Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 124: Wajah Yang Ter-Zoom Sempurna


__ADS_3

"Astaghfirullah. Apa bah? Orang dalam?? Siapa yang berani berbuat nista pada anak kita bah? Katakan bah!! Kita harus memberikan hukuman yang setimpal!! " Pungkas Hajjah Aisyah setelah haji Zakaria membeberkan bahwa bukan pihak luar yang melakukan kejahatan melainkan orang yang mereka kenal dengan baik.


"Ini ada beberapa dokumentasi yang nak Haris kirimkan. Rekaman atas aksi kejahatan yang wanita itu lakukan. Setelah rekaman ini diputar, kita juga akan melakukan video call dengan nak Haris untuk meminta penjelasan lebih lanjut"


Haji Zakaria meminta orang IT untuk memutarkan rekaman tersebut. Tak lupa beliau melayangkan tatapan tajam lagi tak ramah pada sang istri. Hajjah Aisyah mengerutkan kening. Heran. Tiba-tiba perasaan beliau memburuk. Jangan-jangan ini semua ada kaitannya dengan masa lalu. Pikir Hajjah dengan wajah yang mulai memucat.


Video di putar menggunakan media proyektor hingga menampilkan gambar seluas layar bioskop. Jendela-jendela yang sengaja di tutup membuat ruangan berubah seketika menjadi gelap. Para punggawa yang hadir menyaksikan pemutaran rekaman, menyimak dengan khusyu’ dan khidmat.


Terlihat seorang wanita mengendap-endap memasuki kamar. Wajah nya tidak terlalu terlihat karena pencahayaan kamar menyatu dengan lensa kamera mini sehingga menjadikannya sedikit buram dan tidak maksimal. Lampu bagian tengah juga belum wanita itu hidupkan.


Siapa dia? Hajjah Aisyah membenarkan letak kacamatanya untuk melihat lebih jelas. Hana seperti mengenal gesture tubuh wanita yang ada di dalam video. Semua yang hadir memperhatikan setiap detil rekaman tanpa ada yang terlewat.


Hana menahan nafasnya. Ia meyakinkan diri bahwa itu bukan tampilan orang yang dikenalnya dengan baik. Wanita itu membuka lemari pakaian. Melihat ke kanan dan ke kiri dengan gerakan cepat. Mata Elangnya mengawas ke segala penjuru. Kerudung pet yang digunakan sedikit menutupi wajahnya.


Deg.


I.. itu.. Li,,, sa,,,. Gumam Hana dengan suara tertahan. Hana seperti kesulitan meraup oksigen yang ada di dalam ruangan. Tiba- tiba Ia merasa sesak.


Bu..kan, itu bukan Lisa! Pekik batin Hana. Wajah Lisa memang belum terlihat sempurna di sana. Hana mencoba memungkiri bahwa itu memang bukanlah sahabatnya. Bukan sahabat yang telah ia anggap melebihi saudari nya sendiri. Benar-benar bukan. Tetapi semakin ia mendebat batinnya, durasi video semakin membuktikan bahwa benar wanita itu memang-lah Lisa.


Rekaman yang berjalan sampai pada dimasukkannya serbuk putih ke dalam minuman. Suasana di dalam ruang rapat yang di pimpin oleh haji Zakaria semakin panas menegangkan.


Menit-menit berlalu. terlihat Haris memasuki kamar dengan wajah lelah. Pemuda ini berakting dengan begitu sempurna. Nyaris tanpa celah. Wanita di dalam video benar-benar terkecoh.


Hajjah Aisyah cenat cenut tak karuan. Seperti Hana, beliau juga mencemaskan bahwa itu adalah Lisa.


Beberapa kegiatan di video yang sekira nya tidak perlu di tampilkan di skip otomatis oleh Roni. Seperti percakapan telepon yang sempat terjadi di antara Haris dan Hana.


Kini lanjutan video dihiasi oleh kembali nya sang wanita ke kamar hotel. Roni juga mem-blur-kan gerakan wanita tersebut ketika membuka pakaian guna menghindari kontaminasi penglihatan orang-orang shalih yang ada di ruangan. Roni memang pengertian.


Suasana semakin menegang. Haji Zakaria menundukkan wajahnya. Para kerabat yang hadir ada yang telah bangkit dari duduk. Geram. Siapa wanita yang tidak tau etika itu? Bisikan mulai terdengar memenuhi telinga. Manusia berperadaban ini tidak tahan untuk tidak marah. Tidak tahan untuk tidak emosi. Marah karena kezhaliman yang tampak di hadapan mereka walau nyatanya mereka menyaksikan hanya melalui tampilan virtual.


"Bah, kita tidak mengetahui siapa wanita itu.... wajah nya tidak terlalu jelas! " Protes hajjah Aisyah di tengah pemutaran video. Haji Zakaria memerintahkan kepada petugas IT untuk menghentikan video sejenak.


