
I know the night is fading
I know the time's gonna flies
You can take the darkness from the pit of the night
And turn into a beacon burning endlessly bright
Air Supply~
***
"Apa istimewa nya kamar ini? " Tanya Haris setelah mereka masuk ke kamar dan melihat-lihat isinya.
Kamar berukuran 5x5 meter yang mereka tempati untuk malam ini terlihat seperti kamar-kamar wisma pada umumnya. Di dalamnya terdapat satu tempat tidur king size, satu meja hias juga lemari pakaian. Kelebihan kamar ini hanya pada terdapatnya bathtub untuk sekedar berendam atau spa yang terdapat di dalam toilet.
"Hmh, Jangan-jangan kamu memilih kamar ini agar kita bisa berendam bersama di sana! " Seru Haris yang membuka pintu toilet dengan menunjukkan bathtub lalu mengerling nakal kepada Hana.
"Sembarangan! Kalau memang benar begitu, lebih baik aku meminta agar kita menginap di hotel bintang 7 dengan pemandangan alam atau kota sekalian, huft!" Sembur Hana yang merinding mendengar perkataan Haris. Ia mensedekapkan tangan membalut pinggang.
"Haha, Baiklah.. Baiklah.. jika itu memang mau mu. Aku akan mengabulkan nya. Tapi, kamu sudah siap dengan segala konsekuensi nya, kan?" Haris berjalan mendekat ke arah Hana.
"Konsekuensi a.. apa?" Hana berjalan mundur. Haris melangkah semakin menipiskan jarak mereka, sayangnya Hana semakin terpojok ke belakang. Haris semakin mendesaknya.
Gubrak. Hana terjatuh di atas kasur. Ia mensedekapkan tangannya ke dada.
"Mas, mas mau apa? " Tanya Hana polos. Ia mengedip-ngedipkan matanya.
"Aku mau mandi, gerah. Kenapa? ikut? " Haris mengambil handuk yang berada di samping Hana, Handuk putih yang memang di sediakan oleh pihak wisma dan mereka letakkan di atas tempat tidur. Pemuda itu berbalik arah, tanpa sepengetahuan Hana ia mengembangkan senyumnya. Menjahili istrinya merupakan hal menyenangkan akhir-akhir ini. Hana masih terbengong di atas kasur. huh. dasar. Hana bersungut.
***
Hanum ditempatkan dalam sel yang pernah ditempati oleh Hana. Ia memakai kaos berwarna orange khas tahanan. Bersungut-sungut kakinya melangkah masuk ketika ia sedikit dihempaskan kasar oleh petugas.
"Oh, jadi ini manusia bego yang menjebak Hana? " Seorang Murid yang sempat Hana ajarkan beberapa waktu lalu menatap nya sinis. Hanum mengabaikannya. Kepala nya belum terlalu loading. Ia terlalu shocked dengan keadaan yang berbalik arah.
"Dasar pecundang. Mainmu kurang jauh, manusia iblis!! Berani-beraninya menyentuh orang seperti Hana! " Balas yang lainnya dengan menolak bahu Hanum. Wanita ini sedikit terhuyung.
Kini Hanum menoleh, tatapannya menghujam. Jujur saja kepalanya masih pusing sebab seharian ini tubuhnya sama sekali belum menerima makanan. Perutnya kosong setelah sebelum sidang dimulai ia sempat menghisap sabu-sabu dan menenggak alkohol.
Hanum mengira pesta kemenangan telah berada di tangan mereka, tapi nyatanya ia salah. Kini, malah hanya dirinya saja yang mendekam di penjara. Ia harus menelan pil pahit, lagi-lagi Arini yang ia perjuangan mati-matian itu malah yang menjerumuskan nya.
Sedang Lisa? Wanita licik itu dengan mudah nya mencuci tangan. Pantas saja ia tidak pernah mau terlibat langsung di dalam kasus. Mau tidak mau Hanum harus menerima kebodohannya.
"Awww... " Hanum mengaduh, setelah bahunya di tolak, kini ia terjengkang di lantai, penghuni lain mendorongnya dengan lebih kasar.
Hanum mencoba bangkit dengan memegang kepalanya yang semakin terasa pusing.
"Laknat kalian semuaaaaa!!!" Hanum berteriak sekuat tenaga.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku!!! Kalau tidak aku pastikan kalian semua akan selamanya berada di sini!!! " Hanum berang.
"HAHAHAHA" penghuni tahanan yang berjumlah 5 orang itu tertawa mengejek.
Tiba-tiba seorang petugas datang mengetuk-ngetuk jeruji besi.
Ting ting ting.
"Jangan membuat onar dan keributan! Nanti hukuman kalian akan bertambah!! "Petugas penjaga memperingatkan.
" Untuk Saudari yang bernama Hanum, ikut saya! " lanjutnya lagi.
"Saya mau dibawa kemana, Pak? Kepala saya pusing" Tanya Hanum dengan masih sedikit terhuyung. Wajahnya memucat.
"Jangan banyak beralasan, kita akan menjalani pemeriksaan" Ucap Petugas acuh tak acuh. Hanum mengaduh.
***
"Mendekatlah" Ucap Haris kepada Hana, mereka tengah berada di tempat tidur yang sama. Hana terlentang di bagian ujung kasur, sedang kan Haris sudah berada tepat di tengah-tengah.
Mendengar titah Haris, Hana sedikit beringsut dari tempatnya. Pemuda itu memberi perintah tanpa melihat ke arah Hana, ia menatap langit-langit.
"Lebih mendekat" Hana kembali beringsut sejengkal.
"Lebih dekat lagi..."
