Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 59: Menjaga Perasaan Hana


__ADS_3

Siang datang menjelang, hangatnya mentari telah berganti dengan rasa terik yang menyengat. Sengatan nya membuat orang-orang memilih berdiam di ruangan sejuk atau sekedar duduk di bawah pohon untuk melepas penat sambil menikmati jus dingin atau minuman boba.


Hana masih berdiam diri di rumah sakit menunggu kedua sahabat nya, merasa bosan, Hana menscroll ke atas dan ke bawah tanpa tujuan layar handphone yang berada ditangannya. Tidak sengaja, matanya pun tertuju pada galeri tempat tersimpannya foto dan video.


Ia membuka galeri tersebut, ada banyak fotonya dan para sahabat ketika masa-masa sekolah dulu, juga beberapa foto terbaru mereka. Seketika manik matanya tertuju pada foto-foto pernikahannya dan Haris. Foto yang beberapa lembar sempat dikirim oleh fotografer sehari setelah mereka menikah, di gambar itu terlihat Ia sedang menggandeng lengan sang suami dan mereka berdua saling tersenyum seolah mereka adalah pasangan terbahagia di dunia ketika itu. Hana tersenyum masam mengingatnya. Ada juga gambar yang memperlihatkan ia tengah melakukan salam takzim kepada suami, ah acara yang sangat sakral. Pikirnya.


Ia menatap lekat wajah Haris melalui foto tersebut, tampan. Ia mengingat-ingat usia pernikahan mereka, sudah berbulan-bulan mereka hidup bersama. Ia dan Haris tinggal di satu atap walau berada di kamar yang berbeda. Beberapa kali mereka telah melakukan kontak fisik termasuk... hmh berciuman, walau itu bukan jenis ciuman yang ia harapkan, namun lembabnya bibir Haris masih bisa ia rasakan sampai saat ini, mungkin karena itu adalah yang pertama baginya.


Sontak, ia pun meraba bibir nya, seketika semua kebaikan-kebaikan sang suami selama mereka menikah terngiang-ngiang di kepalanya, menutupi rasa sakit dan hal-hal menyesakkan yang sudah pernah ditorehkan. Benar, bukan sekali dua kali, tetapi entah mengapa ia merasa Haris bukanlah jenis pemuda yang akan mengecewakan nya.


Tiba-tiba saja ia merindu kan suaminya itu, tiba-tiba saja, ia sendiri tidak tau apa penyebabnya. Padahal baru sebentar saja sang suami meninggalkan rumah sakit tapi ia sudah ingin berada didekatnya lagi. Tak bisa dipungkiri, Haris sudah membuatnya nyaman. Sekarang ia benar-benar merindu kan suaminya itu.


Ia pun membuka pesan WA di handphone, lalu ia mencari kontak Haris dan mulai mengetik,


"Mas, jangan lupa makan siang ya"


Ia akan mengirim kan pesan pada Haris, namun tidak jadi, ia kembali menghapus nya.


Ia mulai mengetik pesan yang baru,


"Mas, jam berapa kembali ke rumah sakit? "


Aaaargh, pertanyaan konyol! ia kembali menghapus pesan tersebut, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mengapa ia jadi seagresif ini. Ia tertawa di dalam diam nya. Sampai tiba-tiba suara derap langkah kaki terdengar di telinga, suara itu kian mendekati ruangannya. Naaah, itu pasti mas Haris kembali. Batinnya berkata.


"Assalamu'alaikum Hana" Yura membuka pintu ruang rawat inap, menyusul Lisa dibelakangnya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, maasya Allah. So happy didatengi orang-orang sibuk" Hana berpura-pura sebel, ia memanyunkan bibirnya.


"Haha maaf, sungguh aku tidak tau bahwa kamu sakit" Lisa mendekati Hana lalu merangkul dan memeluknya. Hana mencium bau rokok di baju Lisa.


"Lis, apa kamu baru dari tempat yang ramai? mengapa aku mencium aroma rokok yang menyengat dari baju gamismu? " tanya Hana.


