Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)

Menikah Karena Perjodohan (Haris Dan Hana)
Bab 126: Kabar Dari Dokter Cut Meutia


__ADS_3

Driiittt


Terdengar suara deritan pintu. Seseorang memasuki kamar hajjah Aisyah. Wanita paruh baya ini kembali menutup erat mata dengan sedikit memperbaiki posisi tidur nya seperti semula. Mungkin itu Layla. Pikir Bu Hajjah. Beliau sedikit mengintip untuk memastikan siapa yang datang. Ternyata bukan Layla. Seseorang yang masuk ke dalam kamar dengan cekatan mengunci pintu lalu menghampiri beliau yang masih pura-pura berbaring di atas kasur.


“Heemmm” Orang yang masuk ke kamar berdehem.


“Jangan berakting Mi… Cepat buka-lah mata Ummi!” Titah beliau.


Hajjah Aisyah terhenyak namun matanya masih dibiarkan tertutup rapat. Orang tersebut mendekati hajjah Aisyah. Duduk di dekat beliau lalu mengecup puncak kepalanya.


“Bukalah mata Ummi. Ananda tau kalau Ummi hanya berpura-pura! Kalau sampai abah mengetahui kenyataan ini, entah apa yang akan abah perbuat” Ucap Orang tersebut yang tak lain adalah Ustadz Yahya, anak dari hajjah Aisyah. Perlahan mata yang tertutup rapat itu terbuka.


“A.. ananda tau darimana Ummi hanya berpura-pura?”


“Sudahlah… Ummi mau menciptakan kebohongan seberapa banyak lagi?” Tanya Ustadz Yahya menohok.


“Kamu jangan tidak sopan terhadap orang tua nak!” Sergah hajjah Aisyah tersinggung.


“Ananda sangat menghormati Ummi. Tapi kebatilan tetaplah kebatilan Mi. Tidak ada yang boleh mencampur-adukkan antara kebatilan dan kebenaran” Ujar Ustaz Yahya tenang. Hajjah Aisyah terdiam.


“Mi… Sudah saatnya Ummi bertaubat. Kasihan Abah. Abah itu orang yang paling baik, paling tulus paling taat. Jangan sampai Ummi menyesal!” Ucap Ustaz Yahya menggenggam tangan hajjah Aisyah memberi peringatan.


“Apa maksud perkataanmu Yahya?! Apa kamu sudah berubah menjadi anak durhaka sekarang?!” Hajjah Aisyah menepis tangan anaknya. Ustadz Yahya menggeleng tak berdaya. Ancaman menjadi anak durhaka terus saja dilafalkan belau ketika ustaz Yahya mencoba mengajak berdiskusi. Padahal laki-laki yang masih berusia 34 tahun itu sudah sekuat tenaga mengikuti apa yang ibunya inginkan. Termasuk menikahi Layla.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu. Ustadz Yahya beranjak membukanya. Ustazah Iqlima masuk membawa sebaki ramuan dan obat-obatan.


“Iqlima? Layla mana?” Ustaz Yahya mengerutkan keningnya.


“Dik Layla lagi ada keperluan lalu meminta bantuanku untuk menggantikannya sebentar!” Sahut Ustadzah Iqlima berhati-hati. Ia tau sebenarnya Layla sudah punya janji bersama teman-temannya untuk hangout di Mall.


“Kalau begitu kamu temani Ummi ya… Aku menemui abah dulu” Ucap ustaz Yahya yang beranjak keluar kamar. Ustadzah Iqlima menatap sendu punggung suaminya yang berlalu. Sungguh wanita ini begitu merindukan sang suami. Sudah hampir dua minggu ustadz Yahya tidak menemuinya. Mata lentik itu tiba-tiba saja basah.


“Yahya! Mau apa kamu menemui abah?!” Tanya hajjah Aisyah yang tiba-tiba panik. Ustadzah Iqlima terkejut melihat mertuanya yang tiba-tiba saja bangun dengan berteriak.


“Mau melaporkan…….”


“Ananda mau memberikan laporan tentang Lisa. Ummi jangan teriak-teriak. Nanti malah tambah sakit!” Ucap ustadz Yahya. Namun bukan-nya langsung keluar, beliau menyempatkan diri menghampiri Istri pertamanya.


“Nanti malam Aku akan menemuimu” Bisik ustadz Yahya. Ustadzah Iqlima mengangguk. Wajahnya berubah sumringah. Cerah. Bisikan hangat dari sang suami berhasil membuatnya berbunga-bunga. Hajah Aisyah terhenyak. Beliau tidak suka melihat pemandangan di hadapannya.


