
Haris membawa mobilnya menyusuri jalan raya untuk menuju café A. Ia sudah membuat janji untuk menemui Arini di sana. Pemuda ini sama sekali belum sarapan apa lagi sempat memejamkan mata. Semalam suntuk ia gundah gulana dan gelisah. Bersalah dan merindu adalah dua hal yang dialaminya untuk saat ini. Ia begitu ingin permasalahan ini segera selesai dan bisa kembali membersamai Hana.
Tiba-tiba Haris merasakan pusing, pandangan matanya mengabur. Sebenarnya tubuhnya sudah begitu Lelah dan sulit untuk diajak bekerja sama. Sungguh, untuk saat ini jika harus memejamkan mata pun rasanya ia tidak akan
mampu untuk tertidur. Ia menepikan mobilnya sesaat lalu membuka perkakas obat-obatan dan mengambil sebutir multivitamin lalu ditelannya bersama dengan air mineral. Lalu ia membuka galeri handphone nya dan memandang sejenak foto Hana yang sempat dijepretnya secara diam-diam. Ternyata foto tanpa izin ini sangat berguna disaat ia merindukan gadis itu seperti saat ini. Maafkan aku Hana.
Haris menangkupkan wajah di stiur mobil menunggu pusing di kepalanya mereda. 10 menit kemudian, saat dirasa tubuhnya sudah baik-baik saja, ia pun melanjutkan perjalanan.
Café A tampak sepi, hanya terdapat beberapa mobil dan sepeda motor saja yang sudah berjejer rapi di pelataran. Ia menge-cek mobil Arini namun tidak menemukannya di sana. Tidak menunggu lagi, Haris pun masuk ke dalam
café. Matanya mengedar ke sekeliling. Ia terkejut Arini sudah berada di sana dan tengah meminum minumannya. Haris berjalan menuju gadis itu. Arini tampak sangat fresh dengan dandanan nya. Ia kelihatan berbeda.
“Maaf aku terlambat dan membuatmu menunggu” Ucap Haris.
“Tidak apa-apa mas" Arini memasang senyum manisnya.
"Kamu ke sini dengan siapa? Kemana mobilmu?
"Aku naik Grab mas"
Haris mengangguk-angguk.
"Oh iya, Mas mau makan apa?” Tanya Arini.
“Aku pesan martabak manis dan air mineral saja”
“Bukannya mas tidak suka makanan manis?” Arini merasa heran.
Haris memang tidak terlalu menyukai makanan manis, namun untuk saat ini hanya makanan itu yang ada dipikirannya. Makanan kesukaan Hana.
“Akhir-akhir ini aku menyukai” Tukas Haris.
“Oooh”
“Rin, aku ingin kita bertemu karena ada yang ingin aku bicarakan. aku ingin bertanya sesuatu padamu” Haris to the point.
“Apa yang ingin mas ketahui?” Arini menatap mata Haris yang juga melihatnya.
“Mengapa kamu tidak pernah membahas tentang penculikan Hana?”
Arini sudah tidak terkejut dengan pertanyaan Haris sebab cepat atau lambat Haris pasti akan mengetahuinya.
“Apa mas mengetahui hal ini dari mas Gibran?”
__ADS_1
“Jawab pertanyaanku, Rin. Mengapa kamu tidak pernah membahas tentang penculikan Hana!” Haris mengulangi pertanyaannya.
“Aku tidak ingat, Mas. Mas sendiri tidak ingin berbicara denganku ketika kita bertemu” jawab Arini acuh.
“Lalu mengapa ketika terjadi penculikan, kamu malah menghubungi Gibran bukan aku? Darimana kamu mengenal Gibran? Mengapa kamu bisa tahu kalau Hana diculik?? Jawab aku, Rin!” Haris membandrol sejumlah pertanyaan
yang mana ia sudah sangat penasaran akan jawabannya.
“Mas!” Arini tidak menyangka Haris akan mengetahui hal ini secepat dan sejauh itu. Ia sama sekali tidak mengetahui kalau Haris melibatkan intel dalam kasus Hana.
“Mengapa Ketika Hana diculik kamu malah menghubungi Gibran bukan aku suaminya?? Kenapa Rin??” Haris mengulang kembali pertanyaannya. Suara Haris meninggi. Arini terhenyak. Ia tidak pernah melihat Haris se emosi itu. Mata Haris berkilat kilat. Arini mulai menangis.
“Rin, maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu” Arini sesegukan. Haris menyodorkan tisu untuk gadis yang ada di hadapannya itu. Kini Haris memilih untuk berdiam sejenak. Setelah ia melihat Arini menjadi lebih tenang, ia pun melanjutkan,
”Maaf Rin, aku tidak bermaksud kasar padamu. Beberapa waktu ini jiwaku memang sedikit terguncang. Taukah kamu bagaimana perasaan seorang suami yang tidak bisa melindungi dan menjaga istrinya sendiri dengan baik?
Taukah kamu betapa hancurnya aku yang tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan istri sendiri?” Suara Haris melunak. Ia berkata lirih. Tampangnya sudah sembrawut dan acak-acakan. Bajunya kusut. Ia memang tidak seperti Haris yang Arini kenal.
“Apa yang ingin mas ketahui dariku?” Tanya Arini lagi.
“Jawab pertanyaanku tadi, Rin. Aku percaya padamu. Aku percaya kamu orang baik seperti yang aku kenal selama ini. Aku sengaja menghubungimu karena aku ingin mendengar langsung kebenarannya dari mulutmu tanpa menduga-duga. Aku percaya padamu” Haris menatap mata Arini memohon.
