Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 31: Lisa menghampiri Gibran


__ADS_3

Hai sahabat pembaca. Terima Kasih telah setia membaca karya Alana^^ Jangan Lupa untuk terus mendukung dengan Like Komen dan Vote. Bagi yang belum menekan tombol favorit boleh di klik ya^^ Sekali lagi terima kasih banyak :)


***


Gibran mengemas barangnya sedikit demi sedikit. 3 hari lagi adalah jadwal keberangkatannya untuk kembali menuntut ilmu di Maroko. Ia sangat bersemangat untuk kembali ke sana, tiada lagi gairah yang ia rasakan di sini di Indonesia sejak mengetahui bahwa Hana telah menikah. Namun setidaknya nasehat syaikh Haidar sedikit menenangkan jiwanya untuk melangkah maju menatap masa depan yang walau tidak ada yang tau bagaimana nasib masa depannya nanti.


“Nak. Ingatlah bahwa Langkah, rejeki, pertemuan dan maut telah Allah gariskan. Itu semua takdir yang mengikuti seluruh manusia di dunia ini” Kalimat pertama dilontarkan oleh Syaikh Haidar. Kalimat yang sebenarnya sudah sering ia dapatkan dan telah ia pelajari. Namun pada kenyataannya ia masih belum mampu untuk mengaplikasikan dalam kehidupannya. Ia masih rapuh atau ia terlalu meletakkan ekspektasi yang tinggi dalam hubungannya bersama Hana selama ini.


“Perasaan-perasaan yang timbul di dalam hati manusia memang sifatnya manusiawi. Namun cinta yang tumbuh sebelum adanya akad nikah itu tidak dibenarkan nak! Cintai lah segala sesuatu karena Allah. Hanya karena Allah. Cinta dalam ridho nya. Cinta dalam kehalalan.” Syaikh Haidar benar. Hanya saja ia yang masih belum mampu untuk mencapai tingkatan itu. Ilmunya masih dangkal, ilmunya masih seujung kuku. Tiba-tiba ia merasa dalam


keadaan yang sangat malang dan nestapa.


Demikianlah gambaran nasehat-nasehat yang Syaikh Haidar katakan kala ia temui beberapa waktu lalu, sebagai obat bagi jiwanya. Sedikit menghapus awan mendung dihatinya. Menepis lara dan asa yang benar-benar ia rasakan. Bahkan Ia hampir saja putus asa.


Matanya kembali berkata-kata. Ia beristighfar berkali-kali lalu bangkit dan mengambil air wudhu untuk shalat dua rakaat. Sebenarnya kini ia telah mengetahui bahwa Hana tidak mengkhianatinya. Bahwa gadis shaleha itu telah mencoba untuk mengabarinya. Namun, inilah takdir yang telah Allah gariskan. Hana Fathimah Ameer bukanlah rejeki yang Allah takdirkan untuknya. Perihal hal ini, Yura adiknya telah mengabarkan padanya tentang bagaimana perjuangan dan usaha yang Hana lakukan dalam menghubunginya. Di sini ia menyalahkan diri sendiri. Ia sadar betapa Hana juga tidak menginginkan pernikahan itu.


Satu email masuk melalui ponselnya. Ni Rui seorang gadis yang berasal dari daratan China teman satu kuliah mengabarkan bahwa prof Mahfuz mencarinya. Ah, ia baru ingat kalau ia belum mengumpulkan tugas sedang batas waktu tinggal sedikit lagi. Ia berpikir betapa temannya yang bernama Ni Rui begitu baik padanya mungkin juga baik pada teman mereka yang lain. Gadis itu sering sekali mengabarkan banyak informasi walau tanpa di minta. Sering


membantunya dalam banyak hal terlebih dalam urusan perkuliahan. Ia gadis yang pintar. Walau tidak memiliki agama sedari kecil (Warga negara daratan China yang berezim komunis umumnya tidak memiliki agama kecuali suku-suku tertentu) namun ia banyak paham tentang ajara Islam. Konon katanya ia tinggal di lingkungan perkampungan suku Hui (Suku Chinese Muslim) yang berada di negaranya. Jadi ia sangat familiar dengan Islam. Ni Rui sering sekali mengajaknya diskusi tentang banyak hal. Tentang al-Quran, tentang ibadah, puasa dan tentang banyak hal lain. Seolah-olah ia memiliki rasa penasaran yang teramat mendalam. Hmh, Gadis yang unik, pikirnya. Ia pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Ni Rui dan bergegas menuju Pustaka dengan menyelesaikan shalat 2 rakaatnya terlebih dahulu.

