
"Aku permisi dik, masih ada tugas yang harus Aku kerjakan. Ingat lah apa yang aku pesan kan tadi! nak Hana, jagalah kesehatan mu!" Pesan hajjah Aisyah menutup pertemuannya dengan bu Fatma.
"Buru-buru sekali kak Hajjah! Kita bertiga belum mengobrol" Sahut bu Fatma.
"Insya Allah nanti lain kali" bu Hajjah melebar kan senyumnya.
"Ummi, Hati-hati di jalan. Insya Allah nanti Hana dan mas Haris akan mengunjungi Ummi dan Abah"
"Iya nak... Permisi, Assalamu'alaikum..." Hajjah Aisyah mengusap usap pelan bahu Hana. Lalu melangkah ke pintu depan.
"Waalaikum salam" sahut Hana dan bu Fatma bersamaan.
"Nak, kamu istirahatlah sebentar. Ini adalah kamar masa lajang nya Haris. Istirahat lah di sini. Ummi akan menyeduhkan teh hangat untukmu" Ucap bu Fatma yang membuka pintu kamar.
Memang selama menikah, Hana belum pernah menginap di rumah mertua nya itu, bu Fatma selalu memilih untuk menginap di kediaman mereka.
Perlahan Hana memasuki kamar Haris, kamar yang cukup luas untuk ukuran pemuda lajang. Barang-barang yang ada di dalam nya begitu tertata rapi. Hana mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia memusatkan perhatiannya ke meja belajar Haris.
Banyak rumus matematika dan fisika yang tertempel di sana. Wajar saja, dulunya Haris adalah mahasiswa teknik. Ada juga quotes quotes penyemangat jiwa. Hana melihat tulisan tangan Haris di sana. Jarang sekali laki-laki memiliki tulisan rapi. Pikir Hana, ia tersenyum.
Lalu Perhatian Hana teralihkan pada sebuah album foto. Ia memilih untuk duduk lalu perlahan jari jemarinya membuka album tersebut.
Di sana ada foto pria muda dengan senyum hangat yang sangat mirip dengan Haris namun versi berkumis. Berarti ini Ayah mertua nya. Pikir Hana lagi. Wanita ini pun berkaca-kaca.
Di sana juga banyak foto kebersamaan Haris dan bu Fatma. Hana terus melihat isi album lama yang ada di tangannya, Suami nya itu memang sudah tampan sedari lahir. Akhir-akhir ini Hana memang semakin mengakui fakta tersebut.
Hana masih saja membolak-balikan lembar demi lembarnya. Sampai ia menemukan sebuah foto gadis cantik dengan senyum menawan, di atasnya bertuliskan Calon Ibu dari anak-anak ku. Foto Arini. Hati Hana mencelos melihat nya. Ah. Hanya sebuah foto lama. Sebuah masa lalu yang mungkin lupa suaminya pindahkan. Hana menenangkan hatinya.
"Nak, ini tehnya! " Bu Fatma masuk membawakan sebuah nampan berisikan secangkir teh hangat lengkap dengan cemilan di dalamnya.
"Ummi, Hana melihat foto Ummi di sini, dari muda sampai sekarang, wajah Ummi tidak berubah, awet muda terus! " Komentar Hana memuji mertuanya.
"Kamu bisa saja nak, kamu jauh lebih cantik dari Ummi" Senyum bu Fatma merekah.
"Nak... "
"Iya, ada apa mi? " Tanya Hana bersiap mendengar perkataan ibu mertua nya.
Bu Fatma ingin menyinggung persoalan yang tadi Hajjah Asiyah singgung kan. Namun wanita paruh baya ini berubah pikiran. Baru sebentar saja Hana berada di sini, beliau tidak ingin mengubah raut wajah bahagia menantu nya. Beliau takut Hana akan tersinggung.
"Tidak nak, bagaimana perkembangan hubungan mu dan Haris? Ummi perhatikan kalian semakin bahagia. Apa Haris memperlakukanmu dengan baik? Kalau ia menyakiti mu, katakan saja. Ummi akan menjewer kupingnya!" Seloroh bu Fatma, beliau mengalihkan pertanyaan lalu menggenggam tangan Hana penuh kasih. Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut mertuanya, Hana tidak bisa untuk tidak tertawa.
