
Suasana malam yang gemerlap. Acara yang diselenggarakan oleh pihak panitia berjalan begitu meriah. Serangkaian acara sudah terlaksana hampir setengahnya. Berbagai makanan dari berbagai penjuru dunia terhidang melimpah ruah, begitu pula dengan minuman yang tersaji, mulai dari lemon tea, milkshake,
cocktail, wine, hingga sampanye pun tersedia. Kegembiraan dan senyum sumringah para tamu undangan jelas terpancar di wajah mereka.
“Hana, ini minumlah” Hanum menyerahkan segelas minuman cocktail pada Hana yang didalamnya sudah terdapat alkohol.
“Ini minuman apa mba? Saya sudah cukup dengan es lemon tea saja” Sahut Hana.
“Cobalah minuman ini dulu, saya yakin kamu akan ketagihan” Bujuk Hanum lagi. Dengan ragu-ragu dan Gerakan pelan Hana mengambil minuman yang berada ditangan Hanum.
Dentuman suara live music dan gemerlap lampu membuat Hana tidak bisa konsentrasi. Ia sebenarnya merasa tidak nyaman.
“Ayo, jangan sungkan. Minumlah!”
“Ini minuman apa mba?” Pertanyaan yang sama dilayangkan Hana ketika minuman sudah berada ditangannya.
“Kamu minum saja dulu, maka kamu akan mengetahuinya” sahut Hanum.
Hana hendak menyeruput minuman yang disodorkan oleh Hanum, sedikit lagi minuman itu sampai di mulutnya. Namun tiba-tiba saja seseorang menyapa,
“Hai Hana, kamu Hana kan?”
“Eh, Mas Ridwan? Kenapa di sini mas?”
“Aku mendapatkan undangan khusus di sini karena aku bergabung
dalam team IT”
Hana mengangguk-angguk.
“O iya, dimana Haris? Aku tidak melihatnya” Tanya Ridwan Kemudian.
“Sepertinya di sana, mas!” Hana menunjuk tempat dimana Haris berada.
“Baiklah. Aku ingin menyapa Haris, aku kesana dulu” Ridwan pamit, matanya tidak berlepas dari minuman asing yang Hana pegang.
“Okay mas”
Ridwan pun berlalu,
“Hana, itu tadi siapa?” Tanya Hanum.
“Itu mas Ridwan sahabat karibnya mas Haris, mba!”
“Sudah menikah?”
__ADS_1
“Belum. Beliau masih single. Kenapa? Mba mau mendaftar ya? Hehe” Canda Hana.
“Hahaha tidak” Hanum tertawa dan menjawab singkat, dalam hati ia berkata aku sudah terlalu mencintai suamimu Hana, tidak tau apakah hatiku masih bisa berlabuh ke lain hati atau tidak.
“Alhamdulillah, sebaiknya memang tidak usah di incar mba!”
“Kenapa?”
“Sepertinya mas Ridwan sudah punya tambahan hati, hehe”
“Oh begitu” Hanum mengangguk-angguk
“Kalau begitu kamu minumlah dulu!” Hanum masih saja terus membujuk Hana.
Hana mulai meminum minuman ditangannya.
“Kok rasanya aneh ya mba?” Tanya Hana, ia baru sekali meneguk minumannya.
“Aneh bagaimana? Enak kan? Ayo kamu coba lagi biar tidak penasaran!” Hanum membantu Hana untuk mencicipi kembali minumannya.
“Aku pusing mba!”
Hana meneguk lumayan banyak. Ia merasakan pusing dan mual yang teramat sangat. Minuman yang masih bersisa di tangan jatuh ke lantai. Gelasnya pecah berkeping-keping. Hana yang sama sekali belum pernah merasakan alkohol langsung drop. Ia merosot ke lantai, sedikit berpegangan pada meja dan menyentuh kepalanya
“Hana! Hana! Are You Okay?” Tanya Hanum melihat Hana yang sudah tidak berdaya.
“Panas, panas!” Ia mulai meracau. Hana merasakan tubuhnya seperti terbakar.
“Ini, minumlah lagi, agar tubuhmu tidak terbakar” Hanum kembali menyodorkan minuman yang sama. Hana kembali menenggaknya.
“Bagaimana?” Tanya Hanum kemudian. Hana hanya diam tanpa reaksi.
“Hana! Hana, jawablah” Hanum mengguncang tubuh Hana. Beberapa saat kemudian mata Hana terbuka sayu. Ia menatap sekitar dengan pandangan kosong.
“Mas Gibran?” Matanya menatap Hanum, pandangannya kabur. Samar-samar ia seperti melihat Gibran berada dihadapannya.
