
There can be miracles
When you believe
Though hope is frail, it's hard to kill
Who knows what miracles you can achieve?
When you believe, somehow you will
You will when you believe In this time of fear
When prayer so often proves in vain
Hope seems like the summer bird
Too swiftly flown away
Yet now I'm standing here
My hearts so full, I can't explain
Seeking faith and speakin' words
I never thought I'd say
***
Ridwan menapakkan kakinya di halaman rumah sakit bertepatan dengan tibanya Yura dan Lisa di sana.
“Mas...!” Panggil Yura melambaikan tangan. Ridwan melesat menghampiri dua gadis yang berdiri tak jauh dari nya.
Walau raut wajah Ridwan dan Yura menampilkan kekhawatiran karena situasi yang lagi panik, namun ada perasaan ketidaksukaan di hati Lisa ketika melihat abang kelas dan sahabatnya itu bertemu bertatapan muka dengan Netra yang saling memupuk rindu.
Ada rasa ketidaksenangan di sana. Andai Gibran bersamanya sekarang. Andai Hana tidak jadi kesayangan di hati banyak orang, andai semua berjalan sebagaimana yang ia inginkan, maka perasaaan negatif tidak akan menyelimuti ruang di hatinya. Diam-diam Lisa mengepalkan tangan tanpa ada seorang pun yang melihat.
“Yura, Lisa? Kalian baru tiba juga? Yuk kita bergegas ke dalam!” Ajak Ridwan tanpa menghentikan Langkahnya. Yura dan Lisa mengikuti gerak Langkah Ridwan yang melesat masuk ke dalam rumah sakit. Mereka mencari letak kamar tempat Haris di rawat inap.
Bertiga mereka menyusuri Lorong-lorong di sana, meneliti satu persatu ruang kamar seperti yang telah di informasikan oleh Hana di handphone tadi. Dari jarak 30 meter, mereka melihat seorang pemuda yang tampak tak asing keluar dari salah satu kamar di sana. Pemuda itu melambaikan tangan.
“Kamu di sini? Siapa yang sakit?” Tanya Ridwan mengkerutkan keningnya setelah mereka berpas-pasan.
“Arini, dia koma” Romi tampak tak bersemangat. Ridwan dan Yura saling bertatapan. Lisa no comment, ia tidak terkejut lagi mendengar hal ini.
“Sekarang kita ke tempat Haris di rawat!” Ajak Romi kemudian ketika melihat keheningan yang tercipta akibat kalimat yang ia lontarkan. Ada kecanggungan di antara mereka. Untuk sejenak pikiran Ridwan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Romi bisa menunggui Arini? Hal ini di luar ekspektasinya.
Berempat mereka hampir tiba di depan pintu ruang rawat inap, sayup-sayup mereka mendengar percakapan kilat antara Hana dan orang-orang yang memenuhi ruangan.
"Dokter... dokter mengatakan bahwa mas Haris butuh pendonor darah hari ini juga, kalau tidak... " Ucap Hana terdengar terbata.
"Kalau tidak akan berakibat fatal" Lirih Hana lagi.
Yura menggigit bibir bawahnya mendengar perkataan sendu sang sahabat dari dalam sana. Ridwan terhenyak. Mereka mempercepat gerakan lalu membuka pintu.
"Aku bisa mendonorkan darah ku! Golongan darah ku sama dengan golongan darah mas Haris! " Ucap Lisa tiba-tiba ketika mereka memasuki ruangan.
"Golongan darah saya A plus" Seketika perkataan Lisa membuatnya sukses menjadi pusat perhatian semua orang di sana.
“Masya Allah, benar golongan darah kamu A plus nak?” Lisa mengangguk. Hajjah Aisyah berbinar-binar, beliau mendekati Lisa dan merangkulnya.
“Alhamdulillah ya Allah…, Hana! Panggilkan dokter nak! Allah telah mengirimkan penyelamat!” Titah Hajjah Aisyah. Dengan bersemangat Hana memanggil dokter dan tersenyum penuh arti ke arah Lisa.
Ada harapan di sana. Ada kebahagiaan yang sulit untuk di jelaskan. Hana setengah berlari menuju ruang perawat, ia menyempatkan diri melihat ke arah langit-langit dan menyunggingkan senyum yang manis sekali ke atas sana.