***
__ADS_1
"Aku perhatikan kamu dari tadi cemberut, ada apa hm? " Tanya Haris yang sudah berada di dalam kamar lamanya bersama Hana. Ia sudah kembali dari kantor, mereka bersiap-siap akan ke bioskop malam ini.
"Aku tadi melihat-lihat album foto itu! " Hana mengerucut kan bibir nya. Ujung dagunya menunjuk ke arah album foto yang berada di atas meja sana.
"Lalu? " Haris mengerutkan keningnya.
"Ada foto kekasih mas di sana!" Ketus Hana. Haris berpikir-pikir, seingatnya ia tidak tidak pernah meletakkan foto Hana-nya di sana.
"Masa? Seperti nya aku belum pernah meletakkan fotomu di sana" Haris mengangkat setengah lengan kemeja panjangnya sambil berjalan ke arah meja mengambil foto album.
Haris membuka lembar demi lembar. Sampai akhirnya ia menemukan foto Arini dengan tulisan absurd di atasnya.
"Kamu cemburu sama foto ini, hm? " Haris mengambil foto tersebut melepasnya dari album dan menunjukkan pada Hana. Istrinya itu memalingkan wajahnya.
Srekk Srekk...
Haris merobek foto yang ada di tangan nya dengan cepat. Hana menoleh.
"Kenapa mas robek?? " Pekik Hana mendekati Haris.
"Untuk apa juga? Ga penting untuk di simpan" Ucap Haris santai.
"Ta... Tapi, itu kan kenang-kenangan..." Hana merasa tidak enak. Haris mengambil istrinya ke dalam pelukan, memberikan banyak kecupan di puncak kepalanya.
"Berdandan secantik mungkin hanya di hadapan ku saja... " Lanjut Haris berbisik di telinga Hana sambil berlalu ke pintu keluar. Kata-kata Haris berhasil membuat Hana menyunggingkan senyumnya. Sekarang tidak ada yang perlu ia khawatir kan tentang suaminya itu. Ia sangat yakin akan cinta Haris terhadap nya.
Haris masuk ke kamar Umminya setelah mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk.
"Ummi, Haris mengajak Hana menonton di bioskop malam ini"
"Kalian menginap di sini kan? "
"Iya mi, kami menginap di sini malam ini, Nanti Ummi mau Haris bawakan apa? " Haris merangkul pundak ibunya.
"Ga usah nak, Ummi tidak terbiasa makan malam lagi sekarang"
"Kalau begitu, Haris belikan buah-buahan segar ya... " bu Fatma mengangguk.
"Oh ya, kenapa Ummi Aisyah ke sini mi? "
"Silaturahim saja kok nak! " Sahut bu Fatma.
"Pasti ada yang ingin beliau obrolkan" Celoteh Haris menatap wajah Umminya. Bu Fatma menghelakan nafas panjang.
__ADS_1
"Sebenarnya ini perkara kamu dan Hana nak! Ini tentang amanah dari kakek mu, ini tentang permasalahan keluarga kita. Keluarga besar tengah memikirkan bagaimana jika kamu tidak memiliki pewaris" Ucap bu Fatma berhati-hati, beliau menggigit bibir bawahnya. Haris mendengarkan dengan saksama.
"Mi, Haris dan Hana masih terus berusaha. Hana bukannya tidak bisa hamil, bukankah Hana sudah pernah hamil sebelum ini? " Ucap Haris.
"Ummi Aisyah mu berpesan, jika Hana belum hamil juga, mau tidak mau kamu harus menikah lagi untuk mencari pewaris. Nak Hana memang pernah hamil, tapi kita tidak tau apa kedepannya Hana akan kembali mengalami hamil anggur atau tidak" Ucap bu Fatma menunduk. Betapa ibu kandung Haris ini juga sangat berat mengungkapkan ini.
