
Wajah-wajah telah lelah
Hampa dan penuh duka
Ribuan doa terucapkan sudah
Ampun ya Robbana, maafkanlah semua Hapuskan Lelah, hapuskan air mata Cukupkanlah semua duka yang menari di udara
Hadirkan cahaya terangi sang jiwa
~Opick
***
Haris bergegas ke rumah sakit setelah Hana mengabarkan melalui sambungan telepon bahwa Arini pingsan. Kini sudah tampak Hana menunggu di depan ruang pemeriksaan. Hana dan Arini sendiri baru saja tiba di rumah sakit setelah orang-orang yang berada di taman membantunya menggotong Arini masuk ke dalam taxi.
“Hana, Bagaimana keadaan Arini? ” Tanya Haris setelah suaminya mendekat.
“Mba Arini lagi diperiksa mas, kita tunggu saja” Sahut Hana.
“Hmh, bagaimana bisa kamu berada bersama Arini di sana?” Selidik Haris dengan mengambil tempat di samping Hana.
“Hari ini aku memang janjian dengan mba Arini untuk bertemu di taman”
“Mengapa kamu tidak memberitahukannya padaku?”
“Haruskah? Kemarin mas tidak bertanya” Tukas Hana. Jujur saja ia masih merasa sebal pada suaminya.
“Sejak kapan kalian berteman?” Heran Haris.
“Kami tidak berteman, kami belum mencapai tahap itu”
“Lalu?” Haris mengkerutkan keningnya. Ia penasaran mengapa Hana dan Arini bisa mengatur pertemuan.
“Lalu apa? Apa yang ingin mas ketahui?” Tanya Hana menoleh ke samping kanannya.
“Apa kamu menyelidiki hubunganku dan Arini?” Tebak Haris.
“Hhhh Ternyata kalian memang memiliki hubungan” Hana tersenyum masam.
“Bukan begi…” Belum sempat Haris menyelesaikan kalimatnya, team dokter sudah keluar dari ruang pemeriksaan.
“Bagaimana keadaan mba Arini, dok?” Tanya Hana cepat. Ia dan Haris bangkit dari duduknya.
__ADS_1
“Nona Arini mengalami anemia dan defisiensi zat besi yang sudah lumayan parah, beliau kekurangan darah. Nona Arini harus segera mendapatkan darah A plus untuk dapat menyelamatkannya terutama menyelamatkan janin yang berada di dalam kandungannya” Terang dokter.
“Apa dok???” Haris dan Hana terperangah.
“Apa Saya tidak salah dengar, Dok? Mba Arini hamil???” Hana kembali bertanya untuk menyakinkan.
“Ya. Seperti yang sudah saya sampaikan, Nona Arini tengah hamil muda. Diagnosa sementara beliau mengalami depresi berat, Banyaknya pikiran dan kurang tidur menyebabkannya mengalami anemia parah, dan kondisi ini
sangat berbahaya baginya terutama bagi janin yang dikandungnya” Dokter menerangkan dengan lebih rinci. Hana menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
Janin? Kandungan? Mba Arini hamil? Hana menatap tajam ke arah Haris. Seluruh tubuhnya kini terasa kebas.
Haris blank. Kabar ini benar-benar mengejutkannya. Sangat sulit untuk bisa Ia percaya. Arini hamil? Bersama siapa? Yang Haris ketahui, Selama ini Arini tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun kecuali dirinya. Sedang ia sendiri tidak pernah menyentuh gadis itu.
“Apakah benar anda suaminya? Kami memerlukan 2 kantong darah untuk transfusi kilat sebagai Langkah awal penyelamatan. Anda harus segera menemukan pendonor jika ingin mereka selamat!” Todong dokter.
“Hmh, Saya sendiri yang akan mendonorkan darah saya, dok! Alhamdulillah golongan darah saya dan Arini sama” Jawab Haris tenang.
“Baiklah, ikut saja sekarang juga!” Ucap dokter berlalu. Haris menoleh ke arah Hana,
“Sayang, aku akan mendonorkan darahku untuk Arini. Kamu tunggu sebentar ya. Tapi kalau kamu merasa Lelah, Kamu boleh pulang lebih dulu. Aku juga akan menghubungi keluarganya Arini…
“Hmh, ketahuilah, yang kulakukan ini atas azas kemanusiaan. Hanya itu saja” Ucap Haris dengan menancapkan tangannya di Pundak Hana yang dari tadi hanya menatapnya tajam namun diam terpaku.
“Tolong Jawablah!?” Hana menghempaskan kasar tangan Haris yang berada di pundaknya bersamaan dengan suara yang ikut meninggi.
“Hana, A.. Aku….”
“Pak! Mari. Waktu kita tidak banyak!” Belum sempat Haris berbicara perawat sudah kembali memanggil.
“Nanti kita bicara lagi!” Haris melesat berlalu meninggalkan Hana namun dengan ekor mata yang enggan meninggalkan.