Posisi Hajjah Aisyah kian terjepit saat ini. Bahkan Yahya sudah mengendus aroma ketidakberesan yang ada pada sang Ummi. Entah rahasia apalagi yang Yahya ketahui. Hajjah Aisyah menjentik-jentikkan jarinya. Cemas.


"Mi, Iqlima pijat ya... "


"Tidak usah. Kamu keluar saja nak! Ummi menunggu kedatangan Layla. Pijatan tangan nak Layla sangat cocok meringankan rasa pegal di tubuh Ummi"


"Ba... Baik Mi. Ra... ramuan ini di minum ya mi... Ini rempah-rempah pilihan yang sudah Iqlima seduh. Ramuan ini berkhasiat memelihara kesehatan"


"Letakkan saja di situ! " Titah Hajjah Aisyah membuang wajah ke sembarang arah. Acuh. Ustazah Iqlima mengikuti instruksi sang mertua dengan perasaan sedih. Namun perasaan negatif itu segera beliau tepiskan. Beliau kembali mengingat perkataan suaminya yang berjanji nanti malam akan menemuinya. Mengingat hal tersebut Ustadzah Iqlima kembali bersyukur.


***


Pukul 10.00 pagi. Haris tiba di Las Vegas. Kota ini adalah yang terpadat di negara bagian Nevada, Amerika Serikat. Ini pertama kalinya Haris mengunjungi kota yang dijuluki surga bagi para penggemar belanja, kuliner, judi dan dunia hiburan malam (memiliki sejumlah resor kasino sebagai tempat perjudian, rumah bordil dan hiburan sejenis lainnya). Tidak hanya itu, Las Vegas juga dijuluki sebagai kota dosa sanking banyaknya industri haram yang ada di sana. Sebagai kota terpenting di Nevada, Las Vegas berfungsi sebagai sentra perdagangan, finansial, dan juga kultural.


Haris tiba lebih dulu dari jadwal seharusnya. Pemuda ini tidak ingin menunda walau sebenarnya ia bisa bersantai beberapa hari lagi di New York. Namun rasa rindu kepada sang istri membuatnya ingin menyelesaikan semua pekerjaan dan menyerap berbagai ilmu dengan secepat kilat tapi tetap dilakukan dengan sebaik mungkin.


Haris sedikit tidak nyaman dengan aura yang di tampilkan di kota Las Vegas. Gambaran kota ini sama sekali tidak cocok dengan jiwa nya yang selalu mendambakan ketenangan. New York, Las Vegas atau kota lainnya yang setipe bukan jenis kota yang akan ia dan Hana habiskan di masa tua mereka nanti.

__ADS_1


Setiba nya di sini, Haris tidak langsung menuju hotel melainkan langsung ke kantor cabang yang memang sudah berjalan berpuluh tahun lalu sejak di kelola pada masa kakek Abdurrahman. Haris langsung melangkah-kan kaki ke ruang direksi. Kehadiran nya langsung disambut dengan ramah dan hangat. Padahal orang berkulit putih dari kelompok Kaukasia yang berimigran ke benua Amerika itu tidak senang berbasa basi. Namun menghadapi Haris yang Notabene nya sebagai pemilik 93 persen saham, mereka bersikap berbeda.


Haris menyimak penjelasan yang mereka jabarkan tentang rancangan proyek baru. Beberapa perusahaan investor berlomba-lomba mengajak bekerja sama. Staff yang bertugas menyebutkan beberapa perusahaan yang terlibat.


"Wait wait... Sebentar... MarkJ Company? " Haris mengerutkan kening ketika salah satu dari mereka menyebutkan kalau perusahaan tersebut ikut serta dalam project kali ini.


"Iya Tuan"


"Bukan kah itu perusahaan yang memproduksi minuman beralkohol dan berada di bawah naungan perusahaan yang mengorbit kan model dewasa? " Haris memicing kan matanya.


"Benar Tuan"


"Putuskan kerja sama dengan perusahaan tersebut. Blacklist dari daftar vendor" Tembak Haris dengan penuh ketegasan.


"Ta... tapi Tuan... Perusahaan ini telah lama bekerja sama dengan kita! "


"Telah lama bekerja sama?!" Haris terhenyak. Sejauh pengetahuan nya, kakek Abdurrahman tidak pernah memberikan peluang terhadap hal-hal yang mengandung syubhat. Apalagi bekerja sama dengan perusahaan yang jelas-jelas memproduksi barang haram.


"Perintahkan Mr. Erick Brown menghadap saya besok! " Titah Haris. Erick adalah orang yang mempunyai wewenang untuk memutuskan perusahaan mana yang bisa di ajak bekerja sama.


