Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 84: Menyerahkan Diri


__ADS_3

Dalam temaram malam~


Entah siapa yang memulainya~


Kasih.. Aku melihat mu begitu nyata~


Hiks~


***


“Rin, Hanum sekarat! Dia dilarikan ke rumah sakit Bhayangkara” Begitulah Lisa mengabarkan Arini  melalui pesan wattsapp sejam yang lalu.


Di luar sana hujan semakin menggelegar, kilat dan Guntur bersahut sambut. Arini tetap melajukan mobilnya menuju kantor polisi. Ia mengeraskan hatinya untuk tidak menangis. Hatinya sudah terlalu Lelah. Ia pun mengambil gawainya untuk menghubungi Lisa, tangannya gemetar. Ia mencoba membuka layar handphone namun tangannya semakin gemetar.


Brak. Geletuk. Telepon genggam tersebut jatuh tepat ke atas kakinya. Aww. Sial. Arini mengaduh. Ia membanting stir menepikan mobil ke pinggir jalan, lalu gawai tersebut kembali ke genggamannya. Ia mencari nama kontak Lisa, ketemu. Arini pun melakukan panggilan,


“Lisa, kamu dimana? Kamu ga ke kantor polisi?”


“Ke Kantor polisi? Untuk apa?” Sahut Lisa acuh tak acuh.


“Bukannya Hanum lagi sakit??”


“Iya. Dia lagi sekarat” Lisa menjawab santai.


“Lalu???”


“Lalu apa?”


“Kamu hanya berdiam diri dan tidak berniat menjenguk??” Arini mulai meninggikan suaranya.


“Aku tidak berminat”


“Benarkah? Kamu benar-benar lepas tangan!!!” Arini mulai geram.


“Hahaha. Aku anti sama sel tahanan, aku tidak berniat menginjakkan kaki di sana. Sesimple itu” Sahut Lisa lagi. Tawa renyahnya terasa tidak nyaman terdengar di telinga Arini.


“Oh My God. Kamu benar-benar teman laknat!!” Arini mematikan handphonenya. Kesal.


Tut tut tut.


Sambungan terputus namun mobilnya terus melaju menerobos hujan dengan petir yang menyambar-nyambar.


“Pak, saya ingin melihat Nona Hanum” Pinta Arini dengan suara lirih tercekat kepada petugas yang bertugas.


“Maaf. menurut peraturan yang berlaku, Nona Hanum sedang tidak boleh ditemui” Ucap petugas dingin.


“Tolonglah Pak, kerabat saya tengah sekarat” Arini masih memohon.


“Mohon maaf Nona, saya hanya mengikuti aturan” Ucap petugas lagi.


“Pak… Hiks hiks !” Arini tidak tahan, ia mulai menangis.


Petugas tetap tidak mengubris. Arini kehabisan cara. Ia mundur, lalu merapat ke tembok dan menangis sesegukan. Hanum, hiks hiks. Gumam Arini di tengah tangisnya.


“Ambil lah!” Tiba-tiba Romi muncul. Lagi-lagi ia menyodorkan tissue. Arini terperanjat namun tetap mengambil tissue yang pemuda itu berikan. Dengan cepat ia menghapus air matanya.


“Te.. rima kasih” Ucap Arini gugup.


“Aku akan memberikan bahuku untukmu bersandar”


“Tidak perlu!” Arini menjawab cepat. Ia beranjak pergi.


“Aku bisa membantumu untuk bertemu Hanum!” Kalimat dari Romi ini sukses menghentikan laju gerak Arini. Ia menoleh,


“Be.. benarkah?”


“Ayo ikut aku!”


Romi dan Arini menghadap petugas. Romi menunjukkan sebuah lencana identitas kepolisian.


“Pak, Izinkan nona ini menjenguk nona Hanum, berikan waktu 15 menit saja! ” Perintah Romi dengan wajah tegas.

__ADS_1


“Siap. Baik Pak”


Setelah di izinkan, Mereka berdua bergerak ke tempat dimana Hanum dirawat.


