
Pagi yang cerah setelah beberapa hari terakhir hujan selalu datang menghampiri. Hana sudah selesai menjemur
pakaian dan menyiapkan sarapan. Dua piring nasi goreng dan air lemon hangat menemani pagi mereka. Ia dan Haris tampak menikmati sarapan tersebut. Sejak insiden pelukan di sepertiga malam tadi, Haris terus saja menatap Hana. Laki-laki itu dapat melihat semburat merona alami yang muncul di permukaan pipi istrinya. Gadis itu makan dengan sama sekali tidak menatap padanya. Ah, beginilah jika menikah dengan gadis belia tidak berpengalaman dalam percintaan dan kontak fisik, melihatnya yang begitu malu-malu benar-benar sangat menggemaskan.
Padahal hanya sebatas pelukan. Tidak lebih. Apalagi jika mereka… Hmh, Ah bukankah ia juga tidak berpengalaman dan posisinya sama dengan Hana? Mengapa ia tidak merasa canggung sedikit pun, hmh.. canggung sih tapi tidak seburuk Hana. Pikir Haris. Ia jadi senyum-senyum sendiri.
“Hana, kamu hari ini kamu ada planning apa?” Tanya Haris memecah kesunyian.
“Kalau mas tidak sibuk bisakah hari ini kita mengunjungi Ummi dan Abah?”
“Astaghfirullah, maaf aku lupa, Hana! Insya Allah hari ini kita akan kesana” Haris berkata mantap. Hana mengangguk.
“Terima Kasih, mas!” Hana terus saja menunduk.
“Hana, kenapa kamu berbicara tidak melihat kearahku?” Haris mencoba menggoda Hana. Gadis itu mendongakkan
kepalanya.
“Tidak, aku lagi fokus pada makananku” Hana menyendok makanannya ke mulut. Ia kembali melihat ke sembarang arah. Sungguh ia sangat grogi saat ini.
“Pipimu indah sekali. Apa kamu menggunakan blush on?” Haris tidak henti menatap Hana.
“Ha? Benarkah?” Hana melirik ke cermin yang ada disamping meja makan.
“Aku tidak menggunakan apapun mas” sergah Hana.
“Ada, warnanya semakin merona, sini coba kuperiksa dulu” Haris bangun dan menyentuh pipi Hana yang berada
dihadapannya kemudia mengusapnya ringan. Hana semakin tak karuan.
“Ma, mas..”
“Iya, kenapa?”
“Aku mau cuci piring dulu” Hana bangkit dari duduknya dan bergegas menuju tempat cuci piring. Kosong.
“Hana, piring kotor nya di sini. Kamu mau mencuci apa di belakang?” Hana kembali menemui Haris dan mengambil
piring kotor tanpa melihat kearahnya. Haha semakin menggemaskan. Haris puas sudah menggoda Hana, ada kesenangan di hatinya ketika melakukan ini.
***
__ADS_1
“Assalamu’alaikum Ummi Abah” Ucap Hana dan Haris serentak.
“Masya Allah, anak mantu ummi datang. Masuk nak!” Umi mempersilakan semuanya masuk. Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah.
Hana mengikuti Ummi menuju dapur sedangkan Haris mengikuti Abah duduk berbincang di ruang tamu.
“Kamu apa kabar nak? Sehat?” Ummi bertanya ketika Hana mulai menuangkan
air ke cangkir teh.
“Alhamdulillah mi, Ummi bagaimana? Hana begitu merindukan Ummi” Hana bergerak dan memeluk Ummi.
“Ummi dan Abah sehat, kami juga begitu merindukan kamu, rumah terasa sangat sepi tanpa kamu, nak”
“Maaf mi, Hana tidak berbakti. Hana tidak sering-sering menjenguk Ummi dan Abah” Hana berkata lirih.
“Tidak nak, Ummi paham sekarang posisi kamu sebagai istri. Suamimu juga sibuk bekerja. Jarak rumah mu dan
kediaman Ummi tidaklah dekat. Kamu harus taat pada suamimu” Ummi mengusap-usap sayang kepala Hana.
“Sudah, ayo kita antarkan minuman dan cemilan ke depan. Nanti airnya beerubah menjadi dingin lagi” Ajak Ummi
Hana mengambil teh dari nampan dan meletakkan satu persatu di hadapan abah, ummi dan Haris. Pandangan mata Haris tidak lepas dari jari lentik Hana, kemana saja jemari itu bergeser, ke situ pula arah matanya melihat. Kue-kue kering dan bolu tape buatan Ummi juga disuguhkan oleh Hana. Kemudian Hana mengambil tempat duduknya di sisi kanan Haris.
“Kamu sehat nak?” Tanya Abah.
