
Subuh datang menyapa. Suara Adzan sudah menggema di seantero penjuru kota. Hembusan angin dingin menyentuh apa saja dan siapa saja yang dilaluinya. Kesejukan pun terasa. Arini duduk menyendiri di teras rumah, ia tenggelam dalam lautan kecemasan. Dengan berbekal baju kaos tipis berlengan panjang dan kerudung kurung yang hanya sebatas leher, ia menegarkan diri untuk duduk di teras rumah. Dingin sudah tak terasa lagi di kulit nya. Hanya kesepian dan suara jangkrik yang masih berlalu Lalang keluar masuk ke dalam telinga. Walau adzan subuh sudah datang menyapa, namun tak membuatnya beranjak dari tempat duduk yang sudah di duduki selama berjam-jam yang lalu.
“Nak, kamu tidak shalat?” Tegur bu Indah, ibunya.
“Tidak Mi, Arini lagi haid” Jawab Arini dengan wajah sendu.
“Ummi perhatikan kamu sangat lesu, nak. Ada masalah apa?” Ibu bertanya dengan lemah lembut.
Arini menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lalu kenapa dari tengah malam kamu menyendiri di teras rumah? Ummi sangat mengkhawatirkan kamu, kamu bisa masuk angin!”
“Arini hanya ingin menghirup udara malam saja, Mi. Arini tidak bisa tidur dan merasa bosan” Ucap Arini setengah berbohong. Ia tidak ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ia takut dengan bercerita pada sang ibu malah akan menambahkan masalah baru.
“Benarkah begitu?” Ibu Arini bertanya untuk meyakinkan.
Arini mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu Ummi shalat dulu, kamu segera masuk ya, jangan lebih lama lagi diluar!” titah ibu.
“Baik, Mi”
Arini kembali dengan kesendiriannya. Sejujurnya ia tengah kalut dengan keadaan. Apa yang harus dilakukannya? Ia cemas kalau-kalau Hanum diciduk oleh polisi akibat ulahnya. Sebelumnya ia benar-benar tidak berpikir
panjang. Belum lagi masalah Gibran yang menanti cerita darinya. Semua menjadi serba complicated sekarang.
Tiba-tiba sebuah mobil sedan honda Civic tampak memarkirkan mobil di halaman rumahnya. Ia sudah tau pasti siapa pemilik dari kendaraan itu. Benar saja, Hanum keluar dari mobil tersebut setelah sebelumnya mematikan mesin terlebih dahulu. Hanum dengan wajah masamnya pun menghampiri Arini yang telah memasang wajah bersalah.
“Rin, kenapa kamu tega?” Tembak Hanum tanpa berbasa basi terlebih dahulu. Ia menatap Arini dengan menahan amarahnya.
Arini tau ia bersalah, ia tidak akan menyalahkan jika Hanum membencinya, namun tetap saja apa yang Hanum perbuat sudah snagat keterlaluan. Ia memang menginginkan Haris, Ia menghargai semua upaya dan pengorbanan yang Hanum lakukan untuknya, namun bukan begini juga caranya.
Air mata Arini jatuh membasahi pipi. Ia bingung harus menjawab apa atas semua yang terjadi.
“Rin, jawablah” Lirih Hanum. Ia paling tidak tahan melihat air mata Arini yang jatuh bercucuran.
Arini tetap diam membisu dengan airmata yang terus mengalir. Ia menundukkan kepalanya. Tak mampu rasanya menatap wajah Hanum, sang sahabat yang sudah menjadi bagian dari dirinya selama bertahun-tahun itu. Tak bisa
dipungkiri, tetap saja ia merasa bersalah.
“Rin, kalaupun kamu memang ingin aku mendekam di penjara, kamu sudah tau, pasti hal itu akan aku lakukan demi kamu….” Hanum mendesahkan nafas dan membuangnya ke udara, ia memberi jeda sesaat kemudian melanjutkan,
“Untukmu, demi kamu apapun akan aku lakukan dan aku korbankan, jika harus memakan kotoran sekalipun, niscaya akan aku lakukan. Kamu sudah tau pasti itu!!! Kamu sudah tau pasti bagaimana aku. Tapi kenapa Rin?
__ADS_1
Kenapa?” Hanum mengguncang-guncangkan bahu Arini dengan kedua tangannya. Ia merasa frustasi dengan Tindakan Arini yang begitu di luar dugaannya. Bahkan laki-laki yang sangat ia cintai itu ia serahkan dengan Cuma-cuma hanya demi seorang Arini. Ya. Hanum hanya akan berkorban untuk Arini seorang.
“Maaf” Akhirnya Arini mengeluarkan suaranya. Kedua tangan Hanum yang bertengger di bahu sahabatnya itu turun secara perlahan-lahan. Kecewa, kacau, kalut, namun sayang semua bercampur aduk menjadi satu.
“Hanum, Aku tidak peduli seberapa banyak kamu membenciku, namun Aku akan memastikan kamu tidak akan pernah di penjara!! Selama nya kamu akan berada di sisiku” Ucap Arini kemudian. Kali ini wajahnya mampu menatap Hanum, sorot mata tajam itu seolah berbicara dengan penuh kesungguhan.
***
Di Rumah Sakit
“Dok, bagaimana istri saya? Mengapa ia belum juga siuman?” Haris bertanya dengan perasaan sedih yang terus bergemuruh dihatinya.
“Tenang pak, Istri bapak baik-baik saja, hanya saja memang butuh sedikit waktu agar nona Hana kembali siuman. Besok pagi jam 09.00 jangan lupa mengambil hasil lab nya di laboraturium” Ucap dokter masih dengan nada
yang begitu ramah.