“Mohon maaf Pak, pasien sedang dirawat intensif. Ia benar-benar tidak bisa dijenguk sekarang” Ucap dokter setelah Romi meminta izin untuk menjenguk.


“Apa sakit yang diderita nona Hanum, Dok? Hanum tidak memiliki orang tua, kerabatnya juga jauh. Nona Arini inilah satu-satunya kerabat dekat beliau. Jadi, mohon dokter memberikan penjelasan terkait sakitnya nona Hanum ini”Romi meminta penjelasan dokter. Arini mendengarkan dengan seksama.


“Nona Hanum mengalami GAGAL HATI, atau bahasa medisnya Sirosis” Ucap Dokter dengan nada serius.  Kalimat singkat itu sukses membuat jantung Arini hampir keluar dari tempatnya. Di luar sana angin dingin mendesau-desau. Angin nya tidak masuk ke ruangan, namun entah mengapa Arini merasa angin dingin itu menyapanya dan menembus kulit hingga ke  aliran darahnya. Ia sedikit terhuyung, Romi berinisiatif memegang tangan Arini.


“Apa penyebabnya dok?” Romi kembali bertanya.


“Banyak kondisi medis atau penyakit yang dapat menjadi penyebab sirosis, antara lain penyalahgunaan alkohol, Hepatitis B dan C, akumulasi lemak liver, Obat-obatan Hepatotoksik dan masih banyak lagi sebab lainnya. Sementara ini kami masih menganalisa apa penyebab dari sakitnya nona Hanum ini”


“Apakah penyakit ini bisa disembuhkan, dok?”


“Sayang sekali…”Dokter menggelengkan kepalanya.


“Namun kita bisa mencegah untuk kerusakan lebih lanjut” Dokter mencoba menenangkan, Arini semakin terhuyung. Romi terpaksa merangkul Pundak Arini dan membawa nya keluar ruangan setelah mengucapkan terima kasih dan meminta izin kepada dokter terlebih dahulu.


Seketika kelabat bayangan masa lalu menari-nari memenuhi isi kepalanya. Arini dan Hanum selalu menghabiskan waktu bersama. Bagaimana Hanum yang selalu saja membelanya. Menyayanginya dengan tulus, Mereka berangkat sekolah bersama bahkan makan sepiring berdua. Gadis itu akan bertingkah seperti seorang teman namun disaat yang sama juga akan bersikap seperti seorang kakak bahkan ibu. Arini tidak tahan lagi, tangis nya pecah. Airmatanya terburai, ia tidak mempedulikan sekitar dan terus saja menangis pilu.


“Hanuuuum, hiks hiks hiks” Romi mendekap erat Arini, membawa gadis yang tengah terluka itu ke dada bidangnya, membiarkan aimata yang menetes tiada henti itu membasahi kaos hitamnya. Ia mencoba mengurangi rasa pilu dan sesak yang teramat sangat dirasa. Perasaan yang tidak bisa Arini lukiskan. Kasih sayang, kepedihan, rasa bersalah yang mendalam kini bersarang memenuhi ruang di hatinya. Ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih sekarang. Awan hitam dengan derasnya butir hujan yang berlomba-lomba menggapai bumi menggambarkan perasaannya sekarang.


Romi membawa Arini masuk ke dalam mobil, Ia membawa gadis itu ke apartemennya untuk menghindari hiruk pikuk kota. Arini butuh ketenangan untuk melampiaskan kesedihannya.


***


Di dalam kamar wisma, Haris dan Hana masih saja bercengkrama dalam balutan selimut. Haris masih mengusap-usap kepala Hana, menarik ulur sulur helaian halus rambut istrinya itu.


Pemuda itu menyelesaikan kisah masa lalu kedua orangnya dan menceritakan bagaimana ia dibesarkan dalam kemelut keluarga. Hana mendengarkan seksama dengan airmata yang mengalir hingga cerita Haris sampai pada penghujungnya,


“Hana, aku tidak tau apakah harus mengatakan hal ini padamu atau tidak. Tapi aku merasa harus mengatakannya”  Haris bangkit dan duduk menghadap Hana.