“Aku takut jawabanku membuatmu kecewa, mas”
“Baiklah mas. Aku tidak pernah memberitahukan kepadamu tentang Hana karena aku….” Haris mendengar dengan saksama.
“Karena aku mencintaimu. Aku masih tidak sanggup jika kamu harus menemui Hana dan menyelamatkannya, ide menyuruh Gibran untuk menolong Hana muncul begitu saja. Jujur. Sampai saat ini aku masih belum bisa menerima
fakta pernikahanmu dan Hana. Tolong jangan desak aku untuk berbuat baik dengan cara yang tidak aku sukai. Aku punya hak untuk memilih. Aku memang memilih menolong Hana, tapi biarkan aku melakukannya dengan caraku” Jelas Arini. Dalam hal ini ia tidak berdusta.
Haris terhenyak. Ia kehabisan kata-kata.
“Aku masih sangat mencintaimu, mas” Arini kembali menitikkan air mata.
Haris terdiam.
“Apa mas sudah tidak memiliki perasaan padaku seperti dulu?” Arini bertanya lirih semakin menyudutkan Haris. Pemuda itu lagi-lagi harus mendesahkan nafasnya ke udara.
“Rin, aku menghargaimu. Menghargai semua keputusanmu juga menghargai hubungan masa lalu kita. Namun aku harus berkata, kini aku sudah memiliki istri. Aku tidak mungkin mencurangi pernikahan yang sudah kubangun atas nama kesucian" Air mata Arini semakin deras mengalir.
“Baiklah sekarang aku bisa mengerti mengapa kamu tidak memberitahukanku tentang penculikan Hana. Aku benar-benar akan mengertikan perasaanmu. Namun….” Haris memberikan jeda.
“Namun aku tidak mengerti mengapa kamu membiarkan Hanum melakukan kejahatan. Aku juga tidak mengerti mengapa kamu tega ikut dalam permainan ini. Termasuk melakukan jebakan busuk hingga membuat Hana dan juga temannya mendekam di penjara saat ini” Kini Haris berbalik menatap tajam Arini. Ia terus
__ADS_1
mengintimidasi dengan tatapannya.
Arini terhenyak. Ia tercengang. Tubuhnya menegang. Bak Guntur yang menyambar, kali ini sambarannya tepat sasaran. Apa Haris sudah mengetahuinya?
“Ma.. maksud mas?”
“Aku telah mengetahui semua nya, Rin. Tolong jangan tutupi apapun” Haris memejamkan matanya.
“Rin, kenapa? Kenapa harus kamu? kenapa? Tolong kamu katakan bahwa ini semua tidak benar” Kini Haris yang mulai menitikkan airmata. Kenyataan ini begitu berat ia terima.
“Ini semua diluar nalarku” Ucap Haris lagi.
“Mas.. aku tidak mengerti apa yang mas ucapkan. Sungguh” Ucap Arini. Ia mulai gemetar.
“Semua orang mungkin saja bisa berlepas dari hukum dunia, namun tidak dengan hukuman dari Tuhan” Haris kembali melesatkan pandangan mata berkaca-kacanya pada Arini.
“Aku begitu mempercayaimu, begitu menghormatimu. Kamu adalah orang yang pernah paling aku inginkan untuk menjadi pendampingku, untuk menjadi ibu dari anak-anakku. Tapi aku tidak tau ternyata kamu bisa setega seperti ini” Haris masih memejamkan matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mas, aku mencintaimu mu, aku tidak seperti yang mas pikirkan….. akuu… aku,,,” Arini panik.
“Stop Rin, jangan mengatas namakan cinta untuk sebuah kejahatan. Jangan pernah mencampur adukkan perasaan pribadi dengan perbuatan criminal. Ini semua ga fair!!!” Haris mulai menaikkan suaranya. Suara dan perkataan Haris terdengar tajam menghujam dan begitu menusuk. Ia begitu kecewa. Sangat kecewa.
“Tolong ajaklah sahabatmu bertaubat sebelum semuanya terlambat” Pinta Haris yang kembali memejamkan matanya untuk menetralisirkan perasaan. Arini tidak berhenti menangis.
Haris kembali menyodorkan tisu kepadanya.
“Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf dan memperbaiki semuanya, Rin. Aku percaya kamu memang tidak seburuk yang aku pikirkan. Aku memang belum memiliki bukti yang cukup dan kuat, namun aku pastikan aku akan menemukannya” Ucap Haris yakin.
“Mas, aku tidak menginginkan apapun. Aku tidak peduli tentang Hana. Ia selamat atau tidak itu semua bukan dalam wewenangku. Aku hanya menginginkanmu. Aku bisa gila jika tidak bersamamu. Dan sekarang aku sedang menuju ke sana!!!” Arini menangis pilu. Haris nelangsa.
“Aku harus pergi” Ucap Haris sambil berlalu.
“Mas, tunggu!!” Arini memegang lengan Haris yang hendak berlalu.
"Tolong Lepaskan, Rin!" Haris menepis tangan Arini yang bertengger di lengannya.
Aku bersumpah tidak akan melepaskanmu mas! Jerit Batin Arini dalam tangisnya seraya menatap punggung Haris yang semakin bergerak menjauhinya.
***
Hai Teman-teman yuk dukung Alana terus dengan LIKE, KOMEN, VOTE juga HADIAHnya. Terima kasih. Jazakumullah Khairal Jaza'^^
Jangan lupa mampir juga ke novel terbaru Alana yang berjudul Dalam Dekapan Rindu^^
__ADS_1
IG: alana.alisha