
Pada musim panas, cuaca di Maroko begitu membara. Gibran melirik handphone nya untuk melihat berapa suhu kota Rabat di siang hari ini. Ternyata 40 derajat celcius.
Pantas saja Gibran merasa seperti matahari tepat berada di atas ubun-ubun kepalanya. Begitu menyengat. Namun sebenarnya 40 derajat celcius masih sangat lumayan. Konon di puncak musim panas suhunya bahkan bisa mencapai 50 derajat celcius.
Wow! Gibran tidak tinggal diam. Ia pun segera mempercepat langkahnya menuju apartment. Bersantai dengan menghidupkan AC dan menyeruput segelas jus mangga dingin sambil mendengar murattal milik Syaikh Misyari Rasyid atau Sa’ad Al Ghamidi adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
Namun sayangnya itu hanya angan-angannya belaka. Gibran tidak dapat santai berleha-leha sebab ia harus berkemas memasukkan barang yang diperlukan ke koper. Esok siang ia harus segera menuju bandara untuk penerbangannya menuju Indonesia.
Lelah. Namun mengingat ia akan bertemu dengan keluarga juga pujaan hati bahkan melamarnya menjadikan semangatnya naik menjadi berkali lipat. Rasa penat, Lelah dan letih menguap begitu saja. Alhamdulillah ‘alaa Kulli Haal.
"Besok kamu jadi kembali ke negara mu? " Tanya Emmanuel teman satu dorm Gibran yang berasal dari Afrika.
"Insha Allah jadi, mohon doa nya ya! "
"Tuhanmu memberkati mu" Emmanuel yang beragama non muslim itu turut mendoakan Gibran.
***
Di sebuah pojokan mesjid, tampak Haris tengah sendirian merenung. Ia sama sekali belum pulang kerumahnya. Ia merasa kebingungan sekarang. Ia hanya bisa berada di mesjid untuk menenangkan diri dari kerisauan yang melanda hatinya. Sejak tadi bertemu Arini hingga saat ini, ia masih merasa uring-uringan.
Bagaimana tidak, kondisi Arini benar-benar memprihatinkan. Gadis itu depresi karenanya. Ia tampak lemah dengan airmata yang terus mengalir. Bengkak. Juga kelopak mata yang terlihat menghitam. Tak terlihat sama sekali aura keceriaan seperti biasanya terpancar.
Ia terlihat kuat dan tegar, namun sebenarnya jiwa gadis itu sangat rapuh. Ia bisa mengingat bagaimana tadi pada mulanya Arini menolak bertemu dengannya. Bagaimana pada akhirnya ibu dari gadis itu mempertemukan mereka, lalu ia menangkap sorot mata yang berbinar-binar seketika namun kemudian kembali meredup. Ia juga masih ingat bagaimana tatapan sendu Arini. Haris merasa sakit setiap kali ditatap demikian.
Haris menjadi tidak tega. Yang membuat Haris semakin dilanda kegelisahan adalah Ibu Arini menyarankan Haris untuk menikahi Anaknya. Pernah Arini tertawa sendiri melihat foto Haris, namun sebentar kemudian ia menangis tersedu-sedu.
Ia juga kehilangan nafsu makan hingga berat tubuhnya terus menyusut dalam waktu relatif singkat. Terkadang Arini juga bisa berteriak sampai kehabisan tenaga. Demikian cerita ibunya. Ibu mana yang tega melihat kondisi buah hatinya demikian Walau pada akhirnya, sang anak akan dimadu, namun tetap saja itu akan jauh lebih baik daripada melihat anaknya menderita.
Sungguh cinta telah membutakan mata hati manusia.
Haris sendiri tak mampu menjawab. Ia hanya terdiam membisu. Ia tidak dapat berbuat apa-apa. Namun pada akhirnya ia berjanji pada ibunya Arini untuk memikirkan hal ini dengan matang.
__ADS_1
***
Pukul 21.00 malam. Haris pulang dengan wajah kusut. Sesampainya di depan pintu gerbang, Haris baru ingat bahwa dari tadi ia sama sekali tidak mengabari Hana bahwa akan pulang telat. Ia merasa berat untuk melangkah ke rumah. Hhhhhhh.
Haris hanya bisa menghela nafas panjang. Ia merasa malu pada Hana. Namun ia sendiri tidak dapat membagi pikirannya untuk dua hal dalam waktu bersamaan. Tadi kondisinya terlalu tidak tepat.
