Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 20: Makan Malam Absurd


__ADS_3

Malam ini Hana tampak sangat cantik dalam balutan gamis berwarna lavender. Warna soft yang ia kenakan seakan


menggambarkan dirinya yang tidak hanya memiliki keanggunan namun juga keindahan. Ia mempoles sedikit lip tint dan menambahkan lip serum ke atas bibirnya untuk memberikan kesan fresh namun tetap tidak berlebihan. Kerudung dengan warna senada namun sedikit lebih gelap ia sematkan dikepalanya, tak lupa ia memakai bros berbentuk bunga peony, bunga favorit nya. Ia kembali berkaca melihat pantulan tampilannya di cermin. Ia cukup puas melihat hasilnya. Terakhir, Ia mengambil manset dan juga kaos kaki lalu mengenakannya.


Di kamar berbeda, Haris terlihat tidak begitu bersemangat. Ia terduduk lesu. Ia masih memikirkan barang dan catatan atas nama Gibran yang berada di kamar Hana. Siapa laki-laki yang berani memberikan hadiah kepada istrinya tersebut? Bahkan dirinya saja selama menikah belum pernah memberikan Hana hadiah apapun. Kini, harga dirinya sebagai suami berbicara. Ia kesal namun juga tidak bisa berbuat apapun. Kesal? Bukan berarti ia sudah mencintai Hana, di sini konteksnya berbeda. Ia hanya tidak bisa menerima Hana yang notabene nya sebagai istri tidak menghargainya sebagai suami. Jika Hana mau, ia bisa memberikan Hana lebih dari itu. Begitulah batin Haris berperang.


Seketika lamunannnya buyar ketika Hana menelponnya,


“Mas, aku sudah selesai. Aku menunggu mas di teras”


“Baiklah. Tunggu sebentar” tiiit….


Huh, mas Haris bagaimana sih, kenapa harus aku yang perempuan yang menunggu? Hana mendumel sendiri. Kesal.


Dengan bergegas Haris mengganti pakaiannya. Tak lupa ia menyemprot parfum hingga menambah aroma kesegaran. Bukannya tidak ingat telah berjanji pada Hana untuk makan malam bersama diluar, hanya saja pikiran-pikiran yang mengacaukan suasana selalu saja datang di saat yang tidak tepat.


Haris keluar rumah dan hendak menyapa Hana. Namun, Langkah nya seketika terhenti. Di bawah temaram redupnya lampu ia dapat melihat betapa Hana begitu indah dalam balutan gamis dan kerudung yang dikenakan. Seolah berbeda dri biasanya, ia terpaku melihat keanggunan Hana. Padahal dandanan seperti ini sudah biasa Hana kenakan dan memang sebenarnya sangatlah sederhana, namun entah mengapa malam ini Haris merasa Hana berbeda.


“Mas, mengapa berdiri di situ? Ini sudah jam 7 lho” Hana menegur Haris yang mematung.


“Iya. Aku baru saja ingin menyapamu”


Mereka pun bergerak menaiki mobil dan mobil  mereka hilang dalam gelapnya malam.


Di dalam mobil, sesekali Haris melirik Hana yang menatap lurus ke depan. Gadis ini seolah tidak mempedulikan keberadaan dirinya. Ia tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Namun, jujur saja pesonanya masih belum memudar.


***


Hana memilih restoran Jepang untuk makan malam kali ini. Haris mengiyakan, sebab ia juga menyukai menu-menu


yang tersedia di restoran Jepang. Hana pun memesan beef steak saos enoki, sedangkan Haris memesan menu chicken Yakiniku, tak lupa mereka memesan salad dan juga ice cream sebagai penutup.

__ADS_1


“Bagaimana kemarin proses penjemputan kakak temanmu, sukses?” Haris membuka percakapan.


“Alhamdulillah sukses mas, kami tidak lama menunggu, mas Gibran langsung keluar dari ruang international arrivals”


“Oo” mendengar kata Gibran disebut, entah mengapa Haris merasa sangat tidak menyukainya.


“O iya, mas kenapa memesan ice cream yang sama dengan ku? Mas juga suka ice cream kacang merah ya?” Hana berbinar mengira bahwa mereka memiliki selera dessert  yang sama.


