
5 Bulan Kemudian~
Arini memakai pakaian serba hitam berjalan seorang diri ke pemakaman. Ia menenteng sekeranjang kelopak mawar dan sebuah kitab yasin. Mata sembabnya tertutupi oleh kaca mata hitam yang bertengger di depan kedua matanya. Namun semua itu tidak bisa menutupi kesedihan yang menyelimuti relung hatinya. Bahkan rasa sedih itu semakin hari semakin bertambah. Arini berjalan mendekat.
“Assalamu’alaikum mas…” Lirih Arini menyapa. Perlahan ia menaburkan kelopak bunga mawar. Satu persatu kelopak tersebut berjatuhan memenuhi permukaan makam. Hampir setiap hari Arini rutin mengunjungi makam suaminya. Tak kuat, Arini terduduk. Ia tergugu.
“Sudah 157 hari mas meninggalkanku dan semua kenangan manis yang sangat terlambat untuk ku syukuri… Hiks hiks…” Arini membuka kaca mata hitam. la mengusap mata basahnya.
“Aku ikhlas mas… Aku ikhlas... Tapi aku rapuh…” Tak Tahan, air mata itu berlinang-linang.
“Allah benar-benar menghukumku. Sakit karena rasa menyesal begitu terasa menyakitkan. Kepergianmu yang begitu cepat benar-benar menjadi pelajaran berharga untukku. Kenyataan pahit menampar hati lemahku dengan sangat kuat. Aku sudah melewati banyak rasa sakit. Berjuta kesedihan. Beribu kepahitan. Tapi ternyata itu semua tidak sebanding dengan keadaanku hari ini” Ucap Arini sendu dengan tangan yang masih menaburkan kelopak mawar.
“Tapi Mas jangan khawatir,, insya Allah aku akan selamanya jadi Riry-mu. Tunggu aku ya mas… Sama sepertimu… Aku juga ingin masuk ke surga-Nya. Aku ingin menemui mu dalam sebaik-baik keadaan. Riry akan menjadi bidadari-mu di surga...” Lanjut Arini mencoba tegar.
“Aku akan memperbaiki diri. Menjadi Muslimah sejati seperti yang mas inginkan. Aku akan bertaubat. Semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosaku”
“Mas Romi... aku akan masuk pesantren. Memperdalam ilmu agama di sana. Muhasabah diri. Aku berjanji akan selalu mengirimkan surat al-fatihah dan surat cinta lainnya untuk mas! Aku yakin mas sudah tenang di sana. Di taman-taman surga…” Lirih Arini. Ia membuka kitab yasin dan mulai membaca ayat demi ayat setelah sebelumnya meniatkan bacaan tersebut untuk suaminya tercinta. Suara syahdu itu terasa menggetarkan bagi sesiapa yang mendengarnya.
***
Tap Tap Tap
Derap langkah kaki terdengar. Haris, Iqlima dan Yahya serta Abah dan Ummi mengantar Hana ke rumah sakit setelah Hana mengeluhkan rasa sakit yang berkala di perut dan pinggangnya. Ia dibawa dengan kursi roda ke ruang bersalin.
“Ya Rabb… Astaghfirullah… Ya Rabb…” Hana mengaduh. Ia merintih memegang perut yang terasa berputar melilit.
“Sayang,, sabar ya… sebentar lagi kita akan sampai ke kamar” Ucap Haris mencoba menghibur. Sebenarnya ia sendiri merasa tegang. Melihat Hana yang kesakitan bahkan persalinan saja belum dimulai membuat nyalinya sedikit menciut. Haris jadi tidak tega melihat Hana yang mengaduh.
“Baca ayat kursi nak.. baca ayat-ayat al-Qur’an..” Ucap Ummi Hana mengingatkan. Beliau sendiri sejak tadi sudah komat kamit membaca doa dengan berbagai ayat pilihan. Iqlima yang mengiringi Hana serta juga ikut memanjatkan doa.