“Alhamdulillah bah” jawab Hana.
“Bagaimana, apa sudah ada tanda-tanda hadirnya cucu abah?” Tanya Abah santai sambil mengambil kue kering dan memakannya. Deg. Hana tegang mendengar pertanyaan spontan Abah.
“Doakan kami bah, semoga Allah berkenan menitipkan amanah-Nya kepada kami” Ucap Haris, mendengar jawaban Haris yang begitu tanpa beban, Hana pun melihat ke arah Haris. berbeda dengan Hana, laki-laki ini juga tampak
santai menjawab sambil menyeruput air teh nya. Sebenarnya ia juga canggung mendengar pertanyaan Abah. Bagaimana mau punya anak, ia bahkan belum memberikan nafkah batin kepada istrinya itu. Ia juga melihat gelagat Hana yang masih belum enjoy ketika mereka bersama. Ia tidak ingin memaksa. Semua memang butuh proses. Mungkin belum ada cinta di hati Hana untuknya. Sedangkan ia? Ah, ia juga masih kebingungan dengan perasaannya sendiri.
Abah mengangguk-angguk.
“Ummi juga turut mendoakan semoga kalian segera Allah berikan amanah keturunan yang shalih shalihah dan pernikahan yang diberkahi oleh Allah SWT, rumah tangga kalian senantiasa Sakinah mawaddah wa rahmah, nak!” Ummi mendoakan dengan tulus.
“Aamiiin ya Rabb” Mereka semua mengaminkan.
Anak dan orangtua tersebut berbincang-bincang seru seperti sudah setahun saja tidak bertemu, tanpa terasa
__ADS_1
adzan maghrib berkumandang. Abah dan Haris bersiap shalat ke mesjid terdekat. Hana mengikuti Ummi menyiapkan makan malam.
“Nak, kamu nginap di sini kan?” Tanya Ummi
“Hana ingin sekali mi, Hana tanya kan dulu sama mas Haris, semoga besok agenda mas Haris kosong” Ummi mengangguk.
“Kalau kamu memang menginap, nanti kamu ganti seprai yang berada dalam kamar dan kamu rapikan sedikit, sebenarnya setiap hari ummi merapikan kamar kamu sekalian melepas rindu. Hanya saja sepreinya belum ummi ganti, nak!” Ucap Ummi.
“Baik Ummi, abis membantu Ummi menyiapkan makan malam, Hana akan menganti seprei di kamar” Hana berkata dengan tersenyum gugup. Jika ia dan Haris menginap, itu artinya mereka akan berada dalam satu kamar yang sama. Bagaimana jika suaminya tiba-tiba memeluknya lagi. Atau bahkan melakukan hal yang lebih dari itu. Membayangkannya pipi Hana kembali bersemu.
***
Abah dan Haris telah kembali dari mesjid, makan malam pun telah selesai terhidang di meja makan. Ada cumi-cumi
saos padang, ayam bakar (yang memang sudah di marinasi sebelumnya oleh ummi sebelum kedatangan Haris dan Hana), sayur asem, lalapan, sambal bawang dan beberapa menu lainnya. Tak lupa air kelapa dan pudding sutra juga menemani makan malam mereka.
“Masya Allah, mewah sekali dan tampak sangat lezat makanan-makanan ini, Mi” Puji Haris yang berbinar-binar
melihat hidangan yang ada di meja makan. Ia sudah tau persis bagaimana rasa masakan ummi mertua nya. Sudah pasti enak.
“Alhamdulillah, makan yang banyak nak. Ini tadi juga dibantu Hana, tidak sepenuhnya Ummi yang masak”
“Wah, kalau masakan Hana, Haris juga sudah tidak meragukannya lagi mi, sudah setiap hari Haris merasakannya” Puji Haris sambil melirik ke arah Hana. Mau tidak mau, mendengar pujian suaminya, Hana kembali tersipu. Ah, sudah berapa banyak hari ini ia tersipu, tidak terhitung jumlahnya.
Selesai makan, Hana menemui Haris di teras rumah. Suaminya tengah menunggu abah yang sedang berwudhu’, mereka akan bersiap ke mesjid untuk menunaikan shalat isya berjama’ah bersama.
“Mas..” Panggil Hana.
“Iya, ada apa Hana?”
“Besok mas ada agenda apa?”
“Alhamdulillah kosong”
“Hmh, kita sudah lama tidak berkunjung ke sini, bagaimana kalau kita menginap mas?
“Ide yang bagus, baiklah kita akan menginap di sini, Ummi seperti nya juga sangat merindukan kamu”
“Alhamdulillah, terima kasih mas” Hana sangat bahagia mendengar persetujuan Haris.
***
__ADS_1