
Malam ini terasa hangat. Suhu kota New York naik ke angka 17 derajat setelah siang tadi sempat bertahan di angka 9. Haris dan team baru saja selesai mengecek laporan keuangan yang selama ini berjalan. Terdapat beberapa hal janggal di sana. Haris berpikir ia harus memeriksa ulang kejanggalan-kejanggalan tersebut.
Haris melonggarkan ikatan dasi yang bertengger di leher. Sepatu pantofel miliknya mengeluarkan bunyi gemeletuk setiap kali ia menapakkan kaki. Pria muda ini keluar dari ruang kantor dengan menaikkan lengan kemeja. Roni membawakan tas dan jasnya. Lelah dan letih begitu terasa. Ia benar-benar di forsir guna peralihan kekuasaan yang memang sudah seharusnya menjadi milik nya.
“Tuan, Anda sudah di tunggu di Terra Blues oleh Tuan Martin Luciano” Ucap Mark, asisten dari LogoVo Group.
Terra Blues merupakan Bar dan Club yang cukup terkenal di New York. Tuan Martin sendiri adalah orang Mexico pemilik perusahaan raksasa yang bergerak di bidang telekomunikasi dan kini tengah bekerja sama dengan LogoVo.
Haris menge-cek jam tangannya. Pukul 22.30 waktu New York. Sebentar lagi adalah jadwalnya menelepon Hana. Sebenarnya Ia malas mengunjungi tempat seperti Bar dan Club. Mau menolak ajakan dari rekan bisnis rasa-rasanya juga tidak sopan. Ia berpikir sejenak sebelum memutuskan akan menemui Tuan Martin.
Bau menyengat alkohol menyeruak. Laki-laki dan wanita memadati ruangan. Berbagai suku dan bangsa mulai dari Blonde, Indian, Negro, maupun Asian ada di sini. Hingar bingar gemerlap duniawi begitu terasa. Suasana ini benar-benar membuat Haris dan Ridwan merasa tidak nyaman.
Di temani wanita cantik di sampingnya, Tuan Martin tampak santai memerintahkan wanita ini menuangkan segelas minuman jenis Vodka ke dalam gelasnya. Tidak main-main, Ia memesan alkohol terbaik yang cairan usia nya sudah mencapai 75 tahun. Konon disebutkan, semakin tua usia akohol, maka rasanya akan semakin nikmat. Martin rela merogoh kroscek yang tidak sedikit demi menyenangi para rekannya.
Tak lupa wanita tersebut juga menuangkan minuman ke gelas Haris dan Ridwan. Dua pemuda yang sama-sama pernah mengenyam Pendidikan di pondok pesantren ini saling menatap. Tenggorokan Haris terasa tercekat. Ridwan sendiri merasa kesulitan menelan ludahnya. Apalagi tampilan wanita di depan mereka begitu menggoda. Ridwan kesulitan bernafas. Tidak hanya aroma alkohol, aroma parfum yang terasa nikmat di hidung tercium dengan sempurna.
“Mari kita bersulang atas keberhasilan kerja sama kita!” Ucap Martin sumringah dengan gaya cool. Ia mengangkat tinggi gelasnya mengajak bersulang.
Haris mematung sejenak sebelum kemudian berusaha menghormati pria paruh baya yang ada di hadapannya. Tak ada rasa canggung, ia juga mengangkat gelas. Ridwan mengerutkan kening melihat ulah Haris. cemas.
Haris dan Martin saling menyatukan gelas mereka. Bunyi gesekan gelas kaca terasa memenuhi telinga. Dengan sekali tenggakan, Martin langsung menghabiskan minuman tersebut tanpa sisa. Sedang Haris sendiri meletakkan kembali gelas tersebut ke atas meja.
“Mr. Haris, mengapa Anda tidak ikut minum?” Tanya Martin heran.
“Maaf, saya tidak bisa minum minuman ini” Ucap Haris. Tak lupa ia menyematkan senyuman di sana.
“Begitu ya. Baiklah! Kita akan memesan minuman dengan kualitas yang lebih baik. Waiters!” Panggil Martin.
“Tidak. Tidak perlu. Maaf sekali. Saya tidak mengkonsumsi alkohol. Tapi Anda tidak perlu khawatir Mr. Martin, saya dan Mr. Ridwan akan menemani Anda. Jangan sungkan, Kita akan mengobrol all night long!” Sahut Haris ramah. Namun Ia bisa membayangkan Martin akan tersinggung akan penolakan mereka.
Martin terdiam.
“Mengapa Anda tidak mengkonsumsi alkohol? Bukankah minuman ini sangat penting apalagi saat cuaca dingin?” Tanya Martin yang tampak tertarik.
