
Mi Amor, cuaca di Jakarta cerah ya! Aku berharap nanti malam purnama berkenan hadir tepat di atas jendela kamar kita.
“Hemm..." Minah berdehem.
"Ning Hana pagi-pagi sudah senyam senyum sendiri, hehe” Seloroh Minah yang mendapati Hana tersenyum cerah menatapi layar handphone-nya. Pesan indah dari Haris membuat wanita ini sama sekali tidak fokus dengan apa yang Minah sampaikan.
“Hehe, ‘afwan mbak Minah. Tadi mbak Minah sampaikan apa ya?
“Pesantren Bustanul Jannah mengadakan lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat pesantren se-Jabodetabek. Abah Haji minta saya menyampaikan pada Ning Hana untuk menjadi juri pada perlombaan cabang Tahfizh dan Fahmil Qur’an”
“Astaghfirullah, abah ga salah kasih Amanah mbak?”
“Jelas tidak. Ini surat resminya” Minah menyodorkan sebuah surat.
“Ning Hana… Pemilihan Juri ini kan juga ada dasarnya. Sebenarnya bukan Abah Haji yang mengusulkan tapi memang dari pihak panita. Apalagi Ning Hana dulu pernah juara MTQ tingkat Provinsi dan melaju ke Nasional”
“Tapi pas tingkat nasional aku kalah mbak!” Sahut Hana cepat.
“Ning Hana ini memang suka merendah. Di Nasional kan mendapatkan juara 2. Itu selisih nilainya juga tipis banget. Aku liat rekamannya lho…! Ning Hana... Isi kepalaku… Ah, apa itu bahasanya… in.. in-sekyur mengetahui fakta itu!”
“Haha… ada ada saja mbak Minah ini. Bilang-bilang insecure segala. Akunya jadi malu!” Hana dan Minah tertawa bersama.
“Mba Minah…”
“Nggih Ning?”
“Kenapa ya aku merasa kehadiranku di sini seperti tidak diinginkan oleh Sebagian santri. Apa ini hanya perasaanku saja? Apa mungkin aku memang ada melakukan kesalahan ya Mbak?” Tanya Hana mulai menanyakan apa yang mengganggu pikiran. Sebab, beberapa waktu terakhir banyak dari para santri seperti melihatnya dengan tatapan sinis lagi tidak menyenangkan.
Minah terdiam. Khadimah yang dipercaya untuk membantu segala keperluan Hana ini membenarkan adanya santri-santri pembelot yang telah termakan desas desus yang tidak berdasar.
“Sebenarnya…”
“Sebenarnya apa Mbak?” Hana mengerutkan kening menunggu tanggapan Minah.
“Ada berita kurang baik yang tersebar di lingkungan pesantren yang ditujukan untuk Ning Hana”
“Be… berita apa mbak?” Minah ragu untuk menjawab. Hana masih menunggu. Kaget.
“Hmh. Ah. Tidak. Ning Hana jangan terlalu mengkhawatirkan para santri. Insya Allah semua baik-baik saja” Ucap Minah menunduk. Ia tidak ingin membuat Hana cemas dan memilih untuk diam. Sebab Minah juga takut untuk berbicara.
Tapi Hana sudah terlanjur curiga dengan kalimat yang Minah lontarkan sebelumnya. Dengan langkah bijak. Hana tidak ingin mendesak Minah untuk berbicara. Tapi wanita ini berjanji nanti akan mencari tau sendiri kebenarannya.
“Saya permisi dulu Ning Hana” Pamit Minah sopan.
__ADS_1
Perlahan Hana membuka surat resmi yang ditujukan padanya. Ia membaca 75 persen isi dari surat tersebut. Seketika pandangannya berhenti melihat daftar dewan juri yang akan mendampinginya pada Musabaqah Tilawatil Qur’an nanti.
Selain nama beberapa ustadz-ustadzah yang Kompeten di bidang mereka termasuk ustazah Iqlima dan ustadz Yahya, Ada nama yang tidak asing di sana. Nama Ustadzah Arini Lathifa, S.T dan Ustadz Muhammad Al-Gibran, S.T juga ikut mendapatkan jatah kursi dewan juri.
***
Pukul 23.00 WIB. Hujan deras memenuhi bentala. Malam merangkak naik dengan segala keterbatasan cahaya yang dimiliki. Angin kencang yang berhembus tidak bisa dielak. Seorang pria dengan sepatu pantofel turun tergesa dari mobil Alphard menerobos guyuran hujan yang turun merambat-rambat.
