
Buuuuuuggghhhh. Haris meninju keras tembok dinding apartemen mereka. Tangannya mengucurkan darah. Darah segar itu menetes dari buku-buku jari jemari kekarnya. Hana merasa ngilu ketika mendengar seperti suara remukan tulang.
"Mas.... Stop, ku mohon stop!! Itu sangat menyakitkan... Tanganmu bisa hancur, bisa remuk mass!!!" Cegah Hana. Ia menangis tersedu.
Hana mengambil sapu tangan dari sakunya dan mencoba membalut tangan Haris yang berdarah. Namun sang suami dengan cepat menepisnya.
"Hana..." Tiba-tiba Haris meletakkan tangan nya di kedua pundak Hana.
"Jangan pernah mempermainkan hatiku. Sebab... Aku tidak akan pernah mampu menanggung rasa sakitnya! Remuk tanganku ini tidak sebanding dengan rasa sakit ketika melihat mu mencurangiku ! " Lirih Haris sarkas. Mata merahnya berair. Ia menghujam kan tatapan nya dalam dalam ke dalam netra Hana. Wanita bermata bening dengan cepat menggeleng.
"Aku tidak seperti yang mas pikirkan! " Ucap Hana mengusap air mata nya.
"Aku percaya pada penglihatan ku!" Sahut Haris menohok. Ia menatap tajam.
"Mas, yang terlihat belum tentu seperti itu kenyataannya! " Sergah Hana.
"Jadi apa??? Duduk dengan jarak berdekatan saling menatap itu apa?? Hana Fathimah Ameer, Jawab!!! " Bentak Haris dengan suara tinggi.
"Itu tidak sengaja mas... kejadiannya bukan seperti itu. Mengapa mas jadi krisis kepercayaan begini sih? " Lirih Hana memejamkan matanya sejenak.
"Kenapa mas tidak mempercayai ku? Selama menikah Aku selalu berkata jujur! Hhhhh Aku lelah. Terserah mas mau percaya atau tidak, tapi jangan cegah aku mengobati luka di tangan mas..." Lirih Hana lagi. Ia kembali mengambil tangan Haris, dilihatnya jari-jari yang terluka itu dengan meringis, ia seperti merasakan perihnya. Wanita ini mengambil kotak P3K lalu menuntun suaminya untuk duduk di sofa.
"Awww... Pelan dong! " Pinta Haris saat obat merah mendarat sempurna di buku-buku jarinya.
"Makanya, jangan sok jadi jagoan! " sewot Hana.
"Aku belum memaafkanmu" Ucap Haris cepat. Hana menoleh.
"Rasanya ingin ku lenyapkan saja si songong itu!!" Sinis Haris menggigit giginya bergemeletuk.
"Mas berlebihan! kan sudah kubilang, tadi itu ga sengaja. Lagian kami ga hanya duduk berdua. Sebelumnya ada Yura, trus Yura permisi ke kamar mandi. Lalu Lisa datang. Mas curigaan terus sih, rugi sendiri jadinya kan.. Lihat luka ini.. Sakit kan... Huh! " Cibir Hana.
"Kamu jugaa... pokoknya jangan dekat-dekat dengan laki-laki itu! Kalau perlu jangan pernah bertemu lagi!! Aku tidak mengizinkan mu bertemu atau berbicara dengannya kecuali keadaan yang benar-benar terdesak! Kalau kamu ulangi, aku benar-benar tidak akan pernah memaafkan mu! " Haris mulai membuat aturan. Ia membebel panjang. Namun kata-katanya penuh keseriusan.
"Aww... Pelan dong sayang! " Haris kembali mengaduh. Hana sengaja mengoles asal obat merahnya.
"Sama Lisa... juga jangan terlalu dekat! " Lanjut Haris lagi.
"Huh, Mas suruh aku jangan terlalu dekat sama Lisa. Tapi mas sendiri ke New York bareng dia" Todong Hana langsung.
"Ha? Kamu tau aku mau New York? " Haris terkejut.
"Ya. Dan pergi bersama Lisa" Hana mengikat kuat perban nya.