“Apa itu, Mas?”


“Gadis yang dulunya akan dijodohkan oleh Kakek untuk menjadi pendamping Ayah adalah… Ibu dari Arini” Kalimat ini sukses membuat Hana terperanjat. Gadis ini sama sekali tidak bisa mempercayai bahwa Haris malah bisa jatuh cinta dan hampir saja menikahi anak dari wanita yang ayahnya tolak mentah-mentah. Hidup memang seajaib itu.


“Pada awalnya, aku juga tidak mengetahui hal itu. Ibu baru menceritakannya tepat pada malam sebelum pernikahan kita. Ini juga yang menjadi salah satu sebab kenapa tidak disetujuinya pernikahanku dan Arini, Ibu takut dendam masa lalu akan hadir ke permukaan. Walau ibu yakin bahwa ibu Arini adalah wanita yang baik, namun ibu tetap merasa was-was” Terang Haris.


“Walau sebenarnya…. Arini juga bukanlah anak kandung dari bu Indah” Ucap Haris lagi.


“Bu Indah siapa? Bu Indah Ibunya mba Arini??” Hana setengah histeris.


“Iya. Benar. Fakta ini hanyalah Ibu, Aku dan Kamu saja yang mengetahuinya, bahkan Arini sendiri tidak mengetahui hal itu” Lagi-lagi Hana terperanjat mendengarnya.


“Lalu siapa ibu kandung dari Arini, Mas?” Hana penasaran. Haris menggelengkan kepala.


“Aku juga tidak mengetahuinya”.


“Mas…”


“Hm…?” Haris menunggu kalimat yang akan Hana lontarkan


“Mangapa mas mencintai mba Arini?” Hana memberanikan diri, ia bertanya dengan hati-hati. Gadis ini hanya penasaran bagaimana tanggapan suaminya terhadap sosok Arini.


“Aku sedang tidak ingin membahas itu” Sahut Haris. Ia menangkupkan pipi Hana dengan kedua telapak tangannya.


“Tapi Aku ingin mengetahui nya” Hana mempoutkan bibirnya. Ia manyun.


“Kamu sungguh menggemaskan” Kini Haris mencubit ringan pipi istrinya.


“Ayolah maas, please. Mengapa mas bisa mencintai mba Arini?” Hana menanyakan kembali pertanyaan yang sama.


“Itu sudah masa lalu, Hana! Aku sudah menikah sekarang. Mengertilah” Haris benar-benar malas untuk membahasnya. Hana menundukkan kepala. Ia bergerak mundur dengan wajah kusut. Pertanyaannya tidak di approve oleh Haris.


“Baiklah Baiklah…, Aku mencintai Arini karena, hmh… karena apa ya? Ya karena memang sudah begitu adanya. Allah memberikan rasa itu tanpa aku tau alasannya apa” Haris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa


bingung bagaimana menjawab pertanyaan konyol Hana.


“Huh, jawaban klasik” Wajah Hana semakin kusut.

__ADS_1


“Aku mencintainya karena… Hmh, Mungkin karena kepolosan, kebaikan dan kecantikannya. Ia gadis yang manis” Ucap Haris datar.


“Oh begitu” Hana merasa sakit mendengar jawaban Haris, ia sendiri yang bertanya namun ia juga yang merasa sedih. Hana terdiam.


“Kenapa, Hm?” Haris mencoba merangkul Hana. Gadis ini menepis tangan Haris.


“Kamu kenapa?”


Hana menggeleng.


“Kamu marah?”


Hana menggeleng. Matanya mulai berembun.


“Mas begitu mencintai mba Arini” Hana memainkan jari jemarinya.


Haris tersenyum. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Hana. Dasar wanita.


“Sudah kukatakan aku tidak ingin membahasnya, sekarang kamu malah menjadi sedih. Memang benar perkataaan yang mengatakan Love is never without Jealousy. Cinta memang tidak mungkin tanpa ada rasa cemburu”


Haris menoel hidung Hana.


