereka baru bisa berangkat dalam 3 bulan lagi.


Haris menscroll layar mencari kontak tujuan, namun lagi-lagi panggilan dari Arini kembali menghiasi layar kaca. Sesaat Haris memperhatikan panggilan tersebut, kemudian ia menolaknya. Handphone Haris kembali bergetar. Tidak menyerah, Arini kembali melakukan panggilan. Haris kembali menolaknya, ia memilih mengirimkan pesan,


Ada apa Rin? Haris


Mas, Hanum meninggal. Arini


Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Kapan?Haris


Tadi subuh. Aku benar-benar terpukul mas. Arini


Mas kapan datang melayat? Arini


Kalau datang melayat, kabari aku! Arini


Mas, tolong maafkan semua kesalahan Hanum, ya! Dia sudah begitu menderita. Arini


Mas…


Mas…


Haris membaca rentetan pesan dari Arini dengan wajah datar. Namun tidak bisa dipungkiri ia benar-benar terkejut


akan berita ini. Kepergian Hanum begitu mendadak, bahkan wanita itu pergi untuk selama-lamanya ketika berada dalam sel tahanan.Na’udzubillahi min Dzaalik.


“Mas, kenapa melamun?” Tanya Hana yang baru keluar dari galeri.


“Sayang, Hanum udah pergi untuk selama-lamanya!”


“Apa? Innalillahi wa Inna ilaihi raaji’un”


“Kamu mau memaafkan semua dosanya padamu, kan?” Tanya Haris menatap ke dalam manik mata Hana.


“Aku sudah memaafkannya, Mas!” Lirih Hana sendu. Haris membawa Hana ke dalam pelukannya.


"Betapa mulianya hatimu!" Haris mengecup puncak kepala Hana.


“Mas dapat kabar ini darimana?” Hana merenggangkan pelukannya menatap Haris.


“Arini yang menyampaikan berita ini kepadaku. Ia mengirimkan pesan singkat” Ucap Haris santai.


Mendengar perkataan Haris, Hana merasa seperti ada yang meremas hatinya, terasa tidak enak. Ia memang sudah


memaafkan semua kesalahan Hanum padanya. Namun mendengar Arini dan Haris masih saja berhubungan walau hanya sekedar memberi kabar, rasanya seperti ada sesuatu yang menancap dihatinya.


***


Hai Teman-teman, yuk dukung terus karya Alana dengan cara Like, Komen Vote juga Hadiahnya. Jazakumullah Khaer. Terima Kasih ^^

__ADS_1


***


__ADS_2