"Awwww.... Sakit sekali. Kok ngikatnya gitu banget sih! " Protes Haris. Hana diam tak menjawab.
"Aku tau kalau aku akan ke New York itu baru tadi pagi. Yang berangkat 5 orang. Aku, Ridwan, Roni, Tasya sama Eva" Terang Haris.
__ADS_1
"Nah kan... Bawa Lisa! "
"Lisa? " Haris mengerut kan keningnya.
"Ya. Eva Lalisa! Mas membawa Lisa ke New York! " Sahut Hana.
"Apa??" Spontan Haris bangkit dari duduk mengambil handphone lalu menghubungi sekretaris nya di kantor.
"Mirna, tolong kamu ganti Eva Lalisa dengan orang lain. Aku ingin partner lain untuk keberangkatan ke New York" Titah Haris.
"Maaf tidak bisa digantikan Pak. Ini semua sudah kesepakatan pihak management atas ACC dari Nyonya Aisyah Abdullah" Sahut Sekretaris. Haris berpikir sejenak lalu menutup telpon nya.
"Sial. Lisa pasti sudah menyusun rencana" Gumam Haris yang nyaris tak terdengar oleh Hana.
"Berarti mas benar-benar mau ke New York ya? Berapa lama? " Tanya Hana manyun.
"Jangan bertanya. Aku belum memaafkanmu! " Ucap Haris sarkas. Ternyata laki-laki ini masih kesal.
"Haiiiisssh... benar-benar!! " Hana mensedekapkan tangan nya di pinggang.
***
Haris melajukan mobilnya ke kediaman Ridwan. Ia sudah pamit pada Hana dengan mengatakan bahwa mereka akan tetap makan malam bersama. Setelah urusannya dan Ridwan selesai, Haris akan menjemputnya.
Braakkk. Kunci mobil yang di lempar Haris mendarat sempurna di atas meja kayu milik Ridwan. Laki-laki ini mendapati Sahabat nya yang tengah mencukur janggut dan kumisnya.
"Kenapa? " Ridwan masih asik mengerut rambut halus yang ada di wajahnya.
"Ummi Aisyah seperti nya memang begitu niat menjodohkan ku sama Lisa! "
"Maksudnya? "
"Lisa bakal ikut kita ke New York! "
"Apa? Kenapa harus dia?!" Ridwan benar-benar terkejut.
"Gue juga heran. Entah racun apa yang disebar oleh wanita bermuka dua itu. Aku benar-benar sudah muak! " Sahut Haris.
"Lu tau ga foto siapa yang di sodorkan sama Ummi untuk di jadikan istri kedua gue? F.O.T.O L.I.S.A! Gila ga?! Untung Hana ga liat! " Lanjut Haris mengeja.
"Hahahahaha" Ridwan tertawa sarkas.
"Malah ketawa. Sialan Lu! " Ucap Haris dengan melempar koran ke arah sahabat nya itu.
"Wanita ini benar-benar ancaman serius! " Ridwan melangkah ke arah Haris setelah membersihkan wajahnya. Ia mulai bicara serius.
"Lu tau kan, hubungan gue dan yura juga di rusak sama dia! Untung Yura bisa dibujuk! " Tukas Ridwan yang mengambil tempat di seberang Haris.
__ADS_1
"Ya... dan hebatnya Hana dan Yura masih aja percaya sama dia. Sekarang malah Ummi yang di giring ke perangkap nya! " Haris tersenyum masam.
"Cepat atau lambat Lu akan dinikahi sama Lisa! "
"Astaghfirullah.... Wallahi,, gua merinding lu bilang begitu! " Ucap Haris memegang tengkuknya.
"Maka lu harus pikirkan cara biar ga nikahin dia!Terkadang dunia ini lucu ya! Padahal ga semua laki-laki nyaman melakukan sembarang Relashionship dengan wanita. Ini main asal nyuruh poligami aja. Dikit-dikit poligami! Heran gue!! " Komentar Ridwan.