Melihat punggung Haris yang telah menghilang di balik tembok ruang pemeriksaan, selangkah demi selangkah Hana menapak meninggalkan rumah sakit. Ia berjalan dengan hati yang keruh, Kini ia benar-benar terluka. Air mata yang dari tadi di tahannya jatuh berderai tanpa dipinta. Hana berjalan tak tentu arah.
Baru kemarin rasanya kupu-kupu berterbangan dan menari-nari di perutnya. Haris berulang kali menyebutnya sebagai jelmaan bidadari, maka ia pun terbang tinggi, ia merasa telah mencapai nirwana bermain bersama bintang
gemintang, namun sayangnya ia terbang terlalu tinggi tanpa berhati-hati hingga menyebabkan ia tersandung hingga terjerebab di dalam jurang yang entah bagaimana ia bisa bangkit untuk kembali ke permukaan.
Entah lah, mungkin kata bidadari memang terlalu berlebihan untuknya. Ia menyesal sudah mempercayai Haris. Setelah sekian lama menikah, ini lah kali pertama ia merasa menyesal. Haris sudah mengkhianatinya. Mengkhianati komitmen suci mereka. Jika sudah begini, Apakah mungkin ia masih bisa bertahan?
Di tengah perjalanan hujan datang, Hana masih saja menapak. Tetesan air dari langit itu mengenai kerudung putihnya namun ia tetap membiarkan hingga ia berhenti pada sebuah pohon yang menarik perhatiannya lalu mengulurkan tangan di sana, merasai butiran hujan yang menetes-netes.
Hana mencoba meringankan sakit yang sudah terlanjur tertoreh. Namun sebaliknya, rasa sakit itu semakin kuat dan menjadi-jadi. Berkali-kali ia seka air mata yang turun, berkali-kali pula ia tergugu. Senyum masam hinggap di wajahnya. Ingin sekali rasanya ia menertawakan kebodohannya. Rasa akibat dikhianati itu rasanya benar-benar menyakitkan. Wajar saja Arini tidak ingin melepaskan suaminya. Hhhhhhh.
__ADS_1
Ummi, Hana mau pulang saja.
Ummii, Hana mau tinggal bersama Ummi dan Abah saja. Lirih hatinya.
Sebuah mobil CRV berhenti tepat di depannya. Seseorang membuka kaca dan menyapa,
“Hana, Kamu sedang apa di sini? Di mana Haris?” Tanya Romi, di sebelahnya ternyata ada Ridwan yang menyetir.
“A.. Aku..” Hana gelagapan. Buru-buru Ia menyeka airmatanya.
“Naiklah, kami akan mengantarkanmu!” Tawar Ridwan. Ia merasa ada yang tidak beres pada Hana.
“Hmh, tidak usah mas. Aku sedang menunggu mas Haris di sini” Kali ini terpaksa Hana berbohong agar masalah tidak bertambah runyam.
“Benarkah?” Ragu Ridwan. Hana mengangguk cepat. Ridwan dan Romi saling menatap sebelum kemudian Romi berucap,
“Baiklah, kami akan menemanimu menunggu Haris” Ucap Romi.
“Ha? Tidak usah mas, kalian punya kepentingan sendiri. Sebentar lagi mas Haris juga sampai” Panik Hana.
“Tidak kok, kami tidak terlalu sibuk hari ini. Mana mungkin kami membiarkanmu sendirian di sini!” Tambah Ridwan.
Astaghfirullah. Bagaimana ini?!
“Hmh, kalau begitu antarkan saja aku pulang mas! Nanti aku akan mengabari mas Haris bahwasanya aku pulang bersama mas mas sekalian” Pinta Hana akhirnya.
“Baiklah, naik saja!” Ridwan membuka kunci otomatis pada pintu belakang mobilnya. Terpaksa Hana menaiki mobil Ridwan.
Hana melihat keluar jendela. Aktifitas yang biasa ia lakukan. Namun kali ini pandangannya berbeda, apa yang ia lihat tidak lagi sama. Ia duduk dengan menahan tangisnya. Ia tidak ingin ketahuan menangis di hadapan Ridwan dan Romi, ia tidak ingin mereka berpandangan buruk terhadap suaminya. Hhhhh sekarang rasanya untuk bernafas saja sangat sulit.
Ridwan dari tadi diam-diam mengamati pergerakan istri dari sahabatnya itu melalui kaca depan spion. Ridwan tidak bisa dibohongi, ia tau persis Hana tengah bersedih. Lagi-lagi Haris berulah. Huft.
Mengapa wanita seperti Hana selalu disakiti sih? Ridwan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sungguh tidak mengerti bagaimana jalan pemikiran Haris. Kesal. Ridwan sedikit memukul stirnya.
“Hana, apa perlu kami yang menghubungi Haris?” Tanya Romi.
Hana terdiam, ia tidak bisa menjawab. Tenggorokan nya tercekat. Ia takut jika menjawab airmata nya akan kembali tumpah ruah.
“Hana…” Romi kembali memanggil Hana yang mengabaikan pertanyaannya.
“I.. iya?” Suara Hana terdengar parau.
“Hana, kamu menangis??” Terkejut, Romi menoleh ke belakang. Buru-buru Hana menyeka air matanya.
__ADS_1
***