
"Na, Kamu kenapa sering banget mual? Aku merasa akhir-akhir ini perangai kamu aneh banget... " Yura mengerut kan kening nya saat melihat banyak keanehan yang terjadi pada sahabatnya itu. Mulai dari perut keram, pusing, tiba-tiba mual bahkan tak ayal Hana bisa muntah hanya dengan mencium harum wewangian yang sepele.
"Aku juga ga tau kenapa. Aku memang merasa kesehatan ku memburuk" Jawab Hana sambil memasukkan strawberry ke dalam mulut nya. Akhir-akhir ini Ia sangat menyukai buah-buahan yang terasa asam.
"Bulan ini kamu sudah haid? " Tanya Yura serius.
"Haid? Ini sudah lewat dari tanggal seharusnya dan aku belum mendapatkan haid" jawab Hana santai, ia masih mengunyah strawberry asamnya.
"Jangan-jangaaan.... Apa mungkin kamu hamil??" Heboh Yura. Ia yang menyadari kehebohan nya menjadi perhatian orang-orang di kantin kampus langsung membekap mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Apa?? Hamil?! " Pekik Hana dengan berbisik.
"Ya... Kondisi mu persis kondisi orang hamil" Yura berbinar.
"Hhhh Apa mungkin aku bisa hamil? " Keluh Hana merasa tidak yakin. Yura menge-cek jam tangannya.
"Masih ada 15 menit lagi sebelum kelas di mulai. Ayo kita beli testpack! "Ajak Yura mengamit lengan Hana.
"Ga ah, aku malu Ra... " Tolak Hana menggeleng kan kepalanya.
"Ayolah.. kalau tidak, bagaimana kita bisa mengetahuinya? " Ajak Yura lagi. Dengan langkah berat Hana terpaksa mengikuti i'tikad baik sahabatnya itu. Walau Hana sama sekali tidak yakin ia akan hamil, apalagi secepat ini.
Setelah membawa mobilnya selama tujuh menit, Yura memarkirkan mobilnya di depan sebuah apotek. Ia mematikan mesin dan mengajak Hana untuk turun.
"Aku malu Ra... Aku ga brani beli alat begituan! " Ucap Hana mempoutkan bibirnya.
"Yah.. Kalau kamu tidak mau, biar aku saja yang membelinya" Ucap Yura dengan mengambil masker dan kacamata dari dalam tas nya.
"Kamu yakin? Kamu masih gadis Ra... " Hana mencegat lengan sahabat nya itu.
"Tenang... Kamu tunggulah sebentar! "
Secepat kilat Yura melesat ke apotek. Hana memelintir ujung kerudung nya cemas. Sebenarnya daripada berharap, Ia lebih takut akan kecewa dengan hasilnya nanti.
Tok tok tok
Hana terkejut, Ada seseorang yang mengetuk kaca mobil.
"Mas Ridwan? " Panggil Hana dengan menurunkan kaca.
"Mas kenapa di sini? "
"Aku dan Haris mau menge-cek proyek, kebetulan kami melewati jalan ini. Melihat mobil Yura terparkir di sini, Kami langsung berhenti. Kemana dia? "
"Yu.. Yura ke apotek itu" Tunjuk Hana gugup.
"Wan,,, ada Hana di situ? " Panggil Haris dari dalam mobilnya.
Deg....
"Ada ni, lagi nunggu Yura" Sahut Ridwan. Haris turun dari mobilnya.
"Siapa yang sakit? kenapa ke apotek? " Heran Ridwan.
"Hmh... I.. tu" Hana bingung harus menjawab apa.
"Honey... Are You Okay? " Cemas Haris yang mengetahui mereka berhenti untuk ke Apotek. Ridwan mundur, Haris mendekati pintu lalu menyentuh kening Hana.
__ADS_1
"Aku ga kenapa-kenapa mas" Jawab Hana dengan menyunggingkan senyum nya.
Dari arah depan Yura kembali dengan menenteng plastik berisi testpack dan minuman pereda nyeri Haid. Ia tidak menyangka Ridwan dan Haris sudah berada di sana. Kini semua mata tertuju pada plastik yang di tenteng oleh Yura.
"Apa itu? " Selidik Ridwan, plastik yang berwarna putih menjadi kan barang yang ada di dalamnya samar-samar terlihat. Yura meletakkan barang tersebut ke balik punggung nya dan melirik Hana.
" Apa Kamu sakit?! " Yura menggeleng cepat.
"Lalu? "
"Ini obat pereda nyeri... Haid dan..... " Yura kembali menatap Hana, gadis itu menggigit bibir bawahnya. Sungguh ia tidak bisa berbohong. Lagian, untuk apa juga di tutupi.