Para asisten sudah berkata agar menunggu diambilkan payung. Tapi memang sudah dasar tidak sabar. Pria ini memilih untuk mengikuti naluri agar secepatnya sampai di tempat tujuan.
Tiga koper besar turun menyusul. Sang pemuda sudah berada di muka pintu kamar. Tubuhnya basah kuyup. Air menetes-netes dari suluran rambut hitam lurus nya yang sudah tampak sedikit memanjang. Ia bergerak membuka pintu yang memang kuncinya sudah berada di genggaman sedari awal. Laki-laki ini sama sekali tidak melihat sinaran cahaya lampu dari celah ventilasi. Itu artinya penghuni kamar telah terlelap.
Deg.
Perlahan pintu terbuka. Entah mengapa Ia merasa jantungnya begitu berdebar. Laki-laki tadi melangkah masuk setelah sebelumnya menutup dengan kembali mengunci pintu. Matanya basah. Dalam temaram cahaya yang terbatas, Ia dapat mengenali tubuh orang yang begitu dirindukan tengah berbaring damai dalam hangatnya balutan selimut. Helaian rambut yang sedikit menutupi wajah sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. Pemuda yang tidak lain adalah Haris Abdurrahman Faiz itu mendamba.
Rasanya Ingin sekali Haris memeluk tubuh sang istri. Namun keinginan tersebut ia redam sesaat mengingat tubuh basahnya menuntut untuk segera dibersihkan. Haris mencari handuk. Namun tidak ia temukan. Takut membangunkan Hana, Haris memilih untuk mengambil acak sembarang kain yang terlipat rapi di atas keranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Betapa besok para khadimah perlu bekerja lebih ekstra karena ulahnya yang meneteskan air mengotori lantai.
Berbekal kain sarung bergaya khas para santri yang telah dipinggangnya, Haris menyibak dan masuk ke dalam selimut. Pria ini tidak bisa menunggu pagi untuk menyapa sang istri. Ia langsung melingkarkan tangannya ke tubuh Hana. Matanya kembali basah. Seperti mimpi, Hana berada dalam dekapannya. Laki-laki ini menghirup aroma rambut yang menguar harum. Feromon nya bergejolak. Aroma khas yang begitu ia gilai jauh sebelum malam pertama mereka setahun setengah lalu. Aroma yang selalu ia rindukan dalam berdiri-duduknya.
Hana sedikit mengeliat. Di alam bawah sadarnya, wanita ini merasakan sebuah pelukan. Aroma maskulin yang memenuhi hidung menuntunnya untuk berbalik arah. Hana mengendus-enduskan hidungnya ke dada bidang Haris yang tidak memiliki penghalang. Oh Rabbi. Haris meremang. Ia sedikit menarik diri karena takut Hana terbangun atau takut Ia-lah yang sebenarnya tidak bisa menahan diri.
Namun sayang, Gerakan mundurnya malah menarik kuat rambut panjang Hana yang menyangkut di lengan. Kontan saja mata Hana terbuka. Ia mematung. Wanita ini mengerjap-ngerjapkan matanya. Kesadaran belum pulih namun wajah Haris sudah memenuhi netranya. Beberapa saat pandangan mereka bertemu sampai Hana benar-benar sadar bahwa Haris memang berada di hadapannya saat ini. Kaget.
“Ya Allah... Apa ini mimpi…” Lirih Hana tidak berkedip. Matanya mulai berkaca. Haris tersenyum manis. Ia mengelus bebas rambut Hana yang terbuka. Tidak percaya akan penglihatannya, Hana bangkit. Lalu menekan saklar lampu yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tidur mereka. Seketika, Sosok Haris terlihat sepenuhnya.
"Pelan-pelan... Nanti... (perutnya) sakit" Ucap Haris khawatir. Sadar akan berat tubuh nya. Hana bergerak bangkit.
“Sudah. Jangan bergerak. Begini saja…” Cegah Haris. Rasa haru memenuhi rongga dadanya. Aliran oksigen yang terlalu deras berhembus menyebabkan ia kesulitan berkata-kata. Laki-laki ini memeluk sang istri lalu perlahan mengganti posisi mereka hingga saling berhadapan. Ia menatap wajah Hana lekat-lekat. Pun begitu juga sebaliknya. Hana meletakkan telapak tangan di kedua pipi Haris. Sedikit menepuknya di sana. Tidak percaya pada apa yang ia lihat.
