Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 70: Kekuatan dari Bola Matamu


__ADS_3

Haris melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia sangat khawatir mendengar Hana yang kembali pingsan. Beberapa kali ia sempat di klakson keras oleh pengendara lain yang melihatnya melajukan mobil seperti pemuda tanggung ugal-ugalan. Beruntung tidak ada polisi yang melihatnya. Kalau tidak, niscaya akan menambah daftar masalah dalam drama kehidupannya.


Kurang dari 15 menit Haris sudah tiba di parkiran, ia langsung melesat ke dalam lalu meminta izin kepada petugas untuk menemui Hana dengan mengatakan bahwa ia merupakan suaminya.


Petugas mengabarkan bahwa Hana mengalami sedikit kekerasan fisik yang dilakukan oleh teman sesama sel tahanan, hal seperti ini sebenarnya sudah jarang terjadi, mungkin karena sudah lamanya para tahanan sel tersebut tidak kedatangan tahanan baru, maka Hana pun jadi bahan pelampiasan mereka.


Namun petugas mengatakan bahwa mereka akan memberikan hukuman tambahan kepada para pelaku, hukuman yang setimpal atas apa yang mereka lakukan. Setelah melalui sedikit proses interview, akhirnya Haris diizinkan menemui istrinya.


Haris berjalan menuju ruangan Hana, ia berjalan sempoyongan, kakinya terlalu lemas untuk bisa sekedar menapak, hatinya menangis. Ia merasa semakin hari Hana semakin menderita, semakin bersamanya, Hana semakin larut dalam penderitaan, apakah ia bukan suami yang tepat untuk Hana?


Pelan tapi pasti Haris tiba di ruangan. Hana tampak terbaring lemah, selang infus kembali menghiasi lengannya. Alhamdulillah gadis itu sudah siuman, melihat sang suami yang datang mendekat, Hana melemparkan senyumannya. Ia berbinar-binar di dalam rasa sakitnya.


"Mas... " Hana memanggil Haris lirih. Haris diam saja, matanya berembun, ia tidak memiliki keberanian untuk sekedar menatap istri nya itu.


"Mas... " Hana kembali memanggil Haris.


"Kenapa mas tidak mau melihatku? " Hana heran.


"Aku malu padamu, Hana. Sebelumnya aku terlalu bersemangat ketika mengetahui aku bisa mengunjungi mu, dan ketika mengingat-ingat kembali bahwa aku akan melihatmu dalam keadaan menyedihkan, aku sangat khawatir dan semakin ingin bertemu. Namun, ketika di pintu masuk aku melihat mu dalam keadaan nyata seperti ini, keberanian ku surut. Maafkan aku yang telah membuatmu jadi begini" Haris berkata seraya menitikkan air mata.


"Aku tidak apa-apa, Mas jangan mengkhawatirkanku" Hana masih saja tersenyum.


"Katakan dimana yang sakit? " Haris mulai serius.


"Aku hanya pingsan saja kok, Tiba-tiba kepalaku kembali pusing" Elak Hana.


"Benarkah? Aku merindukan mu, boleh kah aku memelukmu? " Pinta Haris tetap dengan wajah serius.


Hana mengangguk. Haris mulai memeluk istri nya dengan mengikis jarak di antara mereka. Ia sedikit mengeratkan pelukan nya.


"Aww" Tiba-tiba Hana meringis.


"Sudah kuduga, katakanlah dimana yang sakit! "


Hana terdiam.


"Jangan menyiksaku seperti ini Hana! Biarkan aku mengetahui dimana rasa sakit yang kamu rasakan" Haris nelangsa. Hana menoleh dan melihat ke dalam bola mata suaminya, kemudian ia mengalah dan menunjuk arah tubuh nya, ia membenarkan bahwa tubuh tersebut sedang tidak baik-baik saja.


Haris dengan cekatan langsung meminggirkan bagian kain kerudung yang menjuntai menutupi dada Hana, jemarinya mulai membuka kancing depan gamis yang tertutup rapat. Spontan Hana menghentikan gerak tangan Haris dengan memegangnya,

__ADS_1


"Ma... Mas, mas mau apa? "


"Biarkan aku lihat lukamu"


"Aku tidak kenapa-napa, mas. Tidak ada luka, hanya sedikit memar saja. Dokter telah membereskan nya"


"Kalau kamu memang tidak kenapa-napa, lalu mengapa kamu meringis saat kupeluk? "


Hana terdiam.


"Apa kamu malu? " muka Hana memerah.


"Kenapa harus malu sama suami sendiri sih? Bukankah kita hampir saja... "


"Ssssstttttt, mas! " Hana meletakkan telunjuk nya di bibir Haris.


"Kalau begitu biarkan aku melihatnya, waktu untukku menemanimu tidak lama, aku harus memastikan kamu baik-baik saja" Pinta Haris memohon.


Tanpa menunggu jawaban dari Hana, pemuda itu kembali menggerakkan tangannya dengan membuka kancing depan baju yang Hana kenakan. Seperti biasa, gadis itu masih memakai kaos di balik baju gamis longgar nya. Haris menurunkan gamis sebatas pinggang setelah memastikan ruangan tersebut telah terkunci dan jendela tertutup rapat.


Tampak memar-memar biru keunguan terlihat jelas di lengan putih Hana, Haris menggigit bibir bawah nya ngilu. Ia mulai mengambil obat-obatan salep yang tadi sempat ia minta pada petugas sebelum memasuki ruangan.