"Dan apa? " Tanya Ridwan lagi, Haris menunggu jawaban Yura. Hana meletakkan jari telunjuk nya ke bibir agar Yura tutup mulut. Ia tidak tau akan meletakkan muka dimana jika mereka ketahuan membeli alat testpack.
"Hmh Bukan apa-apa, mas mau kemana? Kami harus segera kembali ke kampus, sebentar lagi pelajaran dimulai" Yura mencoba mengalihkan perhatian mereka.
"Begitu ya.. Baiklah, kami juga ada perkerjaan di rawa sakti, sampai ketemu nanti" Ucap Ridwan, Yura dan Hana mengangguk.
"Sayang... Aku kembali bekerja, nanti aku akan menjemput mu. Oya, nanti sore Abah dan Ummi Aisyah akan mengunjungi kita" Ucap Haris, seketika Hana merasa tak enak Hati, ia khawatir hajjah Aisyah akan kembali menyinggung perkara anak, namun ia mencoba tersenyum untuk menghormati suaminya. Lalu Hana mengangguk.
Ridwan membalikkan tubuhnya ke arah mobil dan Yura juga mulai melangkah untuk masuk ke dalam mobil. Perlahan ia melewati Haris, plastik yang di tenteng masih di letakkan di balik punggung nya. Tiba-tiba,
"Yura, tunggu! " Haris memberhentikan langkahnya. Yura menoleh.
"Bukankah itu.... Test... pack? " Tanya Haris. Samar-samar ia melihat tulisan dari kertas putih transparan yang masih berada balik punggung Yura. Haris menoleh ke arah Hana. Mustahil itu kepunyaan Yura. Pikirnya.
"Itu benar untukmu? " Wajah Haris mulai sumringah.
"A... Aku tidak yakin mas! " Sahut Hana cepat. Ia menggeleng.
"Waan... " Panggil Haris setengah berteriak melihat Ridwan sudah masuk ke mobil.
Ridwan langsung paham, bergegas ia menuju ke mobil Yura dan menyerahkan kunci mobil ke Haris.
"Mas... Itu tadi ide Yura untuk beli testpack, aku sendiri ga yakin kalau aku hamil, terus kalau aku ga hamil gimana? Untuk apa kita ke rumah sakit, Kita honeymoon kemarin aja belum lama. Terlalu buru-buru kalau kita ke rumah sakit! Ayolah kita pulang, biar aku test di rumah dulu " Hana membebel panjang, ia duduk di samping Haris yang tengah mengendarai mobil. Jujur saja Perkataan hajjah Aisyah masih terngiang-ngiang memenuhi pikiran nya.
Ini kesekian kalinya Hana mengajak Haris untuk memutar haluan dan tidak ke rumah sakit. Haris masih diam, sebelah tangannya menggenggam tangan Hana mencoba untuk menenangkan.
"Jangan cemas... Aku hanya ingin memastikan kesehatan mu, itu saja. Tidak apa apa jika belum hamil, yang penting kamu sehat. Selama ini memang sering mual kan? " Sahut Haris dengan memberi Hana senyuman yang menenangkan. Ia beralih mengusap ringan pipi Hana.
"Aku hanya takut mengecewakan mu, mengecewakan orang tua kita mas..." Lirih Hana menunduk.
"Tidak akan ada yang kecewa di sini. Kita masih muda, walau pernikahan kita nyaris setahun, tapi dalam kehidupan nyata kita baru saja menjadi suami istri. Maka kamu jangan cemaskan itu, lagian hadir tidaknya anak, itu bukan hanya bebanmu, tapi beban kita bersama" jawab Haris diplomatis. Hana terdiam. Ia tidak lagi bersuara, namun di dalam jiwanya masih terdapat sekelumit keresahan.
***
"Bagaimana hasilnya dok? " Tanya Haris dengan menggenggam tangan Hana. Mereka dan dokter duduk dalam posisi yang saling berhadap-hadapan.
"Dari hasil urine, nona Hana memang dinyatakan... hamil" Ucap Dokter.
"Apa dok??? Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Rabb... Hanaaa, Aku akan jadi Ayah!!! " Haris bangkit dari duduk nya, hampir saja dia terlonjak.
Ia menghadap Hana dengan menggenggam kedua tangan istri nya itu. Pemuda ini begitu bahagia dan kegirangan mendengar kalimat yang dokter ucapkan. Tak segan, berkali-kali ia mengecup puncak kepala Hana.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah... " Ucap Haris lagi. Ia terus saja bertahmid.
Hana berkaca-kaca, ada kebahagiaan yang tidak bisa ia lukiskan ketika melihat ekspresi wajah dan gestur tubuh suaminya menyambut berita bahagia ini bahkan lebih membahagiakan dari mendengar berita kehamilan itu sendiri.