“Miii sakit Mi,,, Mas… Sakiiit sekalii rasanyaa” Rintih Hana. Biasanya ia paling kuat dan tegar menahan rasa sakit. Tapi kali ini berbeda. Hana sudah berusaha untuk tegar dan menahan rasa sakitnya. Namun rasa sakit tersebut semakin lama semakin terasa dahsyat.
Ceklekk
Pintu ruangan bersalin terbuka. Hana dimasukkan ke dalam.
“Maaf Pak, Bu… Hanya satu orang saja yang boleh mendampingi di dalam ruangan” Ucap dokter. Ummi dan Haris saling berpandangan.
“Kamu saja nak, tolong kuatkan Hana..” Ucap Ummi berpesan pada Haris. Pemuda ini mengangguk lalu langsung melesat ke dalam ruangan. Pintu kembali di tutup.
Abah dan Ummi mengambil tempat di kursi lalu membaca al-Qur’an dengan suara pelan. Yahya duduk di depan ruangan menatap Iqlima yang sedari tadi mondar mandir menanti kabar. Wajah bersih itu memancarkan kecemasan. Ingin rasanya Yahya menghampiri Iqlima menyuruhnya duduk agar istrinya itu tidak lelah. Namun niat tersebut diurungkan ketika seseorang datang menghampiri nya.
“Mas, bagaimana keadaan Ning Hana?” Tanya orang yang ternyata adalah Layla. Ia terlambat datang karena sibuk merias diri. Gincu berwarna oranye mendekati peach begitu cocok dan fresh di wajahnya. Kekuatannya mampu menyihir siapa saja yang melihat.
“Duduklah! Ning Hana sudah dibawa masuk ke dalam ruangan” Ucap Yahya. Ia mengambil air mineral dari tas cangklongnya lalu membuka tutup botol dan menyodorkan pada Layla yang masih tampak terengah.
“Suapkan…”
“Suapkan apa?” Yahya mengeryitkan dahinya.
“Minumannya… Tanganku ada kipas dan tas” Bisik Layla beralasan. Yahya pun menyodorkan air mineral tersebut ke mulut Layla. Ekor mana wanita pemilik dua anak ini melirik ke arah Iqlima yang menatapnya sendu. Hati Layla terasa bahagia. Yahya begitu memperhatikannya. Apalagi di depan mata Iqlima. Sudut bibirnya membentuk kurva.
***
“Masih bukaan 3-4” Ucap bidan yang menangani proses persalinan Hana. Ia memberitahukan pada dokter yang mengontol melalui saluran telepon.
“Masa sudah berjam-jam masih bukaan 3, Sus?!” Protes Haris tak sabar. Ia merasa kasihan sekaligus iba melihat wajah pucat biru Hana menahan rasa sakit. Tangan nya menjadi sasaran untuk diremas kuat. Hana menggigit sapu tangan tiap kali merasakan perutnya bergejolak. Peluh menetes-netes.
__ADS_1
“Memang begitulah persalinan pak. Membutuhkan kesabaran dan pengorbanan seorang ibu juga pendamping yang menguatkan” Sahut bidan dengan tersenyum.
“Allaaahu Akbar… aarrgh.. Haaah huuuhhh haahhh” Hana mengerang. Haris mengecup puncak kepalanya berkali-kali. Membacakan sebagian ayat-ayat al-Quran dan doa-doa yang sudah dihafalkan di luar kepala. Haris meneteskan airmata. Ia memberikan lengannya untuk Hana gigit. Juga merelakan rambutnya untuk ditarik. Haris Membiarkan sang istri melampiaskan semua rasa sakit sesuka hati pada tubuhnya.
***
Di tempat berbeda. Di pengadilan tinggi. Inggrid dan Indah di sidang atas semua kasus perkara yang melibatkan mereka. Ridwan dan Roni membantu segala prosesnya. Mereka menjadi pengamat dan merekam jalannya alur persidangan untuk diserahkan nantinya pada Haris.
Para kuasa hukum saling memberikan argument. Masing-masing dari mereka memiliki alasan kuat mengapa harus membela klien-nya. Seolah tidak ada batas antara yang hak dan yang batil, pihak bersalah terus saja melakukan pembelaan.
