
Kisah kita adalah sebuah kisah usang yang sudah ku kubur dalam-dalam tanpa ingin ku bongkar lagi.
~Haris Abdurrahman Faiz
***
Haris menemui Arini ketika wanita itu telah siuman, lalu Mereka terlibat dalam percakapan yang lumayan panjang. Haris terhenyak saat Arini mengatakan bahwa ia telah di perkosa oleh orang tak di kenal.
Betapa kini Arini memiliki beban mental dan beban sosial. Ia bingung apakah harus mempertahankan anak yang berada di kandungan nya atau tidak.
“Katakan sekarang aku harus bagaimana, mas! Aku tidak akan sanggup mempertahankan anak ini, terlalu besar beban sosial dan beban lainnya yang harus ku tanggung!” Ucap Arini sendu dengan wajah yang sulit diartikan, Perlahan Ia memberanikan diri memegang lengan Haris. Tangannya mendarat sempurna di sana.
"Rin, jangan melampaui batasmu! " Haris menepis tangan Arini.
"Ma Maaf, Aku kelupaan, Aku tidak sengaja" Arini kembali memupuk air matanya.
"Hanya Hana seorang yang boleh menyentuhku! " Ucap Haris penuh penekanan.
"Mass... " Air mata yang telah dipupuk itu kembali mengalir.
"Tempo hari, ketika kamu sembarangan memelukku aku masih bisa mentolerirmu! Tapi untuk ke depan, jangan salahkan aku jika bisa sampai berbuat kasar! " Ucap Haris dengan kata-kata begitu menusuk.
"Mass, Kata-katamu melukaiku! "
"Maaf, tolong pahami dan terimalah bahwa dalam kisah hidup ini kita tidak ditakdirkan untuk bersama, dan tindakan sembronomu itu benar-benar menyakiti istriku dan aku tidak ingin menyakitnya lebih dalam lagi... "
Usaplah air matamu! " Haris menyodorkan sapu tangan yang ia rogoh dari saku celananya kepada Arini.
"Apa karena aku sudah tidak suci lagi lalu kamu menolakku mas? Hanya kamulah harapanku satu-satunya" Arini sesegukan. Haris menggeleng.
"Sama sekali tidak ada hubungannya. Di mataku kamu tetap gadis suci terhormat, kamu hanya korban situasi. Lagian terlalu picik rasanya mengartikan sebuah penolakan terhadap sebuah identitas" Ucap Haris.
"Mungkin ini akan sangat menyakiti mu, namun harus ku katakan berhentilah mengangan angankan diriku, kini statusku adalah seorang pria beristri. Dari awal keputusan ku sudah bulat, aku tidak akan pernah menikahimu"
"Kamu selamanya benar-benar tidak akan menikah lagi, Mas? " Arini masih menaruh harapan.
"Aku mencintai Hana, aku sangat mencintai istriku. Aku berharap aku tidak akan pernah menduakan cintanya..." Kini Haris yang berkaca-kaca. Ia berkata dengan penuh kesungguhan.
"Kalau pun suatu saat ada kondisi yang mengharuskan aku untuk menikah lagi, maka kupastikan bahwa wanita itu bukanlah kamu! Kisah kita adalah sebuah kisah usang yang sudah ku kubur dalam-dalam tanpa ingin ku bongkar lagi" Ucap Haris tegas. Tatapan nya mengisyaratkan bahwa ia tidak main main dengan perkataan nya. Arini terhenyak.
"O iya, Masalah anak yang berada di dalam kandungan mu, hmh aku berharap kamu dapat mengambil keputusan yang tepat dan terbaik. Jika kamu memutuskan untuk membesarkan nya, aku bisa membantu menanggung keseluruhan biayanya hingga ia dewasa kelak" Lanjut Haris.
" Jika kamu butuh bantuan ku untuk melacak siapa Ayah biologis dari bayimu, aku akan membantu semampuku" Ucap Haris lagi.
__ADS_1
"Lalu jika kamu menyetujui penawaran yang aku berikan, kamu bisa menghubungi nomor ini, asistenku akan mengurus segala keperluan nya" Haris meletakkan kartu nama asisten nya pada nakas yang terletak tak jauh di samping Arini.
"Permisi" Haris menutup percakapan mereka dan berlalu meninggalkan rasa sakit di hati Arini tuk kesekian kalinya. Wanita itu hanya bisa menatap punggung pemuda menawan itu semakin menjauh dari nya.
"Enyah kamu dari perutku!! Enyaahhhh!!! Anak Sialan!!!!" Tiba-tiba Arini berang. Ia berteriak memukuli perutnya yang masih terlihat tipis.
"Kenapa Hidup tidak adil!!!! Aku benci kamu Hana!!!!! Aku benciiiiiiiii.. hiks hiks!!! Kamu harus menderita!!!!! Aku benci kamu!!!!! Aku benciiiii!!!!" Geram Arini, ia berteriak sejadi-jadinya.
Mendengar teriakan Arini, para perawat berdatangan, namun Arini bertambah beringas. Tak segan ia melawan dengan memukuli para perawat yang mencoba menenangkan nya.
Dan satu suntikkan obat penenang akhirnya menembus aliran vena nya.
***
Haris kembali melirik handphone nya, balasan pesan dari Hana tak kunjung ia terima. Ia pun kembali melayangkan sebuah pesan,
Sayang, aku telah selesai mendonorkan darah. Aku akan segera menemuimu di rumah🌹.