__ADS_1
"Pak... pak... sebentar pak... " Panggilan Dokter berhasil membuat Haris menoleh.
"Mohon maaf sebelumnya, benar nona Hana memang dinyatakan hamil. Namun nona Hana mengalami... hamil anggur"
"Hamil anggur? Apa itu dok??" Haris mengerutkan keningnya.
"Hamil anggur adalah gangguan kehamilan yang dalam dunia medis disebut mola hidatidosa...
"Gangguan kehamilan ini terjadi saat sel telur yang dibuahi berkembang menjadi sel abnormal, berupa gelembung putih berisi cairan yang menyerupai anggur...
" Sayang sekali, janin ini harus dikeluarkan dengan cara di kuretase" Terang dokter.
"Apa dok?? dikeluarkan?? "
"Iya Pak"
Mata Hana yang berkaca-kaca karena terharu tadi berhasil mengeluarkan bulir nya ke permukaan. Namun kali ini bukan lagi karena terharu bahagia, melainkan karena perasaan shocked akan penjelasan dokter.
Haris terduduk. Ia kembali mengambil tempat nya.
"Apa janin ini tidak bisa di selamatkan dok? Apa tidak ada cara lainnya?? " Tanya Haris masih menaruh harapan.
"Maaf Pak, seperti yang barusan saya katakan, ini bukan janin normal seperti pada umumnya. Melainkan hanya gelembung-gelembung berisi cairan yang menyerupai anggur... "
"Jaadi, memang harus di kuret agar tidak membahayakan keselamatan bu Hana" Penjelasan dokter membuat Haris lemas. Ia beralih menatap Hana, airmata istrinya itu sudah berlinang-linang. Tak kuasa, ia mendekat lalu mendekap Hana erat.
"Apa kuretase ini akan membahayakan istri saya dok? "
"Sama sekali tidak pak, kuretase adalah prosedur aman terhadap gangguan kehamilan"
"Lalu untuk kedepannya, apa istri saya masih bisa hamil? Kalau bisa, apa akan kembali mengalami hamil anggur? "
"Insya Allah nona Hana masih bisa hamil, namun apa akan kembali mengalami hamil anggur? Wallahu 'alam. Bisa tidak bisa iya" Jelas dokter lebih lanjut.
***
Lemas. Hanya kata itu yang bisa menggambarkan kondisi Haris sekarang. Namun ia harus tegar, Haris melihat Hana jauh lebih terguncang. Apalagi istrinya itu akan di kuret hari ini juga.
Hana menyerahkan keputusan pada Haris, dan suaminya itu memilih agar sang istri langsung di kuret hari ini, sebab dokter juga mengatakan lebih cepat akan lebih baik.
"Mas, maaf aku mengecewakan mu" Lirih Hana sesugukan.
"No Sayang... Tidak sama sekali! Kamu sudah sangat menderita. Merasa mual, pusing, muntah, nyeri perut dan lain nya lagi. Aku sudah sangat berterima kasih untuk hal itu" Jawab Haris sambil menangkup wajah Hana dengan telapak tangan dan memberikan kecupan singkat di bibir nya. Mereka tengah menunggu konfirmasi pelaksaan kuret dari dokter. Hana telah berbaring di ranjang.
Hana meraba perutnya yang masih datar. Sebentar lagi janin abnormal itu harus keluar dari dalam perut nya. Ada gemuruh yang menguncang kuat di dadanya, ada rasa sedih yang tidak bisa ia jelaskan.
Padahal ia belum melihat wujud anak yang dikandungnya, pun bukan janin pada umumnya. Namun tetap saja ia merasa kehilangan. Haris melihat wajah sedih sang istri. Hana memang tidak banyak bicara, namun semua resah, gelisah, juga kesedihan tergambar jelas di wajah ayu nya.
Perlahan Haris mendekati perut Hana, Ia meletakkan telinganya di sana. Lalu mengecup perut tersebut dengan penuh perasaan. Tak tahan, air mata pemuda ini berhasil menetes.
"Nak... Walau kamu tidak seperti janin pada umumnya, namun Ummi dan Abi sangat mencintaimu dan kami merasa kehilangan. Terima kasih ya... Terima kasih Kamu sudah berkenan singgah di perut Ummi, dan membuat Ummi merasakan bagaimana rasanya jadi ibu hamil untuk pertama kalinya"
"Terima kasih nak... Kamu telah membuat membuat Ummi memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah" Bisik Haris di perut Hana. Ia menggenggam kuat telapak tangan sang istri. Air mata Hana semakin berlinang linang memenuhi pipinya.
***
Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
__ADS_1
***