Dan dalam kurun waktu yang telah ditentukan... Erick berada dalam pengawasan Nyonya Zakaria, yang tidak lain adalah Hajjah Aisyah. Haris memijat pelipis. Tugas nya berat. Ia harus meng-audit lebih lanjut tentang semua kejanggalan ini. Haris merasa seolah-olah gunung Uhud akan menimpanya.


Calon CEO muda ini membubarkan rapat. Setelah itu, Ia melanjutkan kunjungan ke Pabrik Ulat Sutra. Pabrik yang memproduksi bahan baku tekstil untuk di impor ke Indonesia. Haris mempelajari banyak hal di pabrik ini. Semua pekerjaan berjalan begitu teratur dan terlihat sangat terarah. Pemuda bertubuh atletis ini betah berlama-lama. Ia menghabiskan waktu hingga tiga setengah jam berada disana.


"Apa kita tidak ke hotel terlebih dahulu untuk beristirahat Tuan? Tuan terlihat lelah!" Ucap salah seorang asisten.


"Hmh... Baiklah. Aku juga belum shalat. Nanti bisa sekalian shalat jamak di hotel" Ucap Haris menge-cek jam tangan nya.


***


Malam di Las Vegas begitu Meriah. Jalanan terlihat terang dengan gemerlap lampu Neon yang menyebar rata di setiap penjuru. Las Vegas adalah salah satu kota dengan jalanan paling terang di dunia. Bagaimana tidak, ada sekitar 15 ribu mil tabung neon di dalam kota yang berkelap kelip penuh warna.


"Hemm... " Haris berdehem memijat tengkuknya.


"Kita langsung ke hotel saja ya Pak!" Ucap Haris cool. Di Las Vegas, pemuda ini di temani oleh beberapa bodyguard dalam naungan LogoVo group. Sayangnya Ridwan masih mengurus beberapa pekerjaan di New York.


"Kalau begitu, Saya akan memanggil wanita penghibur! Ia akan membawakan Sampanye untuk anda. Berada sendirian di kamar hotel bukanlah hal yang baik Tuan! Biarkan orang-orang bekerja sesuai porsinya! " Lanjut supir sumringah. Ia merasa harus bersikap ramah pada Haris, laki-laki Amerika dari suku Indian itu berharap bos berkantong tebal ini sudi memberikan tip lebih padanya.


Sedang Haris, Ia sama sekali tidak mendengar apa yang pria itu katakan. Pemuda ini larut dalam pikirannya. Ia merindukan Hana. Merindukan semua hal tentang Hana. Gerimis yang turun tipis benar-benar menggambarkan suasana hatinya. Ia tak sabar ingin pulang ke Indonesia. Andai Hana tidak menolak untuk terbang ke Las Vegas, tentu Ia sudah menjadi orang yang paling bahagia saat ini.


Haris mulai mengetik bait pada handphone nya. Ia melayangkan syair-syair dalam bahasa Inggris itu kepada Hana:


Where do I begin


To tell the story of how great a love can be


The sweet love story that is older than the sea


The simple truth about the love she brings to me


Where do I start


She fills my heart with very special things


With angels' songs, with wild imaginings


She fills my soul with so much love


That anywhere I go I'm never lonely

__ADS_1


With her around, who could be lonely


I reach for her hand, it's always there


:)


Haris sampai di kamar Hotel. Ia menghempaskan tubuhnya sejenak di atas kasur. Matanya terasa berat. Jas beserta pakaian resminya masih menempel di tubuh. Haris seperti membeku. Ia terlalu lemas untuk bangkit kembali. Posisinya sudah terlalu nyaman.


Namun Haris teringat ia belum shalat Maghrib juga Isya'. Beruntung islam memberikan kemudahan pelaksanaan shalat bagi seorang musafir sehingga Ia bisa menjamak nya. Alhamdulillah. Berada di negara non-muslim dengan segudang pekerjaan memang memiliki tantangan tersendiri.


Haris bangkit mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur lalu berwudhu dan shalat. Tak lupa, ia menyempatkan membaca surat al-Mulk sebelum tidur. Surat yang sudah rutin ia bacakan sebagai amalan harian nya.


Tiba-tiba bell berbunyi. Haris tak menghiraukan nya. Ia merasa tidak memesan makanan atau meminta layanan servis apapun.


Namun Bell tetap berbunyi. Tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali. Terasa begitu mengganggu. Huft. Di depan kan ada bodyguard. Apa sih kerja mereka. Kenapa tidak dicegah untuk memencet bell! Umpat Haris jengah. Pria ini bangkit setelah sebelumnya menutup mushaf terlebih dahulu.


Pintu terbuka. Haris terhenyak. Seorang wanita Rusia memiliki rambut blonde dengan pakaian terbuka berada di hadapannya. Nonik nonik Rusia memang sudah tidak diragukan lagi akan kecantikan dan keindahan tampilan mereka. Bak porselen dengan gaya model professional, wanita ini memperkenalkan diri.