__ADS_1
“Kami tinggal di negara tropis yang hanya memiliki dua musim. Musim panas dan musim penghujan. Jadi suhu kerap stabil di sana. Tidak terlalu dingin juga tidak terlalu panas. Maka minuman alkohol tidak terlalu dibutuhkan. Tapi sebenarnya, alasan paling kuat bukan hal itu, Melainkan karena alasan agama. Kami beragama Islam. Mengkonsumsi alkohol dilarang di agama kami. Sebagai Muslim yang mengikuti aturan kitab suci, maka kami tidak diperbolehkan meminum minuman terlarang ini” Terang Haris dengan Bahasa yang mudah dimengerti.
Haris berharap Martin dapat memaklumi dan tidak memutuskan kerja sama. Mengingat project tender kali ini benar-benar dibutuhkan perusahaan mereka, apalagi untuk pembuktian akan layaknya Haris menjadi C.E.O dari LogoVo juga SunRise Group. Martin terdiam.
Handphone Haris bergetar. Satu panggilan masuk dari Hana. Pria ini menolak panggilan tersebut, sebab akan sia-sia juga jika di angkat. Suara hiruk pikuk yang terasa memekakkan telinga tidak akan membuat Hana mendengar dengan baik pembicaraan mereka.
“Hahaha” Tawa nyaring Martin tiba-tiba terdengar. Wanita di samping yang memijatnya membuat Haris dan Ridwan jengah.
“Kalian anak-anak muda yang langka. Benar-benar pemimpin perusahaan yang berkarakter dan berintegritas tinggi. Di jaman sekarang ini, jarang sekali anak muda yang memegang teguh ajaran agamanya. Saya salur!" Ucap Martin berbinar.
“Tidak salah perusahaan kita saling bekerja sama. Saya merasa surprised. Mari kita perpanjang kerja sama kita untuk project berikutnya!” Lanjut Martin menyodorkan tangannya. Haris dan Ridwan kembali saling menatap sebelum setelahnya Haris mengambil tangan Martin untuk ia jabat. Siapa yang menyangka, jawaban simple lagi sepele ternyata bisa membawa pengaruh besar. Setelah saling mengobrol panjang. Untuk sejenak mereka fokus pada handphone masing-masing.
“Mas, kenapa tidak diangkat? Marah ya? Padahal aku udah kosongkan jadwal pagi lhoo 😌” Ketik Hana melalui pesan wattsapp.
“Maaf sayang... Aku masih di luar. Jadi ga bisa ngangkat telepon dari kamu ❤”
“Di sana hampir jam 01.00 malam kan? Kok belum pulang? Memangnya mas lagi di mana 🤔?”
“Iya. Aku lagi di Bar. Nanti kalau udah sampai ke hotel kita video call ya ❤”
“Hahaha. Sembarangan! Tau darimana kosakata selingkuh huh? Bikin gemes 😘”
“Kalau mas mau selingkuh, aku juga ga bakalan tau. Aku kan jauh dari mas 🙂”
“Ya Rabb. Aku kerja di sini. Bersamaku juga ada Ridwan kok. Ada-ada aja. Daripada chat aku terus marah-marah ga jelas mending kamu kirim foto. Aku rinduuuuu ☹️” Pinta Haris manja.
***
Tap tap tap
Lisa mengendap-endap di kamar Haris lalu menghidupkan lampu. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kosong. Aman Pikirnya. Tak lupa Lisa mengunci pintu kamar tersebut. Ia kembali memperhatikan keadaan kamar dengan menatap ke kanan dan ke kiri tanpa jeda.
Lisa membuka lemari pakaian. Aroma harum menguar dari sana. Ia sempat berkali-kali menghirup aroma maskulin tersebut. Beberapa baju tampak berjejer rapi di gantungan. Beberapa tersangkut di kursi termasuk piyama tidur. Lisa beralih, ia memfokuskan pandangannya ke atas meja rias.
__ADS_1
Ada segelas air putih juga sebingkai foto Hana terpajang di atas sana, ada lagi biji tasbih yang Lisa tau pasti bahwa itu milik Hana. Tidak hanya itu saja, ternyata Haris juga mengikut sertakan parfum Yasmin yang biasa Hana gunakan. Huft. Hana benar-benar berhasil membuat Haris melupakan Arini, wanita itu sukses membuat Haris merasa candu padanya. Mengetahui fakta tersebut, Lisa mengepalkan tangan. Kesal.