Mereka terlena, tidak sadar bahwa pengadilan sesungguhnya adalah di negeri akhirat kelak. Saat manusia tidak lagi bisa membela diri mereka. Semua rekam jejak kehidupan diputar di hadapan kedua mata kepala. Andai mereka mengetahui hakikat kehidupan yang sebenarnya, maka dipastikan mereka tidak akan sesantai itu mencampur-adukkan antara kejahatan dan kebenaran.
Berjam-jam sudah Ridwan membersamai Inggrid dan Indah. Namun bukan sebagai teman, melainkan sebagai lawan yang memandang miris pada kelakuan mereka.
Penampilan Indah dan Inggrid tidak sebaik biasanya. Tidak ada lagi make-up atau skin care mahal yang selalu mereka banggakan. Tidak ada lagi pakaian mahal khas sosialita yang menghias rapi. Bahkan kuku-kuku yang awalnya tercat sempurna setelah melakukan manicure-pedicure terkelupas tak terurus.
Kondisi mereka tak kalah mengenaskan. Lima bulan berada dalam sel tahanan menempa mereka untuk tidak mengeluh dan pasrah menahan rasa panas dan dingin yang datang silih berganti siang dan malam. Bahkan mereka tidak ingat sudah berapa lama kasus mereka bergulir.
“Berdasarkan semua bukti yang ada, dengan ini… Saya menyatakan bahwa terdakwa Indah terjerat pasal berlapis dengan hukuman di PENJARA SEUMUR HIDUP. Juga terdakwa Inggrid dengan kejahatan yang lebih berat yaitu dengan sengaja menghilangkan nyawa almarhum Hasbi berikut rentetan kejahatan lainnya. Maka dewan Hakim memutuskan bahwa... terdakwa Inggrid mendapatkan hukuman GANTUNG!”
Tuk Tuk Tuk
Keputusan sudah dibaca. Palu sudah terketuk. Inggrid dan Indah menangis pilu. Nafsu dan dendam yang mengakar itu menjadi boomerang yang menghancurkan diri mereka sendiri. Tidak ada kejahatan yang tidak menemui ujungnya. Tidak ada kebenaran yang tidak terungkap.
“Dengan ketukan palu tadi, sidang resmi ditutup!” Ucap Hakim agung menutup sidang.
***
Menit detik terus berlalu. Sudah hampir empat belas jam Hana menahan rasa sakit di ruangan bersalin. Namun pembukaan panggul tidak juga bertambah. Stuck pada pembukaan Lima. Sementara wajah Hana semakin pucat. Wanita ini semakin mengerang menahan rasa sakit yang kian menuju puncaknya.
“Sus, bagaimana ini? Apa yang bisa dilakukan untuk menambah bukaannya?” Tanya Haris untuk yang kesekian kalinya.
“Yang kuat ya sayang.. Dokternya lagi menuju ke sini” Ucap Haris mendampingi Hana dengan setia. Beruntung sakit pada betisnya berangsur pulih. Dengan penuh keyakinan menyerahkan sepenuhnya pada Allah swt juga dukungan keluarga, Hana berjuang untuk segala rasa sakit yang ia rasakan.
Para dokter juga mengerahkan segenap kemampuan mereka dengan merawat dan memberikan obat terbaik.
Ciiiit.
Pintu terbuka. Dokter Obygn Specialist kandungan dengan tergesa-gesa melangkah masuk. Lalu memeriksa kondisi Hana, menghitung denyut jantung janin yang ada di kandungan juga melihat pergerakan mereka.
“Bagaimana dok?” Tanya Haris cemas.
“Kita harus melakukan operasi sesar, Pak!” Ucap dokter. Hana menggeleng tak percaya.
“Siapkan alat-alat nya sus! Bawa bu Hana ke ruang operasi!” Titah dokter lalu beliau bergerak cepat keluar ruangan.
“Mas…. Aku ga mau di operasi… aku takut! Aku masih kuat berjuang untuk lahiran normal” Ucap Hana dengan masih terus merintih.