“Hmh, iya”Haris menjawab datar, padahal sebenarnya ia hanya mengikuti menu yang Hana pesan dan tidak terlalu


menyukai ice cream. Perasaan tak karuannya kembali hadir dan tidak bersahabat di saat-saat seperti ini. Ia benar-benar dalam mode badmood. Hana sedikit menyadari keanehan sikap Haris. namun ia memilih untuk tidak memusingkannya. Ia pun menyendok makanan dengan memasukkan ke mulutnya dengan penuh semangat. Ia merasa selera makannya naik berkali lipat. Mungkin karena jarang-jarang ia bisa makan malam diluar seperti ini ditambah ini merupakan menu kesukaannya.


“Kamu makan begitu bersemangat, sepertinya kamu sedang bahagia”


“Iya mas, terima kasih telah mengajakku makan malam ini. aku sangat menikmati menu makanannya. Ini enak. Mas mau coba?” Hana mendorong makanannya kearah Haris.


“Tidak, kamu saja yang makan. Ini makananku juga belum habis” jawab Haris masih dengan ekspresi datarnya.


“Benarkah kamu bahagia hanya karena menu makanannya? Tidak ada hal lain?” Haris bertanya menyelidik.


“Iya mas, aku benar-benar menyukai makanan ini. Mas tidak percaya?” Haris hanya diam.


Huh, kenapa sih dengan mas Haris, dari tadi sepulang kantor bawaannya jutek mulu. Mungkin ada masalah di kantor kali ya. Lebih baik aku juga menanyakan kabarnya hari ini. Batin Hana.


“O iya, bagaimana kerjaan kantor mas hari ini? Apa ada kendala?”


Haris menggeleng.


Huh, mas Haris kenapa sih, kalau begini sih ini namanya makan malam absurd, kenapa ajak aku makan malam di luar kalau memang dicuekkin begini. Hana masih heran dengan sikap suaminya.


Beberapa saat kemudian, Hana mulai menikmati ice cream kacang merahnya. Ah biarlah Haris dengan segala keanehan sikapnya malam ini. Hana tetap terus menkmati ice cream nya. Sayang sekali ice cream senikmat ini di sia-siakan.

__ADS_1


Haris terus saja memperhatikan Hana. Pandangan nya tidak berhenti menatap. Ia melihat betapa gadis ini begitu


enjoy menikmati makanannya. Tidak ada kecanggungan sedikit pun pada gerak geriknya. Sebenarnya Haris menyukai ini. Namun, ia sudah duluan berprasangka bahwa hari ini Hana terlalu bahagia karena telah bertemu dengan Gibran dan itu semua diekspresikan dengan cara ia menikmati makanannya. Huft.


Hana tidak menyadari caranya memakan ice cream sangatlah berantakan. Menggemaskan. Haris ingin tertawa namun tidak jadi. Ia memilih tersenyum samar dan mengambil tissue yang ada diatas meja makan mereka. Dengan sigap ia mengelap sisa sisa tumpahan ice cream yang berada dimulut Hana.


“Kamu makan nya berantakan banget sih?” Tanya Haris


“Yeee aku kan lagi makan, nanti selesai makan kan bisa aku bersihkan mas” jawab Hana sekenanya.


“Kenapa mas tidak menyentuh ice creamnya? Ntar cair lho” Hana menyadari ice cream Haris yang masih utuh diwadahnya.


“Aku sudah kenyang”


“Kalau begitu sini aku saja yang makan dari pada ada mubadzir”


“Jangan. Tidak baik makan ice cream terlalu banyak. Nanti kamu batuk. Demam lagi”


Hana manyun.


“Apa didepan Gibran kamu juga makan sesemangat dan seenjoy ini?” Entah dari mana pertanyaan jenis ini bisa lolos begitu saja dari mulut Haris.


“Ha? Maksud mas bagaimana?” Hana kembali bertanya bingung. Bisa-bisa nya Gibran di bawa dalam makan malam absurd mereka.


“Tidak. Lupakan saja” Haris kembali diam dan melanjutkan makannya namun hal ini justru menyisakan kebingungan dalam benak Hana.


Makam malam kali ini benar-benar diluar prediksi dan ekspektasi Haris. Ia berharap dengan mengajak Hana makan


bersama kegundahannya terhadap Arini permintaan ibunya menjadi berkurang. Namun yang ia dapat malah semakin gundah dan gelisah. Sepertinya ujian yang ia rasakan akan semakin berat kedepannya.


***

__ADS_1


Hai teman-teman, terima kasih sudah membaca karya Alana, jika kalian suka jangan lupa like, komen juga vote ya. kritik dan saran membangun sangat diharapkan juga komentar atas tulisan author. sekali lagi terima kasih. dukungan teman-teman semua sangat berarti.


Ig: @alana.alisha


__ADS_2