Haris tersenyum sumringah, tak sabar rasanya ingin segera menemui Hana. Entah kenapa kali ini rindu itu terasa berbeda, rindu yang menggebu-gebu. Padahal baru sebentar mereka berpisah, namun seolah sudah sekian lama.
Tapi ada sesuatu yang membuat nya merasa lega, ia telah menegaskan pada Arini bahwa ia hanya mencintai Hana. Ia paham gadis itu terluka, namun ia tidak bisa membiarkan perasaan tidak sehat itu terus menerus bersenyaman di hati Arini.
Gadis itu berhak menemukan kebahagiaan nya, walau sekarang hatinya terasa sakit, Haris berharap rasa sakit ini dapat menjadi acuan baginya untuk dapat menemukan cinta yang baru.
Haris hendak melajukan mobil menuju kediamannya, namun getaran di handphone membuat nya menyurutkan langkah untuk mengegas pedal mobilnya. Buru-buru ia membuka, berharap Hana yang memanggil. Tanpa melihat ke layar, ia langsung mengangkat nya,
"Waalaikum salam. Pak, mohon segera ke kantor, kita ketiban kasus, ada kasus yang harus di tangani" Asisten Haris mengabarkan kabar yang tidak mengenakkan.
"Kasus apa? " Haris mengkerut keningnya.
"Kasus korupsi"
"Apa? Korupsi??!" Haris memijat pelipisnya.
"Iya Pak, Aliran dana untuk penanganan proyek bendungan Lembah Talas sebanyak 1 Triliyun mengalir ke tangan Kertayasa Adiguna, hal ini dikhawatirkan juga akan menyeret nama bapak"
"Hhhhhh" Haris menghela nafasnya.
"Baiklah, saya ke kantor sekarang! " Ucap Haris, Ia pun membanting stirnya berlawanan arah, pemuda ini tidak jadi pulang ke rumah melainkan menuju kantor untuk menginspeksi langsung kasus krusial yang sedang terjadi.
Haris merasa kecolongan, memang sejak musibah kasus pidana yang menimpa Hana, ia jadi kurang berkonsentrasi pada kerjaan kantornya.
***
__ADS_1
Hana tersenyum masam melihat rentetan pesan yang Haris layangkan. Ia hanya membaca lalu mengabaikannya.
Sudah hampir tiga jam dari pesan terakhir yang ia terima, Haris mengatakan bahwa ia tak sabar ingin menemui dirinya, Haris mengatakan kalimat rindu, namun nyatanya Hana belum juga mendengar kabar bahwa Haris tengah mencarinya.
Hana merasa Haris kian mempermainkan perasaan nya. Kini, rasa sakit di hati semakin menjadi-jadi.
"Nak, kamu dipanggil Abah ke ruang tengah" Tegur Ummi yang melihat Hana terduduk di sudut sambil mengamati handphone nya.
"Baik Mi" Hana mengambil kerudung dan beranjak malas meninggal kan kamar. Ia sudah tau apa yang akan Abah nya tanyakan.
Terlihat Haji Amir yang sudah duduk dengan kacamatanya, ulama paruh baya ini memasang wajah yang sulit untuk di artikan.
Perlahan-lahan dengan rasa segan Hana mendekati Abahnya, hmh, tidak. Kali ini tidak hanya rasa segan yang ada, namun juga rasa takut yang mendera.
"Duduk lah nak" Ucap haji Amir lembut namun menyiratkan ketegasan di sana.
Hana duduk dengan menunduk di ikuti oleh ummi yang duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu pulang dengan menenteng koper? " Tanya Haji Amir tanpa berbasa basi.
"Ha.. Hana mau tinggal di sini saja bersama Abah dan Ummi seperti dulu"
"Maksud kamu bagaimana, nduk? Coba katakan dengan jelas agar Abah mudah memahaminya" Haji Amir menatap Hana tajam.
"Hana ingin berpisah dari mas Haris bah" Aku Hana jujur dengan terisak, hatinya sudah terlalu sesak oleh rasa penghianatan. Ia tidak ingin merasakan sakit lebih lama lagi.
"Astaghfirullah, istighfar nak! Kamu tau konsekuensi dari kalimatmu itu? " Bak ada petir di siang bolong, Abah dan Ummi terasa tersambar.
Rasa sakit karena selalu terabaikan, rasa sesak karena selalu tersisihkan, pengakuan Arini yang tidak ingin melepaskan Haris, juga pelukan antara Arini dan suaminya di depan mata kepalanya sendiri.
Sering kali Haris melupakan janjinya jika sudah bersama Arini, sering kali Haris membuatnya menunggu jika itu menyangkut tentang Arini.
Lalu, juga tentang janin yang di kandung, tentang semua kekhawatiran Haris terhadap wanita itu, Hana melihat kecemasan nyata dari sorot mata suaminya di sana.
Semua hal melebur jadi satu dan membuat Hana sudah tidak bisa menanggung semua beban ini sendirian. Dan itu sangat sangat menyakitkan.
Ia sudah berusaha untuk diam dan menerima. Sudah berusaha memberikan cintanya. Mengabdi kan jiwa dan raga nya untuk sang suami, tapi seperti nya memang angan-angan dan impiannya yang terlalu jauh.
Cinta ini benar-benar akan menjadi usang dan tergerus oleh rasa sakit jika terus dibiarkan berkarat oleh pengabaian dan pengkhianatan.
***
Tuk Teman-teman semua, Terima Kasih banyak untuk dukungannya ya! Terima kasih untuk like komen vote juga bunga atau kopi nya 🙏
__ADS_1
jazakumullah khaer ❤❤❤
***