“Ih, siapa yang cemburu? Siapa juga yang cinta sama mas?” Hana mensedekapkan tangannya di pinggang.


“Sudah, ayo akuilaah, kamu mencintai suami mu yang tampan ini kan?” Haris mulai menggelitik pinggang Hana.


“Hahaa, geli mas, geliii. Ampuuuuuuun mas, ampuuun”


***


Pukul 23.00 WIB, menjelang dini hari. Arini masih berada di apartemen milik Romi, pikirannya sangat kacau. Ia benar-benar terguncang. Arini sama sekali tidak menyangka bahwa Hanum memiliki penyakit ganas yang bersarang ditubuhnya. Apalagi dengan gaya dan pola hidupnya yang acak-acakan, sudah pasti memperparah kondisinya.


Selama ini Hanum memang kerap kali mengeluhkan sakit pada area perutnya, baru sedikit nasi yang masuk ke lambung maka seketika ia sudah merasa kenyang. Hanum mengeluhkan rasa sakit di perut kanan bagian atasnya. Ia muntah-muntah, sesekali terlihat kulit pucatnya menguning.


Arini mengira bahwa itu pengaruh rokok dan alkohol yang terus-menerus di tenggaknya. Padahal sahabatnya itu memang telah terkena liver, dan sekarang naik tingkatan menjadi Sirosis. Arini gagal menghentikan kebiasaan buruk Hanum.


Arini masih terus saja menangis. Ia belum siap jika sewaktu-waktu harus berpisah dengan sahabat setia nya itu. Bagai pisau belati tajam yang menembus jantungnya. Ia menyesali kebodohannya hingga menjerumuskan Hanum ke penjara walau sebenarnya Hanum memang bersalah.


“Romi, Hiks hiks. Mengapa aku sebodoh itu, aku yang menyebabkan Hanum di penjara. Semua salahku. Hiks hiks” Arini mengiba.


“Minumlah” Romi menyodorkan segelas air kepada Arini. Pria ini telah mengganti pakaiannya dengan style rumahan. Baju kaos longgar dengan  celana pendek selutut.


Praaaankkk. Arini menepis kasar gelas tersebut. Gelas kaca yang berada di tangan Romi pecah berkeping-keping di lantai.


“Ini semua gara-gara kamu!!!! Kamu yang membantu Haris, kan???” Arini menumpahkan kegalauan di hatinya pada Romi. Matanya merah menyala.


“Rekaman itu murni karena ketangkasan Haris, bukan karena Aku” Romi berkata pelan.


Arini kembali menangis. Ia terlihat seperti anak kecil yang kehilangan induknya.


“Aaaaaaaaa Hanum. Hiks hiks” Tangis pilu Arini pecah lagi, Ia tersedu sedan. Romi kembali memberikan pelukannya.


“Berbaringlah di kasur. Ini sudah tengah malam” Romi menggiring Arini ke tempat tidur.


“Aku akan tidur di sana!” Ucap Romi lagi, ia menunjukkan sofa yang berada di dekat pintu.


Arini menggeleng. Ia memegang erat lengan Romi. Entah mengapa tiba-tiba rasa takut menyergapnya.


“Tidurlah. Aku di sini bersamamu. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur” Romi mengelus puncak kepala Arini.


Arini menggeleng. Ia masih saja menangis.


“A.. aku tidak bi.. sa tidur. Hanuuum hiks hiks” Arini sesugukan, kali ini ia memeluk Romi dengan erat.


Lima belas menit berlalu. Sejam. Dua jam. Jarak Arini dan Romi semakin dekat, mereka terlena. Entah siapa yang duluan memulai. Arini dan Romi mengikis jarak hingga tak bersisa. Dalam penglihatannya, Arini melihat Haris begitu nyata berada di dalam diri Romi. Malam ini, di malam yang kelam ini. Arini menyerahkan diri seutuhnya pada Romi.


 ***


Hai Readers~ Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN n VOTE juga hadiahnya. Terima kasih banyak ^^


***

__ADS_1


__ADS_2