
Lima belas menit waktu berlalu dari yang sudah Haris tetapkan dalam misi pertemuan Hana dan Gibran. Haris tersenyum dan tanpa basa basi ia langsung menghubungi Hana, padahal minuman yang telah di pesannya belum Ia sentuh sama sekali. Ya, dari tadi ia sibuk menguntit pergerakan istrinya dan Gibran yang duduk berhadapan di seberang sana. Haris berdiri, membayar minuman ke kasir lalu bergegas ke mobil.
Drrrt drrttt drrrttt
Handphone Hana terasa bergetar berkali-kali. Hana mengintip ke arah layarnya. Benar dugaannya. Haris sang suamilah yang meneleponnya.
“Mas, sepertinya aku sudah harus kembali”
“Baiklah, tiga bulan lagi aku pulang dan menunggu kepastianmu, Hana!” ucap Gibran dengan wajah serius.
“Tidak ada yang perlu dipastikan lagi, mas. Aku sudah menikah dan bahagia dengan pernikahanku!” Sahut Hana.
“Ch ch, Apa kamu rela di madu? Ingat, aku telah mengetahui semuanya dari sumber valid dan terpercaya, aku tidak akan rela kamu diperlakukan dengan semena-mena, apalagi tidak ada cinta dari suamimu itu untukmu. Aku tadi nya berpikir akan mundur karena kamu sudah bahagia di tangan orang yang tepat. Ternyata dugaanku selama ini salah total. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu Hana! Aku tidak rela. Sungguh!” Ucap Gibran lantang. Sorot
matanya menunjukkan keseriusan yang tidak main-main.
Hana tidak tau harus berkata apa lagi, ia terlalu lemah untuk berdebat dengan orang sekelas Gibran, waktu pun sudah sangat mepet. Ia harus segera menemui Haris sebelum suaminya yang lumayan bertempramen itu
marah-marah tidak jelas, bisa-bisa akan merusak acara malam nanti. Hana pun pamit permisi pada Gibran dengan masih menyisakan segudang urusan yang belum terselesaikan. Apa mau dikata, niat hati memperbaiki keadaan malah jadi drama yang episode tamatnya entah tidak tahu kapan. Hana oh Hana. Mengapa kamu malah
menambah masalah? Rutuknya dalam hati.
Hana berlalu pun berlalu pergi, sedang di tempat semula, Gibran masih memilih untuk duduk sendirian. Ia merasa enggan untuk beranjak. Ia memilih untuk merenung dan muhasabah. Ia berharap Tindakan nya kali ini tepat.
Selain cinta yang masih bercokol dan tertanam kuat dijiwanya, ia juga mempunyai banyak alasan untuk mempertahankan Hana. Salah satu nya ya itu tadi, Hana tidak bahagia dan tertekan dengan pernikahannya. Sebelum menemui Hana, ia memang sudah mengecek banyak hal tentang rumah tangga gadis yang sudah menjadi tambatan hatinya selama bertahun-tahun. Apa itu artinya Gibran masih belum bisa move on dari Hana? Jawabannya Iya. Tentu saja. Come On Guys, bertahun-tahun memperjuangkan dan berkorban, masa iya bisa melupakan cinta pertama secepat itu? Jelas tidak semudah itu. Kini Gibran hanya berharap untuk kedepan semoga masih ada masa depan baginya dan Hana, mungkin-mungkin Allah SWT sudi mengubah scenario kehidupannya dalam keindahan, kedamaian dan happy ending.
***
“Hey, Mengapa lama sekali? ini sudah lewat jauh dari perjanjian 15 menit!” Semprot Haris begitu melihat batang hidung Hana.
__ADS_1
“Hanya lewat sedikit saja mas, tidak sampai lewat 10 menit kan?” Jawab Hana santai sambil mendaratkan dirinya di kursi mobil.
“Tidak bisa begitu, ini sudah terlewat jauh. Sudah lewat 8 menit, Hana!” Haris masih tidak mau kalah.
Huh suaminya semakin menyebalkan! Batin Hana.
“Lalu aku harus apa untuk menebus kesalahanku mas? Apa yang mas inginkan?” Lagi-lagi Hana mengalah. Hmh sebenarnya memang kesalahannya sih!
“Nanti aku pikirkan apa hukuman yang pantas untuk mu!” Sahut Haris. Hana merasa seperti pendosa yang sudah melakukan kesalahan besar saja.