"Sabar Mi. Tidak lama lagi video berakhir. Setidaknya kita semua harus mengetahui bagaimana alur ceritanya! " Sergah Haji Zakaria dengan tatapan yang masih sama. Seperti lampu kuning dipertigaan.


Hajjah Aisyah semakin cemas. Lanjutan video diputar kembali. Detik-detik menegangkan.


Haris bangun dari tidurnya dengan menghardik wanita yang mencoba tidur di sebelahnya. Astaghfirullah. Pekikkan bu Fatma terdengar.

__ADS_1


Wajah wanita tersebut di Zoom sempurna oleh Roni di sana. bertepatan dengan hardikan keras Haris terhadap nya. Eva Lalisa! Mau apa kau di kamarku?!


Tit. Video selesai. Para Nyai mengusap mata mereka yang sejak awal telah basah. Kini semua mata tertuju pada hajjah Aisyah yang nyali nya menciut. Jujur saja. Bak di sambar petir di siang bolong dengan kekuatan jutaan MegaVolt, Beliau lebih terkejut dari orang-orang yang hadir. Rasanya detik ini juga mau lenyap saja dari hadapan mereka. Belum lagi tatapan haji Zakaria yang seakan menguliti nya hidup-hidup. Kenyataan yang sangat sulit untuk beliau terima.


Hajjah Aisyah adalah satu-satunya orang yang bersikeras untuk membuat perjanjian kerja sama dengan anak perusahaan bu Inggrid di bawah kepemimpinan Lisa.


Bu Hajjah juga yang menyakinkan semua pihak keluarga untuk menjodohkan Haris dengan Lisa dalam rangka mencari pewaris dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Apalagi Hajjah Aisyah telah menemani Lisa melakukan pemeriksaan reguler terhadap organ reproduksi nya dan dinyatakan sehat. Pernyataan ini sempat di bahas di Dewan rapat keluarga berikut dengan menunjukkan bukti-bukti laboratorium.


Kini Hajjah Aisyah malu bukan kepalang. Beliau kontan menunduk. Rasanya, untuk sekedar menegakkan kepala saja beliau sudah tidak mampu. Apalagi menatap para petinggi Yayasan sekaligus petinggi Perusahaan yang berada bersama beliau saat ini.


"Hemmm" Haji Zakaria kembali berdehem.


"Tidak hanya kenyataan ini, bahkan Eva Lalisa juga ikut terlibat sebagai pelaku kejahatan pada peristiwa terjerumus nya Hana ke balik jeruji besi satu setengah tahun lalu! " Ucap haji Zakaria. Perkataan beliau hanya berupa sebuah lirihan, namun kekuatannya mampu membuat Hajjah Aisyah mendongakkan kepala. Tak kuat, seketika beliau jatuh pingsan.


***


Hana menangis terisak di kamar. Tangisnya pecah. Kecewa. Sedih. Sesak. Semua bercampur aduk memenuhi ruang di hati. Perutnya terasa keram. Hana mual. Berkali-kali ia ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Padahal pada kehamilan kali ini, Ia hampir tidak merasakan gejala seperti orang hamil pada umumnya.


Kenyataan pahit menyebabkan gejolak dan respon negatif pada tubuhnya. Hana memegang dada yang terasa sesak. Perlahan ia menarik-hembuskan nafasnya. Inhale-Exhale. Mencoba untuk tenang. Perut keram membuatnya terganggu.


Keadaan serba salah. Namun ia tidak ingin kehilangan janinnya. Sekuat tenaga. Hana berusaha untuk tegar. Ia memutar rekaman murattal untuk mengenyahkan semua perasaan negatif, walau perasaan kecewa masih saja bercokol kuat di sana. Hana kembali menangis. Bagai Flashback, semua memori tentang Lisa terputar kembalimemenuhi ruang di kepala nya.


Hana terduduk lemas. Perutnya semakin keram. Ia merintih. Hana mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya pada permukaan perut yang masih kelihatan datar itu.


"Anak-anak Ummi sayang... Ka...lian yang kuat ya nak... Kalian penguat Ummi. Ma..af... tangisan Ummi membuat kalian terkejut. Maaf yaa nak..." Ucap Hana sesugukan dengan mengusap lembut perut nya dengan penuh kasih sayang.


Calon ibu bayi kembar ini mengusap air matanya. Ia bangkit, dengan gerakan perlahan Hana mengambil kerudung dan memakai kaos kakinya lalu keluar kamar setelah sebelumnya mengambil kunci mobil yang terdapat di atas nakas. Hana keluar dari kediaman haji Zakaria mengendarai mobil milik Haris.


