
Maroko. Pukul 11.00 siang, Gibran sedang berada di pusat perbelanjaaan, ia tengah menyiapkan oleh-oleh yang akan ia bawa pulang untuk kerabat dan teman-temannya di Indonesia. Tak lupa, ia juga membelikan hadiah special untuk Hana.
Satu set gamis lengkap dengan kerudung dan kaos kaki khas maroko, masih ada lagi mukena sutra dan sajadah yang sudah dibelinya. Ia agak terburu-buru, satu minggu lagi insya Allah ia telah berada Indonesia. Sekarang waktunya ia mengurus segala keperluan administrasi liburan singkatnya. Ia berencana siang nanti usai shalat zuhur akan menelpon Hana.
Perbedaan waktu antara Indonesia dan Maroko adalah 7 jam. Berarti kira-kira waktu di Indonesia nanti sudah pukul 21.00 malam. Waktu yang lumayan tepat untuk menelpon, pikirnya. Memasuki siang hari, panas terasa sangat menyengat. Pancaran sinar matahari menyebabkan aspal seperti memuntahkan uap panasnya. Ubun-ubun kepala seperti mendidih saja rasanya.
Gibran merogoh uang di saku celana untuk membeli sebotol air dingin mineral. Alhamdulillah, walau panas menyengat, setidaknya masih ada air mineral yang dapat dimimum.
Maka, nikmat Tuhan-Mu manakah yang kamu dustakan?
Setelahnya, Gibran bersiap-siap pulang ke dorm nya untuk menyiapkan segala keperluan.
***
Café.
Haris tampak asik mengobrol bersama Ridwan, begitu pula dengan Hana, ia dan Yura mengobrol tiada henti seperti seolah-olah pembicaraan ini tidak akan pernah berakhir.
“Hari minggu nanti mas Gibran tiba di Indonesia, Han” Akhirnya Yura membuka pembicaraan mengenai Gibran sambil berbisik-bisik.
“Iya, aku sudah mengetahuinya Ra, mas Gibran mengirimkan email kepadaku” Hana berkata sendu.
“Jujur aku belum mengatakan kepada mas Gibran tentang pernikahanmu. Aku bingung bagaimana cara merangkai kata agar mas Gibran mau mengerti dan bisa menerima.” Yura merasa bersalah.
“Tidak. Biar aku saja yang mengatakannya Ra. Ini salahku, harus aku yang menyelesaikan” Hana hanya bisa menunduk.
“Hana, Kamu tidak salah. Allah lah yang menentukan segalanya” Yura menyakinkan Hana. Ia sangat mengerti bagaimana posisinya dan bagaimana terlukanya ia.
Haris sesekali melirik ke arah istrinya, ia penasaran mengapa mereka selalu berbicara dengan berbisik. Samar-samar ia juga menangkap nama laki-laki asing disebut.
Tanpa terasa sepuluh menit sudah mereka mengobrol, sampai tiba-tiba seseorang di arah belakang menyapa,
“Mas Haris???” Haris dan yang lainpun serentak menoleh padanya.
“Misna?”
“Iya mas, aku Misna temannya Arini. Wah lama kita tidak bertemu. Arini apa kabar mas?”
“Alhamdulillah Arini baik, yuk gabung ngobrol bersama! ” Ajak Haris ramah.
“Terima kasih mas, kebetulan aku lagi agak buru-buru. Mungkin lain kali saja. Oiya, bagaimana dengan kabar pernikahan mas dan Arini? Jangan lupa nanti ngundang aku ya, aku tunggu lho undangannya.” Misna berbicara dengan excited.
Mendengar nama Arini disebut, Air muka Haris berubah.
“Kalau begitu aku permisi mas-mas, mbak” Pamit Misna.
Pertemuan tidak sengaja Haris dan Misna di depan Hana dan Yura menimbulkan satu fakta baru bagi mereka, bahwa Haris sebenarnya sudah memiliki seseorang yang ingin dinikahinya sebelum menikahi Hana.
***
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan menuju rumah, Haris dan Hana memilih diam. Mereka sibuk berkutat dengan pikiran mereka masing-masing sampai Adzan maghrib berkumandang lalu mereka memutuskan untuk singgah shalat di masjid terdekat.
“Selesai shalat aku menunggu kamu di sini” Ucap Haris.
“Baik mas” Hana pun bergegas menuju ke tempat wudhu.
Hana berjalan sedikit tergesa tanpa menghiraukan sekelilingnya. Tiba-tiba…
Gubrak. Hana terjatuh. Lutut dan tangannya menghantam batu. Darah segar mengalir dari telapak tangan nya. Lutut pun terasa sakit. Gamis putih yang dikenakan tampak sobek dan kotor, beruntung Hana mengenakan celana legging di sebalik gamisnya, sehingga lututnya menjadi tak terlihat.