“Tidak bisa begitu mas, kalau memikirkannya nanti, berarti hukuman batal!” Hana mulai jengah.
“Baiklah! Kalau begitu nanti malam sepulang acara kantor kamu harus memijatku!” Haris berkata cepat.
“Ha? Memijat??”
“Ya. Memijat. Kamu harus memijatku, anggap saja sebagai hukuman untukmu dan hadiah untukku sebab kamu memang belum memberiku hadiah kan?” Haris berkata dengan ekspresi datar.
“Huft, baiklah baiklah. Terserah mas saja!” Hana kesal, ia berbalik ke arah jendela seraya menyedekapkan tangannya di bawah dada. Samar-samar Haris tersenyum penuh kemenangan. Yes! Kata hati Haris.
Mobil mereka pun berlalu membelah jalan raya. Tujuan mereka adalah rumah. Mereka berencana untuk beristirahat, Hana sudah ingin sekali berendam di bath up, ia merasakan kepenatan yang luar biasa setelah seharian berkeliling sendirian di pusat perbelanjaan, selain itu, obrolannya bersama Gibran juga terasa sangat berat walau hanya 15 menit. Hmh, Maksudnya hampir 25 menit. Sedang Haris masih ada kerjaan yang harus dilakukan. Ia masih harus menyiapkan sedikit pidato singkat dalam acara kenaikan pangkatnya nanti.
***
“Halo Hana! Mengapa pesanku belum kamu jawab?” Arini kembali melayangkan pesan melalui wattsapp pada Hana. Ah, iya. Hana lupa membalas pesan dari Wanita itu. Ia pun segera membalasnya.
“Halo. Maaf mba, aku kelupaan sebab lagi memikirkan alasan yang tepat untuk meminta izin keluar rumah pada mas Haris” Hana.
“Kalau begitu kamu sudah menemukan caranya kan? Please, aku ingin sekali kita bertemu!” Arini
__ADS_1
“Baiklah. Insya Allah Esok atau lusa ya mba! Nanti aku akan mengabari kembali.” Hana
“Alhamdulillah. Lebih cepat lebih baik. terima kasih” Arini.
Lusa Hana sudah Kembali masuk ke dunia kampus, mungkin itu saat yang tepat baginya untuk bertemu Arini. Pikirnya. Gadis itu tersenyum, ia sudah menemukan caranya tanpa perlu bersusah payah. Alhamdulillah.
Hana pun mengambil handuk dan memilih pakaian ganti dilemarinya. Ia melihat pemberian dari Gibran masih betengger rapi di sudut lemari. Astaghfirullah. Ia benar-benar lupa membawa dan memberikan kembali pada Gibran. Jangan kan membawa, teringat saja tidak. Huft. PR-nya ternyata masih banyak sekali. Sudahlah, nanti ia titipkan saja pada Yura. Semoga mas Gibran tidak tersinggung. Lirih hati Hana.
Sementara di ruang berbeda, Haris tampak mencoba pakaiannya. Satu stel pakaian yang telah ia siapkan. Hmh, tampak tampan. Tak segan ia sedikit bergaya di depan cermin yang terletak di dekat jendela kamarnya. Ia jadi sumringah dan percaya diri dapat tampil di acara nanti dengan baik.
Drrrttt drrrtttt drrttt drrrtttt
Telepon dari Ibu menghiasi layar handpone Haris,
“Ya, Assalamu’alaikum, bu” Jawab Haris
“Wa’alaikumsalam, nak!” Jawab ibunya di seberang sana.
“Bagaimana persiapan kamu nanti malam nak?” Tanya ibu kemudian
“Alhamdulillah sudah Haris persiapkan dengan baik bu, ibu juga jangan lupa doakan Haris agar semuanya berjalan lancar!” Pinta Haris pada ibu tercinta
“Tentu saja ibu selalu mendo’akan tanpa kamu pinta”
“Alhamdulillah, terima kasih bu, ini menjadi kekuatan untuk Haris dalam melangkah”
“Iya nak, sukses selalu dunia akhirat untukmu, doa dari ibu selalu menyertai” Ucap ibu dengan tulus.
“O iya, kamu jangan lupa berkunjung ke rumah haji Zakaria, bawa istrimu ke sana. Beliau sering menanyakan kabarmu dan Hana. Hajjah Aisyah juga menanyakan apa Hana sudah hamil, mereka selalu mendoakan kebaikan untuk rumah tangga kalian” Ucap ibu kemudian.
__ADS_1
***