Mas, Aku ijin keluar rumah. Cuma sebentar. Aku pakai mobil. Sendirian. Ketik Hana meminta ijin suaminya keluar rumah lalu ia mensilentkan handphone nya.


Kemana? Kalau tidak urgent jangan keluar sendirian. Minta temani mba Sri lalu biar mang Ilyas yang mengantarkan kalian. Balas Haris. Namun Hana sudah terlanjur memasukkan handphone nya ke dalam tas.


Dddddrrrttttt drrrrrrtttttt. Haris menelpon. Hana tidak mengangkat. Wanita ini tengah berkendara.


Sayang... Kamu kemana?


Sayang...


Love... Kenapa pesanku ga dibalas ☹️ Are You Okay? Kamu ga kenapa-napa kan?

__ADS_1


Berkali-kali Haris mengirimkan pesan namun tidak ada balasan. Haris khawatir istrinya sedang tidak baik-baik saja, sebab semua tentang Lisa telah terungkap.


Hana sendiri tengah mengendarai mobil menuju Lapas. Ia harus memastikan semuanya agar merasa tenang dan pikirannya tidak terganggu.


***


"Mas, aku ingin bertemu Lisa! " Pinta Hana pada Romi.


"Kamu terlihat pucat, apa kamu baik-baik saja? " Romi malah balik bertanya. Laki-laki ini mengerutkan keningnya. Hana mengangguk.


"Tolong pertemukan aku dengan Lisa mas! Aku ingin tau apa motif Lisa sebenarnya. Agar aku bisa tenang. Aku terus kepikiran" Hana kembali meminta bantuan Romi. Laki-laki ini berpikir sejenak.


"Ikut aku" Sahut Romi bangkit dan melangkah. Hana mengikuti nya.


"Sebenarnya Lisa tengah ditemui oleh Yura" Ucap Romi. Hana terhenyak. Yura pasti tak kalah terpukul dari dirinya.


"Kenapa kamu tega Sa? Kenapa?! " Terdengar suara isak tangis Yura dari ruangan yang tidak sepenuhnya tertutup rapat itu. Hana menghentikan langkah nya. Ia mematung di balik tembok. Hana mengintip Lisa dengan hati yang teriris.


"Cih. Aku atau kalian yang tega? Kalian yang telah merebut semua kebahagiaan ku! Terutama Hana! Dan Kau selalu saja memihak padanya! " Sahut Lisa dingin. Tidak ada wajah-wajah penyesalan di sana.


"Katakan apa yang Hana lakukan hingga membuatmu menjadi iblis seperti ini! Katakan!!! " Yura yang menerima kiriman video dan penjelasan dari Ridwan kontan berang dan langsung berangkat menemui Lisa.


"Hana sudah merebut Gibran dari ku! Kakak mu, Aku yang terlebih dulu mencintai nya. Tapi kauuu... tanpa merasa bersalah menjodohkan nya dengan Hana! Dan banyak hal lainnya yang membuatku pantas membenci Hana juga dirimu!!" Sahut Lisa dengan suara keras. Dari balik tembok, Hana memijat pelipis nya.


"Aku sama sekali tidak menjodohkan mereka! Mereka memang saling mencintai! Kamu tidak waras jika karena hal ini membuatmu menjadi seorang pembenci!! Lagi pula, bukankah sekarang Hana sudah menikah? Hana sudah menjadi milik mas Haris!!" Yura menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. Lisa terdiam.


"Bertaubatlah Lisa. Apapun alasanmu. Apapun dendam masa lalu yang ada di hatimu. Bertaubat lah! Hana dan Aku. Dulu Kami sangat tulus mencintaimu. Tapi kau dengan mudahnya berkhianat dengan dalih yang sama sekali tidak masuk akal! Aku sangat kecewa. Aku sangat kecewa. Apalagi kau tega menjebloskan kami ke dalam penjara. Juga... baru-baru ini malah ingin menjebak mas Haris untuk menidurimu! Dimana hati nurani mu sebagai sahabat??? Astaghfirullah!! Kau benar-benar iblis berwujud manusia! Musuh dalam selimut!" Yura mulai berapi-api. Emosinya naik berkali lipat.


"Pergilah Yura. Aku tidak butuh khotbah dari mu. Andaikan waktu di putar kembali. Aku akan tetap memilih jalan ini untuk membuat kalian menderita! " Lirih Lisa dengan wajah datar. Mendengar nya Yura syok. Mulutnya ternganga. Masih dari balik tembok, Hana terhuyung. Romi sedikit membantu Hana berdiri tegak.


"Maaf... " Ucap Romi. Hana mengangguk. Ia berbalik arah.


"Tidak jadi menemui Lisa? " Tanya Romi berhati-hati. Hana berjalan dengan menggeleng lemas.


***


Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤


IG @alana.alisha

__ADS_1


***


__ADS_2