“Semua akan baik-baik saja sayang. Insya Allah operasi sesar adalah jalan terbaik. Demi kemaslahatanmu dan juga bayi-bayi kita, kondisi mu juga tidak memungkinkan untuk menunggu lebih lama. Semua ikhtiar sudah kita lakukan. Sekarang waktunya menyerahkan semua pada Allah sang Maha Hidup, kamu mau dan siap kan?” Tanya Haris setelah memberikan kultum singkat. Akhirnya Hana mengangguk setuju.
***
“Oeeeekkk Oooeeekkk” Terdengar suara tangisan bayi dari ruang operasi. Haris dan keluarga yang sedari tadi menunggu di depan kamar mengucap syukur dan bahagia.
Tak lama, Pintu terbuka. Dokter keluar menghampiri keluarga Hana dengan wajah cerah. Beliau tersenyum sumringah.
"Selamat Pak Haris, bayi kembar anda dan ibunya sehat wal afiat. Operasi berjalan lancar. Bayi anda berjenis kelamin laki-laki dan perempuan" Ucap Dokter memberikan selamat.
__ADS_1
Haris langsung sujud syukur di lantai keramik putih di depan kamar operasi.
"Sekarang dimana anak saya dok?! Apa saya sudah bisa melihat istri dan anak saya?! " Tanya Haris. Ia tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya.
"Tentu.. Silahkan pak Haris meng-azankan mereka" Ucap dokter. Haris langsung melesat ke dalam ruangan.
***
4 Tahun Kemudian~
Tampak anak-anak berlarian ke sana kemari saling berkejaran. Mereka berebutan mainan yang kini tengah mereka gemari.
"Assalamu'alaikum Hasfi... Hasna... Lihat Abi bawa apaaaa!" Haris muncul dari balik pintu. Ia menenteng sekeranjang mainan Lego.
"Waalaikumsalam salam... Abiiiiiiiii" Anak-anak berhambur memeluk Haris. Hana yang tengah menyulam tersenyum bahagia.
"Ini untuk Hasfi ya, bi? "
"Bukan... Ini untuk Hasna kan bi? "
"Hehe... Ini untuk kedua anak abi... nanti kita main bersama ya... " Ucap Haris menepuk nepuk kedua pundak anaknya.
"Horeeeee Alhamdulillah! " Mereka berseru riang.
"Tapi sekarang,,, Abi akan mengajak Ummi, serta Hasfi dan Hasna ke suatu tempat... "
"Kemana bi? Kita mau liburan ya?! Tapi janji beli buku cerita nabi Ayyub ya bi..." Celetuk Hasna.
"Nabi Ayyub sudaah... sekarang cerita nabi Syu'aib lhooo" Sahut Hasfi mengoreksi.
"Hahahaha.... " Haris tertawa.
"Baiklah... Tapi sebelum nya kita akan ke tempat pahlawan yang sering abi cerita kan pada kalian sebelum kalian tidur... "
"Waah, kita akan mengunjungi makam Almarhum uncle Romi ya bi? " Tanya Hasfi. Haris tersenyum mengangguk. Hana bangkit. Ia menghampiri suaminya yang menatap ke arah pigura foto Romi yang terpajang besar di tengah ruangan. Di sana tertulis tulisan "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". Mereka saling berpelukan. Pikiran mereka menerawang tanpa batas. Berharap kelak di kumpulkan di Surga-Nya Allah SWT.
TAMAT
***
.
.
PENGUMUMAN PENTING!!!
Finally Tamaaaat... Alhamdulillah ❤
Terima Kasih sudah membersamai karya receh ini ya teman-teman~ karya yang menguras emosi dengan perasaan yang bercampur aduk, maaf jika jalan ceritanya tidak sesuai dengan keinginan semua sahabat... sungguh Alana ga bisa menyenangkan hati semua orang 🙏🙏🙏
Akhirul kalam Wasalamu'alaikum Wr Wb 🌸🌸🌸
@alana.alisha
***
Hi Teman-Teman. Dukung terus karya Alana dengan cara Like, Komen, Vote, juga berikan Hadiahnya. Terima Kasih. Jazakumullah Khairal Jaza' ^^
__ADS_1
IG @alana.alisha
***