Mas Haris, bertahanlah! Lisa akan mendonorkan darah nya untukmu! Lirih Hana menyeka air mata nya yang berhasil mengalir setetes.
***
“Kamu anaknya bu Inggrid ya? Wajahmu mirip sekali dengan bu Inggrid!” Tanya bu Hajjah mengelus Pundak Lisa.
“Iya benar Mi, hmh maaf… boleh saya panggil bu Nyai dengan sebutan Ummi?” Tanya Lisa sopan dan tampak malu-malu. Ia baru saja selesai melakukan pemeriksaan.
“Masya Allah, tentu boleh Nak. Ummi juga mengenal ibumu dengan baik. Beliau rekan bisnis Abah, bu Inggrid adalah costumer yang royal” Hajjah Aisyah memuji-muji ibunya Lisa yang memang seorang pengusaha.
__ADS_1
Sayangnya hubungan Lisa dan sang ibu tidak terlalu baik. Mereka sering terlibat percekcokan mengenai harta warisan. Lisa hanya tersenyum menanggapi pujian bu hajjah.
Bu Fatma sedang menunggui Haris yang masih belum juga siuman, perlahan ibu paruh baya ini mengusap lembut ubun ubun kepala anak nya dengan penuh cinta.
Mereka tengah menunggu putusan dokter apakah Lisa layak untuk jadi pendonor untuk Haris atau tidak.
“Nak, Tahukah kamu? Semalam itu…. Ummi memimpikan Ayahmu. Beliau masih tampak gagah seperti dulu, persis seperti pertama kali kami bertemu” Lirih bu Fatma dengan suara yang begitu sendu terdengar.
“Di dalam mimpi, Ummi merasa seperti kembali ke masa silam. Kita bertiga menaiki perahu yang terletak di danau di dekat villa. Senyum Ayahmu di hadapan kita terasa seperti suatu keabadian yang tak pernah memudar. Ayahmu berkata, perahu usang ini seperti melayarkan angan-angan beliau. Walau bersusah payah dan penuh rintangan dalam mengayuhnya namun insya Allah akan tetap sampai ke tujuan” Bu Fatma menggenggam tangan Haris, beliau tersenyum sambil menitikkan air matanya.
“Ayah dan Ummi saling mengayuh, sedang Kamu asik melihat ikan ikan yang berenang mendekati perahu. Tiba-tiba karena rasa penasaran kamu melompat mengikuti ikan berwarna warni itu..." Bu Fatma menjeda kalimat nya.
"Ummi dan Ayah panik, berdua kami ikut serta melompat ke sana menyelamatkan mu… Ayah dan Ummi saling berpegangan tangan menumpu agar kamu bisa kembali naik ke perahu...” Ummi menarik nafas panjang dan kembali menjeda kalimat nya.
Air mata beliau mengalir berlinang-linang. Bu Fatma tidak sanggup meneruskan cerita mimpinya. Tenggorokannya tercekat. Beliau merindukan suaminya, merindukan Haris, merindukan kebersamaan mereka.
Kesendiriannya selama ini menjadikan beliau selalu berangan-angan untuk bisa mengikuti jejak suaminya ke alam keabadian. Jika sudah berangan-angan demikian, bu Fatma kembali beristighfar dan mengingat banyak hal yang harus selalu beliau syukuri dalam hidup, seketika beliau teringat pada anak semata wayangnya.
Jika sudah mengingat Haris, di situlah kekuatan dan kepercayaan diri bu Fatma muncul kembali. Betapa Haris merupakan sumber penyemangatnya. Apalagi melihat anaknya yang bahagia bersama Hana. Rasanya bu Fatma tidak ingin memimpikan apa-apa lagi.
“Permisi…” Rombongan tim dokter yang memasuki ruangan menyebabkan semua orang di sana Spontan menghentikan kegiatan mereka dan memfokuskan penglihatan pada hasil pemeriksaan yang kini berada di tangan dokter.
“Bagaimana hasilnya dok? Apa nak Lisa layak untuk mendonorkan darahnya?” Tanya bu Hajjah harap-harap cemas.
“Sayang sekali, nona Lisa memiliki riwayat anemia. Saat ini tensi darahnya juga hanya 90/70 dengan Berat badan 44.5 kg, sedangkan seharusnya berat badan ideal bagi seorang pendonor itu 45 kg...