"Pinter. Sekarang lu paham kan gimana posisi gue? Gue cuma mau hidup bahagia sama Hana. Jalanin kehidupan normal selayak pasangan lainnya. Ciptain dan laksanakan mimpi-mimpi kami yang tertunda. Tanpa beban, tanpa tekanan. Jujur amanah kakek itu berat banget untuk gua pikul. Wallahi, Jadi seorang Gus yang punya banyak harta itu benar-benar ga gampang " Haris mencurahkan gejolak hatinya. Ridwan menepuk-nepuk pundak Haris. Ia seperti merasakan apa yang sahabatnya itu rasakan.
"Huft... Mana Gibran masih incar Hana lagi.. Laki-laki itu benar-benar meresahkan. Gimana gua bisa tinggalin Hana sendirian di sini coba? " Haris kalut.
"Lu nikah lagi, Fix. Hana-Lu bakal di rampas ama Gibran"
"Itu yang gua takutkan! " Tukas Haris menutup matanya.
"Tapi, Apa Lisa mau nikah sama lu jadi istri kedua? Edan kalau dia mau! Tapi ga heran juga sih, lu banyak harta dan tampan! Gue kalau jadi cewek mungkin juga mau! Hahaha" Ridwan membentuk lambang Peace ✌ pada dua jarinya.
"Dasar!! "
"Trus kalau ujung-ujung nya lu di suruh poligami gimana? " Tanya Ridwan lagi.
"Hanya Allah yang tau... Gua sama sekali ga punya bayangan. Yang gua pikirkan sekarang gimana cara nya berjuang agar hal itu ga terjadi. " Ucap Haris mengusap wajahnya.
"Dan... yang ada dipikiran gua sekarang, Lisa ikut kita ke New York! Ini benar-benar buat kepala gue sakit!! Gua ga mungkin mendebat Ummi. Ini hal sepele. Para pembesar pasti mikir gua ga profesional jika geser nama Lisa hanya untuk persoalan pribadi, belum lagi gua ga bisa bawa Hana! Mau gila rasanya!!" Lanjut Haris lagi.
"Ya Ampun... berat amat ujian hidup lu. Tapi lu harus sabar... Yang Sabar Brother! Untuk jatuhkan lawan, kita ga bisa terburu-buru. Nanti hasilnya ga maksimal. Lu juga harus punya skenario lu sendiri. Kita semua harus berjuang untuk ini! Untuk jadi pemenang, Lu harus mampu mainkan peran Lu sebaik mungkin! " Nasehat Ridwan sambil menatap Haris yang masih dilema dengan segudang kerumitan kisah hidupnya.
***
Hana menguyur tubuhnya dengan Air hangat dari pancuran shower yang mengalir lalu merebahkan diri di dalam bathub yang sudah berisikan gelembung sabun. Air hangat dan busa yang melimpah diharapkan bisa Me-rileks-kan jiwanya.
Namun sayang, ini semua tak membuat nya untuk bisa berhenti berpikir. Haris yang akan terbang ke New York membuat Hana diliputi kecemasan. Ia sama sekali tidak siap untuk ditinggal. Waktu dua bulan, mungkin waktu yang sebentar bagi kebanyakan orang. Tapi tidak untuk nya.
Perginya Haris ke New York, itu artinya akan menunda program mereka untuk memiliki anak. Jika sudah begitu, maka rong-rongan keluarga besar atas dirinya yang tidak kompeten untuk mengandung akan menjadi masalah.
Tadi pagi itu, diam-diam tanpa sepengetahuan Haris, Hana mengunjungi dokter Cut Mutia, dokter kandungan Umminya dulu. Ia membuat kesepakatan dengan dokter berdarah Aceh itu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan organ reproduksi nya dalam beberapa hari kedepan. Padahal Hana sedang mempersiapkan moment-moment romantisnya bersama Haris.
Tapi kalau sudah begini, semangat Hana seperti meredup. Ingin sekali rasanya ia ikut terbang kemana pun suaminya itu pergi. Hmh... Ternyata menjadi seorang istri dengan gelar Ning dari suami yang memiliki harta melimpah dengan segudang tanggung jawab benar-benar tidak mudah.
Lelah berpikir, Hana pun tertidur pulas di bathtub nya.
***
Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
IG @alana.alisha
__ADS_1
***