“Rindu ya?” Lirih Haris sendu.
“Terlalu rindu… Sangat-sangat rindu...” Hana mengangguk cepat. Haris semakin membenamkan Hana ke dalam pelukannya.
Tanpa perlu banyak berkata, dua sejoli ini tau bagaimana membahasakan perasaan haru yang membuncah walau hanya saling menatap netra.
***
Alarm dini hari membangunkan Haris. Ia membaca hamdalah dan menoleh ke sisi kiri. Lalu tersenyum sekelak ketika mendapati Hana masih tertidur pulas menumpu pada lengan nya. Ia memang tidak sedang bermimpi.
Sebelah Tangan Haris bergerak memindahkan sulur-sulur rambut yang sedikit menutupi wajah Hana. Indah sekali. Gumam Haris. Tangannya bergerak merabai hidung mancung bangir sang istri. Kemudian beralih mengelus pipi lalu ibu jarinya mengusap bibir mungil di sana. Hana mengeliat. Rasa geli membuatnya terbangun.
"Pulas sekali tidur nya? " Sapa Haris mengecup puncak kepala Hana lalu tangannya berpindah merabai perut yang masih datar. Spontan Hana memindahkan tangan Haris. Ia takut sang suami menekan perut nya yang telah terisi.
__ADS_1
"Kenapa? Apa aku tidak boleh lagi menyentuhmu hm? " Tanya Haris lembut. Ia memasang senyuman yang lebih menawan dari biasa. Hana gelagapan. Ia memilih memeluk Haris. Erat.
"Aku semalaman tidak bisa tidur. Tapi Mas bisa dengan mudahnya tertidur pulas. Katanya rindu.... " Hana mengerucut kan bibirnya. Ia mengalihkan pembicaraan. Diam-diam Haris kembali tersenyum.
"Mas.... "
"Hm.... "
"Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku tanyakan... Apalagi mengenai kepulangan mas yang sama sekali tidak mengabarkan apapun padaku. Namun aku masih bisa menunda untuk bertanya...
"Hmh... Namun.... tuk yang satu ini... Aku rasa aku tidak bisa menahannya lebih lama... " Perlahan Hana membawa telapak tangan Haris ke perutnya dengan gerakan yang sangat berhati-hati.
"Seberapa besar rasa yang tidak tertahankan itu hm? Baiklah... Demi kamu yang sudah lama merindukan ku... Demi kamu yang sudah sangat menginginkan ku... Aku akan mengabulkannya" Ucap Haris percaya diri.
"Tapi... kita tahajud dulu yuuk!" Lanjut Haris menoel hidung Hana. Ia bangkit masuk ke kamar mandi berwudhu. Hana tercengang.
Sejujurnya Haris sudah tau, sang Istri pasti akan mengabarkan tentang kehamilannya. Namun calon Abi ini ingin sedikit bermain-main. Siapa suruh Ummi merahasiakannya terlalu lama. Diam-diam Haris kembali tersenyum.
Huh. Astaghfirullah... menyebalkan sekali... Mas Haris yang menginginkan nya kenapa selalu mengkambing-hitamkan aku sih? Hana membebel. Namun wajahnya tetap memerah.
Tiba-tiba Hana bangkit setelah matanya melihat pakaian basah Haris yang dibiarkan tersangkut begitu saja dengan air menetes.
Wanita yang menjujung tinggi kerapian itu hendak meletakkan pakaian tersebut ke dalam ember. Namun sebelumnya ia memeriksa kantong-kantongnya terlebih dahulu. Khawatir jika ada benda yang berharga.
Pertama Hana menemukan sebuah dompet yang berasal dari kantong celana. Ia meletakkannya ke atas nakas tanpa ingin tau apa isinya. Kemudian Hana juga menemukan beberapa koin.
Terakhir... Dari saku baju, Hana menemukan sebuah kertas bertulisan tangan yang tintanya sedikit luntur akibat basah oleh siraman air hujan. Namun huruf-huruf nya masih bisa terbaca dengan jelas. Untuk yang satu ini, Hana tidak bisa untuk tidak penasaran. Sebab di sisi surat tertulis From Yelena. Dengan mengerutkan kening, perlahan Hana membukanya.,
.
.
.
***
Kalau di satu part Bab nya kebanyakan tentang Haris-Hana begini boring ga? Wkwkwkw 😅
**Jazakumullah Khairan Katsiran kaka2 readers ❤**~
__ADS_1
\*\*\*