"Sebenarnya di berat badan kami masih melihat peluang kelayakan untuk mendonorkan darah, hanya saja melihat catatan-catatan lainnya, maka akan sangat beresiko jika kita memaksakan nona Lisa untuk mendonorkan darah” Ucap dokter dengan sangat menyesal.
“Saya akan menanggung semua resiko itu dok! Biarkan saya mendonorkan darah untuk mas Haris. Saya ingin suami sahabat saya siuman, saya percaya saya mampu!” Ucap Lisa cepat tanpa banyak berpikir dan penuh keyakinan.
“Tidak nak! Jangan korbankan dirimu sayang!” Hajjah Aisyah terenyuh mendengar perkataan Lisa. Hana yang menggelengkan kepalanya juga mengisyaratkan kepada Lisa untuk tidak mengorbankan dirinya.
Seketika waktu terasa seakan terhenti. Hana berjalan mendekati Haris dan melihat wajah suaminya yang semakin memucat di sana.
“Mas…” Lirih Hana yang menangis tanpa bersuara, lalu dengan tergesa ia berjalan keluar tanpa mempedulikan sekeliling.
Hana yakin akan mendapatkan sang pendonor. Meskipun tergolong langka, bukan tidak mungkin ia akan bisa menemukan seseorang yang memiliki golongan darah yang sama dan bersedia mendonorkan.
"Kamu mau kemana?? " Tanya Ridwan menghentikan langkah kaki Hana.
"Aku harus mencari pendonor darah untuk mas Haris, mas! " Sahut Hana yang terus berjalan.
"Tapi kemana kamu akan mencarinya?? " Tanya Ridwan cemas.
"Aku akan berkeliling menanyakan pada orang-orang yang ada di sini! " Ucap Hana dengan sorot mata penuh harapan.
"Aku sudah mem broadcast pesan ke semua sosial media yang ku miliki, kita bisa menunggu nya Hana, aku yakin kita akan segera menemukan pendonornya! " Ucap Ridwan.
"Mau sampai kapan kita menunggu mas??! Mau sampai kapan??! Mas Haris tidak memiliki banyak waktu!! " Sahut Hana tajam, dengan tersenyum masam Hana melanjutkan langkah nya dan menghampiri orang-orang yang ada di sana. Saat ini ia begitu emosional. Ridwan tercengang. Hari ini Ia melihat sisi lain dari istri sahabat nya itu, wanita penuh kelembutan ini ternyata begitu berani dan tangguh.
Ridwan memanggil Yura untuk ikut membantu mengikuti jejak Hana, mereka berharap segera menemukan orang baik yang bisa membantu mendonorkan.
Setengah jam mereka berkeliling, hasil nya masih nihil. Bukan tidak ada yang bisa mendonorkan, Ada yang bersedia namun sayang nya memiliki riwayat penyakit berat. Ada juga yang bergolongan darah A plus namun tidak bersedia mendonorkan.
Ridwan melirik ke arah jarum jam di tangan nya. Ia melihat dua gadis yang masih sibuk dengan aktifitas mereka. Kalau seperti ini Hana dan Yura bisa kelelahan. Kemana Romi? sejak bermenit menit lalu ia tidak lagi melihat keberadaan Romi di sisi mereka.
"Yura, ajaklah Hana beristirahat, biar aku saja yang melanjutkan mencari pendonor!" Ucap Ridwan.
"Aku sudah menghubungi PMI, mereka juga lagi mencari pendonor, walau saat ini analitik yang membutuhkan golongan darah A plus sangat tinggi, namun bukan berarti kita tidak punya harapan! " Lanjut Ridwan lagi. Yura mengangguk. Ia menghampiri Hana.
"Hoooeeeekkkkk hoooeeeekkkkk" Hana merasa mual. Ia hampir muntah. Perutnya terasa di aduk aduk.
"Hana, kamu kenapa?? " Panik Yura, Hana menbekap mulutnya yang terasa mual.
"Aku tidak apa apa, hanya merasa sedikit mual" ucap Hana.
"Duduklah, kamu harus istirahat dulu! " Ucap Yura menggiring Hana ke kursi panjang di dekat mereka.
"Tidak bisa Yura, aku harus segera menemukan pendonor! " tolak Hana.