"Kepalamu masih pusing? " Haris bertanya seraya pelan-pelan mengoleskan salep pada luka memar.


"Maaf, ini memang terasa sakit" Haris kembali mengoleskannya.


"Maaf, aku akan sedikit mengangkat baju kaos mu" Hana menegang. Ia mematung tak berkutik di tempatnya. Ia seperti kesulitan bernafas.


"Ya Rabb, Kamu kenapa? Rileks aja" Haris tersenyum melihat tingkah gemas istrinya. Hana memalingkan wajah. Malu. Haris mengecek jam tangannya, masih tersisa waktu 15 menit lagi.


"Selagi waktu masih tersisa, aku ingin menjelaskan perkembangan kasus yang menimpamu" Ucap Haris sambil menaikkan baju kaos yang Hana gunakan.


Haris membelakangi Hana, punggung gadis itu terlihat, ada satu bekas memar di sana. Haris merasa canggung, ia berdesir dan merasakan serangan gejolak yang tiba-tiba saja muncul. Namun Ia tetap harus mengoleskan obat di sana. Sejenak ia menutup mata untuk menetralisir kan suasana dihati kemudian buru-buru ia menurunkan baju kaos yang Hana kenakan.


"Mas, mengapa diam? jelaskanlah apa yang ingin mas katakan"


Haris kikuk.


"Apa masih ada bagian yang sakit? " Tanya Haris kemudian, Hana menunjukkan kening yang tertutup oleh ciput, ternyata di sana juga terdapat luka memar. pemuda itu pun menyingkirkan sedikit ciput yang menutupi luka dan mulai kembali mengoleskan obat perlahan. Jarak mereka begitu dekat, Hana kembali gugup.

__ADS_1


"Hmh, Ternyata yang menjebakmu meminum alkohol pada malam na'as itu adalah Hanum rekan kerjaku" Haris masih bekerja menyempurnakan olesannya. Kembali lagi, ia tidak brani menatap Hana, ia terlalu malu. Ternyata lingkungan disekitarnya lah yang memberikan celaka.


"Mba Hanum? Aku sudah tidak terkejut, mas. karena mbak itu yang memaksa aku untuk meminum air yang ada di tangannya"


"Lalu kenapa kamu tidak memberitahu kan nya kepadaku?? "


"Aku masih ragu, sebab sebelumnya aku juga minum lemon tea, aku tidak tau minuman mana yang menyebabkan aku tidak sadarkan diri"


"Tidak hanya Hanum saja yang terlibat namun ada beberapa orang" Haris memejam kan mata.


"Hanum dan teman-temannya, mereka tidak hanya cukup menjebak meminumkan mu alkohol saja tapi juga terlibat dalam menjebak kalian pada kasus narkotika..."


Mendengar penuturan Haris, mata Hana berembun, ia merasa tidak memiliki masalah apapun dengan Hanum, namun mengapa wanita itu bisa setega itu terhadap Ia, dan terhadap Yura yang bahkan tidak mengenal nya sama sekali.


"Tapi untuk saat ini aku tidak ingin memberitakan hal buruk kepada mu, sebab kebenaran akan segera terungkap" Hana masih mendengar kan dengan saksama.


" Aku dan Ridwan sudah menyewa pengacara untukmu dan Yura, kronologi kejadian dan sebagian barang bukti sudah berada digenggaman, kita tinggal menunggu bukti nya sempurna dan mengundang saksi yang terlibat"


"Aku tau ini adalah masa masa tersulit buatmu, tapi ketahuilah aku juga terpukul dengan ini semua" Haris berkata sambil membantu Hana mengembalikan posisi gamis nya ke tempat semula.


"Mas, aku ingin menanyakan sesuatu"


"Tanyakan lah"


"Bagaimana perasaan... " Haris menunggu pertanyaan yang akan Hana layangkan.


"Kenapa berhenti, lanjutkan kalimatnya" Perintah Haris yang sedang merapikan kerudung yang Hana kenakan.


"Bagaimana perasaan mas saat ini? Aku tau mas begitu menderita karena ku" Hana membelokkan pertanyaan nya.


"Aku melihat kekuatan dari kedua bola matamu. Seketika aku menjadi kuat lebih dari yang aku duga. Tahukah kamu? Aku tidak menyangka kamu bisa sedewasa ini dalam menghadapi masalah apapun padahal umurmu belum menginjak 20 tahun, dan kamu jauh lebih menderita daripada aku, jauh, jauh menderita" Haris mengusap pipi Hana.


"Apa mas sedang mencoba memujiku atau mengujiku? "


"Tidak keduanya"


Percakapan mereka terhenti ketika petugas mengetuk pintu dan mengatakan pada Haris bahwa waktu berkunjung sudah habis.


Haris keluar ruangan setelah meyakinkan Hana bahwa semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Hana memperhatikan punggung Haris yang menghilang dibalik tembok, sebenarnya ia ingin mempertanyakan bagaimana perasaan Haris terhadapnya. Apa ada kah sercercah perasaan dihati suaminya itu untuk nya? agar ia bisa lebih kuat lagi, agar ia lebih punya alasan untuk bertahan dari semua badai dan menjalankan pernikahan selayak pasangan pada umumnya. Karena tidak bisa dipungkiri, ia telah menaruh hati pada pemuda yang telah menikahinya itu, entah sejak kapan., mungkin sejak pertama kali sang suami menyentuhnya.


***


__ADS_2