"Astaghfirullah... " Haris bangkit. Ia membuang kasar nafasnya ke udara.
"Ada atau tidak adanya anak di rumah tangga kami, Aku tidak akan menikah lagi, Mi!! " Haris mulai emosi.
"Ummi paham nak, Ummi juga tidak ingin kamu menduakan Hana, Ummi tidak ingin Hana tersakiti. Ummi tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya perasaan Hana nanti. Tapi bagaimana kamu harus menjalankan amanah ini sayang? " Bu Fatma mulai menitikkan airmata.
"Lebih baik Haris tidak usah jadi pewaris, Haris tidak akan menerima warisan itu jika memang syarat untuk jadi pewaris harus dengan menduakan Hana! " Ucap Haris tegas. Matanya memerah. Ia jengah.
"Nak, jangan emosi. Kamu harus memikirkan hal ini matang-matang dan bijaksana. Kamu bukan anak kecil lagi. Ini bukan menyangkut keputusan mu semata, tapi keluarga besar kita. Ummi memang tidak setuju kamu harus berpoligami, tapi kamu juga harus tetap menghormati para tetua kita nak, ini amanah besar. Ini menyangkut dengan permasalahan umat, kemaslahatan banyak orang" bu Fatma menasehati anaknya dengan bijak.
"Lalu Haris harus apa mi? Haris tetap tidak bisa menikah lagi! Haris juga tidak bisa menyentuh wanita lain selain Hana. Haris tidak bisa! Haris bukan laki-laki brengsek yang hanya menikahi wanita lain hanya karena menginginkan anak sedang kan Haris sama sekali tidak menginginkan ibunya!!" Haris Menggeleng-gelengkan kepalanya. Mendengar perkataan Haris, Bu Fatma mendongakkan kepalanya. Betapa sifat sang putra begitu mirip dengan mendiang ayahnya.
"Ummi paham perasaanmu nak... Ummi berharap Hana bisa segera hamil agar permasalahan ini selesai. Agar semua berjalan sesuai yang kita semua harapkan"
***
Haris membuka pintu kamar. Ia melihat Hana tengah memperbaiki kerudungnya. Tanpa basa basi lelaki yang berusia 27 tahun ini langsung menghabur memeluk istrinya. Sekilas Hana bisa melihat mata Haris yang mengembun.
"Mas, mas kenapa? " Hana ingin melihat wajah Haris lebih jelas, ia mencoba melepaskan pelukan sang suami. Namun Haris malah semakin mempererat pelukannya.
"Aku tidak kenapa-napa" Haris mengusap matanya yang sedikit basah baru kemudian melepas pelukannya.
"Mas lagi tidak enak badan ya? Tubuh mas hangat, apa kita batalkan saja nonton di bioskop nya? " Tanya Hana cemas.
"Ga kok... Kita tetap nonton. Aku memeluk hanya karena merindukanmu" Ucap Haris tersenyum, ia membantu Hana memasukkan anak rambut yang sedikit keluar untuk kembali ke dalam ciput.
"Lalu kenapa mata mas berair? Mas lagi sedih ya??" Hana mengkerut kan keningnya.
"Hmh Karena angin, baru saja ada Angin yang berhembus kencang. Tadi aku sempat keluar halaman" Sahut Haris cepat. Hana terdiam.
"Sebentar ya, aku ganti baju dulu. Kamu tunggu saja di luar. Ga lama. Lima menit saja" Ucap Haris lagi, Hana menganggukkan kepalanya. Ia melangkah setelah sebelumnya sempat membalikkan wajah untuk melihat suaminya sebelum benar-benar keluar kamar. Ini semua menurut nya agak aneh, sebab suaminya itu tidak pernah menyuruhnya untuk keluar kamar jika ingin mengganti pakaian.
Haris mengambil gawainya menelepon seseorang...
***
Teman-teman, terima kasih untuk yang sudah Like Komen memberikan Vote ataupun memberikan hadiahnya. Jazakumullah Khair, semoga Allah memudahkan urusan kita semua ❤.
__ADS_1
***