Haris menghampiri Hana. Ia mencoba memapah gadis itu masuk ke dalam mobil. Hana meringis dan berjalan tertatih. Haris tidak tega melihatnya. Dengan sigap Haris menggendong Hana ala bridal style.
“Mas, turunkan, aku ga kenapa-kenapa” Hana sedikit meronta.
“Tahanlah sebentar, kita pulang. Shalatnya di rumah saja. Aku akan mengobati lukamu” Ucap Haris.
Haris mendudukkan Hana di kursi depan. Lalu ia pun melajukan mobilnya. Hana tak berhenti menatap Haris.
“Mas, Terima Kasih” Kata Hana kemudian.
“Laa Syukra ‘alaa Waajib (Tidak aja terima kasih untuk sebuah kewajiban).” Sahut Haris.
“Bagaimanapun aku harus mengucapkan terima kasih karena mas sudah menolongku. Jujur aku malu,
bisa-bisanya aku jatuh. Super ceroboh”
Haris hanya tersenyum mendengar ocehan Hana.
***
Melihat Hana mengerang, spontan Haris langsung menyibak sarung yang Hana kenakan. Ia ingin mengobati lutut Hana yang terluka.
“E.. eh, mas mau apa?” Hana mencegah tangan Haris yang hampir mendarat sempurna di sarung shalatnya.
“Ya mau mengobati luka mu lah, mau apa lagi?” jawab Haris santai.
“Bi.. biar aku obati sendiri saja mas” tiba-tiba Hana merasa sangat gugup.
“Kamu yakin bisa?”
“Tentu saja” Hana menjawab cepat.
“Baiklah” Harispun menyerahkan kotak P3K kepada Hana dan hendak berjalan keluar.
“Mas….” Panggil Hana lagi.
“Iya, apa ada lagi yang bisa aku bantu?” Haris kembali menoleh.
“Terima Kasih” Hana mengucapkan dengan tulus.
__ADS_1
Haris menjawab dengan senyuman manisnya.
Tiba-tiba telpon Hana berdering. Hana melihat layar ponselnya. Nomor luar negeri. Kode negara Maroko. Sepertinya Gibran yang menelponnya. Hana menjadi tegang. Keringat dingin keluar dari pelipisnya. Ia tidak segera mengangkat telpon lantas terdiam sejenak.
“Kenapa tidak diangkat?” Haris heran melihat Hana yang hanya diam.
“I… iya” Hana kembali menatap Haris. Haris pun paham dan ia segera keluar dari kamar Hana.
Tidak bisa dipungkiri, Haris merasa penasaran, siapa malam-malam begini menelpon gadis itu. Ia ingin menguping pembicaraan mereka namun tidak jadi. Sangat tidak sopan rasanya menguping pembicaraan orang lain.
***
“Assalamu’alaikum Hana” Gibran menyapa di seberang sana.
“Wa’alaikumsalam mas”
“Kamu apa kabar? Sehat?”
“Alhamdulillah aku sehat”
“Aku senang mendengarnya. O iya, aku baru saja membeli HP baru. Maka aku langsung ingin menghubungimu”
“Alhamdulillah, bagaimana ujiannya mas? Aku baca email, tempo hari mas mengabarkan bahwa nilai ujiannya sangat baik. Selamat ya. Aku turut bahagia” Hana berkata lirih.
“Terima kasih Hana. Dukungan dari mu membuatku semakin semangat”
Hana merasa bersalah dan tidak enak. Di satu sisi, Ia merasa tidak enak berbicara dengan laki-laki lain dibelakang suaminya. Di sisi lain, sejujurnya ia merindukan Gibran. Airmatanya pun kembali mengalir. Ia belum kuat mengabarkan kepada Gibran bahwa ia telah menikah. Namun dalam hati ia berjanji akan mengatakan tentang
ini semua setibanya Gibran dari Maroko nanti.
“Di sana pasti sudah agak larut malam. Di sini masih menjelang sore. Kamu istirahat
ya. Jangan bergadang. Jaga Kesehatan.” Nasihat Gibran.
“Iya, insya Allah. Terima kasih banyak mas, Jazakallah Khairal Jaza’.”
“Kalau begitu pembicaraan kita sampai di sini dulu. Nanti sampai di Indonesia kita lanjutkan lebih panjang lagi. Apalagi setelah menikah nanti, Kita akan mengobrol hingga pagi. Aamin Allahumma Aamiiin. Gibran pun mengakhiri percakapan mereka.
Hana yang mendengarkan perkataan Gibran kembali menangis. Tak hanya menangis biasa. Ia mulai tersedu-sedu.
***
.
.
Hi Readers. Makasih atas dukungan nya. Terus dukung Author biar makin semangat nulisnya. Hehe. Jangan lupa Kritik dan saran membangunnya.
Salam dari alana alisha
__ADS_1
Ig: @alana.alisha