"Aku paham bagaimana perasaanmu, tapi kalau kamu ambruk, bagaimana dengan mas Haris?! " Yura menantang Hana.
Hana menggelengkan Kepala nya,
__ADS_1
"Aku harus segera menemukan pendonor, Ra. Aku harus segera menemukan nya! Hiks hiks hiks" Hana menangis dalam dekapan Yura.
"Kita akan menemukan nya, kamu harus percaya dan yakin mas Haris akan baik-baik saja! Bukan kah dalam hadis Qudsi di sebutkan bahwa ketetapan Allah SWT tergantung dari perasaan hamba-Nya?" Ucap Yura kembali menyakinkan.
"Yakinlah kepada Allah" Lirih Yura lembut, ia merenggangkan dekapan nya dan melihat ke dalam manik mata Hana. Netra dua sahabat ini bertemu. Hana melihat bermilyar ketulusan di sana.
"Istirahat lah sebentar saja, tidak perlu lama. Tubuh mu juga membutuhkan haknya! " Yura mengusap air mata Hana menggunakan jari jemarinya. Hana tergugu.
"Hooooeekkk, hoooeekkkk" Hana kembali merasa mual.
"Kita harus ke dokter! " Ajak Yura. Ia merasa ada yang tidak beres pada kesehatan Hana, Yura jadi cemas.
"Aku hanya mual, aku akan baik-baik saja" Ucap Hana meyakinkan.
"Kamu pasti belum makan kan? " todong Yura lagi.
"Aku sudah makan roti! " Jawab Hana cepat.
"Aku akan menyuruh mas Ridwan membelikan makanan untukmu! " Yura hendak beranjak memanggil Ridwan namun Hana mencegat lengan nya.
"Pendonor untuk mas Haris lebih kita butuhkan saat ini dari pada kondisi masuk angin ku! Ini sangat sepele Ra" Yura kembali duduk di samping sahabatnya yang terlihat sedikit pucat.
"Aku ikut merasakan rasa sakitmu, aku merasakan rasa sedihmu. Bertahan lah... Allah akan menaikkan derajat mu Hana! Kamu wanita hebat dan akan mampu melewati semua kesulitan ini" Yura ikut menitikkan air mata.
***
"Wan, bu Indah ibu nya Arini bersedia mendonorkan darahnya. Gimana?? " Romi dari seberang menelpon menghubungi Ridwan.
"Ha? bu Indah? Lu yakin??"
"Iya"
"Yudah, sikat! Bawa ke sini! " Ridwan menyunggingkan senyumnya.
"Okay! "
"Eh Tapi.... Tunggu!! " Seru Ridwan.
"Apalagi?? "
"Apa ga sebaiknya gue nanya ke Hana dulu?? "
"Kita ga punya waktu! " Sergah Romi.
Ridwan jadi ragu, ia berpikir sejenak. Ridwan takut hal ini kelak akan menjadi kan alasan bu Indah untuk menikahkan Arini dan Haris.
"Jangan khawatir, bu Indah ga akan nyuruh Haris nikahin Arini! Karena gua yang akan nikahin Arini kalau nanti Arini siuman! " Ucap Romi dari Seberang, ia seolah bisa membaca apa yang membuat Ridwan ragu.
"Whaaatttttt? Lu seriuss???? Ga bercanda?! " Ridwan beneran shocked.
"Iya! 1000 persen serius!!! "
"Kalau Arini ga mau gimana?? " Cemas Ridwan lagi.
"Lu yang gue suruh nikahin Arini! " Jawab Romi asal.
"Sialan lu, yaudah! Lu bawa bu Indah ke sini! Segeraaaa!! " Ucap Ridwan melirik ke jam tangan nya. Ia berlari menghampiri Hana yang duduk bersama Yura di bangku pojokan.
"Hanaaa, Hanaaa!! " Panggil Ridwan. Yura dan Hana spontan menoleh.
"Kenapa mas? " Tanya Yura heran melihat kehebohan Ridwan.
"Kita menemukan pendonor untuk Haris!!!"
"Alhamdulillah kita menemukan pendonor untuk Haris" ulang Ridwan.
Mendengar perkataan Ridwan, Spontan Hana berdiri. Ia kembali melihat harapan melalui bola mata dari sahabat suami nya itu.
***
Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
***
__ADS_1