“Hana, sadarlah!” Ucap Hanum dengan mengguncang tubuh Hana.
“Jangan sentuh aku, mas!” Ucap Hana lagi. Sepertinya kesadarannya sudah menurun.
***
Haris tengah berbincang bersama sesama rekan kerjanya. Mereka saling berbincang dengan asik. Pembicaraan santai yang jarang sekali mereka lakukan karena sehari-hari mereka sudah disibukkan dengan pekerjaan harian mereka yang padat. Di tengah kelompok ini juga terlihat Ridwan yang bergabung bersama.
“Bagaimana sih rasanya sudah memiliki istri mas? Cerita dong!” Tanya Rudi kepada Haris, Rudi adalah rekan
__ADS_1
kerja yang masih single.
“Makanya nikah! Kamu ga lihat bagaimana berseri-serinya mas Haris sejak menikah? In the hoy man! Hahahaha” Asep menyahut dengan gaya khas nya. Ia berseloroh. Mereka semua pun ikut tertawa.
“Ayolah mas, cerita!” Herman juga ikut-ikutan. Haris menatap Ridwan yang juga asik tertawa. Ridwan ikut menertawakan Haris yang menjadi bahan bullyan teman-temannya.
“Intinya kalian menikah saja dan rasakan sendiri bagaimana!” Sahut Haris pada akhirnya.
“Nikmat kan mas, semalam berapa ronde?” Asep mengedipkan matanya. Lagi-lagi ia membuat temannya berfantasi kemana-mana.
“Hahahaha” Tawa renyah mereka.
Tiba-tiba ada seorang panitia acara datang menghampiri,
“Mas Haris, siap-siap ya! Sekitar 10 menit lagi mas sudah harus naik ke podium untuk memberikan sepatah dua patah untuk serah terima jabatan!”
“Baik. Terima kasih mas!”
Haris melirik ke sekeliling, ia ingin tau bagaimana keadaan Hana sekarang. Ia membuka ponselnya dan menekan nomor Hana. Nomornya masuk namun tidak ada yang mengangkat, mungkin karena dentuman suara music yang keras menjadikan deringan teleponnya tidak terdengar. Haris hendak bangkit melihat Hana.
“Mas, mas!” Sapa seseorang. Ekspresi orang tersebut tampak panik.
“Iya, ada apa?”
“Apa benar istri mas mengenakan pakaian warna cream keemasan?”
“Iya benar, ada apa ya?”
“Emh anu, sepertinya istri mas sedang mabuk, ia berjalan sempoyongan dan memecahkan banyak gelas di sana sambil meracau tidak jelas, hmh.. kemudian hampir saja ia membuka kerudungnya karena merasa seperti kepanasan. Seperti nya ia menuju ke kolam berenang untuk mencari air” jelas pemuda tersebut.
Haris melihat ke arah Ridwan, jelas ia merasa sangat panik. Kontan ia pun tergesa-gesa menuju ke arah tempat yang ditunjukkan oleh laki-laki tadi.
“Ris, tunggu Ris!” Ridwan pun ikut mengejar Haris. Sementara rekan-rekan kerja nya yang lain hanya melongo melihat kepergian Haris dan Ridwan. Mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Bukannya istri Haris itu sholeha dan berhijab, kenapa malah mabuk ya? Mungkin istrinya tidak mengetahui yang diminumnya
adalah alkohol, tapi masa iya tidak tau? Apa sebenarnya istri Haris itu adalah Wanita nakal yang berlagak alim? Macam-macam pemikiran memenuhi isi kepala mereka. Mereka hanya bisa menduga-duga sambil menatap satu sama lain.
Haris berjalan menyusuri ruangan yang luasnya seluas lapangan bola, tatapan matanya berpendar menyisir kesekeliling. Namun ia tidak menemui Hana. Ia berputar-putar. Tak lupa Haris bertanya kepada orang yang berada di sana. ia menyebutkan ciri-ciri istrinya.
“Oh yang mabuk tadi ya mas? Sepertinya tadi sudah keluar, mas!”
Haris semakin panik. Ia teringat pada perkataan pemuda tadi yang mengatakan bahwa istrinya menuju ke arah kolam renang karena merasa kepanasan. Haris setengah berlari keluar pintu menuju ke tempat tujuannya. Hana, dimana kamu! Orang-orang yang berada di sana menatap kepanikan Haris dengan tatapan yang sulit dimengerti.
Di luar, didekat kolam berenang, Haris melihat banyak kerumunan orang di sana. apa benar istrinya disana. Ia menerobos kerumunan tumpukan orang-orang sambil meminta permisi.
***
__ADS_1