Entahlah. Apa ini dapat menjadi alasan untuk membenarkan tindakan ingkar janjinya pada Hana atau tidak. Apapun itu Haris harus segera meminta maaf.
Rumah tampak sepi. Namun ia melihat lampu kamar Hana masih menyala. Sepertinya gadis itu belum tidur. Haris pun mengambil handuk bersiap untuk mandi dan berganti pakaian sebelum ia menemuinya.
“Hana, Hana. Assalamu’alaikum" Haris meminta izin masuk ke dalam.
Tidak ada jawaban.
“Hana…” Haris mengulang panggilannya, namun tetap tidak ada jawaban. Haris ingin masuk saja ke dalam namun bagaimana jika Hana tidak sedang dalam kondisi siap untuk ditemui. Beberapa saat Haris terpaku. Ah, bukankah ia adalah suami sah nya. Kenapa harus punya pikiran begini. Belum sempat ia membuka pintu, Hana sudah membukanya terlebih dahulu.
“Mas? Mas sudah pulang?” Hana terkejut melihat Haris di depan pintu kamarnya. Ia pun segera membuka headset yang masih menempel ditelinganya.
“Maaf ya. Mas baru pulang jam segini” Haris mengajak Hana mengikutinya untuk berbicara di ruang tengah.
“Kenapa mas tidak mengabariku?”
“Maaf. Aku benar-benar lupa. Aku tidak sengaja. Tapi disamping itu handphoneku juga lowbate. Jadi, walaupun aku ingat, aku tetap tidak bisa mengabarimu” Haris mencoba untuk berkata jujur.
“Kalau begitu baiklah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku hanya cemas mas pulang selarut ini.” Hana mengatakan dengan wajah datar tanpa ekspresi.
“Mas benar-benar minta maaf, kondisi tadi memang tidak terkendali”
“Bagaimana dengan demammu? Sudah turunkah? Haris mencoba memegang kening Hana. Namun tidak seperti biasa , Hana langsung menghindari sentuhan tangan Haris.
“Alhamdulillah sudah lebih baik. Mas tidak perlu khawatir” Hana mencoba untuk tersenyum.
__ADS_1
“Kamu sudah makan?”
“Alhamdulillah, tadi aku gojek-kan makanan”
“Hmh, perut mu bagaimana? Masih sakit?”
Hana menggeleng.
“Baiklah. Istirahatlah kalau begitu. Jangan sampai kelelahan”
Hana kembali diam. Ia tidak tau harus berkata apa. Sulit rasanya menerima Haris tidak mengabarkan apapun walau pada kenyataannya Handphone Haris lowbate dan tadi Haris benar-benar dalam keadaan mendesak.
Hmh… keadaaan mendesak? Hana seperti ingin bertanya keadaan mendesak seperti apa yang menimpa Haris tadi, namun ia urung melakukan itu sebab sepertinya Haris enggan untuk menceritakan. Hana pun kembali melangkah menuju kamar. Namun Haris kembali memanggilnya,
“Hana, Mas benar-benar minta maaf, sungguh. Semoga kamu mau memaafkan. Untuk kedepan mas akan berusaha untuk memberikan kamu kabar jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi”
Hana tersenyum mengangguk dan berlalu.
Ah, betapa pemaaf hati gadis itu. Haris tau ia sangat kesal namun ia tetap santun dan sesuai porsinya dalam berbicara. Ada raut ketidaksukaan diwajah istrinya, namun gadis belia itu dengan sekuat tenaga menunjukkan kalau ia sedang baik-baik saja.
***
Di kediaman Arini
“Mi, Arini tidak mau dinikahi mas Haris. Arini tidak mau menjadi istri kedua!” Arini memprotes usul ibunya untuk di peristri oleh Haris.
“Nak, Ummi tau kamu sangat mencintai Haris, Ummi sakit melihat kamu seperti ini. Sakit nak!”
Arini menangis histeris. Betapa ia ingin menjadi istri Haris, namun ketika mereka bertemu di café A, Haris telah menolaknya mentah-mentah. Ia sesugukan.
“Arini tidak ingin menyakiti Hati Hana, Mi” Arini berkata lirih.
__ADS_1
“Kamu yang lebih dahulu mengenal Haris nak. Kamu yang seharusnya dinikahi Haris, bukan Hana. Camkan itu! Kamu jangan serapuh dan selemah ini. Anak Umi adalah anak yang tegar dan pintar. Jangan pernah kalah dengan keadaan!” Ibu nya kembali meyakinkan Arini.
***