Setelah menjelaskan panjang lebar mengenai perkembangan Kesehatan Hana, dokter pun berlalu, di ruang lain nya juga masih banyak pasien yang menunggu.
“Insya Allah sebentar lagi Hana akan siuman, bro” Ucap Ridwan mencoba memotivasi Haris yang dari tadi menatap Hana lesu.
Haris mengangguk.
“Terima kasih sudah menemaniku sampai ke titik ini” Lirih Haris haru, ia tidak melihat raut wajah kelelahan sedikitpun pada wajah Ridwan sahabatnya itu.
Gibran dan Yura sudah pamit pulang. Kepulangan mereka masih menyisakan tanda tanya, namun Ridwan sempat bertanya tentang bagaimana kronologi penyelamatan Hana dari Hotel hingga gadis itu dirawat di rumah sakit
seperti ini.
“Haris mari kita duduk sebentar!” Ajak Ridwan. Haris mengikuti Ridwan dan duduk di sebelahnya.
“Gue mau kasih tau sesuatu yang penting. Gue tau keadaan lu lagi kacau sekarang, tapi tentang hal ini lu wajib tau, karena udah tercebur, biar basah sekalian. Bagaimana pun kita ga bisa biarkan keadaan yang tidak menguntungkan lu dan Hana semakin berlarut. Apalagi nama baik lu udah kacau di kantor” Ucap Ridwan serius.
“Gue udah ga peduli sama nama baik gue, Wan” Haris sudah pasrah sama keadaan.
“Terus lu juga ga peduli sama Hana istri lu? Ga peduli sama kehormatannya??” Sekak Ridwan.
“Maksud lu?”
“Hana di culik oleh tiga orang preman, tapi mereka sudah di ringkus, sekarang telah di selidiki di kantor polisi”
Haris mendesah.
“Gue udah tau dari petugas kepolisian, Wan”
__ADS_1
“Lu tau ga gimana keadaan Hana ketika itu???” Tanya Ridwan lagi dengan setengah berbisik namun ekspresi yang tajam. Haris menggeleng.
“Istri lu hampir di perkosa sama si kepala preman dalam keadaan ga sadar!!” Ridwan Berkata dengan suara yang hampir meledak.
“Apaa?????” Haris shocked mendengar pernyataan Ridwan.
“Lu kalau cerita yang bener!!!” Kalut, Haris menarik kerah baju Ridwan.
“Gue dengar dari Gibran yang memang dia datang tepat waktu ke lokasi kejadian. Telat semenit aja, istri lu udah selesai, Ris” Kali ini suara Gibran melemah.
Bak di sambar petir di siang bolong, Seluruh tubuh Haris serasa terbakar melebihi terbakarnya oleh kekuatan api biasa, ia seperti tersengat dengan kapasitas tegangan ribuan volt. Mendidih sudah ubun-ubun kepalanya. Ia mengigit gigi dan mengepalkan tangan sekuat tenaga.
“Itulah mengapa dokter mengatakan bahwa Hana kehilangan kesadaran dalam waktu yang lama, selain pengaruh alkohol, juga ada pengaruh kuat dari obat bius yang melebihi dosis. Hana memang dijebak, namun Kita masih tidak
mengetahui siapa dalang dibalik semua kezhaliman ini” Ucap Ridwan lagi. Ia sungguh merasa prihatin akan nasib Haris, terlebih terhadap nasib Hana, istri dari sahabat dekatnya itu.
Tanpa banyak berkata, Haris bangkit dari duduknya. Ia mengambil gawai dari saku celana dan mulai melakukan panggilan telepon,
“Halo Ris, Assalamu’alaikum” Sapa Pemuda di seberang.
“Wa’alaikumsalam. Ko, gue butuh bantuan lu sekarang!” Ucap Haris pada pemuda diseberang yang bernama Riko Setiawan.
“Bantuan apa? Lu bilang aja. Gue pasti usahain gimana caranya untuk bantuin lu!” Ucap Rico lagi.
“Tolong lu selidiki tentang tiga preman yang baru diringkus polisi. Selidiki apa motif mereka dan mereka mau apa! Gue pengen banget informasinya bisa gue dapatin sesegera mungkin. Kalau menunggu pengumuman dan sidang dari pihak kepolisian pasti bakal kelamaan. Please lu tolongin gue!” Pinta Haris dengan nada memohon.
Riko termasuk teman dekat Haris. Pemuda ini juga banyak berhutang budi pada kebaikan Haris dan keluarga sehingga ia bisa menjadi Intel di kepolisian pusat. Haris merasa meminta tolong pada Riko adalah keputusan
yang tepat sebagai Langkah awalnya untuk saat ini, untuk selanjutnya Haris akan memainkan peran nya dengan baik. Ia pun memutar otak secepat kilat untuk membereskan masalah ini, sebab baginya, jika sudah menyangkut harga diri dan kesehatan sang istri berarti sudah masuk ke ranah gawat darurat. Toh ia juga sudah tidak memikirkan dirinya sendiri lagi.
Dengan bantuan Ridwan dan sisa-sisa kekuatannya, ia memberikan informasi lengkap mengenai ketiga preman dan kronologi kejadian dari hilangnya Hana, lalu peristiwa istrinya mabuk, terus di culik dan di bawa lari ke hotel kemudian nyaris hampir diperkosa. Setelah mendapatkan informasi tersebut, Riko pun segera melakukan tindakan.
***
Hai Teman-Teman, Gimana?? Masih semangat baca nya?? hehe
Kira-Kira kalian team yang mana? Team Hanum dan Arini atau Team
Haris dan Ridwan??
Jangan lupa dukungannya terus ya. LIKE KOMEN VOTE dan HADIAH nya. Thank You so Much. Jazakumullah Khaer ^^
***
__ADS_1