"Hmh itu... "


"Masa sih, Han? Kamu baru dari rumah sebelum menjemput ku kan, Sa? Tanya Yura menekankan


" Iya, aku tidak dari mana-mana kok, hanya saja, hmh hanya saja tadi oom ku datang dan merokok di dekatku sebelum aku menjemput nona Yura ini" Ucap Lisa yang sebenarnya merasa gugup, ia tau pasti bahwa bau rokok yang menyengat itu berasal dari asap rokok yang Hanum hisap ketika mereka berkumpul bersama tadi.


"Oh begitu, baiklah. Terima kasih sudah berkunjung"


Yura menyerahkan sekeranjang buah-buahan serta cake kesukaan Hana dan diletakkan di meja di samping tempat tidurnya.


"Alhamdulillah, aku sudah lebih baik sekarang. Insya Allah aku akan pulang jika observasi dokter selama 3 hari ini semua hasilnya baik" jelas Hana.


***


Haris memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah sakit, ia menenteng makanan yang akan ia bawa untuk Hana yang masih berdiam di ruang rawat inap.


Haris juga sudah mengabarkan Ummi dan Abah juga ibunya perihal sakitnya Hana ini, namun ia dan istrinya sepakat untuk tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi. Orang tua mereka pun sedang berada dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Bergegas Haris mengayunkan langkahnya, ia sudah membayangkan akan makan siang berdua bersama istrinya itu dan tentu saja ia akan bantu menyuapinya.

__ADS_1


Hatinya pun merasa bahagia mengingat Hana yang akan segera bisa pulang. Dalam hati ia bertekad akan berusaha memperbaiki hubungannya dengan Hana nanti dan berjanji akan memperlakukan Hana jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya.


Haris sudah akan masuk ke dalam rumah sakit, namun tanpa disengaja ia bertemu dengan seseorang yang sudah sangat ia kenal,


"Arini? mengapa kamu di sini? "


"Aku ingin mengunjungi istrimu mas, kata Hanum, Hana dirawat di sini" Arini menunjukkan rasa simpatinya. Haris terdiam berpikir.


"Ayo, aku akan ikut masuk ke ruangan untuk menjenguk Hana" Arini antusias.


"Hmh, Rin... Terima kasih sebelumnya atas niat baikmu untuk mengunjungi Hana. Namun maaf, ada baiknya aku dan kamu tidak masuk berbarengan, sebab aku takut Hana berfikir bahwa aku dan kamu dari tadi bersama, aku hanya ingin menjaga perasaannya" Haris mencoba berkata sehalus dan sesopan mungkin agar Arini tidak tersinggung.


Ah, yang namanya hati wanita, siapa yang mampu menebak, Arini menatap Haris yang sudah menolaknya dan ia mencoba untuk tersenyum sebisa yang ia mampu.


"Ah, iya mas, aku bisa memakluminya, kalau begitu aku akan datang lain kali saja"


"Sekali lagi maaf yaa Rin, aku sangat hargai niat baikmu, aku juga sangat berterima kasih atas pengertian mu"


"Aku paham mas" Mata Arini mulai berembun, ~jangan menetes, please jangan~ kata hatinya menguatkan.


"Kalau begitu, aku permisi dulu" Haris mengangguk dan menatap kepergian Arini dengan rasa bersalah, namun ia harus melakukan ini untuk menjaga perasaan Hana, apalagi istrinya itu sudah hampir sembuh.


Arini melihat tong sampah yang berada di dekatnya, lantas ia membuang kasar bucket bunga yang telah ia persiapkan dengan indah itu dengan sekali lemparan. Bunga indah nan harum itu pun berakhir di tong sampah yang memiliki bau menyengat.


Air mata nya mengalir membasahi pipi. kian lama tetesannya kian deras terasa, ia tidak bisa mengelaknya. Ia melihat kilat kekhawatiran di wajah Haris kepada Hana tanpa memikirkan nya sedikit pun, tanpa tau bagaimana sudah ia berjuang mengalahkan rasanya ego nya untuk bisa tiba di rumah sakit.

__ADS_1


***


__ADS_2