Namun wanita ini tersenyum saat menyadari segelas air mineral telah tersedia di sana. Baguslah. Tidak perlu bersusah payah. Pikirnya. Lisa mengambil benda dari kantong celana dan memasukkan sesuatu ke dalam minuman tersebut. Sesuatu yang seperti serbuk entah serbuk apa. Dalam sekejap kumpulan bubuk putih itu larut di dalam air. Ia tersenyum penuh arti.
Tak menunggu waktu lama, Lisa memasang kamera kecil pengintai di dinding yang dirasa aman dan dikira-kira tidak terlihat oleh Haris namun jangkauan kamera tersebut bisa memenuhi seluruh ruangan lalu ia hubungkan ke handphone-nya. Sungguh Lisa ingin memantau setiap pergerakan dari suami sahabatnya itu. Hmh. Tidak. Maksudnya memantau calon yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Hihihi. Lisa cekikikan girang.
Setelah di rasa cukup, ia keluar dari kamar tersebut dengan mengembalikan segala sesuatu ke tempatnya semula. Lisa yakin ia akan sukses melakonkan perannya malam ini.
***
Haris tiba di kamar hotel pukul 02.15 dini hari. Ia merasa pusing sebab kelelahan dan kurang tidur. Pria ini meraba tengkuknya yang terasa pegal. Ia menguap berkali-kali. Matanya memerah. Ingin sekali rasanya langsung tidur namun ia teringat belum menunaikan shalat isya’.
Haris merasa tubuhnya lengket. Ia harus mandi. Laki-laki ini pun mengambil piyama dan mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. Lisa yang memantau pergerakan Haris melalui kamera dari kamar berbeda, menahan nafasnya ketika melihat tubuh kekar Haris yang masih terbaluti oleh selembar kaos ketat berwarna putih. Hmh Keren. Gumam Lisa menggigit bibir bawahnya. Ia ingin menutup mata dengan kedua tangannya. Namun penasaran, ia pun melihat pergerakan tersebut lebih lanjut.
Haris membuka tali pinggangnya. Ia bersiap-siap membuka kancing celana. Namun tiba-tiba gerakan Haris terhenti seketika. Pemuda ini mengurungkannya. Ia mengambil handuk juga piyama. Ia memilih melepaskan pakaiannya di kamar mandi. Huuuffftttt. Lisa menghela nafas. Agak kecewa.
Haris keluar setelah ia menyelesaikan ritual mandinya. Laki-laki ini langsung menunaikan shalat isya lalu setelahnya membaca surat al Mulk. Lantunan merdu suara Haris membuat Lisa sedikit bergetar. Wanita ini masih betah mengamati pergerakan Haris sebab ada misi yang ingin ia lakukan malam ini.
Selesai shalat, Haris duduk di pinggiran kasur. Ia ingin minum air mineral yang ada di sana. Hampir saja tangan nya menyentuh gelas yang ada di atas meja. Namun panggilan video dari Hana menghentikan gerakkannya. Seperti biasa, setelah mengobrol ringan dan santai serta saling bercerita tentang keseharian yang dialami, Mereka terlibat dalam obrolan panas. Walau tidak sepanas sebelum-sebelumnya, tetap saja obrolan tersebut mampu membuat telinga Lisa memerah serta nafasnya memburu.
Malam ini Hana berinisiatif menutup cepat panggilan teleponnya. Sebab ia tau suaminya itu sudah sangat kelelahan dan butuh istirahat. Tak ayal, Haris langsung meneguk habis minuman yang tadi sempat tertunda dan berbaring tidur. Tak lupa. Ayat Kursi, surat 3 Qul, dzikir-dzikir serta doa pengantar tidur jadi penutup kegiataannya malam ini.
Lisa terlonjak girang. Ia hanya perlu menunggu waktu 15 menit saja untuk beraksi. Dengan berbekal baju tidur yang telah dipersiapkan, ia kembali mengendap-endap ke kamar Haris. Perlahan ia membuka pintu kamar tersebut, jangan tanyakan dari mana kunci akses ia dapatkan. Yang jelas, saat ini Lisa telah kembali ke kamar yang sampai saat ini masih ia kagumi keharumannya.
Lisa melihat Haris yang sepertinya sudah tertidur pulas tak segan membuka kerudungnya. Lalu mengambil ancang-ancang untuk tidur di sebelah Haris. Hampir saja ia melepaskan pakaiannya. Namun tiba-tiba,
“Eva Lalisa! Mau apa kau di kamarku?!” Bentak Haris yang nyaris membuat jantung Lisa copot. Ternyata laki-laki ini tidak tidur.
***
Teman-teman yang tanya visual Haris dan Hana. Bisa diliat di bab 5 ya! Oh iya, karena banyak yang protes, visual Hana juga sudah diganti. Semoga teman-teman suka ❤
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
__ADS_1
IG @alana.alisha
***