"Lagi..."
"Mas.. "
"Kapan itu nya selesai, hm? " Tanya Haris sambil mengelus kepala Hana. Ia memindahkan helaian-helaian rambut halus di dahi Hana ke pinggir.
"Itu apa? " Hana mendongakkan kepalanya menatap Haris.
"Hmh, Haid mu. Aku sudah ingin..." Bisik Haris pelan ke telinga Hana, suara halusnya memenuhi pori-pori, ia membawa istrinya itu ke dada bidangnya, mencium aroma rambut Hana yang menguar seakan harumnya tak pernah berkurang. Kini aktifitas ini juga menjadi favorit nya.
"Hmh... Sabar yaa, Mas. Mungkin dua tiga hari lagi sudah bersih, atau paling telat 4 hari lagi" Hana merasa bersalah belum bisa memenuhi kewajiban nya.
Hana sendiri belum tahu apa ia sudah siap atau belum menyerahkan diri seutuhnya, sedang perasaan Haris terhadap nya masih saja misteri yang belum ia ketahui. Walau sinyal cinta sudah terlihat getarannya namun tetap saja belum dideklarasikan. Dalam hal ini, harga dirinya berkata.
"Lama sekali" Haris manyun.
"Mas sudah bersabar sekian lama, mengapa sekarang jadi begitu ingin terburu-buru? Apa penginapan milik keluarga Lisa ini bisa begitu membawa moodmu? " Hana menggoda Haris. Pemuda ini hanya tersenyum. Ia memberi kecupan bertubi-tubi di dahi Hana.
"Oh iya, ngomong-ngomong tentang Lisa, ada sesuatu yang mengganggu pikiran ku" Haris membuka percakapan baru.
"Apa itu, Mas?" Hana mengkerut kan keningnya.
"Tidakkah kamu merasa aneh pada tindakan Hanum di pengadilan? " Haris membawa pikiran Hana melayang pada persidangan yang telah mereka lalui.
__ADS_1
" Ha? Tindakan aneh yang mana? " Hana kembali mengingat-ingat.
"Setelah kasus terbongkar, Hanum malah berbuat brutal dengan menuduh Lisa. Apa mereka saling mengenal? Apa ini tidak aneh? " Haris menyatakan pendapat nya dengan mengkerut kan kening.
Hana menggeleng.
" Tentang itu Aku tidak tau, Mas. Tapi Aku sama sekali tidak kepikiran ke sana" Hana merenggangkan pelukan suaminya. Ia bangkit.
"Lisa itu anak yang baik, aku sudah lama mengenalnya. Aku, Yura dan Lisa bersahabat sejak lama" Ucap Hana lagi.
"Bukan begitu, maksudku kenapa harus Lisa? Kenapa Hanum malah menyerang Lisa bukan Arini? jelas sekali secara tidak langsung Arini yang membongkar kejahatan nya!" Haris mempertegas kecurigaannya.
"Aku masih belum tenang, aku mengkhawatirkan mu! " Lanjut Haris lagi.
"Aku sama sekali tidak ingin berpikiran buruk terhadap Lisa, ia hanya gadis innocent. Dia gadis lugu, Mas! Ini sangat konyol, mana mungkin ia terlibat. Aku tau persis bagaimana Lisa. Jangan cemas, bersamamu aku baik-baik saja" Hana sedikit tertawa dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia bersikeras bahwa Lisa adalah gadis yang baik.
Haris terdiam, ia tidak ingin berkomentar lebih jauh. Mungkin belum saatnya. Bisa jadi apa yang Hana yakini adalah benar, namun bukankah hal sebaliknya juga bisa terjadi? Bukan tidak mungkin bahwasanya ternyata Lisa adalah...
"Mas, kenapa melamun? " Hana mengguncang sedikit lengan suaminya.
Haris hanya merasa aneh terhadap tindakan Hanum, ia tidak ingin peristiwa berat yang sudah mereka lalui bersama kembali terulang. Ia hanya tidak ingin Hana mengalami penderita yang sama atau bahkan bisa lebih berat lagi. Maka ia harus sangat berhati-hati.
"Ah, tidak. Mari kita kembali tidur" Haris kembali membawa Hana ke dalam pelukan nya setelah sebelumnya ia mematikan lampu.
"Mas.... "
"Hm... "
"Tangan nya... "
"Memangnya kenapa? " Haris menjawab cuek.
"Jangan begini, aku geli" Hana meremang.
"Sebentar saja, aku sangat nyaman begini, nyaman sekali. Tidurlah bidadariku" Ucap Haris seraya memberikan kecupan bertubi-tubi ke puncak kepala Hana.
***
Dini hari, Hanum semakin memucat. Rasa dingin menyerangnya. Ia melihat para wanita sesama tahanan telah terlelap dalam posisi mereka masing-masing. Ia sendiri baru saja menjalani pemeriksaan Urine dan pengambilan darah. Besok pagi hasilnya akan keluar. Ia pasrah sudah.
Tadi, ketika ia menjalani pemeriksaan, petugas kepolisian memberikannya sebuah surat. Ia melihat tulisan yang terdapat pada bagian kop. Surat tersebut berasal dari kantornya.
Jika pada akhirnya Anda terbukti terlibat dalam kasus kriminal dan bersalah, Maka dengan sangat terpaksa kami memberhentikan Anda dari perusahaan dan memecat Anda secara tidak hormat.
TTD
Pimpinan Direksi
Demikianlah penggalan pada bagian akhir dari isi surat. Hanum meremas surat tersebut dengan sisa-sisa kekuatannya.
__ADS_1
***