"Tuan, Saya Evelina... Saya diperintahkan untuk membersamai tuan malam ini. Dan... Saya tidak akan mengecewakan tuan! " Ucap Evelina tersenyum menawan dengan menekankan setiap kalimatnya. Aroma parfum Yasmin yang menguar kuat begitu memabukkan penciuman Haris. Ia merasa kesulitan menelan saliva. Bagaimana pun Haris adalah lelaki dewasa normal yang sudah pernah merasakan indahnya dunia bersama wanita. Wanita yang tak lain adalah istrinya. Sejenak Haris terpaku. Ia hampir goyah.


"Maaf, saya lelah dan saya tidak memerintahkan siapapun untuk menemani saya! " Ucap Haris. Ia mencoba menguasai keadaan dan menjawab wanita yang ada di hadapan nya sesopan mungkin. Bagaimana pun Amerika adalah negara hukum. Dan Las Vegas menghalalkan praktik s*x bebas.


Haris hendak menutup pintu, namun...


"Tuan, saya mohon... saya berjanji akan memberikan pelayanan terbaik. Jika tuan meng-cancel saya malam ini, saya mengalami kerugian besar! Saya butuh uang untuk mengobati ibu saya yang sedang sakit Saya mohon tuan... tolonglah saya" Ucap Evelina memohon. Wanita ini memegang daun pintu mencegah Haris menutupnya.


"Baiklah..." Haris berpikir sejenak.


"Berikan nomor rekening mu! "


"Kita akan melakukan transaksi setelah saya menyelesaikan pekerjaan saya tuan! Saya berjanji akan membuat tuan tidak bisa melupakan pelayanan yang saya berikan" Sahut Evelina.


"Baik. Kamu tunggu di sini sebentar! " Ucap Haris menutup pintu. Tak lama ia keluar. Lalu keluar menyodorkan sebuah cek dan memberikan selimut ringan menutupi tubuh sang wanita yang terekspos kemana-mana.


"Maaf" Ucap Haris.


"Ini cek senilai 80 ribu dollar. Cek ini menjadi milikmu. Pulanglah dan Obati ibumu. Maaf. Saya sudah memiliki istri. Saya tidak mungkin menghianati nya. Perbuatan ini juga di larang di agama saya! " Ucap Haris menutup pintu dengan santai setelah memberikan cek tunai yang setara dengan uang 1 Miliyar rupiah kepada Evelina yang mematung. Wanita ini tersungkur ke lantai. Ia menangis karena tersentuh akan perlakuan Haris.


Jujur saja, seumur hidup Evelina tidak pernah diperlakukan sebegini manis oleh pria manapun. Haris begitu memperlakukan nya dengan sopan. Ia seperti mimpi. Uang sudah di genggamannya. Evelina bisa mengobati sang Ibu yang harus setiap minggu mencuci darah. Gadis ini berjanji suatu saat akan membalas budi pada Haris. Begitulah tekadnya.


Huft. Haris menghembuskan nafas yang terengah. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung muncul dari keningnya. Padahal suhu AC sudah di stel dengan suhu terendah. Haris membutuhkan Hana saat ini. Ia membutuhkan istrinya.


Rasulullah bersabda, "Bila kamu melihat seorang wanita, datangilah istrimu, karena yang demikian itu dapat menenteramkan gejolak dihatimu." (Shahih Muslim).


Haris hendak menelpon Hana, namun sebuah panggilan telah lebih dulu memenuhi layar handphone nya.


"Assalamu'alaikum pak Haris... Saya dokter Cut Meutia! Dokter kandungan nona Hana Fathimah Ameer. Dari tadi asisten saya menghubungi beliau tapi tidak ada jawaban! Baru saja Nona Hana mengontrol kandungan nya. Namun beliau lupa mengambil obat khusus yang sudah saya resepkan. Ini obat penting karena nona Hana mengeluh kan tentang kontraksi palsu yang terus menerus di rasakan padahal usia kandungan beliau masih sangat muda. Saya takut nona Hana mengalami pendarahan. Maka saya langsung menghubungi pak Haris! " Terang dokter Cut Meutia panjang lebar.


"A.. apaa dok? Hana Hamil??! " Pupil mata Haris melebar.


***


.


.


Syair di atas adalah potongan lagu Love Story by Andy Williams yaaa...


Makasih udah terus mendukung karya ini yaa.. Like Komen, Vote hadiah atau apapun yang tmn2 berikan itu begitu berarti tuk menambah smngt author dalam menulis dan menyelesaikan tulisan ini. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita semua. Love Temans semua ❤

__ADS_1


***


__ADS_2