__ADS_1


***


Gibran tengah fokus membuat tugas yang harus segera ia emailkan ke prof. Mahfuz. Professor yang berasal dari tanah Arab itu tidak mengenal kata terlambat. Dalam mengikuti mata kuliah beliau, kalau saja seorang calon Master tidak disiplin dalam mengumpulkan tugas, sudah pasti ia akan gagal dan harus mengulang tahun depan. Maka Gibran yang tidak ingin gagal benar-benar harus mengejar ketertinggalannya. Selama ini ia memang sama sekali tidak melakukan apapun. Hanya meratapi nasib yang tidak berpihak padanya. Namun apapun yang terjadi ia tidak boleh gagal dalam mata kuliah. Ia sudah bertekad menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya. Apalagi statusnya hanyalah mahasiswa pemenang beasiswa. Mau tidak mau ia harus disiplin agar biaya kuliahnya tidak dipotong.


Tiba-tiba di luar sana  hujan datang mengguyur lumayan deras. Dedaunan dan jalanan basah. Seseorang dari arah parkir tampak tergesa memasuki pintu utama perpustakaan. Ia adalah Lisa. Ia langsung sumringah dan sangat bahagia melihat ke pojok ruangan, di sana ada Gibran yang sangat tampan sedang fokus dengan laptop dan bacaannya. Ya. Di mata Lisa, tidak ada laki-laki yang lebih tampan dan mempersona melebihi Gibran. Tidak sia-sia rasanya ia menghadang hujan keluar dari parkiran masuk ke perpustakaan hanya untuk memastikan Gibran memang berada di sana. Ia telah mengetahui sebelumnya dari Yura bahwa Gibran sedang berada di sini. Ia pun merapikan make up dan membereskan bajunya yang sedikit berantakan akibat hujan. Ia telah mempersiapkan dandanan terbaik, sayangnya ujung baju bawahnya sedikit kotor dan basah akibat percikan tanah ketika tadi ia


berlari-lari kecil.


“Assalamu’alaikum, ini mas Gibran kan? Lisa menghampiri Gibran dan menyapanya.


Gibran yang lagi fokus tidak mendengar ada orang yang menyapa


“Eh, Iya. Wa’alaikumsalam” Akhirnya Laki-laki ini menoleh.


“Kebetulan sekali kita bertemu di sini mas, mas masih ingat saya?” Lisa membuat Gibran memutar memori untuk


mengingat siapa dirinya.


“Hmh, kamu teman nya Yura kan?”

__ADS_1


“Iya mas, tepat sekali. Saya Lisa. Sudah lama kita tidak bertemu” Lisa sangat excited. Wajahnya berbinar-binar namun Gibran hanya menatap datar tanpa ekspresi. Jujur saja ia agak terganggu dengan kehadiran Lisa. Sebab ia sedang membuat fokus pada tugasnya.


“Mas, boleh saya duduk di sini? kebetulan saya juga sedang ada tugas” Lisa ingin sekali berada di meja yang


sama dengan Gibran. Kali kali bisa menatapnya lebih lama.


“Maaf sekali Lisa, saya akan sulit berkonsentrasi., Lebih baik kita berada di meja yang berbeda” Jawab Gibran


sopan. Lisa kecewa namun ia tidak menyerah.


“Baik. Maaf mas. Saya pikir kita bisa berbincang-bincang tentang Hana jika duduk di meja yang sama” Hana? Hmh, Gibran agak tertarik. Walau sebenarnya ia ingin sekali bisa melupakan gadis itu, namun apa salahnya jika ia mengetahui kabar terakhir tentang Hana sebelum ia berangkat dan benar-benar melupakan gadis itu. Tidak bisa dipungkiri, hanya mendengar nama Hana disebut saja hatinya sudah bergetar. Ia merasakannya.


“Hmh, bisakah kita berbincang setelah masing-masing tugas kita selesai?” Pinta Gibran kemudian, ia tetap tidak bisa meninggalkan tugasnya.


“Tenru saja bisa mas. okay saya tunggu di sebelah sana ya!” Lisa menunjukkan posisi duduknya.


“Baik. terima kasih, Lisa!”


Rasanya hati Lisa akan meledak karena sesak dengan kebahagiaan. Sebenarnya ia sedang tidak ada tugas. Ini semua hanya akal-akalan nya saja agar dapat bertemu dan dekat dengan Gibran.

__ADS_1


***


__ADS_2